Jodoh Ditangan Papi

Jodoh Ditangan Papi
Minta Di anterin


__ADS_3

“Pak, boleh nggak anterin El ke kantor kepala desa?” tanya El.


Pak Kamsuri menatap El. Ia sampai menghentikan kunyahan pada mulutnya. “Kantor kepala desa?”


“Ini, lho, Pak. El mau menghubungi keluarganya.” Bu Yati menjelaskan keinginan El.


“Mbak El ingat nomor keluarganya?” tanya Pak Kamsuri.


“Saya hafal nomor suami saya, Pak,” jawab El.


Pak Kamsuri dan Bu Yati terperangah mendengar penuturan El. Sepasang suami istri itu saling melempar pandangan.


“Kamu ... udah punya suami, tho? ” tanya Bu Yati.


“Sudah, Bu.”


“Ibu kira kamu itu masih gadis, lho,” kata Bu Yati.


El tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


“Pak, besok pagi-pagi anterin El ke kantor kepala desa. Kasian suaminya pasti nyariin,” lanjut Bu Yati.


Pak Kamsuri pun mengiyakan. El tersenyum. Bayangan bisa berbicara dengan lelaki yang ia rindukan sudah menari-nari di benaknya. Ia berharap bisa segera memberi kabar Aryan, agar Aryan segera menjemputnya.


*****


“Jadi gitu, Bu, ceritanya,” ujar El setelah panjang melebar menceritakan kisahnya kepada Bu Yati.


“Oh, kalo gitu sama, dong, kayak Ibu,” jawab Bu Yati.


“maksudnya?”


“Ya, Ibu sama Bapak juga dulu di jodohkan,” sahut Bu Yati.


“Siapa yang jodohin Ibu sama Bapak?” El semakin penasaran dengan kisah pasangan itu.

__ADS_1


“Pamannya Ibu. Bapak itu temennya Paman,” jawab Bu Yati.


“Nggak punya perasaan banget, sih, Pamannya Bu Yati. Ngasih jodoh sama orang kayak Pak Kamsuri. Udah tua, susah pula.” El membatin.


“Eumm, Ibu nggak nolak, gitu?”


Bu Yati tersenyum dan menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. “Nggak.”


“Kenapa, Bu? Ibu masih muda terus cantik. Masa nikah sama ... Eh!” El buru-buru menutup mulutnya agar ucapannya tak kebablasan. Mengingat Bu Yati masih muda, sedangkan Pak Kamsuri sudah tua. Mungkin usia Pak Kamsuri sudah mencapai lima puluhan.


Bu Yati hanya terkekeh melihat El. “Karena ingin berbakti kepada Paman. Ibu ini yatim piatu, sejak kecil di urus Paman. Enggak enak rasanya menolak permintaannya.”


Hati El seperti tercubit. Berbanding terbalik dengan Bu Yati yang rela di jodohkan dengan Pak Kamsuri demi baktinya kepada Pamannya yang telah mengurusnya sejak kecil, El justru menolak pada saat di jodohkan dengan Aryan.


Padahal El bisa melihat dengan jelas kehidupan Pak Kamsuri yang jauh dari kata cukup. Untuk makan saja harus berjuang dulu di hutan, tapi Bu Yati dengan ikhlas mau di jodohkan dan menikah dengan Pak Kamsuri. Bu Yati juga menjalankan tugasnya sebagai istri dengan baik.


Sedangkan dirinya? Ah, membayangkan saja sudah malu rasanya.


“Ya Tuhan, apa ini teguran untukku? Apa aku harus berterimakasih pada Papi karena sudah menjodohkan ku dengan lelaki sesempurna Kak Aryan.” Gumam El.


“Ibu nggak mau mengecewakan Paman dan Bibi. Mungkin dengan cara ini, Ibu bisa sedikit membalas jasa Paman dan Bibi atas apa yang sudah di lakukan pada Ibu dari Ibu kecil sampai besar.” Lanjut Bu Yati.


Lagi, El merasa tersindir dengan ucapan Bu Yati. Entah kenapa, ada berbagai rasa bergumul dalam dadanya hingga menimbulkan rasa sesak. Matanya mengembun, bulir bening itu seperti ingin melesat keluar.


