
Aku tidak bisa membayangkan ketika perempuan itu hadir dan dia tetap merasa ada jaga image di hadapan kawan-kawannya, sesama mahasiswi dari fakultas kedokteran universitas swasta ternama di Bandung.
"Emang siapa lu...An, kayaknya lu serius banget minta ketemu sama orang ini. Katanya orang ini telah pecundangi lu, sampai lu sekarang sudah nggak punya harga diri lagi dalam hidup.
Lu jangan sembunyikan sesuatu dari kita-kita, bagaimana lu bisa menyelesaikan masalah lu sendiri jika lu masih nyimpan permasalahan-permasalahan di hati lu.
Siapa orang ini...penjahat apa malaikat lu?
Selama lu tidak bisa terbuka sama kita-kita alamat dalam kesulitan dan tidak akan mendapatkan peluang jalan keluar yang baik.
Kita ini sahabat elu di fakultas kedokteran.
Jika ada masalah masalah-masa kita kita selesaikan bersama...."Tiwi kawanku terus mengintrogasi, seputar sosok pria yang tergeletak dalam sebuah Velbed dengan penanganan biasa-biasa saja.
Ana yang ditanya seperti itu oleh Tiwi tidak bisa segera merespon dia malah seperti menjaga jarak dengan aku.
Tidak ada komunikasi tidak ada saling nyapa semuanya biasa-biasa saja seperti layaknya dokter yang memeriksa sang pasiennya ada batas dan ada jarak.
Namun dengan sembabnya muka perempuan cantik itu rekan-rekannya tidak bisa menerjemahkan
Bahkan ketika air mata itu mengalir melalui pipi yang indah, praktis mereka makin bingung.
Kenapa sang juara di kampus, juara makan, juara tidur, dan juara traktir tiba-tiba menjadi cengeng!
Sunyi....
"Dia musuh gue Wi, Mon, Sheila. Dia yang membuat gue hidup hampa dan hilang kepercayaan kepada diri sendiri.
Lu jangan berpikir yang macam-macam masa gue nyenengin orang yang telah lecehkan, gue!
Lu tahu gue dan dia lagi berperkara di kepolisian...."Lirih Ana sambil menyusut air matanya yang pecah tidak terbendung.
Perempuan itu tidak bisa menyembunyikan rasa kangennya meski terbungkus arogansinya.
"Sudahlah, Nona-nona aku bukan siapa-siapanya Ana. aku adalah seseorang laki-laki yang mengagumi kecantikannya.
Sehingga aku khilaf, hanya itu saja.
Permasalahan aku mencolek bagian penting dan hal yang sangat sensitif bagi Ana.
Untuk semua penjelasan itu sendiri itu biar nanti kepolisian yang membuka dan menguak apa motivasiku mencolek bagian sensitif perempuan teman kalian itu.
Aku kagum pada anak Ini Yang hanya aku temui di mimpiku.
Sekarang ada dalam realitas ku. Sekali lagi aku ekspresikan dalam alam khayalku lewat di hatiku, lewat naskah novelku,
__ADS_1
Aku tidak bermimpi mendapatkan perempuan selengkap orang ini..." papar aku kepada kawan-kawannya seperti Tiwi, Mona, Sheila, Biar Ana dan teman-temannya tidak terlalu egois padaku.
Kata-kataku langsung terasa oleh Mona, dan dia tidak bisa menyembunyikan
lagi kerinduannya di hadapan kawan-kawan ini.
"Tenang saja Pak Irfan. Bapak Sangat berbahagia mendapatkan perempuan yang lengkap seperti kawanku Ana. Di hatinya ada satu nama yang terukir indah dan kemudian ia kasih frame dengan doa-doa dalam engkau Pak Irfan..."Tiwi menjelaskan kepadaku.
\*\*\*
Pertengkaran yang sengit di rumah Dion.
Ternyata yang datang adalah orang tuanya Ratih, yang sering diajak-ajak Dion ke rumah. dan bahkan pergaulan mereka sudah seperti layaknya suami istri.
Dan seperti yang dikhawatirkan Aisyah nampaknya terjadi. berarti perempuan muda yang diajak-ajak oleh anaknya perempuan bernama Ratih.
Kini dia minta segera dinikahi. karena katanya Ratih sudah hamil 3 Bulan, dan laki-laki yang menghamilinya itu adalah Dion, anaknya sendiri.
Namun kehadiran Danuarta orang tuanya Ratih, bukan diterima baik-baiknya sebagai seorang tamu di rumahnya. malah dia mendapat perlakuan yang tidak wajar dari orang tuanya Dion, Harun.
Sikap Danuarta memohon agar anaknya, Dion bertanggung jawab atas perbuatan yang menghamili Ratih anaknya, membuat berang Harun, karena katanya tidak mungkin dia melakukan persetubuhan itu dengan Ratih.
"Anda jangan mengada-ngada, anakku tidak sebodoh itu, Ia tidak mungkin menghamili anak orang. Wong dia juga sudah punya pacar sendiri sudah cantik mahasiswi, shalih lagi... jadi jangan mimpi deh minta anak gue tanggung jawab... Anda mungkin saja Salah alamat, Bung!
Cara perlakuan menerima dirinya dengan seolah-olah merendahkannya membuat Danuarta berang.
"aku datang ke sini dengan baik-baik Pa Harun, mengingat reputasi anda sebagai seorang pesohor, punya kekuasaan, punya pangkatan dan jabatan, tapi ternyata anda tidak bisa menghargai diri Anda sendiri."ucap Danuarta demikian pedas sekali.
"Lantas Apa yang harus aku lakukan untuk merespon cerita tak bermutu ini...!"tanya Harun seolah kembali merendahkan kedatangan orang tuanya Ratih.
