
Mulai hari itu Nadia mulai bekerja sebagai OB di sana dengan nama samaran sebagai Salsa.
Dia mulai memantau bagaimana kerja para karyawan nya, cara mereka bersikap kepada bawahan mereka, semua nya tidak luput dari perhatian Nadia.
Beberapa hari Nadia bekerja masih tidak ada yang mencuriga kan, namun di hari keempat Nadia tidak sengaja menumpahkan kopi yang di bawa nya, dan tumpahan kopi tersebut mengenai wanita berumur 25 tahunan, di lihat dari pakaiannya seperti nya dia memiliki jabatan yang lumayan tinggi di tempat itu.
"eh maaf, maaf bu" ucap Nadia sambil membersihkan tumpahan kopi di baju wanita tersebut.
" maaf maaf, klo jalan pake mata dong, ini baju saya kotor semua." ucap wanita tersebut memarahi Nadia.
" ya udah biar baju nya saya ganti aja bu" ucap Nadia.
" kamu sok-sok an mau ganti baju saya ini mahal, kualitas impor, mungkin gaji kamu 1 bulan ga mampu gantii.
" ya maaf bu ya udah biar saya cuciin aja baju nya"
" enak aja ya saya ga mau tau kamu harus ganti, 3 bulan gaji kamu saya potong buat ganti rugi baju saya"
" ga bisa gitu dong bu, saya kan kerja buag dapat uang, trus klo semua nya di potong saya dapat apa, ibu saya lagi sakit di kampung butuh banyak biaya bu" akting Nadia sambil menangis memohon diberikan keringanan.
" siapa suruh tumpahin kopi di baju saya, masalah ibu kamu saya ga peduli, yang sakit ibu kamu kenapa saya yang repot, jabatan saya di sini itu tinggi ya. " ucap wanita tersebut sombong sambil berlalu pergi.
" bu saya mohon jangan di potong semua bu, " tangis Nadia terua ber akting
Mbak popi yang kebetulan melihat kejadian itu menenangkan Nadia.
" udah salsa ga usah di tangisin, bu Rita memang begitu sifat nya, ia seenaknya saja sama bawahan nya. Kamu harus iklas"
" tapi mbak saya kerja itu ingin dapat uang buat biayain obat ibu, tapi klo begini gimana saya ngirim uang buat kekuarga saya, buat makan aja ga ada" ucap Nadia sambil terus meyakinkan semua orang.
" masalah itu nanti biar saya urus, saya kebetulan kenal salah satu atasan, nanti bakal saya aduin kejadian ini, biat bu Rita di beri peringatan."
" makasih ya mbak"
" tapi saya ga yakin si bakal di bantuin, kan bu Rita sangat berpengaruh di perusahaan ini" batin mbak popi.
Setelah kerjaan nya selesai Nadia pun pulang dengan memesan ojek online.
Setelah sampai di rumah Nadia langsung bebersih dan sholat zuhur yang sempat tertunda, setelah itu ia langsung tidur.
Kejadian di kantor tadi tidak luput dari pantauan anak buah Rizki yang ditugas untuk selalu mengikuti Nadia, orang tersebut memvideokan kejadia itu dan mengirim nya kepada Rizki.
__ADS_1
" Nadiaaa yuhuuu Nadiaa bangunnn woyy dah sore." teriak Rizki di depan kamar Nadia.
Nadia yang mendengar teriakan Rizki merasa terganggu, tapi ia enggan menyahut, ia memilih menutup telinga nya menggunakan bantal.
Rizki tau pasti Nadia mendengar teriakan nya, hanya saja ia tak mau keluar, Rizki kembali berteriak.
" Nadia bangunn woy bangunn, mau bakso ga? " teriak Rizki smbil menggedor-gedor pintu kamar Nadia.
Para pelayan yang melihat kejadian itu berusaha untuk menahan tawa mereka.
Rizki yang melihat para pelayan memperhatikan nya langsung berkata "ngapain liat-liat, sana kerja."
Para pelayan yang melihat raut wajah Rizki yamg serius langsung melanjutkan pekerjaan nya masing-masing.
Nadia yang di mendengar nama Bakso di sebut kan oleh Rizki bergegas membuka kamar.
Dan saat Nadia membuka pintu, Rizki yang akan mengetok pintu kembali, alhasil bukan pintu yang ia ketok tapi jidat Nadia.
Nadia berteriak histeris " aaaa abang ngapain ngetok jidat Nadia" teriak nya sambil memegang jidat nya yang sakit.
Rizki yang melihat itu pun langsung panik, ia segera menggosok-gosok jidat Nadia yang ia ketok.
" maaf-maaf, ya sakit lah tapi ga seberapa si, ya udah mana bakso nya" ucap Nadia mencari bakso nya.
"hehe abang tadi cuman bercanda, abang cuman mau bangunin Nadia aja"
" ih abang, Nadia ga mau tau, abang harus beliin Nadia bakso " kesal Nadia
" ya udah demi adek tersayang abang beliin, tapi kamu mandi lagi sana, udah lewat asar ni"
"iya abang ku yang ganteng yang maniss, udah sna beliin bakso nya, bakso beranak ya bang"
Rizki pun pergi membelikan Nadia bakso, sedangkan Nadia pergi bebersih untuk melaksanakan sholat asar.
Tak lama Abel datang ia juga masuk ke kamar dan bebersih.
Setengah jam kemudian Rizki datang membawakan pesanan Nadia, Rizki menyuruh pelayan untuk memanggil Nadia.
Tak lama Nadia datang ke meja makan.
" mana bang bakso nya"
__ADS_1
" tuh lagi di siapkan sama pelayan " ucap Rizki sambil pokus bermain ponsel.
Nadia pun duduk di meja makan menunggu pelayan datang membawa makanan nya.
Tak lama pelayan datang, Nadia pun langsung mengambil sebagian bakso beranak yang sudah di potong-potong oleh pelayan.
Rizki pun mengambil mangkok ingin ikut makan juga, tetapi Nadia melarang nya.
" mau ngapain bang?"
" ya mau mkan lah"
" ga boleh, abang kan cuman beli satu porsi, jadi buat Nadia semua, klo abg ikut mkn ntar ga cukup"
" 1 porsi banyak itu Nadia"
" pokok nya abang ga boleh mkan klo mau makan beli aja sana lagi"
Akhir nya Rizki mengalah dia kembali bermain ponsel nya sambil sesekali melirik Nadia yang sedang makan.
Rizki menelan saliva nya melihat Nadia memakan bakso, ia ingin sekali mencicip tapi Nadia tidak memberikan nya.
Nadia yang memyadark Rizki sedang melihat nya pun berkata " ngapain liat-liat, mau bang"
" ya mau lah" jawab Rizki antusias, ia kira Nadia akan memberikan nya,tapi harapan tinggal harapan, justru Nadia menyuruh Rizki untuk membeli.
Tiba-tiba Abel datang dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Nadia.
" wih bakso ni boleh bagi ga?" tanya Abel.
" boleh kok kak makan aja, lagian banyak kok"ucap Nadia.
Abel pun mengambil mangkok dan mengisi nya dengan beberapa potongan bakso.
" Lah Abel boleh makan kok abang ga boleh" komplen Rizki
" ya karna aku masih kesal sma abang, jadi ga boleh makan"
Rizki kembali terdiam ia malas berdebat dengan sang adik, ia lebih memilih untuk melihat mereka makan sesekali ia menglap air ludah nya yang keluar menggunakan tisu.
Nadia yang melihat Rizki pun tak tega akhirnya ia mengizinkan Rizki untuk ikut makan.
__ADS_1