
Tepat pukul 07.00 pagi Oliv baru sampai. Ia langsung menghampiri kedua temannya yang sedang menunggu diparkiran. Hijab syar’i nya terombang-ambing saat dia berlari. Wajah ovalnya sangat cerah dan bersinar.
“Assalamu’alaikum,” sapa Oliv seraya tersenyum menatap kedua temannya. Sedangkan yang ditatap hanya bisa saling memandang, mengembalikan tatapan pada Oliv, dengan heran.
“Wa'alaikumsalam,” jawab Rindi dan Rindu kompak.
“Yuk ke kelas!” ajak Oliv. Dia melangkahkan kakinya terlebih dahulu, diikuti kedua temannya yang masih memasang wajah keheranan.
Tak biasanya Oliv seceria ini, biasanya gadis itu selalu jutek bahkan kesal. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Tapi ini, dia kelihatan lebih segar. Malas memikirkan itu, Rindi dan Rindu mempercepat langkahnya mengejar gerak kaki Oliv yang semakin menjauh.
**
Mengubah status tidaklah gampang, bukan seperti membalikkan telapak tangan. Harus ada usaha dan kepercayaan, jika hati masih goyah, untuk apa? Sama halnya seperti Deo, dia masih berada di posisi menyulitkan. Untuk saat ini dia belum mampu mengikuti kemauan orang tuanya, sangat sulit. Tetapi satu hal yang membuat Deo makin pusing, ia sudah berjanji pada Oliv akan belajar mengaji dengan bersugguh-sungguh.
Ahk! Apa yang harus aku lakukan?
Sejak tadi Deo masih terus berdiri di dekat danau, kakinya terus bergerak menendang batu-batu kerikil yang dia ambil dari pinggir jalan tadi. Sengaja dia melakukan itu, berharap rasa dilema ini segera berakhir. Tapi nyatanya dia malah pusing, satu masalah kelar, datang satu lagi.
Hendra baru saja menelepon, ia berkata bahwa musuh balapan Deo kemarin menantang kembali. Kini dengan jumlah uang taruhan yang lumayan banyak. Sebuah keputusan sulit yang harus Deo ambil. Di satu sisi dia butuh uang itu untuk membantu biaya operasi ibu Ane—temannya, di sisi lain dia sudah berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Sungguh, Deo benci dengan ini semua.
“Aku mohon, bantu aku De. Aku butuh dana untuk biaya operasi ibu.”
Kata-kata itu selalu berdengung ditelinga Deo. Dia tak tega melihat Ane terus memohon.
Kak Oliv pasti enggak bakalan marah. ‘Kan niat aku baik, untuk membantu Ane.
**
Pelajaran jam pertama dan kedua telah usai, Oliv beserta teman-temannya sibuk keluar untuk pergi ke kantin. Kali ini mereka memilih duduk di kursi depan, dekat kasir. Pandangan Oliv menyapu ke seluruh ruangan, matanya menelisik satu persatu siswa yang berdatangan. Namun, tak ada tanda-tanda orang yang ia cari ada di sana.
Ngapain mikirin dia, lebih baik aku menikmati bakso ini saja.
Asap yang masih mengepul, mengharuskan ketiga gadis berhijab itu menunggu. Mereka memilih bercerita.
“Gimana? Deo sudah ketemu?” Sambil meniup baksonya, Rindu bertanya pada Oliv.
“Sudah.” Jawaban singkat yang keluar dari mulut Oliv membuat Rindu berdecak kesal. Gadis itu memutar bola matanya malas, lalu kembali fokus pada bulat-bulat yang enak dimakan. Apalagi kalau bukan bakso.
Suara grusak grusuk mengganggu ketenangan Oliv. Bolak balik ia menatap ke belakang, tepatnya meja nomor dua dari barisan meja yang ia duduki. Terdapat tiga gadis yang tengah mengobrol seraya fokus pada ponsel mereka.
“Beneran bakalan ada balap lagi? Dan jelas tertera ada nama Deo di sana, sebagai lawannya.”
__ADS_1
“Iya. Kamu enggak lihat ini. Jelas-jelas Hendra yang mengupdatenya.”
“Iya. Benar tuh.”
Rasa penasaran yang sempat mereda, kini kembali menyala bahkan lebih besar. Oliv ingin menghampiri ketiga gadis itu dan bertanya kebenarannya. Tapi pasti, mereka akan melontarkan kata-kata kasar, dan Oliv tak ingin mendengarnya.
Tanpa pikir panjang dia ambil hp, membuka aplikasi IG dan segera mencari nama Hendra dipencarian. Langsung ketemu, Oliv segera melihat status terakhir kali pria itu. Baru saja di posting sepuluh menit yang lalu. Oliv menggeram kesal saat melihat nama Deo tertera di bawah sebuah gambar.
Aku harus datang ke sana.
