
Suatu pagi yang cerah di sebuah pusat pembelanjaan
Aku mencari beberapa perlengkapan dasi kemeja di pusat pembelanjaan.
Memang disana disediakan aneka macam suguhan di pusat perbelanjaan pakaian, kebutuhan rumah tangga, retail, dan lain-lain,Tersedianya parkir yang luas. Cafetaria, Food Court, pusat makanan, Pusat permainan anak-anak, Entertainment semacam Bioskop, Bar, Karaoke dan yang lainnya.
Sudah dipastikan menyedot perhatian orang untuk ke sana kemarin untuk keperluan yang sangat berbeda-beda.
Sebelum pulang aku singgah dulu di KFC, aku menghela napas betapa berat menghadapi persoalan hidup.
Aku berhadapan dengan persoalan yang cukup pelik sekali.
Salah satu permasalahan tersebut adalah penetapan status tersangka kepadaku sudah keluar.
Penetapan ini didasarkan pada dua alat bukti yang cukup tentang terang-terang sebuah perkara.
Alat bukti itu diantaranya adalah digital forensik yang menunjukkan bahwa saat kejadian aku berjalan di sebuah lorong tidak biasa dipakai, karena lorong tersebut sedang ada renovasi.
Seperti ada unsur kesengajaannya karena jalur tersebut akan bertemu dengan jalur yang merupakan akses keluar ruang SPKT dari jalur darurat.
Skenario dua, apabila dilihat dari sudut pandang lain jika masuk di jalur sampingnya
Pandanganku lurus tanpa larak-lirik, sehingga aku tidak bisa mengantisipasi orang yang keluar buru-buru.
sehingga apabila tidak bisa mengantisipasi berpotensi berpapasan yang berujung tabrakan itu ter-capture.
Mungkin saja bisa tapi karena hasil prediksi yang menyatakan bahwa sebetulnya jalur itu adalah jalur yang tidak boleh untuk dilewati karena merupakan taman yang tidak boleh diinjak.
Hal yang berarti yang kedua adalah masih digital forensi terlihat bukan dalam proses mendorong tapi pas tabrakan terjadi tanganku dalam kondisi audisi terbuka sehingga ada benturan yang didahului dengan sentuhan.
Ya, proses ditingkatkan stasiun tersangka. Aku menyadari semua yang terjadi adalah karena perjalanan hidupku yang harus menang bolak-balik dalam menghadapi permasalahan.
"Semua yang terjadi aku terima sayang, kehadiranmu dalam melupakan sesuatu yang sangat indah bagiku. "Gumamku saat aku duduk sendiri di mall tersebut.
Aku teringat saat kebersamaan aku dengan Ana. Remasan tangan kiri perempuan itu salah menguatkan batinku.
__ADS_1
Aku tidak bisa bayangkan ternyata perempuan itu memiliki hati padaku, untung aku dikelilingi oleh orang-orang yang siap untuk melakukan penjagaan di saat khilaf,
Ada Mona, Sheila mereka adalah para pahlawanku yang membentengi aku jika tidak sudah dapat dipastikan terjadilah persetubuhan itu.
Aku sudah tidak bisa menahan diri ketika terjadi sebuah pertemuan, dendam yang membara berujung cinta yang membuncah, merupakan energiku untuk mengekspresikan kecintaan yang demikian sangat besar.
Bahkan Ana sendiri meski dia seberingas-beringasnya dapat aku luluhkan dengan kekuatan cinta.
Hal yang luput dari pemantauan kamera adalah tekanan satu dari tanganku berhasil menyelinap dan sampai pada bagian yang paling sensitif yang dimiliki perempuan itu.
Perempuan cantik yang memang sudah sangat terbiasa dengan menjaga dan memelihara kehormatannya tersebut aku luluhkan dengan suatu pandangan dan satu perkataan bahwa "jika ada cinta, adalah tidak berteriak..."
Perempuan itu soal seperti terhipnotis, dan mengingatkan ramasan itu terjadi walaupun hanya beberapa saat sebelum akhirnya aku tarik kembali.
Ketika hasil digital forensik memang menyebutkan, hanya berupa analisa saja yang bisa aku tepis dalam persidangan.
