
...
"Sayang,"
"Eh, iya," El terkejut dengan panggilan yang diiringi sentuhan lembut di tangannya.
"Kamu kenapa, sih, yang, dari tadi, tuh, diam aja," tanya Zack.
"Hmm, nggak apa-apa, kok, cuma lagi nggak enak badan aja," jawab El.
"Kita ke dokter, ya," ajak Zack.
El gegas menggelengkan kepalanya. "Eh, nggak usah. Aku beneran nggak apa-apa, kok,"
El lebih banyak diam semenjak masuk ke dalam restoran. Raganya mendadak menjadi kalem, tak seperti El yang biasanya ceria. tetapi berbeda dengan pikirannya. Entah kenapa pikirannya seperti tak di tempatnya saat ini.
Ia gelisah. Ada rasa tidak enak sebenarnya dengan statusnya yang sekarang telah menjadi istri tetapi masih berduaan dengan lelaki lain di tempat umum. Bahkan lelaki yang bersamanya masih berstatus kekasihnya. Ia bingung bagaimana cara menyampaikannya.
"Hmm, Zack," panggil El
"Iya, sayang," sahut Zack.
Cuma El yang tahu perasaannya saat ini. Antara takut, gugup, dan sedih itu berbaur menjadi satu. Ia memainkan jemarinya untuk menghilangkan kegugupan nya. "Hmm, aku mau bilang sesuatu."
"Apa itu, yang." Zack semakin mengeratkan genggamannya.
"Hmm, itu .... hmm, sebenernya a-aku ... AKU SUDAH MENIKAH." Perlahan tapi pasti El mengucapkannya walau dengan terbatas dan dengan volume nada yang amat pelan.
Zack hanya terdiam. Kedua alisnya terlihat meninggi. Entah apa yang ada di pikirannya detik itu. "Pengen bikin konten, ya, yang?"
'Astaga, ternyata Zack menganggap ini candaan," gumam El sambil mengusap wajahnya.
"A-aku nggak becanda, Zack. K-kemarin Papi menikahkanku, tapi ini bukan mau ku, Zack. Tiba-tiba aja Papi menikahkan ku tanpa sepengetahuan ku." El menjelaskannya dengan perlahan. Sesekali ucapannya begitu tersendat.
"Siapa yang menikah denganmu, yang?" tanya Zack.
"Hmm, Kak Aryan," jawab El.
Zack terdiam. Sepersekian detik kemudian, terdengan helaan nafasnya yang terdengar cukup berat. Ia mungkin terkejut, tetapi ia menahannya.
"Kamu menerima pernikahan ini?" tanya Zack
"Sebenarnya tidak, tapi aku tidak mau mengecewakan Papi. Kami melakukannya demi Papi," jawab El.
"Kamu mencintai, Aryan?"
El hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kamu mencintaiku?" Zack menatap manik mata wanita yang ada di depannya.
El terdiam. Jauh di dalam lubuk hatinya ia sangat mencintai Zack, lelaki pertama yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Lelaki pertama yang berhasil membuat dadanya berdebar saat saling memandang, tetapi El juga sudah tidak bisa menghindar dari takdir yang di buat oleh Papi.
Zack melepas genggamannya. "Tanpa kamu menjawab pun aku sudah tahu jawabannya, sayang. Terimakasih, kamu telah mencintaiku." Zack membingkai wajah El dengan kedua tangannya.
Sepasang netra kecoklatan milik El pun mengembun. Ada rasa sesak yang ia rasakan. Ia begitu mencintai lelaki yang ada di hadapannya ini. Namun, bagaimana dengan pernikahannya dengan Aryan? Ia tidak tahu harus mengejar cintanya demi kebahagiaan nya atau melepaskan cintanya demi kebahagiaan Papinya.
"Tapi, semua yang aku rasakan padamu sudah tidak ada artinya, Zack," lirih El.
"Kamu tidak keberatan jika aku memintamu agar tetap menjalani hubungan kita? Aku tidak bisa melepaskanmu, El. Sungguh!" ucap Zack.
El tampak berpikir. Jika di pikirkan dengan akal sehat, ini adalah ide yang gila, tetapi itulah cinta. Memang terkadang membuat insan bisa melakukan hal gila.
"Tapi, Zack ...."
"Ssssstttt .... kita jalani aja, ya, sayang." Zack meletakkan telunjuknya tepat di depan bibir merona milik El. Membuat sang empunya tak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Zack, aku mau pulang. Boleh? sepertinya aku butuh istirahat," pinta El.
