
....
Aryan menggeram, rahangnya mengeras menahan kesal setelah mendapat telepon dari orang yang di utusnya untuk mengawasi El. Firasat yang memang sudah di rasakan nya sejak ia mengajak paksa El pulang pun kini terjadi.
Pikirannya buyar. Namun urusannya di luar kota memang tidak bisa ia tinggalkan. Kecelakaan kerja yang di alami pekerjanya di lapangan membuatnya harus turun tangan untuk mengatasinya.
Drrrtt ... Drrrtt ....
Ponsel pintar Aryan kembali bergetar saat seseorang menghubunginya.
'Papi ....'
"Assalamualaikum, Pi."
....
"Aryan sedang di luar kota, Pi. Ada sedikit masalah di proyek kota B."
....
"Nanti Aryan coba minta bantuan orang di lapangan, ya, Pi. Papi jangan banyak pikiran. Semua akan baik-baik aja, Pi."
....
Waalaikumsalam, Pi." Aryan memutus panggilannya.
Aryan sudah bisa menduga. Ini pasti ada kaitannya dengan El yang tak kunjung kembali. Aryan tak berani membayangkan jika Heryawan tahu bahwa El di bawa Zack.
Hingga petang merayap naik, Aryan baru saja menyelesaikan urusannya. Tanpa pikir panjang, ia memerintahkan Septian agar menyusul para ajudan yang di tugaskan untuk menjaga El.
"Sep, ayo kita ke lokasi yang sudah saya kirim ke ponselmu," titah Aryan.
"Siap, Pak!" jawab Septian.
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, kedua sampai di titik lokasi yang sebelum sudah di kirimkan oleh para ajudan itu.
"Kenapa kalian bisa kecolongan?" cerca Aryan.
"Sepertinya Zack juga memiliki orang suruhan, Pak. Tadi, waktu kita mengikuti mobil Zack ada orang yang berboncengan dengan motor menabur ranjau paku. Sepertinya, Zack merencanakan sesuatu, Pak," jawab salah seorang dari mereka.
Aryan menghembuskan nafasnya kasar. Ia begitu mengkhawatirkan keadaan El. Lalu, Aryan teringat sesuatu. Aryan pun membuka ponsel pintarnya. Mencari di mana keberadaan El melalui ponsel yang di bawa oleh El dan ....
__ADS_1
"Saya sudah mendapatkan titiknya. Ayo kita ke sini!" titah Aryan.
Mereka pun bergerak cepat. Tanpa menunggu lagi, Aryan beserta para ajudan itu pun mengikuti petunjuk yang ada di ponsel itu. Cukup jauh mereka berjalan.
"Pak, kita sudah memasuki wilayah Kota S. Setahu saya, sebentar lagi kita memasuki wilayah perkebunan, Pak," ujar Septian.
Aryan mengepalkan tangannya menahan kesal. 'Kemana kau membawa istriku, Zack.'
*****
El mengerjap beberapa kali. Ia meringis menahan rasa pusing yang masih saja mendera. Setelah matanya benar-benar terbuka ia baru sadar bahwa ia tak mengenal tempat itu dan ....
"Awww ...." El mengaduh, ia panik mengetahui tangannya di ikat ke belakang tubuhnya.
"Tolong!" pekiknya. Namun, tidak ada satu pun yang menjawab. Tempat itu begitu sepi seperti tak berpenghuni. Mata El melihat ke seluruhan sisi dan sudut ruangan tempatnya saat ini. Seperti bangunan tua.
"Hai, Sayang." Suara bariton seseorang terdengar begitu menggema. El sangat mengenali suara itu. Hanya saja, keadaan yang minim cahaya membuat El mencari dari mana sumber suara itu datang.
Mata El membulat ketika orang tersebut semakin mendekat ke arahnya. "Zack."
"Nyenyak banget boboknya, ya, sampai nggak sadar udah jalan-jalan sampai sini," Zack tersenyum licik.
El berusaha mengingat apa yang terjadi. Bagaimana ia bisa tidak sadar. 'Ka-kamu kasih apa ke minumanku, Zack?"
"Kurang a**r kamu, Zack. Apa mau mu?" ketus El.
