
Aku membawa anak ke suatu tempat.
Supaya aku ngobrolnya rileks aku ngobrol di cafe saja.
Di sini aku membicarakan poin-poinnya sebenarnya menjadi permasalahan bagi perempuan itu.
Dari kotoran anak aku baru menyadari bahwa harga sebuah mahkota memang tidak bisa di anggap enteng.
Jadi nonton tetap bersikerasmu perkarakan permasalahan itu?"
Perempuan itu diam. Antara rasa sakit hati kecewa dan simpati yang mulai muncul karena aku berusaha untuk memfasilitasi semua itu.
Gampang dia melihat bahwa aku sudah sangat pasrah, aku yang seorang profesi pengacara tidak harus memvonis salah atau tidak justru mempersilahkan perempuan itu untuk mengadukan masalahnya ke pihak Kepolisian.
Lahirnya yang menjadi maha r bagi perempuan itu dalam melakukan pendirian terhadap seorang laki-laki.
"Apa yang Anda bakal sampaikan dalam laporan Kepolisian?"tanya aku pulang aku tidak berani menatap wajah perempuan yang anggun itu.
Perempuan itu tidak menjawab Dia hanya menatap nanar sembari tidak tahu apa yang mesti ia lakukan.
Yang melihat ada sebuah kepasrahan, ada sebuah kerendahan hati serta ada hilangnya rasa ego yang biasa dimiliki oleh seorang laki-laki apa lagi berarti telah mentereng ini.
"Aku sudah sangat pas karena jika nanti Nona mempermasalahkan harga diri yang menurut Nana itu adalah merupakan sebuah sesuatu yang harus nona perjuangkan."
"Bapak ma'af...!"ucapnya, galau. Antara hak dan rasa simpati.
"Jika sudah bulat lakukanlah demi menegakkan Marwah kehormatan yang harus dijunjung oleh Nona dan dianggap sebagai prinsip keagamaan Nona."
"Tapi Bapak nggak marahkan?"
"Apa yang harus menjadi kemarahan, semua sebagai resiko yang harus bapak tanggung, kenapa bapak menjadi profesi."
\*\*\*
Tidak bisa dicegah, akhirnya Ana melaporkan aku ke SPKT dan seterusnya diarahkan ke Unit PPA.
Meski aku terbiasa menjadi subjek pelapor dan terlapor tapi cukup ketar-ketir juga. Bagaimana kalau terpenuhinya unsur pemeriksaan. Tanganku kena di bagian sensitif perempuan itu. Meski aku tidak merasa, tapi alat bukti CCTV mungkin akan lebih akurat merekam gambar adegan demi adegan.
__ADS_1
Aku mengingat-ingat benar nggak tanganku menyentuh bagian sensitif dari Ana?
Aku berkontemplasi, mulai keluar dari ruang penyidikan, berjalan cepat menuju lahan parkir. Akhirnya aku sadar penuh bahwa yang menyentuh bagian sensitif perempuan itu adalah tangan kanan sendiri, karena sebenarnya dia refleks, menghalangi. Kayaknya dia lupa atas refleks-nya.
Jadi dadaku hanya menyentuh punggung tangan. Sehingga dokumen yang dipegangnya terlepas dan tercecer di lantai.
Rasa sensitivitas sebagai seorang perempuan benar-benar terjaga sehingga bisa mencelakakan orang. Tapi itu haknya biar hukum aja Yang menetralisir apakah ada kesalahan yang sifatnya disengaja atau sebuah Culva--kealfaan saja.
\*\*\*
Sementara itu rekonstruksi lokal juga dilakukan di dalam sebuah kamar.
Ana menemukan fakta, bawa sebenarnya tanganku tidak menyentuh bagian sensitif perempuan itu.
Kisah dengan dirinya lah Yang membentur bagian sensitif di dadanya.
Mengetahui bahwa diriku memang tidak bersalah, artinya tidak membentur bagian sensitif perempuan itu, pelan-pelan dari mulai simpati menjadi bulir-bulir cinta yang tumbuh bersemi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
Ana berkaca, perempuan itu yang bertelanjang kepala meneliti bagian atas hingga bawahnya.
Ana tersenyum mengembang, ternyata kelewat kalau cantik. Tidak yang laki-laki yang saat dia lewat menaruh perhatian. Tapi tidak dengan laki-laki yang akhir-akhir ini bertemu, baik di cafe, Mapolres.
"Tapi kasihan dia aku laporin. Dan kan nggak bersalah..."
