Kak, Nikah Yuk!

Kak, Nikah Yuk!
Bab 16 Antara iya dan tidak


__ADS_3

Aku memilih kembali masuk ke dalam rumahku. Mungkin Deo masih sedih mendengar kalimatku tadi. Bisa-bisanya mulut ini berbicara seperti itu. Astagfirullah.


“Oliv, kamu dari mana saja? Bukannya ganti, sekolah!” Bunda terus mengomel sambil menggiringku naik ke tangga menuju kamar. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan bunda yang sudah panjang lebar.


Akhirnya kamar bernuansa Hello Kitty kembali terlihat. Aku memilih duduk di bibir ranjang sambil melamun menatap bunga-bunga mawar yang kemarin baru di beli bunda. Indah dan harum. Aromanya menguar ke seluruh ruangan ini, sebab bunda menambahkan aroma mawar di pucuknya. Tentu saja juga menenangkan, aku bahkan tahan berlama-lama di kamar.


“Kalau sudah siap, turun Sayang! Sarapan!” Teriakan bunda kembali terdengar. Mendengkus sebal, aku berjalan menuju kamar mandi untuk berganti.


Seragam putih abu-abu sudah melekat di tubuhku yang ramping, tak lupa hijab yang juga sudah terpasang rapi di kepala. Aku menambahkan satu tuspin dan menusukkannya di sisi kiri hijabku.


“Perfect.” Polesan Liptin beserta bedak memancarkan aura kecantikan di wajahku. Aku baru menyadari itu.


Sebelum keluar dari kamar, aku sempatkan untuk menghirup aroma bunga mawar lagi, sambil memejamkan mata menikmati harumnya yang semerbak.


Kakiku sudah menapaki anak tangga berwarna cokelat kelam. Bunda dan ayah sudah terlihat, mereka sama-sama berjalan menuju dapur. Aku bergegas mengejar keduanya, dan bergabung bersama mereka untuk menikmati sarapan pagi bersama.


**


Rindi sudah tiba di kelas. Dia langsung menghampiri aku yang sedang bermain sosial media. Merangkulku sambil tersenyum manis.


“Kamu kenapa? Sakit?” tanyaku heran sambil meletakkan punggung tanganku di keningnya.


“Gak ah, b aja,” jawabnya sembari menjatuhkan bokongnya di kursi sebelahku.


“Rindu mana?” tanyaku lagi sambil celingukan ke arah pintu kelas yang sudah terbuka lebar.


Seketika pandanganku terpaku pada seseorang yang tengah berdiri di sana. Tatapannya sangat intens menatap ke arahku, sedangkan bibirnya sudah membentuk lengkungan. Deo, ngapain pria itu ke kelasku? Dan tidak biasanya dia datang pagi sekali.


“Kak,” panggilnya sembari menarik kursi depan untuk di pindahkan dekat dengan kursiku.


“Tumben De, datang awal.” Tuh kan. Rindi aja heran, apalagi aku.


“Gak papa. Pengin aja,” jawabnya sambil membolak balikkan buku fisika milikku yang tergeletak di meja.


“Emm. Kamu ngapain ke sini?” Aku pura-pura sibuk merapikan hijab. Tetapi lirikan mataku tak pernah lepas dari wajahnya yang tampan.


Deo malah memilih menyentuh-nyentuh jam tanganku. Mengelus dengan pelan. Tiba-tiba wajahnya semakin mendekat pada tanganku.


“Apaan sih kamu!” Aku menarik tanganku cepat. Lalu memandang kesal wajah smirknya.


“Cuma liat kali Kak. Gak bakalan aku ambil, paling cuma sepuluh ribu,” celetuknya.

__ADS_1


“Enak aja kamu. Mahal ini tauk!” Aku memandangnya sinis, tetapi yang dipandang malah menjulurkan lidahnya.


Udara seakan berhenti berhembus. Aku nyaris kehabisan napas melihat kelakuan Deo yang menurutku sangat manis. Wajahnya baby face. Apalagi saat dia menjulurkan lidahnya tadi, nyaris membuat jantungku maraton di tempat.


“Kenapa liatin aku begitu? Tergoda ya? Gak boleh! Dosa!”


Buku di meja melayang tepat mengenai kepala Deo. Bukan aku yang melemparnya, tapi Rindi. Gadis itu menjulurkan lidahnya saat melihat Deo kesakitan. Aku hanya tersenyum kecil menanggapi kelakuan keduanya.


“Pede banget Dek. Ganteng kagak, jelek iya,” ucap Rindi sambil mencoel pelan pipi Deo.


“Apes banget aku. Niat mau berduaan sama Kak Oliv, jadi gak bisa.”


“Ekhem!”


