
Aku baru saja pulang dari rumah sakit. Aku diizinkan oleh dokter karena sakit aku sudah berangsur sembuh.
Kena harus mengikuti bed rest selama beberapa hari.
Desa kesel aku berada di rumah aku jalan-jalan, dengan ditemani oleh saudaraku yang paling kecil.
Pergi ke suasana pedesaan yang nyaman dan enak.
Dialah rumah wak. Dia memiliki banyak ternak dengan ternak itu aku berusaha untuk banyak merenungkan sesuatu.
"Dengan hanya taat kepada Tuannya. Dia dapat hidup layak, dan berkecukupan, tidak kurang suatu apapun.
Mungkin juga manusia, dalam ketaatan kepada Sang khalik, sudah Bang tunggu ya kan dicukupkan baik rezekinya maupun Jalan hidupnya dimudahkan.
Memang aku tidak mau seperti hewan, insting mereka hanya cuma untuk makan, mereka kelak tidak di pinta pertanggungjawaban, atas
pekerjaan yang dilakukan, baik yang buruk maupun yang baik.
Sedangkan aku, hari ini adalah saudaraku untuk bekerja dan beramal saleh, jika aku tidak berbuat, Apa yang bisa aku bawa dalam menghadap Sang khalik.
Sudahkah kita pantas mengklaim itu semua, mengklaim bahwa kita sudah banyak beribadah, Mungkin kita sudah memiliki kekuatan untuk pergi ke alam sana.
Padahal justru ketika kita muhasabah, kita belum mendapatkan apa-apa, sebelum mengerjakan apa-apa!
"Wak sangat senang kamu bisa datang ke rumah Wak. Wak berkali-kali meminta kepada mamamu agar kamu bisa bersilaturahmi dengan anak-anakku anakku."
"Sudah menjadi kebiasaan, dari yang udah datang kepada yang tua, aku mencoba melakukan pekerjaan itu dan hasilnya sangat signifikan.
Buktinya aku terbebas dari perasaan ketakutan, terbebas dari permasalahan-permasalahan yang mendesak dalam keseharian ku..."
"Ya, syukurlah kalau memang seperti itu hanya aku berpesan apa aja yang bisa dimakan di sini makanlah.
Wak menyediakan nasi ala kadarnya makanlah. Semoga makanan itu bisa mengenyangkan kamu dan kamu bisa jalan-jalan mengelilingi kampung sebelum Kampung bertolak kembali ke Bandung."minta Wak.
"Terima kasih Wak baik sama saya, Aku ingin sekali-kali main lagi ke sini.
Soalnya bukan apa-apa di sini suasananya enak..."Bukan sekedar lip service, memang aku berada di desa terasa tentram. Apalagi terhindar dari polusi kota yang buat pengap pernapasan.
Akhirnya aku makan dengan lahapnya, wa istri yang masakin aku.
Belum lagi asin merah yang di beli dari warung sebelah.
__ADS_1
Aku sudah nggak kuat ingin mencicipi apa yang sudah masak, ada nasi liwet, ada ikan asin merah, ada juga kakaren--sejenis sisa sayur yang diangetkan bisa sampai satu, dua sampai tiga hari
Aku makan dengan lahapnya, kapan lagi ada nasi liwet bersama ikan asin merah terasa enak dimakan.
Wak membayarkan semua makanan yang habis dikonsumsi oleh aku dan berapa kerabatku mengikut bersama-sama ke rumah Wak.
***
Aku semalam tinggal di rumah Wa sampai menikmati suasana malam.
Masih terasa kangen untuk kembali ke rumah Wa. Sekarang aku kembali berada di rumah. Perasaanku mulai nggak enak.
"Apalagi betul ketika aku santai aku melihat amplop, ada di kejauhan aku sudah melihat, tersebut adalah isinya untuk pemanggilan kedua dari Polres.
Berat rasanya aku untuk membukanya, tapi aku harus membuka itu dan mempelajari isinya. Kenapa aku harus terjebak dalam peristiwa ini.
Padahal tugasku sederhana saat itu yaitu membantu orang yang sedang kepayahan.
Habis bagaimana lagi Aku harus segera memenuhi panggilan itu jika tidak akan terjadi permasalahan.
Pemeriksaan Yang Kedua
Merasa sudah sehat, aku segera esok harinya berangkat memenuhi panggilan dari Polres.
Perasaan cemas cemas dan harap, bisa menyelesaikan tahapan demi tahapan pertanyaan dari penyidik.
