Jodohku Abang Angkatku

Jodohku Abang Angkatku
Cuman akting


__ADS_3

Hari-hari berlalu tak terasa sudah 2 bulan Nadia berada di pesantren berbaur satu sama lain, mengikuti segala kegiatan yang ada di sana, mau tidak mau ia harus terbiasa dengan situasi di sana, seperti bangun tengah malam untuk melaksanakan tahajud, mengantri di saat mandi, teratur bangun subuh, setelah subuh menghafal al-Qur'an, dan masih banyak kegiatan lain nya, yang awal nya sangat dibenci Nadia seperti berpidato, ceramah di depan teman-teman nya mau tak mau harus ia lakukan untuk melatih diri nya, dan akhirnya ia mulai terbiasa melakukan nya.


Dan setiap tanggal muda Rizki akan selalu menjenguk Nadia, hari ini jadwal kedua Rizki menjenguk Nadia, ia sudah berangkat dari jam 8 menuju pesantren.


1 jam kemudian Rizki telah sampai di pesantren ia segera menuju rumah kepala pesantren yaitu rumah Abi dan Umi.


Sesampainya Rizki di sana di sambut dengan ramah oleh Abi dan Umi, Umi pun meminta tolong kepada santriwati yang lewat untuk memanggil kan Nadia yang sedang ikut serta bergotong royong karna hari itu hari libur tidak ada kegiatan ngajar mengajar hanya ada kegiatan tambahan seperti gotong royong membersihkan pesantren, dan lingkungan sekitar pesantren.


Abi Musa segera mencegah umi, untuk meminta tolong kepada santriwati tersebut karna ia dan Rizki yang akan ke sana langsung mendatangi Nadia, sambil Rizki melihat-lihat area pesantren.


Setelah menjamu Rizki dengan teh hangat dan beberapa snack Abi mengajak Rizki berkeliling sambil mencari Nadia dan melihat kegiatan di sana.


Sebelum Nadia pindah ikut bersama Rizki, Rizki sempat mengeyam pendidikan di pesantren itu selama 1 tahun, ia berhenti belajar di pesantren karna ia ingin mengurus perusahaan nya dan Nadia.


Disisi lain Nadia dan teman-teman nya sedang gotong royong, Ada seorang santri yang sengaja mengganggu Nadia dan teman-teman nya.


Santri tersebut sengaja menumpahkan sampah yang sudah di kumpul kan oleh Nadia dan teman-teman, alhasil teman-teman Nadia pun marah, sedang Santri tersebut beralasan tak sengaja.


Hampir saja Santri tersebut di pukuli oleh teman-teman Nadia, namun datang Abi musa dan Rizki juga ustadz Rahman. Nadia hanya diam dan tak bermaksud untuk ikut campur.


" ini kenapa mau pukulin Rendi?" tanya Abi.


" dia Abi, sengaja ngehamburin sampah yang udah kita kumpul, kita capek ngumpulin" ucap salah satu santriwati teman Nadia.


" ngga Abi dia boong, rendi ga sengaja kok"


" Astagfirullah, tapi tidak seharusnya kalian memukuli rendi seperti tadi kan kalian bisa kumpulkan lagi" ucap Abi dengan sabar.


" tapi kita capek bi" balas santriwati yang lain nya.


" ya udah karna Rendi yang ngehamburin sampah nya maka Rendi juga bantu ngumpulin lagi ya" ucap abi memecahkan masalah.


" iya Abi" jawab Rendi.


Sedang kan Rizki, Nadia, dan ustadz Rahman hanya diam menyaksikan perdebatan itu.


Setelah Abi memberi perintah akhirnya para santri dan santriwati tersebut kembali melanjutkan kegiatan mereka, sedangkan Nadia di minta untuk mengikuti Abi.

__ADS_1


Abi musa, Rizki, Nadia, dan ustdaz Rahman berjalan berempat menuju tempat yang nyaman untuk berbicara, mereka duduk disebuah pondok yang berada di taman pesantren tersebut, tempat tersebut memang di sedia kan untuk bersantai sambil mengobrol karna suasana yang nyaman dan pemandangan yang indah.


Nadia membuka pembicaraan " bang Rizki kok kayak akrab banget sama ustadz Rahman Nadia liat dari tadi" tanya nya.


