
....
Pagi pun menjelang. Sayup-sayup terdengar suara gema azan subuh dari beberapa mesjid yang tak jauh dari komplek perumahan elit di pusat kota tempat keluarga Heryawan tinggal. Meskipun mentari belum terlihat, Aryan bangun lebih dulu untuk melaksanakan salat subuh. Setelah itu, Aryan duduk di sajadah nya dan membaca Ayat suci Al Qur'an.
Suara lantunan ayat suci yang di baca Aryan ternyata membangunkan El. El pun mengerjap. Perlahan ia mengusap matanya. Mencari sumber suara merdu yang menggema di kamarnya.
Hatinya begitu menghangat melihat Aryan yang dengan khusyuk membaca Al Qur'an.
'Merdu banget suara Kak Aryan. Udah umur segini, aku baru tahu, ternyata Kak Aryan pinter ngaji.'
El terpaku mendengarkan Aryan mengaji, ia terlalu khidmat mendengarkan sampai-sampai ia tidak sadar Aryan telah selesai mengaji.
"El, sudah bangun?" tanya Aryan.
"Udah, Kak." El kembali meringkuk di balik selimut. Entah kenapa tiba-tiba kantuk menyerangnya kembali setelah Aryan selesai mengaji.
"Loh, tidur lagi, El?" tanya Aryan.
"Aku masih ngantuk, kak," jawab El.
"Ya, sudah, kakak harus bersiap ke kantor." Aryan meninggalkan El yang kembali terpejam. Ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya, karena baju-baju yang ia punya masih ada di walk in closet yang ada di kamarnya.
Setelah rapi, Aryan pun segera turun menuju meja makan. Ternyata, lelaki yang saat ini sudah menjadi ayah mertuanya telah menunggu.
"Assalamualaikum, Pi," Aryan memberi salam.
"Waalaikumsalam, Ar, mana El?"
"El masih tidur, Pi. Sepertinya malam tadi El nggak bisa tidur," jawab Aryan.
"Hmm, baiklah. Bagaimana, Ar, sudah siap untuk hari ini?" tanya Heryawan.
"Apa papi yakin dengan keputusan ini?" Aryan merasa belum pantas menerima jabatan ini, Pi."
Heryawan menghela nafas. "Papi sudah tua, Ar, Papi ingin menikmati masa tua Papi tanpa adanya urusan-urusan kantor, Papi juga sudah nggak kuat kalau harus kesana kemari untuk mengontrol perusahaan yang di luar kota. Fisik papi udah nggak sekuat dulu, Ar. Papi yakin kamu mampu."
"Baiklah, jika itu mau Papi, tapi jangan lepasin Aryan gitu aja, ya, Pi. Aryan butuh bimbingan Papi. Aryan masih harus banyak belajar tentang perusahaan sama Papi," ucap Aryan.
"Pasti.Kamu nggak perlu khawatir soal itu," jawab Heryawan.
****
__ADS_1
Siang ini menjadi hari bersejarah untuk Raja Corp, karena mulai hari ini dan seterusnya Raja Corp resmi di pimpin oleh Aryandi Prasetya. Serah Terima jabatan pun telah usai di laksanakan dan di saksikan oleh para pemegang saham dan di umumkan kepada seluruh karyawan.
"Selamat, ya, Ar. Semoga Raja Corp bisa semakin sukses di bawa kepemimpinan mu." Heryawan Wiraja memeluk Aryan.
"Terimakasih, Pi," jawab Aryan.
"Oh, ya, perkenalkan ini Septian. Orang yang papi tunjuk sebagai asisten pribadimu." Heryawan menunjuk lelaki berjas biru navy yang berdiri tak jauh darinya.
Aryan dan Septian pun berjabat tangan.
"Senang sekali rasanya bisa bekerjasama dengan bapak," ucap Septian.
"Ar, Papi mau ketemu rekan Papi, Papi tinggal nggak apa-apa, kan?"
"Kalau Aryan antar aja gimana, Pi?"
"Enggak usah, Papi bisa dengan driver kantor," tolak Heryawan.
"Baiklah, Papi hati-hati," ucap Aryan.
Heryawan mengangguk dan menepuk pelan bahu Aryan sebelum meninggalkannya.
