
....
"Pi, kakak menikah dengan siapa?" tanya El.
Heryawan yang mendapat pertanyaan dari putrinya pun tersenyum sambil mengusap puncak kepala El.
"DENGANMU, NAK!" jawab Heryawan.
Hening sejenak. El menatap lekat manik mata lelaki yang ada di hadapannya, lalu menatap sekumpulan orang yang berada di sofa. Tidak ada teriakan nyaring khas Ellycia Geoneva seperti biasanya. Itu justru membuat Aryan khawatir.
Setelah beberapa saat, justru El tergelak. "Hahaha, Papi sudah pintar nge-prank, ya, tapi sayangnya nggak lucu."
"Papi serius, nak. Kamu sudah jadi istri Aryan sekarang." Papi membingkai wajah El.
El terdiam. Dadanya bergemuruh. Pundaknya terlihat naik turun. Entah mengapa saat ini nafas El begitu berat. El memegangi kepalanya kemudian bergeleng sekuatnya. "Papi bohong, kan?"
Aryan yang melihat El pun berdiri dari sofa tempat ia mendudukkan dirinya. "El ...." panggilnya dengan suara lembut.
"Stop! jangan deketin aku, kak." El mengacungkan telunjuk nya ke arah Aryan. Mau tidak mau Aryan pun terpaku di tempatnya berpijak.
"Pi, sebenarnya ini apa, Pi? tolong jelasin antara aku dan Kak Aryan," pinta El.
"El, tenang dulu. Nanti papi jelaskan semuanya, ya," ucap Heryawan.
El begitu syok dengan apa yang saat ini ia alami. Mengapa takdir segila ini? menurutnya.
'Kenapa Papi menikahkan ku dengan Kak Aryan? siapa sebenarnya aku dan Kak Aryan? Ada apa dengan semua ini?' gumam El.
****
Di dalam ruangan kerja milik Heryawan inilah El dan Aryan duduk bersama dalam status yang berbeda.
"Minum dulu, El. Biar tenang." Aryan menyuguhkan segelas air kepada sang adik yang kini sudah berubah status menjadi istrinya.
El menatap sekilas, lalu mengambil segelas air yang di suguhkan Aryan tadi dan meminumnya.
"Sudah?" tanya Aryan.
El hanya mengangguk menerima perlakuan Aryan. Entah kenapa mendadak semuanya terasa canggung. Padahal, ia sudah biasa menerima perlakuan semacam ini. Bahkan El juga dulu tidak sungkan untuk memeluk dan mencium Aryan. Namun, dalam sekejab semuanya terasa berbeda.
"El, maafkan papi karena sebelumnya tidak memberitahukan hal ini kepadamu, nak." Heryawan membuka pembicaraan.
Suasana kembali hening. Baik dari Aryan ataupun El tidak ada yang menanggapi.
"Tapi percayalah, El, ini semua karena papi sangat menyayangimu. Papi tidak ingin kamu jatuh ke orang yang salah.
__ADS_1
El hanya tertunduk. Sepasang netranya mulai mengembun. " Tapi, kenapa Kak Aryan, Pi, apa Kak Aryan ...."
"Aryan bukan kakak kandungmu, El, dan Kak Aryan bukan anak kandung papi," jelas papi.
El terisak mendengar kenyataan yang baru ia ketahui.
"Tapi papi sangat menyayangi Aryan, sama seperti papi menyayangimu. Papi tidak ingin kamu dan Aryan mendapat pasangan hidup yang salah. Hingga akhirnya, enam bulan lalu papi meminta Aryan untuk menikahimu,"
"Papi sudah tua, El, papi ingin ada yang menjagamu, Aryan adalah orang yang paling tepat untuk mendampingimu. Aryan orang yang bertanggung jawab, rajin beribadah, jujur, dan sabar. Dia pasti bisa menjadi suami yang baik untukmu, nak." Suara Heryawan bergetar menahan tangis.
"Tapi El belum mau menikah, Pi. El masih mau kuliah," jawab El setelah sekian lama bungkam.
"Aryan tidak akan mengekangmu, nak. Kamu tetap bisa kuliah dan berkarir. Bukan begitu, Ar,"
Aryan hanya mengangguk dan menampakkan senyuman.
"Papi mohon, El, Papi janji ini terakhir kalinya papi memintamu untuk menuruti Papi." Heryawan mengatupkan kedua tanganya di hadapan putri kesayangannya.
Pertahanan El pun runtuh. Ia pun bangkit dari duduknya dan berlari memeluk Heryawan dengan erat. "Jangan begini, Pi." El tidak bisa melihat seorang Heryawan yang notabene seorang CEO dari beberapa perusahaan besar yang sangat di segani mengiba dan memohon padanya.