"sederhana saja anakmu harus tanggung jawab atas semua yang telah dilakukan terhadap anakku...!"
Hening, Harun tanpa tercenung cuman arah pikiran Danuarta itu, ya menimbang-nimbang bener nggak kira-kira anaknya belum berlaku nyeleneh itu.
Apa benar anaknya serendah itu?
atau jangan-jangan benar, harus dilakukan pengecekan untuk menyatakan kebenaran atau tidaknya tuduhan Danuarta, "Tapi kan belum jelas apakah orang tuanya logisnya Ratih hidup anakku diam ini aku minta tes DNA agar semuanya jelas..."pinta Harun."tapi nggak nggak nggak! tidak mungkin anakku melakukan tindakan sebodoh itu! nggak nggak Aku tidak mau disibukan dengan urusan yang tidak bermutu!"
"kalau gitu bapak menantang,
aku, aku sudah baik-baik malah menyepelekan
aku tidak segan-segan melaporkan ke polisi. Jangan dikira anakmu itu baik-baik dia b******* dia tiap malam datang ke rumahku masuk lewat pintu belakang beruntung aku masih memberikan penghargaan kalau sudah tembak anak kamu..."teriak Danuarta.
"Tenang dulu tenang dulu nyantai pak. Persoalan ini tidak harus menggunakan mata panah seperti ini tenang saja dulu bisa dibicarakan sebaik-baiknya. Kalau memang kalau misalnya bisa diselesaikan baik-baik Kenapa harus dengan otot-ototan seperti itu..."hujan Harun sambil menepuk bahu Danuarta.
__ADS_1
Iya tapi saya minta kepastian Siapa lagi kalau bukan anak tidak mungkin Ratih Amel begitu saja ya pasti adanya biologisnya.
Selain aku bilang aku juga sering melihat dia masuk lewat jendela la ini kan kurang ajar banget jika aku tidak menghargai kamu sudah tembak dia .."Danuarta benar-benar emosi karena permohonan terhadap Harun diajukan begitu saja bahkan nyuruh untuk tes DNA.
Untuk penyelesaiannya akhirnya yang dihadirkan.
Oke diangkat bicarakan ini siapa yang pasti ini ibu dan bapaknya Ratih. Ya datang kepadaku untuk minta pertanggungjawabkan pertanggungjawaban kamu baca surah kamu yang diduga sama amili anaknya Ratih.
Sekarang kamu jawab baik-baik jangan kamu bohongi Bapak dan Mama nggak sembunyikan ceritakan saja apa adanya jangan kamu sumput-sumput. Biar semuanya jelas dan terang."pindah Harun kepada anaknya yang kamu duduk dengan lesu.
Dia tidak berani menatap wajah Danuarta dan istrinya.
Sepi.....
Brakkkk....
Meja dipukul sama Danuarta karena saking jengkelnya biar anak itu dia biar bapaknya ya anaknya tidak juga kooperatif Pak dirinya sudah punya banyak bukti.
Kurang ajar ayo ngomong kamu Atau aku orang bukan mulutmu itu..."Danuarta. lagu-lagu emosi.
Karena didesak-desat Terus akhirnya dia berbicara.
"I...iya pak aku yang menghamili anak bapak dan aku siap tanggung jawab..."jawabnya sudah itu ia diam.
Bagian bisa nggak sabar petir Harun dan istrinya Aisyah demikian sangat terkejut ketika mendengar pengakuan anaknya.
Oh ternyata benar anaknya yang menghamili Ratih.
Tidak terasa tendangan dan pukulan terhujam di pipi Dion.
Kurang ajar kamu Papa besarkan Papa sekolah kan pemilihan bapak habis hanya untuk kebahagiaan kamu malah kamu seperti ini sama dengan melempar kotoran ke mukaku..."Harun sambil terus menempelin anaknya.
Ibunya Aisyah berusaha untuk melerai bapaknya yang terus membabi buta. Bagaimanapun menyukai anaknya yang sudah tidak berdaya.
"Papa sudah, Papa Papa sudah mungkin semuanya nasi sudah menjadi bubur kita urai aja permasalahannya."lirih Dion sambil memegang pipinya yang sakit bekas pukulan ayahnya.
"Kita siapkan aja untuk masa depan dia kalau memang dia mencintai Ratih Kenapa tidak kita tidak bisa memaksa-maksakan diri itu calonnya."Aisyah sambil terus bertengkar diundang ayahnya.
Dion meringis, sakit hati karena dipukuli ayahnya Dia bangkit, dia bersejingkat hendak kabur.
Aisyah mengejarnya dan dia berhasil membawa kembali dia ke tengah-tengah pertemuan tersebut.
"Mohon maaf, mohon maaf, aku tidak akan mengulangi lagi perbuatan seperti ini tolong berikan aku kesempatan, aku dengan Ratih sepakat untuk menggugurkan kandungan Karena aku belum siap makan menikah dan waktu dekat ini aku masih banyak yang harus dipikirkan..."ucap Dion sambil merangkul kaki ibu dan bapaknya Ratih.
"Kurang ajar kalau begitu kamu sama dengan melecehkan keluargaku kenapa kamu malah justru mau menghilangkan bijak kenyataan bahwa kamu telah menginjak harga diri saya...
__ADS_1
"Nggak kalau memang dari pihak Ratih berencana membesarkan anaknya, aku turut berbahagia. Dan aku akan bertanggung jawab.
Oke pembaca Budiman astagfirullah mudah-mudahan episode berikutnya bagian rame aja, jangan lupa kritik sarannya, agar Author bisa terus berkarya.