Kak, Nikah Yuk!

Kak, Nikah Yuk!
Muak


__ADS_3

Oliv tengah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Sambil menunggu mang Ujang mengeluarkan mobil dari garasi, ia memilih main hp terlebih dahulu. Melihat pesan-pesan yang baru saja masuk.


Suara klakson motor mengganggunya, dengan wajah yang sudah masam. Oliv menghampiri Deo yang sedang mengegas-ngegas motornya di depan pagar rumah Oliv.


“Berisik tau gak?” omel Oliv. Gadis itu berdiri tepat di samping pagar rumah.


“Makanya yuk berangkat bareng aku. Dijamin deh, selamat sampai tujuan.”


“Enggak usah Deh, saya bisa berangkat sendiri.” Oliv berjalan mendekati mang Ujang yang tengah menghidupkan mobilnya, dengan gaya ala-ala artis model Oliv berjalan memasuki mobil. Tangannya melambaikan ke arah Deo.


“Sampai jumpa.”


Akhirnya Deo hanya bisa mengikuti mobil Oliv. Sesekali ia memotong lalu berucap pada sopir Oliv agar menurunkan gadis itu. Tetapi, mang Ujang menolaknya. Bagaimanapun, Oliv tanggung jawabnya sekarang.


“Sudahlah Mang, sebentar lagi juga jadi tanggung jawab aku!” Deo kekeh pada keinginannya. Berulang kali ia mengetuk pintu mobil bagian kaca kemudi, tetapi tak ada respons lagi dari mang Ujang.


Pria paruh baya itu menambah kecepatan mobilnya, semua atas suruhan Oliv. Gadis itu risih dengan tingkah Deo, menurutnya sangat alay dan lebay.


**


Oliv masih berdiri di depan gerbang sekolah, dia sudah berjanji pada Rindu—sahabatnya. Akan menunggu gadis itu bila ia datang lebih dulu, tetapi sejak lima menit yang lalu. Rindu belum juga tampak, hingga membuat Oliv hampir bosan.


“Rindu mana sih?” monolog Oliv dengan kesal. Ia mengentak-entakkan kakinya masuk ke dalam gerbang.


“Hay Kak,”


Dia lagi, dia lagi.


Benar-benar, Oliv sudah muak melihat Deo. Pria itu terus mengganggunya semenjak pria itu pindah di dekat rumahnya. Kesialannya juga, Oliv tak bisa mengelak. Ke mana pun dia pergi, pasti ada Deo juga di sana.


“Mendingan masuk kelas, belajar. Biar bisa jadi orang kaya,” ucap Oliv ketus. Ia melewati Deo begitu saja setelah berbicara.


“Kalau aku kaya, Kakak mau sama aku?” Pria itu menyejajarkan langkah kakinya dengan Oliv. Walaupun dilorong sekolah agak rame, bahkan ada yang melihat ke arah mereka. Deo tak terganggu sama sekali, justru Oliv yang terganggu.


“Tergantung kayanya bagaimana. Kalau kayanya kayak ustaz Ridwan yang kaya ilmu, bisa aku pikir-pikirin dulu.”


“Kaya uang,” jawab Deo dengan nada agak kesal. Dia tak suka bila Oliv membahas ustaz itu lagi.


“Gak mau!”


Oliv langsung masuk ke kelasnya. Dengan langkah gusar, Deo berjalan ke arah kelasnya juga. Ia masih memikirkan cara untuk menaklukkan hati Oliv. Sempat ke pikiran buat datang dan bertemu ayah gadis itu lagi. Tapi Deo masih tidak sanggup bila harus diceramahi panjang lebar oleh bundanya.

__ADS_1


“Napa Lo, De?” Jepri—teman sekelas Deo yang baru saja datang bertanya. Pria berkaca mata bulat itu memandang heran temannya yang pagi-pagi wajah sudah ditekuk.


“Gak. Anak kecil gak boleh ikut-ikut,”


Jepri hanya bisa menatap kesal. Deo memang selalu bertingkah dewasa, padahal dia lebih muda dibanding Jepri. Pria berkaca mata bulat itu acuh melewati Deo, dia letakkan tasnya di meja lalu melangkah meninggalkan kelas. Sebelumnya memberikan tatapan tajam pada Deo yang hanya dibalas putaran bola mata jengah.


**


Jam pelajar telah berganti, di kelas Oliv lagi jam kosong. Para siswa dan siswi banyak yang menghabiskan jam kosong mereka dengan nongkrong di kantin. Sedangkan Oliv, gadis itu memilih membaca novel. Tentunya ditemani oleh kedua sahabatnya, Rindu dan Rindi.