"Hmm, mau kamu, lah. Kita bersenang-senang sebentar, bagaimana?" Zack mendekati El. Berbicara tepat di telinga El sambil sesekali mengendusnya.
"Zack, aku mohon, jangan apa-apa kan aku," lirih El.
Zack tak menjawab. Ia hanya tertawa. Tawa yang tak bisa di jelaskan. Tawanya justru terdengar mengerikan di telinga El.
"Zack, kamu mencintaiku, kan? tolong jangan sakiti aku, Zack," El memohon.
"Cinta? Hahaha." Tawanya semakin kencang terdengar. Membuat El bergidik ngeri.
"Gimana, ya, El. Apa gue harus jujur sama lo. Gue, tuh, sebenarnya nggak cinta sama lo."
El tertegun mendengar kejujuran Zack. "Apa maksudmu, Zack?"
"Gue cuma bales dendam aja sama lo. Gue berusaha dapetin lo, gue nikahin lo, terus gue siksa lo. Eh, ternyata Aryan udah nyolong start dari gue,"
__ADS_1
"Sakit jiwa lo, Gilaa!" pekik El.
"Hahaha, iya gue gila, gue sakit jiwa. Itu semua karena bokap lo. Heryawan Wiraja. Dia buat gue kayak gini. Paham lo." Teriakan Zack tak kalah keras hingga menggema ke setiap sudut ruangan.
El tercenung sejenak.
'Zack dendam sama Papi?' Gumam El.
"Gara-gara bokap lo, hidup keluarga gue berantakan. Coba gue tanya sama lo, kenapa di belakang nama lo nggak ada nama WI RA JA? bisa lo jawab?" tanya Zack dengan senyum menyeringai.
El hanya terdiam.Iya benar.Di data mana pun namanya hanya tertulis Ellycia Geoneva, tanpa embel embel Wiraja di belakangnya. Namun, ia tidak pernah mempermasalahkannya, tapi kenapa justru Zack mengungkit hal yang justru tak pernah terlintas di pikirannya.
"A-aku tidak tahu, dan ... aku tidak pernah mempermasalahkannya," jawab El.
Mendengar jawaban El, tawa Zack kembali terdengar. "Hahaha, lo tahu? itu karena lo anak ha**m Heryawan. Lo itu bukan anak yang di harapkan, lo anak selingkuhannya Heryawan
dan ...."
"Stop! stop!" Pekik El. Ia menggelengkan kepala sekeras mungkin. Ia tak sanggup mendengarnya. Telinganya terasa sakit, dadanya begitu sesak.
"Hahaha, kenapa? Kaget? Asal lo tahu, gara-gara nyokap lo yang ja***g itu, Istri sah Heryawan bunuh diri bersama anak-anaknya" Ucap Zack dengan nafas yang memburu.
"Lo pasti bohong!" sela El.
"Dan satu lagi, karena kematian tante gue bersama anak-anaknya, oma gue jadi depresi dan akhirnya meninggal, itu semua karena nyokap lo, TAHU!" Zack menghentak di kalimat terakhir. Netranya terlihat sedikit berkaca-kaca, tetapi kilatan amarah tidak juga padam. Sedih, sakit, jika ia mengingat kematian tante dan omanya yang tragis.
"Ja-jadi, kamu ...."
"Gue keponakan Heryawan Wiraja! Zaki Eka Nugraha, paham."
El terdiam. Ucapan Zack benar-benar sebuah kejutan untuknya, Kata-kata itu terus berputar-putar di otaknya.
"Lo nggak tahu, betapa berartinya oma bagi gue. Dari kecil oma dan tante gue itu dunia gue dan semuanya ninggalin gue gara-gara nyokap lo." Zack menarik rambut kemerahan milik El dengan kasar.
"Aww, sakit, Zack." El meringis menahan sakit.
"Bos!" Tiba-tiba seseorang berkepala botak dengan jaket kulit berwarna hitam datang dengan tergesa-gesa.
"Ada apa?" tanya Zack.
"Jejak kita di ketahui mereka. Ayo pergi dari sini sebelum mereka datang," kata lelaki itu yang di ketahui adalah anak buah Zack.
__ADS_1
"Sial!" umpat Zack.
Tanpa berpikir panjang Zack melepaskan ikatan pada tubuh El. "Ayo." Ia menarik paksa El dan membawanya.