
Ketika sedang asyik ngobrol.
Lama-lama aku melihat, ternyata kawan-kawan Ana bergeser ke kos masing-masing.
Dan aku di ruangan itu hanya dengan perempuan itu saja.
Inilah rupanya yang merupakan solidaritas antar kawan, mereka khawatir keberadaan aku dan Ana privasinya terganggu.
Momentum itu aku manfaatkan dengan lebih intensifkan kedekatanku dengan perempuan itu.
Aku ingin materi pembicaraan itu bukan hanya berbicara masalah penetapan statusku sebagai tersangka saja, sehingga akan lebih menyulitkan dan tidak memiliki masa rileks.
Kalau bicara masalah hukum saja justru yang terjadi adalah kekakuan dalam menyikapi sebuah persoalan yang seharusnya bagi perempuan seusia Ana,
Sudah tidak bicara banyak mengenai kasus-kasus yang menggelayuti pikiran dia, kasihan, sudah Menggunung permasalahan, jangan ditambah-tambah lagi.
Begini aja biar suasana sedikit romantis, aku mau mancing dengan pembicaraan-pembicaraan yang sifatnya mengarah ke diskusi tentang makna arti dari rasa rindu, yang berbalut terima kasih sayang.
Aku mulai menyusun kata-kata ,"Seusia kamu itu memang sudah harus membicarakan tentang masalah siapa nanti yang akan dijadikan pendamping hidup....sebab salah-salah bisa terjerembab dalam pergaulan bebas.
Aku yakin kamu juga ada saja kesempatan untuk mengekspresikan kecintaan terhadap lawan jenis.
Biasanya disaat sendiri kamu mengekspresikan dengan membuat diary dalam kegiatan kampus
yang berisi tentang kegiatan kampus...."urai aku.
Ana segera merespon pernyataan laki-laki itu dengan sikap-sikap yang positif.
"Kalau di Bapak, seperti apa sih kalau dalam memilih perempuan?"tanyanya.
Nah...nah, ada respon, aku jawab dengan santai dan rileks," Memang hingga saat ini aku belum menentukan siapa?
Kalaupun aku menentukan, juga sebatas membimbing seseorang agar mencapai kedewasaan.
Misalnya aku mengawal begitu dalam kebersamaan di mall di toko buku dan Mengikuti kajian-kajian.
"Bapak bohong, ternyata seleranya bapak itu orangnya harus cantik, berpendidikan, memiliki masa depan..."
"Kalau non, sekiranya nyangka Bapak begitu, ya sudah barang tentu aku juga harus mengukur siapa yang harus menjadi calonku?
Misalnya aku menginginkan, teman sekampus di fakultas Hukum dulu. Tapi ternyata dia juga memiliki kriteria yang frekuensi dengan aku.
Misalnya misalnya harus tampan, banyak uang, berganti-ganti mobil, punya rekening besar.
Dan ketika tidak menemukan kecocokan, sudah pasti akan meninggalkan.
Oleh karena itu mumpung aku belum terlalu jauh melangkah, aku lebih baik mengatur langkah dulu. Baik sih baik, namun urusan persoalan hati memang perlu mempelajari satu sama lain, dan untuk sekarang ini saya lebih mengkonsentrasikan banyak pekerjaan sebagai profesi advokat.
itu untuk melakukan pembelaan terhadap Siapa saja yang membutuhkan jasa kepercayaanku."ujarku.
__ADS_1
Dengan tidak maksud untuk bersandiwara tapi demikianlah adanya.
Aku memang sudah berapa kali mempertimbangkan apa yang aku ucapkan adalah akan memiliki imbas sebagai perempuan yang ada di hadapanku ini.
Tapi ini mah minimal inilah merupakan kisi-kisi agar perempuan itu lebih bisa fokus ke pendidikannya.
Aku melihat masukannya perempuan itu tidak segera merespon jelek.
Hanya justru ia berusaha untuk memberikan kesempatan kepada laki-laki itu agar masuk secara profesional.
Tapi seusia Bapak pasti yang menginginkan yang haus akan kasih sayang, terus hal-hal yang lainnya seperti pelayan perempuan.
Pasti dong nyari uang ke sananya ingin uang itu sampai pada orang yang akan mengolahnya menjadi sebuah bentuk kasih sayang.
Dengan itu akan kembali berbuah kerja yang optimal apabila kakak laki-lakinya terpenuhi..."Pendapat Ana sudah mulai kemana-mana.
Aku khawatir pembicaraan jadi ke mana-mana, justru aku yang dewasa yang harus mengarah.
Sederhananya begini aku tinggal Bagaimana bisa mengembangkan perekonomian yang mumpuni,
Sementara betul Apa yang membedakan Nona. Dengan perempuan-perempuan yang lain yang aku lihat sekeren nona.
Perempuan itu tersanjung, ia tidak pernah merasakan bahwa apa yang dikatakan sangatlah menyentuh sanubarinya.
Sebelum lanjut pembicaraan aku salah kembali melakukan penjelasan tentang diskusi yang menyangkut masalah something privatnya.
Sikap yang ditunjukkan kepadaku adalah sikap yang sangat menjaga sekali kesopanan.
Dan kedekatan ke waktu itu, sangat terbuka. Artinya ruang yang digunakan di tempat untuk menerima tamu.
Jadi sudah saya tidak mungkin aku sekedar untuk memberikan kenang-kenangan.