“Kamu ada hubungan apa sama Deo?” Oliv yang baru saja membuka lembaran bab baru begitu kaget mendengar pertanyaan dari Rindi.


“Hubungan? Tidak ada, sebatas tetangga saja,” jawab Oliv acuh, matanya masih tetap fokus pada bacaan dibukunya.


“Serius? Tapi aku lihat, kamu dekat banget sama dia.” Rindi si gadis berhijab penikmat senja itu kembali membuka suara, kali ini mendapat anggukan dari Rindu yang tadinya hanya diam saja.


“Betul.”


“Perasaan kalian kali, orang aku enggak ada hubungan apa-apa sama dia.”


“Tapi tadi pa—“


“Kak Oliv!”


“Apa ini?” tanya Oliv dengan nada ketus.


“Buka aja sendiri. Maaf, aku duluan.” Deo langsung berlari keluar dari kelas Oliv. Entah mau ke mana dia, Oliv tak tahu. Tapi yang pasti, dia sempat berpikiran bahwa Deo sedang kabur dari kelas.


“Dan yang ini, membuktikan bahwa kamu dan dia ada apa-apa.” Tatapan Rindi benar-benar mengintimidasi. Gadis itu bersedekap dada dengan mata menatap tajam Oliv.


“Heheh. Itu ... Aku cuma tetanggaan kok. Mending kita makan roti ini.”


**


Rasanya begitu pegal sekali, Oliv langsung mandi setelah sampai di rumah. Setelah selesai berganti baju dengan gamis rumahan. Oliv berjalan pelan menuruni anak tangga menuju dapur.


Saat dia tiba di ambang pintu dapur, sudah terlihat ayah dan bundanya yang tengah mengobrol di meja makan.


“Siang Bun, Yah.”


“Siang juga Sayang.” Ningsih, bunda Oliv menuangkan nasi ke piring anaknya, beserta lauknya juga.

__ADS_1


Sedangkan Harman, ia terus menatap wajah lesu putrinya.


“Ada apa, Nak?” tanya Harman ketika mendapati Oliv sedang menggerutu kesal.


“Itu loh Yah, si Deo. Dia enggak ada berhenti-berhentinya gangguin Oliv. ‘Kan risih,” adunya.


Ningsih menatap kasihan anaknya, diusapnya pelan kepala Oliv yang tertutup hijab. Lalu berkata, “Nikmati saja, kami juga sudah berusaha menyadarkan Deo. Tapi sepertinya, anak itu benar-benar mencintai kamu.”


“Bukan cinta Bun, tapi obsesi.” Oliv kembali bersuara dengan nada jengkel.


“Ayah tidak bisa berkata-kata lagi.”


Suasana berubah menjadi hening, ketiganya tengah sibuk menyantap makanan mereka. Hanya suara sendok dan piring yang berdenting saja yang terdengar.


**


Menjadi anak satu-satunya memang tak terlalu enak juga, harus disuruh ke sana kemari. Tetapi, Oliv mencoba menerima semuanya, ia terus berjalan menuju warung untuk membeli tepung pesanan bundanya.


Akhirnya ia sampai, langsung saja menghampiri sang penjual dengan napas masih ngos-ngosan.


“Tepung terigu satu kilo, Mbak,” ucap Oliv pada mbak Darsih.


Sambil menunggu, Oliv memilih melihat-lihat sekitar. Mendengar suara familiar, dia jadi kepo. Setelah membayar, ia lebih dulu ke depan. Melihat ke arah tempat tongkrongan para anak-anak berandalah.


“Lo gak pulang De?”


“Gak, malas. Entar pasti ditanyai sama bunda, kenapa bonyok-bonyok begitu.”


“Jawab aja, abis kejedot.”


“Sumpah, jawaban Lo gak logis. Yang lebam pipi gue, bukan jidat!”


Kan benar saja, Oliv sudah menebaknya. Pasti Deo, lagi-lagi ia tak suka melihat kelakuan pria itu. Bagus deh dia menolak ajakan untuk berpacaran, tingkahnya saja seperti itu.


“Sini, aku tambah bonyokin.” Oliv berdiri tepat di depan dua orang yang masih mengobrol itu. Dengan wajah datar dan dingin.


“Kak Oliv!”


 


Bersambung

__ADS_1


Author selalu nginget, buat Like, komen dan votenya ya. Kalau bisa hadiahnya juga🤣


__ADS_2