
“Saya punya satu motor sport untuk melamar Kakak!” Teriakan gila itu kembali terdengar hingga ke kamar gadis berhijab instan. Napasnya tersengal akibat menahan amarah. Entah sudah ke berapa kali Aldeo berteriak gila seperti itu.
Olivia Naima, nama gadis dengan hijab instannya. Seorang siswa terpintar di SMA Garuda Sakti. Kerap ia sering dipanggil Oliv, nama yang indah bukan? Sore ini dia kembali emosi atas tingkah laku tetangga depan rumahnya, bukan sekali dua kali pria yang terdaftar sebagai adik kelasnya itu menyatakan cinta yang konyol padanya.
Walaupun Oliv tak pernah merespon, pria muda dengan sejuta kebandalannya itu tetap kekeh. Bahkan dia berani datang ke hadapan sang ayah hanya untuk meminta restu.
“Kak Oliv, aku serius dengan ucapanku!”
Kembali terdengar lagi, kali ini Oliv menutup rapat-rapat gorden pintu balkonnya, setelahnya dia kembali duduk di ranjang dengan tangan yang masih setia menyumbat telinga. Ia risih melihat Aldeo atau yang sering dipanggil Deo itu berteriak. Sudah nyaris diomeli oleh warga, tetap tak ada kapok-kapoknya.
Karena tak mendengar suara pria itu lagi, perlahan Oliv membuka gordennya. Lalu tangannya beralih membuka pintu balkon, ia longokkan kepalanya ke sana kemari. Sekalipun ia tak melihat Deo.
“Bwaaa!” Deo berteriak dari balik dinding rumah Oliv, pria itu tersenyum manis mendapati sang pujaan hati yang tengah kaget sambil memegangi dada.
“Dasar gila! Kalau aku jantungan gimana? Mau tanggung jawab!” amuk Oliv, gadis itu bersedekap dada dengan wajah dingin dan datar. Bola matanya terus memutar karena jengah.
Deo meletakkan satu jarinya di dagu, dengan dalih memikir. “Mau. Nanti aku kasih nafas buatan biar sembuh lagi.”
Omong kosong! Oliv membanting pintu balkonnya dan berlari turun untuk menemui pria yang ia cap gila itu. Tangannya sudah terkepal erat, dan mulutnya sudah siap mengeluarkan kata-kata pedas yang menghujam hati.
“Dasar pria gila!” Oliv mendorong tubuh Deo dengan kencang, hingga pria itu benar-benar terguncang mundur hingga hampir terjatuh. “Hentikan tingkah konyolmu itu, apa kamu tidak punya harga diri?”
“Punya. Bahkan harga diriku sudah melekat di diri, Kak. Hahaha,” ucap Deo sambil tertawa terbahak-bahak.
Geraman Oliv terdengar begitu menakutkan. Wajahnya sudah merah padam, tangannya pun semakin terkepal kuat hingga buku-buku tangannya terlihat. Giginya beradu siap menerkam hidup-hidup manusia gila di depannya.
“Dasar gila! Dasar gila!” Oliv terus memukul-mukuli dada bidang Deo, yang hanya dibalas ringisan oleh pria itu.
“Kak sakit, Kakak mau bunuh aku?”
“Biar saja sekalian kamu mati!”
“Nanti Kakak nyesal, karena enggak ada cowok setampan dan sebaik aku,”
“Dasar gila kepedean!”
Deo menahan tangan Oliv, pandangan mereka bertemu untuk beberapa saat. Deo puas mengamati wajah cantik gadis di depannya ini, dengan senyum seringai ia membuka mulut kembali.
“Kakak mau, jadi istriku?”
__ADS_1
Bugh
Tepat mengenai sasaran, Deo menggeram sakit sambil terduduk di jalan. Sedangkan Oliv, gadis itu senang. Dia tertawa terbahak-bahak sambil terus menunjuk ke arah Deo.
“Kasihan,” ejek Oliv seraya menjulurkan lidahnya.
“Kalau sampai dia terluka gimana Kak, masa depanku bisa suram,” ucap Deo sambil menunjuk-nunjuk bagian bawahnya, yang katanya nyawa baginya.
“Apa peduliku. Biar sekalian tidak ada yang mau!”
Brak
Oliv menutup pintu rumahnya, tawanya masih terdengar jelas ditelinga pria itu. Dengan jalan tertatih-tatih dia masuk ke dalam rumahnya.
Kali ini aku boleh gagal, lihat saja besok.
**
Selesai berganti pakaian, Oliv bersiap-siap hendak ke masjid untuk melaksanakan salat Magrib di sana. Sebenarnya ada tujuan lain, ia ingin melihat ustaz muda yang selalu menjadi imam. Ketampanan yang alami menarik perhatian Oliv sejak pertama kali mereka bertemu.