Bukan Rizki atau ustadz Rahman yang menjawab melainkan Abi musa " nak Rizki kemarin sempat mondok juga di sini selama 1 tahun, dan dia satu angkatan dengan ustadz Rahman, maka nya mereka udah akrab"


Nadia hanya mengangguk.


" gimana betah mondok nya" tanya Rizki.


" betah banget bang, apa lagi yang ngajar ustadz nya tampan-tampan kayak ustadz Rahman." jawab Nadia tanpa malu.


Ustadz Rahman yang mendengar hanya tersenyum.


"huts kamu Nad ga tau malu, kayak nya kamu sekarang harus di ajarin gimana cara nya malu" ucap Rizki.


"biarin Nadia kan jujur" balas Nadia.


" jadi klo Abi yang ngajar kamu ga betah" tanya Abi.


" oh iya Riz, Nadia ini siapa kamu" tanya ustadz Rahman membuka suara setelah lama diam membisu.


" bukan siapa-siapa," jawab Rizki.


" ih abang, Nadia kan Adik bang Rizki." kesal Nadia sambil memukul tangan Rizki.


" ih malas banget punya adik ga tau malu" ucap Rizki sengaja membuat Nadia marah.


Nadia yang mendengar itu hanya diam, dan menundukkan wajah nya.


Ustadz Rahman yang melihat Nadia menunduk merasa bingung dengan sikap Nadia karna yang ia kenal selama ini Nadia adalah sosok Wanita yang selalu bahagia, bar-bar, dan terlalu jujur ketika berbicara walau ada yang selalu mengata-ngatai nya dengan perkataan yang tidak enak di dengar.


Abi musa segera memberi Rizki kode ketika melihat perubahan wajah Nadia.


Rizki yang paham kode Abi segera meminta maaf kepada Nadia. " Nad maaf, abang cuman bercanda kok" ucap Rizki sambil memohon kepada Nadia.


Nadia hanya diam tidak membalas ucapan Rizki, ia terlanjur sakit hati dengan ucapan Rizki tadi, ntah mengapa ia tak bisa menganggap candaan ucapan yang baru Rizki ucap kan tadi.

__ADS_1


"Rizki, Nadia seperti nya sakit hati sama ucapan kamu tadi, lain kali jangan keterlaluan bercanda nya ya nak" Nasihat Abi.


" Iya Abi," balas Rizki. " Nadia kamu jangan marah, abang ke sini mau jenguk kamu, eh kamu malah marah kyak gini" bujuk Rizki.


" ngga bang, mana bisa Nadia marah sama abang" ucap Nadia tersenyum.


"trus tadi kenapa diam" tanya Rizki.


" tadi cuman akting" ucap Nadia tersenyum.


Rizki sangat kesal mendengar jawaban Nadia ingin sekali ia memukuli Nadia tetapi ia tahan.


Ustadz Rahman dan Abi hanya tersenyum mendengar nya.


" jadi kalian itu sebenarnya adik abang?" tanya ustadz Rahman memastikan.


"kenapa ni ustadz Rahman Nanya-nanya, mau ngelamar Nadia ya?" tanya Rizki balik.


Ustadz Rahman menjadi salah tingkah mendengar pertanyaan Rizki.


" mungkin begitu, mungkin ustadz Rahman naksir sama Nadia" timpal Abi.


" bukan begitu maksut nya, Rahman cuman nanya" ucap ustadz Rahman menyembunyikan kegugupan nya, padahal sebelum nya ia tak pernah sampai segugup ini berbicara mengenai hal seperti tadi, padahal juga banyak santriwati lain yang suka bertanya akan hal itu kepada ustadz Rahman.


" ia bercanda Rahman, aku sama Nadia cuman saudara angkatan aja" jawab Rizki.


" Abi kira saudara kandung" ucap Abi.


" engga bi, Saya sama Nadia cuman saudara angkat" Rizki pun menceritakan awal mula mereka akrab dan sampai akhirnya selalu bersama.


Abi musa dan ustadz Rahman mengangguk paham.


2 jam mereka di sana, saat jam menunjuk kan jam 11 Abi mengajak kembali ke pesantren untuk makan siang.


Nadia kembali ikut bergabung dengan santriwati yang lain nya untuk makan siang bersama, sedang kan Rizki ikut Abi dan ustadz Rahman bergabung dengan para santri.


thank's ya yang udah mau baca walau pun alur nya kadang rada ga jelas, kasih dukungan dan kritik terus biar Author makin semangat.

__ADS_1


__ADS_2