
“Kalau siang bisa berubah jadi malam, berarti kamu juga bisa aku gapai.”
Aldeo Fajri
**
Malam Minggu, para pasangan-pasangan tengah berlalu lalang di depan rumah Oliv, suara deru motor mereka benar-benar mengganggu. Apalagi cara mereka berboncengan, sungguh membuat Oliv ingin muntah rasanya.
Dulu, saat dia berpacaran tak pernah melakukan yang melebihi batas begitu, kecuali berpegangan tangan. Itu pun hanya terjadi selama beberapa detik saja. Berpelukan bahkan berciuman, Oliv sudah ngerih membayangkannya.
Walaupun tak setinggi iman ustazah-ustazah di luaran sana, Oliv tetap tahu sedikit demi sedikit tentang larangan Allah. Dari menjaga pandangan sampai menjaga akhlak, sudah ia pelajari ketika duduk di bangku MTS.
Apalagi zaman sekarang, zamannya di mana zina tak dipermasalahkan lagi. Perbuatan-perbuatan keji kerap dilakukan, tanpa takut neraka sebagai balasannya. Oliv menggelengkan kepala ketika mengingat-ingat kata-kata itu, beruntung sekali dia masih diberikan hidayah oleh Allah untuk berubah lebih baik lagi.
“Kamu di luar ternyata, pantas Bunda cariin di kamar tidak ada,” ucap Ningsih sambil mengambil kursi untuk dia duduki.
“Iya Bun. Hemm. Keluarga Deo datang jam berapa?” tanya Oliv dengan suara pelan, sembari melirik ke arah rumah Deo yang berhadapan dengan rumahnya.
“Sebentar lagi mungkin, kenapa memangnya?” Ningsih menatap putrinya bingung, lalu beralih mendengarkan suara motor yang sedang di gas. “Itu Deo mau ke mana?”
“Entah. Mana Oliv tahu,” jawab Oliv cuek.
“Deo!” panggil Ningsih setengah berteriak. Wanita paruh baya itu melambaikan tangannya.
“Iya, Tante?”
“Kamu mau ke mana?” Ningsih kembali bersuara. Matanya menatap lekat-lekat pria yang memakai Hoodie.
“Keluar bentar, beli martabak. Kenapa Tante? Mau kirim?”
“Ah, iya. Bentar ya, Tante ambil uang dulu.”
Ningsih beranjak masuk ke dalam rumah, meninggalkan Oliv yang tengah menatap tajam Deo. Sebab pria itu terus mengedipkan mata ke arahnya. Cahaya lampu yang begitu terang, membuat Oliv begitu jelas melihat wajah Deo.
“Ni Liv.” Ningsih memberikan satu lembar uang berwarna merah pada anaknya. Tentu saja membuat Oliv bingung, gadis itu menautkan kedua alisnya.
“Untuk apa, Bun?”
__ADS_1
“Beli martabak, sana sama Deo.” Ningsih kembali berjalan memasuki rumah. Oliv yang tak terima mendengar perintah sang bunda, akhirnya mengikuti langkah kaki wanita paruh baya itu.
“Tapi Bun.”
“Enggak ada tapi-tapian. Uda sana, malah masuk.” Ningsih mendorong punggung anaknya. Akhirnya ia juga ikutan keluar. “Deo, Oliv ikut ya?”
“Oh, iya enggak apa Tan.” Kebahagiaan, Deo senang. Akhirnya, tanpa ia meminta, orang tua Oliv sendirilah yang menyuruhnya.
Akhirnya dengan hati dongkol, Oliv naik ke atas motor matic milik orang tua Deo. Tanpa mau menoleh ke arah Deo yang tengah memanaskan motor sportnya. Hingga membuat pria itu mendengkus pelan, lalu berjalan ke arah motor ayahnya.
“Aku pakai gamis!” ketus Oliv yang dibalas anggukan oleh Deo.
“Iya enggak apa. Deo tahu kok.”
Sepanjang perjalanan menuju kota tak ada percakapan di antara mereka, hanya ada keheningan saja. Oliv menikmati pemandangan malam. Jarang-jarang dia menikmati bintang sambil naik motor begini, biasanya hanya bisa menatap lewat jendela kamar saja atau pun dari balkon.