“El ....” Bu Yati menyentuh bahu El yang terdiam sejak tadi. “Kamu baik baik saja?”


“El merasa bersalah, Bu,” lirih nya. Mengingat sikapnya kepada Aryan.


“Kenapa? Sama siapa?” tanya Bu Yati penasaran.


“Sama ... Kak Aryan. Suami El, Bu.” Jawab El dengan kepala yang merunduk. Meski dalam kondisi minim cahaya, raut kesedihan itu tetap terlihat nyata di wajah El.


Bu Yati hanya menghela nafas. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya sebagai jawaban. Ia masih menunggu El untuk siap kembali berbicara.


“Selama jadi istri, El nggak pernah melakukan kewajiban El sebagai seorang istri. Semua kebutuhan El justru Kak Aryan yang mengurus. Bahkan, El belum memberikan ... hak Kak Aryan sebagai suami.”

__ADS_1


Kata kata itu meluncur bebas begitu saja. El tanpa malu dan ragu membuka kehidupannya kepada Bu Yati, orang baru beberapa hari ini dia kenal.


“Sulit rasanya, Bu, ketika orang yang sejak lahir kita sayangi sebagai Kakak, Tiba-tiba harus menyayanginya sebagai Suami,” Lanjut El.


“Asal kamu ikhlas menjalaninya, menerima semua ini atas ketetapan Allah, mudah mudahan tidak ada yang sulit. Belum terlambat untuk memperbaiki diri, El,” jawab Bu Yati sambil mengusap lengan El.


“Tahu aja, Bu, kalau El belum ikhlas,” sungut El. Wajah cantiknya berubah cemberut.


Bu Yati terkekeh melihat perubahan wajah El. “Ingat. Jalan hidup kita itu sudah di tentukan sejak kita masih di dalam kandungan. Kita hanya menjalani saja. Mungkin ini sudah jalanmu bertemu jodoh melalui Papi mu. Papi mu juga mungkin punya alasan yang kuat melakukan ini. Terimalah dengan ikhlas sebagai tanda baktimu sebagai seorang anak. Anggap saja ini caramu membahagiakannya.”


Kata kata Bu Yati seperti masuk ke dalam hati El sampai ke celah terdalam. Begitu lembut dan menenangkan.Tidak ada sama sekali nada menghakimi di sana.


“Dari kecil, Saya tidak tahu bagaimana rasanya memiliki Ibu. Dalam hidup Saya, Saya hanya mengenal Papi, Kak Aryan, dan para asisten di rumah. Mungkin seperti ini rasanya memiliki Ibu. Bisa bercerita banyak tentang apa yang kita alami. Makasih, ya, Bu, atas semuanya.” El menggenggam tangan Bu Yati diiringi mata yang berkaca-kaca.


“Makasih untuk apa, sih, El. Ibu nggak melakukan apa apa untuk kamu.”


“Tanpa Ibu dan Bapak, mungkin El udah mati di makan harimau malam itu.” El terkekeh mengingat kejadian malam itu di mana ia berjuang untuk kabur dari Zack dan komplotannya.


“Ibu dan Bapak hanya membantu sebisanya, El,” jawab Bu Yati.


“Bu ....”


“Iya, El,” jawab Bu Yati.


“El boleh peluk?”


Tanpa menjawab Bu Yati langsung menggeser tubuhnya dan merengkuh tubuh El. Memeluknya dengan erat sambil mengusap punggung El. Memberikan kenyamanan serta menyalurkan sedikit kekuatan untuk El.


“Mungkin seperti ini rasanya di peluk oleh Ibu.” El menyandarkan kepalanya di bahu Bu Yati, menandakan betapa lemahnya ia saat ini.


“Ya udah, El. Kamu harus istirahat, supaya besok kita bisa cepat ke kantor kepala desa dan menghubungi suamimu. Suami mu pasti sangat cemas.”


“Iya, Bu. Makasih banyak, ya, Bu. Ibu udah baik banget sama, El.”


“Awas, lho, El. Sekali lagi bilang makasih kamu dapet payung,” celetuk Bu Yati yang di sambut gelak tawa El.

__ADS_1


__ADS_2