Kak, Nikah Yuk!

Kak, Nikah Yuk!
Dunia Luar


__ADS_3

PoV Oliv


Setelah kepergian Deo, aku memilih pulang. Duduk sebentar di teras, sambil melihat beberapa motor yang berlalu lalang di depan rumahku. Aku benar-benar merasa khawatir, rasanya enggan untuk masuk. Semua pikiran terpatri pada Deo, hanya pria itu yang terus berkelebat di kepalaku. Sebanyak-banyaknya istigfar, belum juga meredakan rasa khawatir.


Apa aku harus menyusul Deo? Lagi pula masih jam 08.00. Akhirnya, dengan rasa percaya diri, aku menuntun motorku ke depan. Agar kedua orang tuaku tak mendengar suara derunya nanti. Agak jauh, aku menaikinya. Menstater motor matic milik ayah. Melajukannya dengan segera menuju tempat tujuan.


Kota yang masih padat kendaraan, membuatku sedikit lega. Rasa takut yang sempat menyeruak, telah hilang. Segera mungkin aku membelokkan stang motorku menuju tempat balapan. Aku kelimpungan saat ada beberapa motor sport mirip punya Deo yang menyalipku, jarak motor kami tidak terlalu jauh. Jika terkena sedikit saja, sudah dipastikan aku yang bakalan jatuh.


Kalau dipikir-pikir, mungkin saja pengendara motor tadi ingin pergi menonton balapan juga. Aku menambah kecepatan motorku, melesat mengikuti mereka.


Seketika rasa bersalah menyeruak dalam dada. Yang pertama aku sudah berbohong pada ayah dan bunda. Kedua, aku tiba-tiba menjadi bodoh dengan keluar malam-malam begini yang seharusnya tidak pernah aku lakukan. Apa gunanya aku menceramahi Deo, kalau aku saja masih berbuat kesalahan? Tidak! Niatku ini juga membantu, bukan karena ketersengajaan.


Dapat aku lihat keramaian di sana, segera aku memarkirkan motorku di dekat motor-motor yang lain. Mendekap tas selempang yang sejak tadi kupegang erat, aku melangkah pelan menyusuri keramaian di sini. Ini kali pertama aku datang ke tempat balapan, pun dulu tidak terpikir untuk datang ke tempat seperti ini.


Hanya karena cowok tengil yang menjadi tanggung jawabku, mau tak mau aku harus melakukannya.


Dari banyaknya perempuan di sini, mengapa hanya aku yang mengenakan hijab? Bahkan pakaian mereka jauh berbeda dari aku?


Baju kurang bahan yang memperlihatkan aurat begitu dalam, menempel di tubuh mereka masing-masing. Dari warna merah sampai warna yang kelihatan kelam. Make up yang menor, sangat berbeda dengan aku yang hanya memoles sedikit bedak dan liptin saja.


Banyak pasang mata yang memperhatikan aku dari bawah hingga atas. Lampu terang yang menerangi tempat ini, memudahkan mereka. Aku mencoba tak peduli, tetap fokus pada dua motor yang sejak tadi terus melaju cepat berkeliling jalanan di depan sana.


Aku berdoa dalam hati, semoga semuanya baik-baik saja. Baik Deo maupun lawannya.


“Hei, cewek berhijab!” Sapaan itu terdengar tidak baik, aku menundukkan kepalaku saat matanya menatap tajam ke arahku.


Sebenarnya dia siapa? Kenapa begitu menakutkan?


“Iya, Kak,” jawabku dengan takut. Tanganku sudah setia di samping paha sembari memilin gamis yang kukenakan.


“Nyasar? Baru pertama kali ini ada cewek berhijab yang nonton balapan. Lagi miring apa gimana, otaknya?” Tawa melengking namun terkesan imut di wajah baby facenya membuat aku semakin ketakutan.


Tiga gadis cantik itu, mengitariku. Aku segera mendekap erat-erat tasku, sambil terus berdoa. Berada di sini benar-benar membuatku ketakutan.


“Menjauh dari dia!” Berat dan dingin. Aku hafal suara itu, mataku langsung menyapu ke samping. Mendapati Deo tengah berdiri, dengan tatapan tajam mengarah kepada tiga gadis tadi.

__ADS_1


“Baiklah. Lain kali, kalau alim, gak usah ke sini Kak! Bakalan dikira sok alim!” Aku tak mengerti dengan apa yang diucapkan salah satu gadis berpakaian minim itu. Tetapi hatiku langsung lega ketika mereka pergi.


“Kakak ngapain ke sini? Bahaya Kak!” tegas Deo seraya menarik lenganku. Dengan terpaksa aku mengikuti langkahnya.