"El akan turuti semua keinginan Papi, asalkan papi bahagia." El menyandarkan kepalanya pada dada sang ayah.
"Papi sangat bahagia, sayang. Papi bisa tenang jika kamu papi titipkan pada orang yang tepat. Seandainya Papi harus mati hari ini pun Papi ikhlas, nak," ucap Heryawan.
El menggeleng cepat. "Papi nggak boleh ngomong gitu. Umur Papi harus panjang. Temani sampai El tua."
"Aku sudah jadi istri. Tapi selamanya aku tetap anak papi, tidak ada yang bisa melarangku untuk bermanja manja dengan papi." El semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh sang ayah.
"Ar, kemarilah!" Heryawan memintanya mendekat. Mengajaknya untuk merasakan kebahagiaan ini dari dekat setelah sekian lama keberadaan Aryan tak ubahnya seperti obat nyamuk.
Aryan pun mendekati ayah dan anak itu.
"Ar, terimakasih kamu sudah memenuhi permintaan papi. Papi titip El padamu. Bangun lah keluarga bersama El, belajarlah untuk saling mencintai dan kamu El, turuti perintah suamimu, kalau kamu nggak nurut, Siap-siap dengan credit card mu."
"Ah, Papi," jawab El.
"InsyaAllah, Aryan akan jaga El, Pi," sahut Aryan.
Ketiganya pun saling berpelukan.
****
Malam sudah semakin larut, suara jangkrik sudah semakin melengking di luar sana. Hawa dingin pun sudah semakin menusuk ke dalam tulang, tetapi El masih belum bisa memejamkan matanya.
Malam ini begitu berbeda ia rasakan. Ranjang besar miliknya kini sudah bukan wilayah teritorialnya lagi. Ia sudah harus berbagi dengan Aryan, sang kakak yang kini sudah mengesahkan diri sebagai suaminya di mata hukum dan agama.
__ADS_1
El melihat wajah lelaki yang terlelap di sampingnya. Lelaki itu meringkuk di balik hangatnya selimut tebal milik El. Begitu canggungnya El, sampai sampai ia harus meletakkan guling di antara mereka.
'Apa aku bisa mencintaimu, kak? Apa aku bisa menjalankan tugasku sebagai istrimu?" Batin El bermonolog.
Tiba-tiba saja pikirannya tertuju pada Zack. Lelaki yang baru hitungan hari menjadi kekasihnya.
'Ya ampun, Zack,'
Lelaki itu bahkan hampir terlupakan oleh El. El pun memeriksa ponselnya, siapa tahu ada pesan yang tak terbaca olehnya.
Dan benar saja, ada beberapa pesan yang tak terbaca.
'Sayang'
'Yang, kamu lagi apa?'
'Kamu udah tidur, ya, Good night. Mimpi indah sayang
El menghela nafas. Ia tak bisa lagi berpikir bagaimana nasib hubungannya dengan Zack. Bagaimana ia harus menjelaskan kepada Zack tentang pernikahannya.
"El,"
Suara bariton yang terdengar serak khas bangun tidur itu mengejutkan El.
"Eh, kakak." El buru buru meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia tidak enak jika ketahuan sedang memeriksa pesan dari Zack. El sadar diri akan statusnya sekarang.
"Kok, belum tidur, sih,?" ini udah larut malam, loh," ucap Aryan.
"Hmm, iya kak. El nggak bisa tidur," jawab El singkat.
Aryan pun duduk dan bersandar di kepala ranjang. "Ada yang mengganggu pikiranmu, Hmm? " Aryan mengusap puncak kepala El.
'Ya ampun, kenapa rasanya beda gini. Padahal ini hal yang biasa di lakukan Kak Aryan,' batin El.
"Eh, enggak, k-kak." Bahkan ketika memanggil pun El seperti bingung sendiri mau memanggil apa.
"Kakak di sini mengganggu tidurmu?" tanya Aryan.
"Eh, enggak, kok, kakak tidur aja. Besok, kan harus kerja," jawab El.
"Uh, perhatian sekali, sih, ISTRIKU!" Aryan menekankan kata terakhir sambil mendekatkan wajahnya.
El yang mendapat perlakuan itu melotot seketika, lalu menepuk lengan Aryan.
"Hahaha, sudahlah ayo tidur," ajak Aryan.
__ADS_1
El pun merebahkan tubuhnya. Aryan menaikkan selimut yang ada di kaki El hingga menutupi dada El. "Good night, El." sambil mendaratkan satu kecupan manis di kening El. Hal itu membuat jantung El tak karuan.
'Ampun, dah, gini amat jantungku.'