Aku merasa bahwa para saksi telah berhasil menguliti aku.
Saat Aku tengah menunggu, seorang perempuan baru saja keluar dari dalam.
Iya ditemani oleh seseorang laki-laki. Minta siapa laki-laki itu? Aku segera memahami bahwa laki-laki itu adalah pengacara yang ditunjuk oleh keluarga.
Beberapa kan atletis, Saya sedang kemeja lancar tipis. Sepatu lancip mengkilat. Dasi kecil yang memanjang sampai dengan perut.
Aku berpikir kenapa aku berbarengan diperiksa bersama perempuan itu. Rasa-rasanya tidak harus konfir untuk pemeriksaan.
Tapi kenyataannya aku diperiksa secara bergiliran. Namun di waktu yang sama.
Aku berusaha untuk tegar. Saat aku harus berada pada apa dengan perempuan itu.
Aku melihat tidak ada senyum di perempuan itu. Ia asyik memainkan handphonenya. Bau wangi di hidungku.
__ADS_1
Sesekali aku mendengar obrolan antara semua pengacara dengan dirinya.
Kamu harus berbicara kenapa adanya kepada penyidik. Kamu jangan merasa terbebani untuk berbicara apa adanya.
Di sini kamu lawan bicara pria itu.
Jangan berikan kesempatan untuk lolos dan jeratan hukum. Semua saksi yang kita hadirkan semuanya memberatkan dia. Jadi kamu harus kerja terus jangan bermain Kendor..ok!"bisiknya.
sambil sesekali melihat kearah aku. Perempuan itu sesekali melihat.
Ana buru-buru ya menundukkan pandangannya. Terus sebelah kirinya untuk memandangi lawannya yang sama-sama berada di satu tempat pulang tunggu unit di mana aku harus diperiksa sebagai terperiksa.
Aku mendengar tadi bahwa seksi-seksi dari pihak Ana sudah memberatkan aku.
Aku hanya berdoa kepada yang maha kuasa, "seandainya memang aku hari ini, minggu ini bulan ini, berurusan dengan yang berwajib, dan hasil akhirnya aku di kelengkeng, aku memohon kekuatan serta kesabaran.
Namun seandainya aku dinyatakan tidak bersalah, berikan kesabaran untuk memberi Maaf terhadap orang yang telah melaporkan aku, karena aku bagaimanapun tidak bersalah.
Muncul rasa kesal, Kenapa dia tega melaporkan aku padahal aku tidak merasa bersalah.
Bahkan kini dia didampingi seorang pengacara, memang itulah pekerjaannya.
Kena kalaupun aku tidak terkena hukum, sudah pasti aku juga mendampingi kalian untuk pemeriksaan.
Sebenarnya aku tidak harus marah kepada pekerjaan yang sedang diemban oleh laki-laki itu. Toh Itulah tugasnya.
Aku mencoba menatap wajah gadis itu yang telah merunduk. Terlalu berani aku menatap perempuan itu, meski awalnya kesal, Namun ternyata aku menemukan keteduhan saat aku berlama-lama memandangi wanita itu.
Bagaimana tidak perempuan cantik kita, emang berada di mana pun akan tetap cantik.
Di tempat yang sebenarnya adalah gerbang aku memasuki dunia baru, di mana merupakan kuburan hidup bagi orang yang terkena dampak pidana, manakah unsur-unsurnya terpenuhi yaitu dua alat bukti tentang terang benderang sebuah perkara.
Aku baru tahu secara 100% wajah perempuan itu.
Karena tadi aku tutup dengan penuh kekesalan, sehingga pandanganku ini kutunjukkan secara cermat.
"Ya Allah demikian indahnya perempuan itu? Aku belum melihat perempuan secantik itu. Namun aku tidak tahu, akhir cerita aku. Bisakah aku mendapatkan kecintaan dari perempuan yang ada di hadapanku itu..."
Aku menelan saliva, berapa kali kutelan lagi dan kutelan lagi.
Perempuan yang sedang mengintip juga, terbentur dengan kata-kata aku. Makanya yang bening mendadak merah. Kan hanya dia yang mendengar syair dawai hatiku. Sedangkan pengacara lagi asyik menelepon klien yang lain.
__ADS_1
stop dulu ya, pada pembaca Budiman, nanti kita bertemu lagi pada bab-bab berikutnya, semoga saja aku ini bisa sedikit mengobati kejenuhan anda dalam rutinitas.
Oke jangan lupa kritik dan saran untuk perbaikan narasi berikutnya, Trims.