****
Heryawan pun tiba di restoran yang di janjikan keduanya. Ternyata ia sampai lebih dulu. Heryawan pun memutuskan untuk masuk ke dalam restoran sambil menunggu rekannya.
Tak di sangka, matanya tertuju pada sepasang manusia yang tengah asyik berbincang di sudut ruangan. Entah mengapa mendadak dada sebelah kiri Heryawan terasa berdenyut. Nafasnya kian berat menyaksikan seorang lelaki berbincang dengan putrinya sambil menggenggam tangannya.
'Ya Allah, El," lirih Heryawan.
Heryawan memilih untuk beranjak dari tempat itu. Janji dengan sang rekan bisnis pun tak ia hiraukan lagi.
"Pak, Bapak nggak apa-apa?" supir yang mengantar Heryawan tadi tampak terkejut melihat wajah Heryawan yang terlihat pucat.
Heryawan hanya menggeleng. "Mad, antar saya pulang saja."
"B-baik, Pak," sahut Rahmad.
Rahmad pun segera membukakan pintu mobil. Ia pun segera memacu mobilnya ke arah perumahan elit tempat Heryawan Wiraja tinggal.
"Pak, apa nggak sebaiknya kita ke rumah sakit aja?" Rahmad melihat dari kaca spion.
__ADS_1
"Enggak perlu, kita pulang aja. Saya hanya perlu istirahat aja," pinta Heryawan.
Rahmad pun mengangguk tanpa banyak bertanya lagi. Namun, tetap saja sesekali matanya melirik ke arah Heryawan dari pantulan cermin. Majikannnya itu terlihat bersandar pada sandaran kursi mobil sambil memegang dadanya dan Nafasnya sedikit terengah. Matanya pun hanya terpejam dan sesekali terdengar kalimat istighfar dari mulutnya.
Sesampainya di rumah, Heryawan di sambut oleh Bu Ida. Bu Ida pun terkejut melihat Rahmad masuk dengan memapah majikannya. "Ya Allah, Tuan, Tuan kenapa?" Bu Ida terlihat meletakkan sapu yang ia pegang.
"Kita bawa ke kamarnya aja, Bu. Nafas bapak sepertinya sesak," sahut Rahmad.
"I-iya, ayo ke atas aja." Bu Ida menunjuk ke arah lantai atas di mana kamar majikannya berada.
Sesampainya di kamar, Heryawan pun berbaring dengan bantal yang di susun cukup tinggi. Matanya terpejam walaupun ia sendiri dalam kondisi sadar sepenuhnya.
"Tuan butuh sesuatu?" tanya Bu Ida.
Heryawan menjawab dengan menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri. Tanda bahwa ia tidak menginginkan apa pun. "Saya mau istirahat saja, Bu Ida."
"Kalau Tuan butuh sesuatu, cepat panggil saya, ya, Tuan," ucap Bu Ida.
Heryawan hanya mengangguk lemah. Akhirnya, Bu Ida dan Rahmad pun keluar dari kamar Heryawan. membiarkan lelaki paruh baya itu beristirahat.
"Sebenarnya Tuan kenapa, ya, Mas," tanya Bu Ida.
"Saya sendiri sebenarnya kurang tahu, Bu Ida. Saya hanya mengantar Bapak ke restoran. Katanya, sih, mau jumpa rekan bisnis, tapi nggak kemudian bapak keluar lagi dalam kondisi seperti ini. Saya, kan, hanya di luar. Jadi, nggak tahu ada apa di dalam, Bu Ida," jelas Rahmad.
Bu Ida mengangguk. "Oh, gitu, ya. Makasih, ya, Mas udah bawa Tuan saya ke rumah."
"Iya, Bu, Sama-sama. Kalau begitu, saya mohon pamit, ya, Bu. Assalamualaikum," salam Rahmad.
"Waalaikumsalam."
Setelah Rahmad pergi, Bu Ida bergegas menghubungi Aryan.
"Halo, Assalamualaikum, Tuan muda."p
....
"Ini, Tuan, hmm, saya mau ngasih tahu kalau Tuan besar sakit,"
....
"Baik, Tuan muda, Assalamualaikum," Bu Ida pun mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Tbc