“Aku khawatir kamu tidak menepati janji,” jawabku ketus, menyentak tangannya dengan pelan.


“Aku tidak mungkin begitu.” Suaranya terdengar lirih.


Aku memilih tidak peduli, duduk di atas motorku. Mataku menatap ke arah langit, kelam semakin terlihat.


“Kalah atau menang?” tanyaku tanpa memandang ke arahnya. Kudengar helaan napas kasar.


“Menang.”


“Bagus. Kalau gitu kita langsung pulang.”


“Aku harus ke rumah sakit dulu Kak!”


“Ngapain?”


“Ane yang memintanya Kak. Gimana kalau aku anterin Kakak pulang dulu,” ucapnya. Dasar pria menyebalkan! Tidak menghargai usahaku.


“Tidak! Aku ikut kamu.” Aku menuntun motorku keluar dari parkiran. Menyetaternya, dan segera melajukannya dengan pelan. “Aku tunggu di sana!” ucapku sambil menunjuk ke arah jalanan yang agak ramai karena terdapat pedagang kaki lima.


Agak lama menunggu, akhirnya Deo datang. Dia langsung menyuruhku duluan.


“Rumah sakit Sejahtera,” ucapnya. Aku mengangguk lalu melajukan motorku kembali.


Angin semakin berembus dengan kencang. Hawa dinginnya pun begitu terasa hingga menusuk tulang sum-sumku. Ingin sekali aku mendekap tubuh ini, tetapi masih dalam keadaan menyetir. Aku tak mau terjadi kecelakaan.


Sesekali aku melihat ke belakang, memastikan bahwa Deo mengikutiku. Aku hanya takut dibohongi dia lagi, semakin malam rasanya semakin mengerikan.


Gedung besar menjulang tinggi sudah terlihat. Banyak beberapa pengemudi mobil yang keluar dari parkiran. Aku langsung memasukkan motorku di parkiran, sambil menunggu Deo turun dari motornya, sedikit kurapikan hijab bergo yang kukenakan.


“Ayo Kak.” Deo sudah berdiri di sisi kiriku. Dapat kulihat matanya menatap intens, lalu bulu mata lentik itu mengerjap.

__ADS_1


“Ya.”


Langkah kaki lebarnya tak bisa kugapai. Hingga akhirnya ia berbalik, menghampiri aku. Mungkin baru sadar, kalau kakak kelasnya yang cantik ini tertinggal begitu jauh.


“Maaf, Kak,” ucapnya.


Aku memasang wajah jutek, lalu melipat kedua tangan didada. “Sadar dong! Aku ada di sini!”


“Iya maaf, tadi aku panik.”


Aku enggan berdebat dengannya lagi, seorang Deo mana mau kalah dengan gadis sepertinya. Dan lagi, aku malas mendapat gombalan maut miliknya.


**


Air mataku tak bisa tertahan saat mendengar cerita Ane—teman Deo. Sejak tadi dia terus menggenggam tangan ibunya sambil bercerita, bahkan air mata pria itu terus merembes jatuh.


“Kamu yang sabar, ingat, ada Allah disisimu. Percayalah dan berdoalah pada-Nya. Niscaya dia akan mengabulkan permohonanmu.” Aku merasa paling pintar. Tapi perasaan lega, datang dihatiku saat mengatakan itu. Kekuasaan Allah untuk membolak-balikkan hati manusia itu ada, begitu pun dengan hatiku. Semoga saja, ilmu yang aku sampaikan pada dia bermanfaat, dan dapat memotivasi.


“Dengan salat?” Ane bertanya dengan wajah sendu. Dia berdiri, berjalan mendekatiku. “Aku tidak tahu salat, sudah lupa.”


Aku tersenyum menanggapinya. “Belajarlah, kamu pasti bisa. ‘Kan ada Deo, dia yang akan mengajarimu.”


“Kak.”


“Deo, kamu punya ilmu yang Ane tidak punya. Bagikan padanya, dia membutuhkan bantuanmu. Lagi pula kamu 'kan bisa salat, setiap hari ke masjid. Ayo bantu dia,” ucapku penuh keyakinan sembari meyakinkannya juga.


“Baiklah. Jika nanti ada yang salah, Kakak tolong perbaiki.” Aku mengangguk. Lalu duduk di sofa memerhatikan mereka yang tengah belajar menghafal ayat-ayat pendek.


Entah mengapa, seperti ini jauh lebih menyenangkan. Sejenak aku bisa melupakan masalah di sekolah. Mendengar lantunan ayat demi ayat yang keluar dari mulut Deo, membuat mataku mengerjap, rasa kantuk mulai datang menghampiri.


Bersambung


Jangan lupa like, komen, dan votenya.


__ADS_1


Mbak Oliv, gemes ya guys?


__ADS_2