“Bun, Bunda!” Oliv berkeliling ruang keluarga, mencari sosok wanita paruh baya. Tetapi anehnya, sang bunda belum terlihat juga.
Ayahnya juga, pria paruh baya itu tidak ada di tempat biasa ia bersantai. Setelah capek mencari ke sana kemari, Oliv memilih pergi ke masjid lebih dulu.
“Hay, calon makmum,” sapa Deo sok manis. Oliv mau muntah mendengar suara lembut terayun milik pria itu.
“Hay juga calon mayat!” Bukan seperti sapaan balik, Oliv acuh dan langsung pergi mendahului Deo. Tetapi bukan Deo namanya jika menyerah, ia segera mengikuti langkah gadis berhijab kasual itu, menjajarinya.
“Bunda sama ayah mana?” tanya Deo sambil celingukan ke belakang.
Oliv mengernyit heran, satu alisnya terangkat ketika sudah mengerti maksud Deo.
“Kepo!” ketusnya memandang kesal Deo.
Masjid sudah terlihat. Mata Oliv berbinar ketika mendapati orang yang sering ia pantau, ustaz Ridwan tengah berjalan menuju masjid juga. Dengan tasbih dan sarung.
“Assalamu’alaikum Ustaz,” sapa Oliv dengan senyum semanis mungkin.
Deo bergerak mendekati Oliv, bahkan nyaris tak ada jarak di antara mereka. “Assalamu’alaikum juga Ustaz,”
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam.” Senyum ustaz Ridwan begitu manis, sampai-sampai Oliv melayang tinggi dengan begitu banyak harapan. Setelah lulus SMP dan putus dengan pacarnya, dia sama sekali tak mencintai orang lain lagi. Tapi setelah melihat ustaz Ridwan, tiba-tiba hatinya bergetar.
“Mau salat Ust?” tanya Deo sok basa basi. Dalam hati Oliv merutuk, sudah tahu mau salat pake nanya segala!
“Iya ni, saya duluan ya. Soalnya mau azan.” Setelah permisi, ustaz Ridwan berjalan lebih dulu memasuki masjid.
Oliv benar-benar terpukau. Bukan cuma wajahnya yang tampan, tetapi suaranya juga merdu. Ya, dia selalu mendengarnya setiap waktu salat.
“gak usah dibayangi, dia enggak bakalan jadi jodoh Kakak,” ujar Deo melangkah pergi meninggalkan Oliv yang senyumnya mulai luntur.
“Kalau jodoh, 'kan enggak ada yang tahu,” ucap Oliv setengah berteriak, yang pastinya masih bisa didengar oleh Deo.
**
Oliv kembali setelah bakda Magrib, tentu saja mencari perhatian dulu dengan ustaz Ridwan. Tapi disayangkan, ia tak ditanggapi sama sekali.
Aku yakin Allah pasti mengerti. Kalau aku mau ustaz Ridwan jadi jodohku.
“Pulang bareng Kak?” Entah datang dari mana, tiba-tiba Deo sudah di samping Oliv. Pria itu sudah melepas sarungnya dan mengalungkan kembali di leher.
“No,” jawab Oliv sok bahasa inggris. Jemarinya bergoyang tanda mengusir Deo.
Dengusan napas Deo terdengar, pria dengan kemeja kotak-kotak itu mengelap pelan dahinya. Lalu merapikan rambut yang sebenarnya sudah rapi.
“Kakak kenapa sih, enggak pernah mau sama aku?” Pertanyaan konyol, tetapi tetap didengar oleh Oliv. Gadis itu tengah sibuk memikirkan jawaban yang pas untuk pria tukang kepedean di depannya ini.
“Yang pertama, kamu bandel. Kedua, suka tawuran, kabur-kaburan dan nongkrong-nongkrong. Dan yang ketiga, KAMU BUKAN TIPEKU!”
Setelah mengucapkan kata-kata kejam bak pisau silet, Oliv langsung bergegas kembali ke rumahnya. Pastinya dengan hati dongkol.
“Coba kalau ustaz tadi nolak Kakak begitu, sakit gak?” Deo mengejar Oliv. Ia masih tak percaya dengan jawaban gadis itu.
“Biasa saja. Yang penting, utamakan sadar diri. Kagum boleh, tapi jangan terlalu terobsesi kayak kamu ini,” ceramah Oliv, dia sudah seperti ibu yang sedang menceramahi anaknya.
“Makanya itu, aku mau ajakin Kakak nikah. Biar gak terlalu terobsesi.”
“Dasar gila, itu sama saja kamu melakukannya karena obsesi. Harusnya, kalau kamu cinta sama aku, minta sama Allah.”
Bersambung
__ADS_1
Terima kasih untuk yang sudah membaca. Jangan lupa Like, vote dan komennya ya. Boleh juga kalau mau kasih hadia😁🤭
Gomawo