
....
"Hmm, Kak," panggil El setelah keduanya tiba di kamar.
"Iya, El,"
"Papi kenapa?" tanya El dengan raut wajah sendu.
"Mandi dulu sana, nanti kita cerita," titah Aryan.
El tak banyak berbicara lagi. Ia pun menuruti perintah Aryan. Dengan langkah gontai, ia pun berjalan menuju kamar mandinya yang berada satu ruangan dengan kamarnya.
Tak berapa lama, El pun sudah selesai dengan aktifitasnya. Ia pun keluar dari kamar mandi dengan setelan blus dan celana jeans pendeknya serta memakai handuk di kepalanya.
"Sudah selesai, El," tanya Aryan yang ternyata sudah duduk kasur dengan bersandar di kepala ranjang. Aryan sudah terlihat segar dengan kaos oblong dan celana jeans pendek.
"Iya, Kak," jawab El.
"Sini." Aryan menepuk ruang kosong yang ada di sampingnya dan El pun menurut.
"Bagaimana hari ini, El?" tanya Aryan sembari merangkul pundak El.
El bingung saat hendak menjawab pertanyaan yang ambigu seperti ini. "Hmm, bagaimana apanya, Kak?"
"Jangan seperti kura-kura dalam perahu, El. Takutnya perahunya akan bocor." Nada bicara Aryan setengah berbisik. Ia pun mendekatkan wajahnya ke arah telinga El dan itu membuat El bergidik.
"Hmm, anu, Kak ...."
"Kamu tahu, El, Papi syok melihatmu di restoran tadi," ucap Aryan.
Deg!
El seperti tercekat. Mendadak saliva nya sulit untuk memasuki kerongkongan.
"Maaf, Kak." El merasa sudah kalah telak. Tidak ada sanggahan yang bisa keluar dari mulutnya selain kata maaf. Ya, ini memang salahnya.
"El, Kakak boleh minta sesuatu?" tanya Aryan.
'Duh, Kak Aryan minta apa, ya? Apa dia minta hak nya?'
"A-apa itu, Kak?"
"Maaf kalau dalam hal ini kakak sedikit egois, tapi kakak harus menyuruhmu melakukannya ... Jauhi Zack," ucap Aryan.
El terlihat menghelan nafas.
'Oh, ternyata bukan itu. Ah, dasar otakku.'
"I-iya, Kak,"
__ADS_1
"Jauhi Zack dan mulainya mencoba mencintai Kakak sebagai suamimu dan Kakak akan melakukan hal yang sama."
"Cukup yang terakhir Papi melihat ini, El. Kakak mungkin tidak akan marah padamu, karena Kakak bisa memaklumi nya, ini bukan hal yang mudah untuk kamu terima. Sampai saat ini mungkin kamu masih memandangku sebagai kakakmu, jadi ketika kamu bersama Zack tidak ada merasa bersalah sama sekali."
"Maaf, Kak," ucap El. Seperti sudah kehilangan kosakata nya dan tak mampu mengucapkan kata lain selain maaf.
"Setidaknya lakukanlah demi Papi, El," pinta Aryan dan di jawab anggukkan oleh El.
"Aku minta maaf jika aku belum bisa menjadi istri yang baik. Aku belum bisa memberikan cinta untuk kakak. Aku butuh waktu, Kak," ucap El
Ia tertunduk serta menahan bulir bening yang sudah menganak sungai.
"Kakak mengerti, El." Aryan semakin mengeratkan rangkulan nya. Bibirnya mengecup pipi kiri El.
Mendapat perlakuan demikian membuat jantung El berdetak lebih cepat dari biasanya.
'Aduh, jantung. Please jangan begini,' gumam El.
"Apa kamu mau belajar mencintaiku sebagai suamimu, El?" tanya Aryan. Matanya memandang lekat wajah putih mulus milik El.
Tidak ada jawaban dari bibir mungil El. Ia hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
Berbanding terbalik dengan Aryan, El yang sedari tadi duduk di sampingnya justru tidak menghadap Aryan sama sekali. Matanya menatap nanar ke depan. Sikap Aryan yang sangat intim seperti ini membuatnya canggung.
"El, tatap aku!" Aryan membingkai wajah El dan membawanya untuk menghadap ke arahnya.