Karena teringat bahwa ia pernah menyemprot laki-laki itu saat sedang mengobati barang dan pecah-pecahan beling yang berserakan di halaman Mapolres.
Ia pun membuka galeri handphone miliknya.
Saat ia menemukan dia perbesar dengan resolusi tinggi.
Tampak seraut wajah manis, meski tidak tampan tapi membuat jantung Ana dag Dig dug.
Inilah buah keikhlasan, atas kesabaranku dengan mempersilahkan diriku untuk dilaporkan.
Akhirnya membuat Ana terpikat asmara. Praktis malam itu dia tidak bisa tidur. Nanti esok hari untuk mengikuti panggilan dalam agenda acara pemeriksaan saksi pelapor.
Doa-doa dan jamicapi pun telah dilakukan oleh anak namun dia tetap matanya tergambar sosok yang menurutnya lelaki paling ideal di dunia.
__ADS_1
Seorang profesi advokat untuk pengacara lebih lembutnya selembut salju.
Ya kemarin absen untuk tubuh dan indranya. Saya berdoa kepada Allah subhanahu Wa ta'ala.
Wahai Allah, seandainya engkau takdirkan Aku menikah dengan laki-laki itu, izinkan seluruh tubuhnya ini bukan hanya dalam sentuhannya, tapi insidimensi dari tubuhnya yang indah ini aku persembahkan untuk dia.
Dia telah membayar mahal atas kearogansian-nya ini.
Setelah dia berbisingan berdoa akhirnya ia bisa mengatupkan matanya sehingga betul-betul tertidur dengan tenang.
Dipanggil sebagai saksi pelapor
Besok harinya, anak diperiksa sebagai saksi pelapor, atas dugaan tindakan pelecehan siswa sebagaimana laporan domas beberapa waktu yang lalu yang sampai di meja unit PPA.
Saat Ia menjelaskan kronologis peristiwa tersebut tidak terasa akhirnya terus membuncah.
Ya sudah rela dirinya mencelakai orang, menjelajah orang yang tidak bersalah.
Baterainya merasa tersisa ketika ia melakukan penzaliman.
Beruntung tadi sebelum berangkat dia sempat menumpahkan air matanya dalam salat hajat dan munajatnya ia berdoa kepada yang maha kuasa.
"Ya Allah Ya Rohman Ya Rohim, seandainya kejahatanku ini adalah semata-mata untuk menguji kesalehan laki-laki itu, gantilah dia dengan satu ribuan kenikmatan atas ulah jahatku ini... Dan jadikanlah laporan yang aku berikan sebagai sebuah mahar kalau memang aku berjodoh kepadanya..."demikian doanya sebelum dia berangkat.
Setelah banyak berdoa dalam hati dan berdzikir dengan penuh kesulitan ikhlas akhirnya Anda bisa menjelaskan dari malaikat keluar sehingga melakukan laporan atas Kehilangan STNK kendaraan bermotornya.
Seorang laki-laki yang sedang berjalan cepat sehingga tabrakan pun tidak bisa dihindari sehingga dokumen-dokumen yang dipegang berjatuhan. Namun isinya merasa ada yang benda asing menyentuh bagian sensitif dia.
"Aku menyangka bahwa benda asing itu adalah tangan dari Bapak pengacara itu.
Dan aku tahu apakah itu ada unsur kesengajaan atau kealpaan. Hanya aku sebagai seorang muslimah yang tidak mau ada tangan-tangan jahil tidak aku verifikasi.
Aku hanya menduga adanya tindakan kejahatan yang dilakukan oleh atau mengatasnamakan seorang profesi pengacara..."terang Ana sangat lancar sekali.
Menjadi PPA terus ilmu mereka semua keterangan yang dialami oleh pihak saksi pelapor ini. Untuk melakukan pendalaman atas dugaan tindakan kejahatan yang dilakukan oleh seorang profesi advokat di halaman Gedung Mapolres.
Surah Yasin bahwa benda asing itu sebuah tangan yang dimiliki oleh seorang laki-laki yang berprofesi sebagai seorang pengacara itu?
__ADS_1
Ana tidak menjawab, ya berat sekali jawab pertanyaan tersebut jangan-jangan itu semua fitnah karena dia juga hanya menduga-duga. Iya bayangkan selawat wajah yang tampan dan mempersilahkan dirinya untuk melakukan pelaporan.
Bagaimana kisah selanjutnya rakyat jawaban pelapor atas dugaan tindak pidana pelecehan seksual terhadap dirinya, mari kita simak babak berikutnya untuk mendapatkan jawaban dari perkara yang dilaporkan oleh saudari Mahasiswi cantik ini.