Sementara kejadian yang sebenarnya merupakan persoalan peristiwa yang tidak bisa dibantu adalah kejadian yang kemarin yang luput dari perhatian media.
Aku mendapat serangan WhatsApp dari perempuan itu selesai ya kembali.
"Aku sungguh menerima cara bapakmu memperlakukan kasar terhadap aku. Sehingga akan menjadi materi tambahan saat dalam periksaan nanti....'
Aku balas, "Kepada peristiwa yang kedua inilah yang akhirnya bisa mematahkan peristiwa yang pertama.
Aku sadar bahwa aku adalah bukan laki-laki yang baik-baik, aku sadar semua konsekuensi hukumnya aku terima.
Namun aku juga akhirnya dapat jawaban seorang perempuan cantik seperti engkau adalah memiliki kecintaan terhadap seseorang, dan itu yang selalu kau tutupi, esensinya pada peristiwa yang kedua itu adalah.
Bilang cinta persoalan akan selesai, aku udah dahaga dan kau juga sama. Dengan demikian maka persoalan hukum menjadi close.
Ya, Tapi bapak tidak menghargai perempuan, Kenapa kamu melakukan itu semua, tidak ada apa-apa takut akan dosanya Bapak akan terima? Tanyanya di WA.
Tidak ada jawaban.
Aku tidak mau ada penzaliman dalam hidup ini, lagu yang berada dalam ketidak sengaja justru menjadi objek pidana dan harus mempertanggungjawabkan dengan konsekuensi dalam segala sesuatu.
__ADS_1
Apa yang kemarin udah merupakan unsur keseimbangan, makan jauh lebih safety, dibanding dengan yang pertama.
"Impas kan?"aku menegaskan dalam VN atau voice notku.
Kenapa itu kulakukan karena aku ingin ada rasa keseimbangan, dan aku menginginkan bukan hanya sekedar ke pura-puraan dan pemunafikan.
Digital forensik yang menjadi perhatian publik adalah aku seolah-olah tidak disengaja dan pernyataan di pengadilan pun sama seperti itu unsur kesengaja itu
hal definisi kosakata kosakata yang diperebutkan nanti di pengadilan, ada unsur ketidaksengajaan yang kemudian menjadi objek pelaporan seorang perempuan cantik calon dokter.
Namun ketika aku buat sebuah penegasan akhirnya aku dapat menyimpulkan bahwa aku telah berada di sebuah padang pasir yang sangat luas, dan aku dan aku mengejar akhir untuk menjadikan pengobat rasa dahaga yang luar biasa.
Dan unsur ketidaksengajaan itu kemudian ibu edisi dan diperbesar menjadi asas ketidakadilan yang bukan tidak mungkin dengan ketidakadilan itu aku bisa menegang untuk beberapa waktu yang lamanya.
Namun Tuhan berkata lain, usaha teman-temanmu yang mempersatukan kita adalah merupakan kepercayaan namun itu merupakan justifikasi
Bahwa keadilan itu ada. Aku tidak butuh hanya keadilan hakim yang menilai bahwa itu adalah unsur sengaja dan tidak sengaja.
Aku sudah lebih dulu menghadirkan keadilan itu dalam hidupku sehingga aku tidak pernah akan merasa kecewa walaupun putusan hakim berkata lain.. demikian chat WhatsApp ya aku kirim kepada perempuan itu, sehingga dia tidak berhasil menjawab.
"Sekali lagi aku tidak butuh terminologi keadilan yang diuji lewat jalur pengadilan..."
Jawaban sederhana dari perempuan itu, "Bapak jahat...Bapak tidak menghargai perempuan..'
"Salah satu unsur keadilannya adalah unsur keseimbangan, mau dibangun di atas kerinduan atau unsur kulva, atau ketidaksengajaan, meski berujung pemenjaraan.
WhatsApp tidak aktif.
Meme air mata yang tertumpah
Dan WhatsApp pun tidak aktif.
Aku berusaha untuk tegar dan menghadapi persoalan ini. Aku membayangkan betapa indahnya khazanah sama kuasa.
Tidak ada alibi, tidak ada unsur ketidaksengajaan semua memang semuanya terjadi
__ADS_1
Pembaca Budiman, bagaimana menurut pendapat kalian tentang tokoh Aku, jika nggak setuju ditunggu kritik dan sarannya terima kasih