
Tidak jauh beda dengan yang Hizaz pikirkan, gadis dihadapanya pun merasakan hal yang sama, merasa pernah bertemu sebelumnya meski telah lama waktunya.
Setelah sama-sama menguasai rasa keterkejutanya, mereka saling menyalami kemudiam Hizaz duduk di sofa yang masih kosong, tepat disamping Fiaz dan berhadapan langsung dengan gadis itu.
"Kenalin beliau ini Pak Burhan, teman Ayah waktu nyantri dulu, istrinya namanya Bu Sophi dan gadis yang cantik itu anak bungsunya Pak Burhan" Pak Fatir memulai obrolanya lagi setelah kedua putranya menyalami mereka. Hizaz dan Fiaz tersenyum kearah tamu-tamu itu,
"Salam kenal Bapak, Ibu," Ucap Hizaz dan Fiaz kompak
"Sama putrinya yang cantik dan imut" Sambung Fiaz kemudiam disertai senyum genitnya.
"Aauuu sakit Mas" Fiaz mengaduh kesakitan setelah pinggangnya dicubit oleh Hizaz, diiringi gelak tawa dari semua yang duduk di ruang tamu itu.
"Hizaz sama Fiaz masih kuliah kan, ohya, bukanya dulu saya pernah dengar jika Hizaz kuliah di Mesir.?" Tanya Pak Burhan tiba-tiba
__ADS_1
"Saya sudah lulus satu tahun yang lalu Pak, dan sekarang saya mengajar di MA Ar-Rasyid tempat sekolah Saya dulu" Jawab Hizaz dengan tutur kata yang halus.
"Oohh bagus dong, jadi ilmunya gk nganggur. Eh bentar, bentar,, MA Ar-Rasyid bukankah itu satu naungan dengan Ponpes Ar-Rasyid ya, pimpinanya Kang Rahman, betul bukan.?" Tanya Pak Burhan antusias dengan wajah yang sudah menantikan jawaban
"Iya betu sekali, itu Ponpes yang dibangun Kang Rahman setelah menyelesaikan ngajinya di Jatim," Jelas ini adalah Pak Fatir yang menjawab.
"Nanti kalo waktunya cukup kami mau mampir kesana sekalian, sudah lama sekali tidak ketemu" ucap Pak Burhan kemudian
"Oh iya Saya lupa mengenalkanya, kenalin Hizaz dan Fiaz, ini putri Saya namanya Zilza Amelia panggil saja Zilza, dia ini masih sekolah kelas 3 SMA dan sebentar lagi ujian. Makanya Saya mengajaknya jalan-jalan biar refreshing dulu karna mulai minggu depan udah harus les tiap hari." Jawab Pak Burhan panjang lebar
"Zilza udah punya pacar belum.?,,Aauuu!" Celetuk Fiaz kemudian diiringi cubitan dari Hizaz yang lebih keras dari cubitan pertama tadi.
"Zilza ini Saya larang buat pacaran, kalo memang ada yang suka ya Saya minta langsung nikahin aja, tapi nanti dulu kan masih sekolah. Biarlah kuliah dulu kalo mau nikah." Lagi-lagi Pak Burhan yang menjawab karna Zilza hanya menundukan wajahnya, bingung mau bilang apa. Fiaz dan yang lain pun manggut-manggut mengerti.
__ADS_1
"Ayah, kita jodohin aja Mas Hizaz sama Zilza gimana.?" Celetuk Fiaz tiba-tiba
"Ide bagus tuh, gimana Han,,kamu mau tidak jodohin Zilza sama Hizaz, biar kita jadi besan.?" Fatir menanggapi usulan putranya itu dengan sangat antusias, bagaimana tidak, Burhan adalah sahabatnya sejak masih muda dulu dan mereka sudah sangat dekat layaknya saudara kandung, dan saat ini dia juga istrinya sedang mencari gadis yang pas untuk disandingkan dengan putranya.
Jika Hizaz dan Zilza ditakdirkan berjodoh, tentu dia akan sangat bahagia karna yang menjadi besanya merupakan sahabat baiknya sedari muda. Tapi semua kembali pada putra putri mereka apakah setuju dengan perjodohan ini apa tidak.
"Saya tergantung Zilza saja, karna yang akan menjalani semua ini kan dia. Bagaimana Nok, apa kamu mau dijodohkan dengan Hizaz.?" Tanya Burhan pada putrinya yang hanya dibalas dengan sebuah lengkungan kecil di kedua sudut bibirnya.
"Bagaimana dengan Hizaz, apa kamu setuju dijodohkan dengan putri Saya.?" Tanya Burhan langsung.
"Mau banget lah" Ucap Hizaz spontan yang diiringi tawa semua orang di ruang tamu itu. Kemudian wajah Hizaz terasa panas karna malu, bagaimana tidak, sebenarnya Hizaz akan mengucapkan kalimat tadi hanya dihatinya saja, tapi mulutnya tidak bisa diajak kompromi sehingga tanpa sadar Hizaz mengucapkan kalimat yang menurunkan reputasinya sebagai lelaki cool.
"Tidak apa lah kewibawaanku turun hari ini sampai di tertawain, yang pasti aku memang mau dan sangat ingin berjodoh denganya" Hizaz membatin sambil menatap Zilza diam-diam, dan ketika Zilza balik menatapnya, Hizaz menaikan kedua sudut bibirnya sehingga menampilkam senyuman khasnya, dan setelah itu dia mengalihkan pandanganya ke arah lain, begitupun dengan Zilza. Mereka sama-sama memiliki perasaan suka dalam diam, dan malu untuk mengungkapkanya
__ADS_1