"Baiklah, sayang. Ingat, jangan terlalu banyak pikiran. Aku selalu ada untukmu." Zack tersenyum dan mengerlingkan sebelah matanya.
El yang di perlakukan seperti itu pun tersipu malu. "Baiklah."
"Ayo aku antar!" Zack menarik tangan El, tetapi di cegah oleh El.
"Aku tidak akan keluar dari mobil. Mereka tidak akan tahu siapa yang mengantarmu," ucap Zack.
"Baiklah." El pun menyetujui nya dan segera mengambil tas selempangnya, lalu beranjak dari restoran.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya, El hanya termenung. Ada banyak pikiran dalam diamnya. Namun, semakin ia memikirkan apa yang terjadi dalam hidupnya, ia semakin tidak tahu apa yang ingin di perbuat.
Tak mudah baginya untuk menerima begitu saja pernikahannya bersama Aryan, tapi sebagai seorang anak ia juga ingin membahagiakan orang tuanya.
****
Sesampainya di halaman rumah, mata El langsung tertuju oleh mobil mercedes benz E class yang ada depan garasi. Ia terkejut karena Aryan sudah pulang lebih dulu dari pada dirinya.
Ia pun buru-buru masuk ke rumahnya. Namun, rumah terlihat sepi. Kebetulan sekali, Bu Ida berlalu di hadapannya dengan membawa ember dan alat pel. Sepertinya ia baru saja selesai membersihkan rumah
"Bu," panggil El.
"Eh, nona udah pulang," sahut Bu Ida.
"Bu, Kak Aryan sudah pulang, ya?" tanya El.
"Iya, non. Kan, Tuan besar sakit," jawab Bu Ida.
__ADS_1
"Hah!" Papi kenapa Bu?"
"Biasa, non. Kumat lagi penyakit Tuan," sahut Bu Ida.
Dengan wajah yang terlihat panik, El berlari menuju lantai atas tempat Papinya beristirahat. Tanpa mengetuk pintu, El langsung saja membuka pintu kamar Papinya dan benar saja, ketika El masuk ia melihat Aryan yang sedang duduk di bibir ranjang sambil memegangi tangan Heryawan.
Aryan cukup di kejutkan oleh suara pintu yang terbuka tiba-tiba. Senyumnya mengembang ketika melihat wanita yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"Papi kenapa, kak?" tanya El.
"Papi enggak apa-apa, hanya ...."
"El." Suara lirih Heryawan tiba-tiba saja terdengar.
"Papi ...." El mendekat ke ranjang. Menghampiri Heryawan yang sedang terbaring tak berdaya.
"Tolong, El jangan di ulangi." Heryawan menggenggam tangan El. Suaranya terdengar parau di sertai bulir bening yang terlihat luruh tak terbendung.
El terpaku. Ia masih belum mengerti kemana arah pembicaraan Heryawan.
Aryan pun buru-buru mendekat. "Pi, sudah. Jangan bahas ini dulu, Papi belum sehat."
Heryawan menggelengkan kepalanya. "Biarkan Papi bicara, Ar."
Aryan terdengar menghela nafasnya
El menatap kedua lelaki itu secara bergantian. Ia masih bingung kemana arah pembicaraan keduanya. Ia belum mengerti sama sekali.
"El, tolong, jangan khianati suamimu, nak," pinta Heryawan.
Wajah El berubah menjadi pias. Sepertinya ia sudah mulai menangkap apa yang akan di bicarakan oleh Papinya.
'Apa Papi melihat semuanya? Papi melihat aku dan Zack?'
"Maaf, Pi." El tertunduk lemah.
"El, tanpa Papi memberitahumu, kamu pasti tahu Aryan itu lelaki baik, sayang. Tidak ada lelaki lain yang pantas mendampingimu selain Aryan, nak." Nafas lelaki paruh baya itu terlihat sesak saat mengingat apa yang ia lihat tadi.
"Pi, Papi istirahat aja, ya. Biar Aryan pelan-pelan bicara sama, El. Papi jangan banyak bicara dulu, jangan banyak pikiran. Biar Papi sehat dulu." Aryan menggenggam jemari El. Mengajaknya beranjak dari kamar. Meninggalkan Heryawan agar bisa beristirahat. Ia yakin mertuanya sedang syok. Butuh istirahat.
Heryawan hanya mengangguk lemah.
"El, ayo, sayang. Biar Papi istirahat dulu, ya," ajak Aryan.
"Tapi, Kak, El mau sama Papi." lirih El.
"Iya, nanti kita sama Papi lagi." Aryan merangkul pundak El dan mengajaknya untuk keluar dari kamar.
__ADS_1