Deheman yang lumayan keras mengalihkan pandangan kami. Rindu berdiri di belakang Deo. Wajahnya datar dan dingin, dia menatapku lalu menatap Deo. Tanpa mengucap satu kata pun, Rindu langsung berlalu menuju kursinya.


Aku bingung, sebenarnya gadis itu kenapa? Chatku tidak dibalas sejak kemarin, ditelepon juga tak diangkat. Dan saat bertemu, aku menyapa dia malah cuek.


“Kamu sudah sarapan Rin?” tanyaku sambil menggeser kursi milikku.


“Sudah.” Jawabannya terdengar ketus. Dia mengalihkan pandangan saat mata kami bersitatap.


“Deo ke kelas dulu ya Kak.” Deo beranjak pergi. Ia memberi sebuah kertas yang dilipat padaku sebelum benar-benar keluar.


“Apa itu Liv?” Rindi mendekati aku dan Rindu. Ia melihat sana-sini, lalu kembali berucap, “Buka dong buka.”


Mereka begitu penasaran, aku pun juga. Perlahan kulepas tali pita yang mengikatnya. Lembaran kertas itu langsung terbuka, menampilkan banyaknya huruf demi huruf yang terpatri di sana. Dan sebuah kota berbentuk love, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil pula.


“Kamu di lamar? Ya ampun.” Aku langsung membekam mulut Rindi, mengisyaratkannya agar diam. Aku menunjuk-nunjuk Rindu dengan mulutku, agar gadis yang kubekam ini mengerti.


Tanganku beralih mengambil kotak merah maroon, mengangkatnya ke depan mata. Aku menelisik setiap sudutnya, ini seperti kotak cincin yang ayah berikan pada bunda seminggu lalu.


“Buka Liv buka.” Rindi terlihat antusias. Gadis itu mencoba merebut kotak yang ada di tanganku, tetapi langsung kutepis dengan kuat.


“Iya sabar,” ketusku sembari membuka perlahan. Pertama kali yang kulihat adalah cincin, berwarna silver. Ada ukiran indah di sana. Dari jauh tidak terlalu jelas terlihat.


Aku mendekatkan cincin itu pada mataku kembali.


“ I love you,”


“Aaa! So sweet!”

__ADS_1


Brak


“Kalau kamu mau menyakiti hatiku, enggak gini caranya Liv! Kamu bisa mendapatkan Deo dengan gampang, tetapi jangan memperlihatkan padaku. Ini sakit, sangat sakit!” Aku terpaku mendengar teriakan Rindu. Napasnya tersengal-sengal, air matanya sudah luruh berjatuhan di pipi putih mulus milik Rindu.


Suasana mendadak hening, aku menatap Rindi yang juga kelihatan bingung. Berulang kali gadis itu bertanya padaku dengan nada suara tak terdengar.


“Aku mencintai Deo.”


Deg


Jantungku mendadak berdegup cepat, seperti ada rasa tak terima yang menyeruak jauh di lubuk yang paling terdalam. Mulutku benar-benar bungkam, pandangan mataku tak lepas dari wajah sendu milik Rindu.


“Tapi Deo mencintai kamu. Sesuatu yang sangat menyakitkan.” Suara Rindu kembali terdengar, kali ini Isak tangisnya pun semakin lirih saat masuk ke dalam indra pendengaranku.


“A-aku tidak bermak—“


“Sudahlah.”


“Rindu, tunggu!” teriakku, berusaha menggapai tangannya tetapi langsung di tepis olehnya.


Aku terduduk lemas di lantai kelas, wajahku menunduk, menatap benda bulat kecil yang sejak tadi masih kugenggam dengan erat. Aku merasa ada tangan yang merangkulku dengan erat, Rindi di sana, ia tersenyum seraya mengangguk ke arahku.


“Bukan salahmu. Ini sudah menjadi bagian dari rencana Tuhan,” ucapnya, menguatkan aku. Tubuhku berhambur memeluknya dengan erat, bulir bening yang sejak tadi tertahan di pelupuk mata akhirnya merembes keluar.


Entah rencana Allah apa lagi. Selama lima belas menit kelas masih sepi, hanya ada kami berdua di sini. Aku melepaskan pelukannya, lalu mengangkat cincin itu, lagi lagi Rindi tersenyum sembari mengangguk.


“Aku tidak bisa. Sekarang hatiku dilema. Aku mencintai ustaz Ridwan, dan aku kasihan dengan Deo.”


“Finisnya ada di kamu, aku doakan yang terbaik.”


 Bersambung


Oliv mulai membuka hati? Tetapi ungkapan kejutan dari Rindu membuat syok dua sahabatnya. Semua akan terkuak di bab berikutnya.


Sok iya lu Thor.


lah iya😂😂



Biar tambah semangat bacanya gengs. Aku kasih foto mas Deo yang sedang bimbang, antara agama atau kebiasaan😂😂🙂🌹

__ADS_1


 


 


__ADS_2