“Liv, kamu kenapa?” tanya Rindi, sejak tadi gadis itu memang selalu memperhatikan gerak gerik Oliv.
“Tidak!”
“Yakin gak mau jujur?”
“Ah, baiklah. Deo akan balapan lagi, aku harus ke sana untuk menghentikan dia,” jelas Oliv sembari menyuapkan kuah bakso yang hangat dan enak.
“Kamu kenapa sih selalu ngurusin dia, kamu suka sama dia? Atau ada hubungan apa?” Rindu terus mencerca. Wajah gadis itu menggambarkan rasa tak suka.
Oliv mengernyit heran, lalu berkata, “Kamu yang kenapa? Kok marah-marah?” Oliv balik bertanya. Ia meletakkan sendok garpunya di meja.
“Aku cuma penasaran!” Suara Rindu meninggi, bahkan sendok yang ia genggam sampai terbanting di meja.
“Orang tuaku dan orang tua Deo, sangat mempercayakan aku untuk merubah sifat dan sikap pria itu. Jadi, sekarang Deo jadi urusan aku. Om Azwar dan tante Rini sudah tak sanggup dengan kelakuan anak mereka. Jadi ya gitu, aku yang dipercayakan,” jelas Oliv lagi. Rindi hanya manut-manut saja, sedangkan Rindu, gadis itu seperti belum puas dengan jawaban Oliv.
Oliv yang mengerti pandangan Rindu, kembali membuka suara.
“Intinya aku memang benar-benar tak ada hubungan apa-apa dengan Deo. Percayalah.”
**
Motor yang terparkir sempurna di dekat teras belum juga berpindah. Bahkan pemiliknya belum terlihat menyentuh kendaraan roda dua itu. Oliv sudah siap dengan gamis dongkernya, ia segera meraih tas sandang yang sejak tadi sudah ia siapkan. Memasukkan hpnya, tak lupa dengan satu buku novel kesayangannya. Dia bergegas keluar, meminta izin pada kedua orang tuanya yang tengah duduk bersantai di ruang keluarga.
“Yah, Bun. Oliv pamit dulu ya.” Oliv menyalami tangan kedua orang tuanya
.
“Mau ke mana Sayang?” tanya Ningsih.
“Ke rumah Deo, ngajarin pria itu,” jawab Oliv berbohong. Ia terpaksa melakukan ini, tak ingin membuat orang tuanya panik kalau menceritakan yang sebenarnya.
__ADS_1
“Oh ya sudah.”
Oliv bergegas pergi. Ia menutup pintu rumahnya, lalu melangkah cepat menuju rumah Deo. Lampu kendaraan dari ujung sana mempercepat langkah kaki Oliv, ia tak ingin dicurigai orang. Memilih mengumpat di dekat motor sport Deo.
Alhamdulillah aman.
Oliv mengusap dadanya lega, baru saja dia ingin mengetuk pintu. Sudah terbuka lebih dulu, dan menampilkan sosok pria yang memakai jaket kulit berwarna hitam.
“Mau ke mana?” Oliv menaikkan satu alisnya, memandang Deo dengan penuh kecurigaan.
“Keluar bentar Kak, beli martabak ... Iya martabak.” Deo begitu gugup, dalam hati berdoa, semoga Oliv mempercayai alasannya.
“Jangan bohong. Ingat! Kamu sekarang tanggung jawab aku, karena kamu muridku!”
“Aku serius Kak.”
“Deo, tolong jujur! Kamu sudah berjanji tidak balapan lagi. Tapi ini apa?” Oliv mengangkat hpnya, menghadapkan layar hidup dengan tampilan sebuah foto motor yang di-posting Hendra tadi.
Menggaruk kepala yang tak gatal, Deo menarik kursi yang terbuat dari rotan, lalu mendudukkan tubuhnya di sana.
“Sejujurnya, aku ikutan karena butuh uang Kak,” ucap Deo seraya meletakkan kunci motornya di meja.
“Untuk apa? Memangnya uang yang om Azwar kasih tidak cukup?”
“Untuk operasi ibu Ane. Dia begitu membutuhkannya.”
“Tidak ada cara lain?” Oliv ikut duduk, gadis itu memangku tas selempangnya.
“Tidak. Kumohon rahasiakan ini Kak.”
“Baiklah. Tapi aku ikut!”
“Jangan Kak! Bahaya!”
“Kamu juga bahaya!”
Keduanya terdiam sejenak, mereka saling pandang hingga akhirnya Oliv memutuskan pandangan mereka. Ia memilih menatap ke arah motor sport milik pria itu.
“Kumohon Kak. Cukup di rumah dan doakan aku agar baik-baik saja. Jangan khawatir, aku enggak mau Kakak sakit.” Deo menghembuskan napasnya. “Semua orang di luar sana, belum tentu baik. Aku takut terjadi sesuatu dengan Kakak.”
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan votenya ya mentemen.