Jodoh Ditangan Papi

Jodoh Ditangan Papi
Kangen Banget


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu, tetapi masih belum ada tanda-tanda tentang keberadaan El. Zack pun seperti hilang bak di telan bumi, keberadaannya pun sama sekali tak terendus oleh orang suruhan Aryan.


Aryan benar-benar frustasi di buatnya. Belum lagi kondisi sang ayah mertua yang semakin hari semakin menurun.


Lama ia terpaku dalam diam, Aryan pun di kejutkan oleh suara ketukkan pintu dari luar.


“Masuk!” titahnya.


Tak lama pintu terbuka. Terlihat Septian dengan setelan jas berwarna abu tua masuk ke dalam ruangan Aryan.


“Pak,” sapa Septian.


“Ada perkembangan?” tanya Aryan tanpa basa-basi.


“Saya sudah membuat laporan ke kepolisian, Pak. Saya juga sudah membuat pengumuman di sejumlah media,” jawab Septian. Ia seperti sudah tahu kemana arah pertanyaan atasannya itu. Aryan menghela nafas sambil mengangguk.


*****


Siang itu, El duduk di depan rumah Pak Kamsuri. Menatap Bu Yati yang sedang menyapu halaman rumah yang tak begitu luas.


Sesekali El melihat Bu Yati yang dengan begitu ramahnya menyapa orang yang lewat di depan rumahnya hingga tercipta obrolan ringan yang El sendiri tidak tahu apa yang di ceritakan, karena mereka memakai bahasa daerah.


El hanya tersenyum ketika ada beberapa ibu-ibu yang melihat ke arahnya.


‘Apa mereka nyeritain gue, ya?’ batinnya.


“El, sini!” Bu Yati terlihat melambaikan tangan ke arah El untuk mengajaknya bergabung.


Dengan perlahan El mulai bangkit dari duduknya. Kakinya sudah mulai membaik. Ia sudah mulai bisa berjalan walau masih tertatih.


“Ini Bu Iyem, rumahnya yang itu, tuh.” Bu Yati mengenalkan tetangganya sambil menunjuk rumah yang tak begitu jauh dari rumah Bu Yati dan Pak Kamsuri.


“Saya El, Bu.” El menjawab singkat.


“Kalo bosen, main ke rumah. Ada Lastri anak Ibu yang kayaknya seumuran sama kamu.” Jawab Bu Iyem dengan logat Jawanya.


“Iya, Bu. Terimakasih,” jawab El.

__ADS_1


“Eh, kita masuk dulu. Kamu belum makan, kan?” tanya Bu Yati setelah Bu Iyem pulang ke rumahnya.


El pun mengangguk. Ia terlihat mengikuti Bu Yati yang masuk ke dalam rumahnya.


“Bu,” panggil El.


“Iya, El.”


“Bu, apa di sini nggak ada orang yang punya ponsel?” tanya El.


“Ponsel? Ponsel apa, ya, maksudnya?” tanya Bu Yati. Dahinya terlihat berkerut seperti sedang berpikir.


‘Astaga! apakah Bu Yati benar-benar tak tahu ponsel?’


“Ibu tidak tau ponsel? Yang untuk menghubungi orang.”


“Oh, telepon.” jawab Bu Yati dengan gelak tawa.


“Ada, tapi di kantor kepala desa. Orang-orang di sini kalau mau bicara sama orang yang jauh pergi ke kantor kepala desa,” lanjut Bu Yati.


“Bu, bisa antar saya ke sana? Saya pengen menghubungi keluarga saya,” ucap El. Ia sudah tidak sabar ingin menghubungi Aryan agar Aryan segera menjemputnya.


El mengangguk dengan mata berbinar. Ingin rasanya ia segera bisa berbicara dengan Aryan, mengatakan bahwa ia ingin segera pulang ke rumah. Ia rindu dengan suasana rumah, dan ... ia juga juga merindukan Aryan.


Sudah seminggu ini El harus hidup di perkampungan yang dia sendiri tak tahu ada di mana. Ia harus menjalani hidup yang sulit menurutnya. Ia harus tidur tanpa kasur, ia juga harus makan dengan makanan seadanya. Singkong, ubi, dan jagung menjadi menu yang selalu di lihatnya di rumah Pak Kamsuri. Benar-benar kehidupan yang sama sekali tak pernah terlintas dalam benaknya.


****


“Assalamualaikum!”


Terdengar suara pria dari arah Luar. Dengan senyum sumringah, ia berjalan ke arah pintu.Ia seperti sudah tahu siapa yang berada di balik pintu meskipun belum terbuka. Ya, siapa lagi jika bukan sang suami, Pak Kamsuri.


“Waalaikumsalam,” jawab Bu Yati.


Dengan cekatan Bu Yati mengambil alih barang-barang yang ada di tangan Pak Kamsuri. Seperti golok, botol air minum dan topi lusuh yang di kenakan Pak Kamsuri. Semua tak lepas dari penglihatan El.


“Capek, Pak?” tanya Bu Yati.

__ADS_1


“Lumayan, Bu,” jawab Pak Kamsuri.


“Sebentar, ya, Pak. Ibu buatin kopi dulu.”


“Iya, Bu,” jawab Pak Kamsuri.


El mengamati semua yang di lakukan Bu Yati. Hingga Bu Yati selesai membuat kopi untuk suaminya, mata El tetap selalu tertuju kepada pasangan yang terlihat beda usia itu


“Segitunya Bu Yati nyambut suaminya. Padahal suaminya nggak bawa apa-apa buat dia.” batin El.


Semua gerak gerik pasangan itu pun tak luput dari pengamatan El. El kagum dengan kehangatan yang tercipta di antara keduanya meski dalam keadaan serba kekurangan. Sesekali terdengar canda tawa keduanya. El tak ubahnya seperti obat nyamuk, yang ada di antara mereka tetapi keberadaannya seperti tak ada gunanya. Keduanya larut dalam obrolan hangat.


“Bapak mandi dulu, ya, Bu,” ucap Pak Kamsuri.


Bu Yati yang tadinya masih duduk, dengan sigap nya berdiri menyusul Pak Kamsuri. Ia gegas mengambilkan handuk untuk di berikan kepada Pak Kamsuri.


“Ini, Pak.” Bu Yati menyodorkan sebuah handuk yang warnanya sudah lusuh.


“Makasih, ya, Bu,” ucap Pak Kamsuri.


“El,” panggil Bu Yati setelah Pak Kamsuri meninggalkan keduanya.


“Iya, Bu.”


“Kok, melamun, tho?” tanya Bu Yati.


El terlihat kikuk. Ia seperti malu kepergok tengah mengamati keduanya. “Nggak pa-pa, Bu. Seneng aja liat Ibu sama Bapak. Mesra banget.”


“Walah, mesra opone, tho? Biasa aja. Memang tiap harinya gitu.”


“Ibu melakukannya setiap hari?” tanya El.


“Melakukan apa?”


“Ya, itu tadi. Buatin Bapak minum, ngambilin handuk Bapak.”


“Ya, iya. Itu ‘kan memang kewajiban Ibu. Namanya juga istrinya. Nggak mungkin ‘kan istri tetangga yang nyiapin.” Terdengar kekehan kecil dari mulut Bu Yati.

__ADS_1


El jadi teringat Aryan. Sebagai seorang istri, El sadar belum bisa memberikan yang terbaik untuk Aryan.


‘‘El kangen banget sama kakak”


__ADS_2