Sayang aku laki-laki Yang tidak ingin membuat perempuan itu, banyak bertanya-tanya. Pasalnya aku adalah yang lebih dewasa.
Dan aku adalah berusaha untuk memanfaatkan waktu yang sempit itu menjadi sebuah ruangan menjadi kenangan selama-lamanya atas sudah tidaknya menjadi suasana di antara Kami memang saling mengasihi.
Aku paham bahwa, kami memiliki beban masing-masing, Aku memiliki Lastri, yang tidak mungkin begitu saja aku lari darinya.
Sementara perempuan cantik yang ada dihadapanku ini juga memiliki persoalan yang belum tuntas.
Ada Dion di sana. Inilah yang aku takutkan dalam kopi dalam seperti ini.
Tapi aku adalah laki-laki dewasa. Yang tidak hanya sebatas saling memotivasi. Apalagi diantara kami sudah jurang yang menganga. Salah salah kami punya kebijakan masing-masing. Jika aku kuat, perempuan itu yang pergi dari aku karena lebih memilih orang tua ketimbang pilihan nya.
Inilah yang akhirnya berubah semua yang serba kaku menjadi romantis.
Aku tidak harus menerjemahkan bahwa diantara kami memang memiliki celah yang bisa Aku tidak ingin suasana yang sudah terbangun ini hancur gara-gara Aku tidak bisa memilih kosakata yang atau setidaknya aku salah dalam menentukan subjek pembicaraan.
Aku sulit untuk mengekspresikan kata-kata, kecuali aku mulus kata-kata di aplikasi WhatsApp.
__ADS_1
"Na, mungkin pertanyaannya hubungan adik kakak saja, masih ingat dengan hubungan ini adalah kita akan saling bangun kepercayaan.
Oleh karena itu usia kita memang berbeda, Aku khawatir usiaku yang memang masuk ke usia rumah tangga, memang tidak bisa hanya bermanja-manja, atau tidak hanya saling support saja."
Cliiiiiing
Handphone Ana berdering, karena membuka whatsapp ya mempelajari kata demi kata chat yang aku kirimkan.
Salah yang dipertimbangkan untuk jawabannya ya kemudian mengirim kembali baca kepadaku.
Terus meletakkan Bapak siapa? yang perempuan yang dianggap layak untuk seorang Irfan?
Aku nggak tahu, kriteria aku memang sudah jelaskan itu tidak bisa ditawar-tawar lagi. Aku tidak mungkin hanya seperti kanak-kanak saja.
Jika sudah bertemu pandang ngobrol sudah kembali sesudah itu selesai,
Aku dapetin balasan lagi WhatsApp.
Oh iya Di rumahku ada teh Lastri, pasti bapak lanjut lagi sama dia, kayaknya dia udah siap deh menjadi landasan pacu bapak..
Aku tidak menjawab WhatsApp, di sini aku sudah mulai menghadapi turbulensi. Pesawat oleng, sebentar lagi bisa jatuh dari ketinggian 20.000 kaki.
Aku memutar otak selalu aku berbicara dengan menara pantau. Atau pesawat udara air traffic center, biar dapat jawaban yang memuaskan.
Aku menemukan ide dan kemudian aku kirim kembali WhatsApp.
Saya pikir kamu tidak harus seperti kanak-kanak, yang hanya pandai mau WhatsApp saja. Kamu harus sudah menjadi penyeimbang, apabila Aku membutuhkan landasan.
Handphone Aku tiba-tiba lowbat dan aku tidak bisa menerima lagu WhatsApp dari perempuan itu.
Perempuan itu berapa kali mengirimkan go-jek liga 1 karena mengira bahwa aku memutus percakapan lewat WhatsApp.
Inilah akhirnya yang membuat perempuan itu kembali mendung di tengah keceriaan yang sedar dari tadi diperlihatkan.
Aku dahaga sayang, lagu-lagu yang sudah dewasa, aku tidak bisa ekspresi kecintaan cuma dengan sering kita menasehati Aku ingin lebih dari itu...
Kata-kataku tercetus seolah-olah aku sudah tidak mau lagi hanya sandiwara sudah aku melihat semanis saja apabila tidak memanfaatkan semuanya sudah bisa jadi berantakan.
Besok atau lusa, dia datang ke kosan ini. Aduh anak pergi pulang dan di sana sudah ada Dion. Bukan tidak mungkin karena yang sudah terbangun ini hancur berantakan.
Tapi kita belum sah sebagai suami istri, "
Itu dibutuhkan nyali, bagi laki-laki dan perempuan yang sudah dewasa ekspresi kecintaan itu ada Dan keberanian mengambik beresiko."ucapku mempertegaskan lagi.
"Aku tidak butuh puitis yang seperti itu tapi kamu juga keberanian dalam segala hal terutama disaat aku perlu..."sudah mulai mengarah-ngarah.Menurut Bapak aku harus bagaimana?
Aku tidak mau zina, sementara hasrat ke sana memang sudah menggelegak! Ana tinggal berfikir.
Terus bagaimana dong? Bapak punya solusi nggak?
__ADS_1
Belum sempat dapat jawaban sebaiknya kita stop dulu pembaca yang Budiman mungkin dalam bab-bab berikutnya kita akan dapat jawaban.
Pembaca Budiman,bagaimana menurut pendapat kalian tentang tokoh Aku, jika nggak setuju ditunggu kritik dan sarannya terima kasih