Jantung El semakin berpacu ketika dua pasang netra itu saling bertemu.
Lagi-lagi hanya anggukkan lah jawaban yang di dapat Aryan.
"Tutup matamu, El," pinta Aryan.
"Hah!" Mata El justru membulat.
"Aku bilang pejamkan matamu, El," ucap Aryan.
El pun mengangguk dan memejamkan matanya.
"Maaf, El ...."
Aryan pun perlahan mendekatkan wajahnya dengan wajah El yang sudah terpejam erat dan ....
****
Aryan pun mengusap bibir merah bak delima milik El. El yang awalnya sedikit berontak perlahan mulai pasrah dan menerima. Hanya saja, apa yang ia bayangkan tidaklah terjadi. Aryan tidak mengambil apa yang sudah menjadi haknya sejak beberapa hari lalu.
"Maaf, El," ucap Aryan melihat ekspresi canggung El.
"I-Iya, Kak," jawab El sembari merapikan bajunya yang sedikit tersibak.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengambilnya sebelum kamu siap." Aryan mengecup kening El dan membawa El ke dalam dekapannya.
El hanya mengangguk. Ia benar-benar bingung dan canggung dengan apa yang baru saja terjadi. Bahkan untuk menatap Aryan saja El belum sanggup.
"El, sebenarnya kamu melupakan sesuatu," Aryan kembali memecah keheningan.
El tampak berpikir. "Apa, Kak?"
"Ayo, ikut!" Aryan memegang pergelangan tangan El dan menariknya.
Keduanya pun keluar dari kamar dengan bergandengan tangan. Lebih tepatnya Aryan yang menggandeng tangan El menuju kamar Aryan sebelum ia melepas masa lajang.
"Tutup matamu dulu, El." Aryan menutup kedua mata El dengan sebelah tangannya.
"Duh, ada apa, sih, Kak," jawab El.
Aryan pun terus membimbing El untuk terus berjalan hingga keduanya memasuki kamar. "Sekarang buka matamu."
Perlahan El membuka kedua matanya dan ....
"Wah, i-ini ...."
"Untukmu, SAYANG." Aryan menegaskan kata terakhir tepat di telinga El.
Senyum El merekah sempurna ketika melihat aneka barang-barang mewah dengan merk terkenal dunia terhampar di depan matanya.
"Wah, i-ini parfum .... " El sampai tak dapat melanjutkan ucapannya melihat parfum yang ia idamkan kini telah ada dalam genggamannya.
"Chanel Grand Extrait. Itu yang kamu pengen dari kemarin, kan?"
El gegas mengangguk. Matanya tampak begitu berbinar. Sudah sejak lama ia menginginkan salah satu parfum termahal di dunia itu. Ia kembali terbelalak, ketika matanya menangkap sebuah paperbag bertuliskan merk ternama dunia. Ia pun segera menyambar nya dan melihat isi dalamnya.
"Wah," Mulutnya kembali menganga melihat tas mewah keluaran Hermes itu.
"Kamu suka, El?" tanya Aryan yang sedari tadi berdiri memperhatikan El sembari melipat tangan di dada dan bersandar pada dinding kamar.
"Suka banget, Kak," jawab El dengan semangat.
Matanya kembali menatap ke arah ranjang yang tertutupi berbagai macam barang mewah. Masih banyak lagi yang ada di sana. Tak cukup tas dan parfum mewah, Aryan juga menghadiahkan sepatu, pakaian, jam tangan, serta berbagai pernak pernik khas wanita. Tentunya semua bernilai mahal.
"Ada satu lagi, El," ucap Aryan.
"Ada lagi?" tanya El dan di jawab dengan anggukkan kepala Aryan.
Aryan berjalan mendekat ke arah El yang masih duduk di ranjang, lalu berlutut di hadapan El dengan menunjukkan sebuah cincin berlian.
"Ini maharmu kemarin, sayang. Kamu pakai, ya." Tanpa menunggu jawaban El, Aryan langsung menyematkan cincin itu di jari manis El. El pun tersenyum menerima perlakuan manis dari Aryan.
'Aku kira dia seperti kanebo kering. Ternyata dia bisa bersikap manis seperti ini. Nggak sekaku yang aku bayangkan.'
__ADS_1
TbC