
"Apa kamu sudah lama tinggal di komplek itu, sepertinya aku tidak pernah melihatmu, padahal aku juga tinggal di komplek itu dan sering lari pagi keliling komplek ?"
"baru 2 bulan ini aku dan kakek ku pindah dari Jakarta, karna kakek ingin 3menikmati masa tuanya di kota kelahiran, sekalian aku juga akan kuliah di kota ini" jelasnya panjang lebar dan Fiaz hanya manggut-manggut.
"Aku pernah melihatmu di alun-alun kota, tempo hari lalu" Ucap Fiaz kemudian sambil mengingat ketika di alun-alun ia melihat seorang gadis berparas indah yang membuat naluri kejombloanya meleleh.
"Benarkah,,,kok aku tidak tau, apa mungkin lupa ya"
"Ya karna waktu itu hanya aku yang melihatmu, kamu sedang jalan bareng kakek mu, hehehe" batinya dalam hati
Dan begitulah Fiaz dan Laura yang ngobrol ngalor ngidul sampai depan rumah Laura. Setelah mengantar kakeknya masuk kedalam, Fiaz yang hendak berpamitan seketika teringat sesuatu sambilenunjukan ekspresi kebingunganya
"Kenapa ?" Tanya Laura yang melihat ekspresi berbeda dari wajah Fiaz
"Motorku masih di parkiran danau" jawab Fiaz sambil tersenyum kikuk
"Oh, yaampun,,, ayo aku antar ke danau lagi" Laura merasa bersalah karna dia melupakan kendaraan Fiaz yang terparkir dekat danau, ia pun segera segera berpamitan pada sang kakek untuk mengantarkan Fiaz sebentar,
__ADS_1
"Bi Ina, tolong saya titip kakek ya, saya mau antar mas nya mengambil motor" Ucap Laura pada asisten rumah tangganya sebelum pergi meninggalkan rumah
"Sebenernya kamu nggak perlu anterin aku ke danau lagi, toh aku bisa pesan ojol" Ucap Fiaz setelah melajukan kembali mobil Laura
"Nggak apa, lagian aku harusnya berterima kasih karna sudah ditolongin,,ohya, nama mas siapa ?" Tanya Laura sambil menatap wajah pria dibalik kemudi
"Aku Fiaz, aku tinggal di rumah nomor 72 dekat pos 4, kalo mau main langsung datang aja pintunya terbuka untukmu 24 jam" Modus Fiaz dalam mode ON
"Hihihihi,,,,iya nanti kalau ada waktu" jawab Laura tersenyum
Tiga bulan kemudian
Dengan kerja kerasnya beberapa bulan belakangan untuk belajar, Zilza di terima kuliah di Univeraitas Pemuda, Semarang dengan fakultas kedokteran. Sesuai cita-citanya sejak kecil yang ingin menjadi dokter kandungan.
Gadis bertubuh mungil itu tinggal di kost yang tidak jauh dari area kampus, dan menggunakan motor metic sebagai transportasinya. Zilza juga masih satu kampus dengan Fiaz meskipun beda fakultas dan angkatan.
"Za, nanti malam aku boleh nginap di kost kamu nggak ?" Tanya Veli teman Zilza, mereka kini berada di kantin kampus setelah selesai kelas.
__ADS_1
"Boleh dong, malah aku seneng kalo di kost ada temenya jadi nggak kesepian" Jawab Zilza sambil menyeruput es jeruk yang di pesanya dengan mie ayam.
"Makasih,,,nanti makananya aku yang bayarin yakkkk" ucap Veli yang seketika mendapat respon sumringah dari Zilza.
Sore hari di kamar kost Zilza, dua gadis yang baru pulang kuliah tersebut langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur busa berukuran tidak terlalu besar namun cukup untuk merilekskan tubuh yang lelah sehabis kuliah dan berkeliling swalayan beberapa saat lalu.
"ngomong-ngomong ada angin apa kok tiba-tiba kamu mau nginap di kost ku, kamar apartemen kamu kan lebih besar dan nyaman" Tanya Zilza sambil melepas hijab yang menutup sebagian kepalanya itu hingga menampilkan rambut hitamnya yang terlihat indah sesuai bentuk wajahnya
"Kamu keliatan lebih cantik kalo nggak pake hijab" Bukan menjawab pertanyaan temanya, Veli justru membahas hal lain.
"Ahh kamu ini, selalu mengalihlan pembicaraan" ucap Zilza sambil sedikit mencebikan bibirnya
"Za, kamu udah ada pacar belum ?" Tanyanya
"U,,udah" Sungguh bingung Zilza menjawabnya, karna sejatinya hubunganya bersama Hizaz selama ini bukanlah pacaran melainkan sebuah komitmen untuk saling menjaga hati satu sama lain sampai tiba waktunya untuk mereka bersama.
Namun jika ia mengatakan belum memiliki pacar, bukankah itu sama dengan ia menghianati pemilik hatinya ?
__ADS_1