Cahaya kerlap-kerlip lampu di sepanjang jalan, menambah kesan keindahan. Kota Jakarta, sangat ramai bila malam begini. Berbagai jenis motor terparkir rapi di depan kafe-kafe kota, tentu saja banyaknya pasangan juga terdapat di sana.
Walaupun dibonceng oleh Deo, pria itu tetap menjaga tata tertib berkendara ketika bersama Oliv. Tak ada kebut-kebutan, Deo benar-benar mengendarai motornya dengan sangat lembut.
“Kakak suka malam?” Karena menggunakan helm yang full face, Deo jadi agak mengeraskan suaranya ketika berbicara.
“Enggak ada, tadi itu cuma nanya doang.” Deo kembali fokus menyetir.
Tak ada lagi pembicaraan di antara mereka, keduanya fokus dengan aktivitas masing-masing. Oliv masih saja mengagumi kota Jakarta, berulang kali ia mengambil potret bangunan-bangunan yang menjulang tinggi.
Ketika motor berhenti, Oliv segera mungkin menyimpan hpnya. Lalu turun, sambil menunggu Deo yang tengah membuka helmnya. Oliv juga berusaha membuka pelindung kepala ini, tetapi tidak bisa.
“Gini caranya Kak.”
Oliv salah fokus. Bukannya menghentikan Deo yang tengah berusaha membuka helmnya. Ia malah menikmati ciptaan Tuhan yang indah pada wajah Deo. Dari potongan rambut yang sudah hampir menyerupai orang Korea, membuatnya tambah tampan dua kali lipat. Apalagi ketika alis tebalnya menaut, Oliv baru mengagumi itu.
“Ayo Kak.” Panggilan Deo membuyarkan lamunan gadis itu, dengan segera Oliv beristigfar dalam hati. Ia merutuki diri sendiri, yang tak bisa menjaga pandangan dengan baik.
Gadis berhijab segi empat itu segera mengikuti langkah Deo. Pandangan matanya menelisik setiap sudut tempat pedagang kaki lima ini. Ia pikir, Deo akan mengajaknya beli di tempat lain. Tapi ini, malah di pinggiran jalan seperti ini.
Menjaga kebersihan memang nomor satu bagi Oliv, ia juga tak bisa sembarangan memakan makanan. Apalagi di pinggir jalan begini, terkena polusi udara. Sungguh Oliv tak bisa membayangkan itu.
__ADS_1
“Di sini bersih kok,” ucap Deo. Sepertinya pria itu tahu ketakutan Oliv tentang warung di pinggir jalan ini. Ia menarik pelan ujung gamis tangan Oliv, agar gadis itu segera duduk. “Kakak tunggu sini, aku mau pesan dulu.”
Benarkah sehat?
Mata Oliv kembali menatap para pembeli yang kebanyakan adalah ibu-ibu. Dari situlah, hatinya agak sedikit lega. Karena mungkin seperti yang dibilang Deo, ini beneran bersih.
“Kakak mau beli apa lagi?” Tiba-tiba Deo sudah duduk di depan Oliv yang hanya terhalang meja. Pria itu merogoh sakunya untuk mengambil hp.
“Enggak ada.”
“Kalau gitu tunggu di sini ya, aku mau beli rokok di seberang sana.” Deo bangkit dari duduknya.
Oliv melotot mendengar penuturan Deo. Pria itu memang tak ada berubahnya sama sekali, merokok saja kerjaannya.
“Banyak tingkah. Kamu pikir rokok itu bagus, hah!” Oliv menundukkan kepalanya malu saat para ibu-ibu di sana menatapnya. Mungkin karena suaranya yang lumayan keras mengalihkan pandangan mereka.
Jelas ibu-ibu itu berpikir, bahwa Oliv tengah melarang suaminya. Padahal, ia hanya ingin menyadarkan adik kelasnya ini.
“Enggak sih. Cuma aku enggak tahan Kak,” kata Deo sambil menjatuhkan bokongnya kembali.
“Belajarlah!”
“Iya-iya.”
Deo menjatuhkan kepalanya di tumpukan tangan. Ia memandang wajah Oliv yang tengah menahan malu karena ditertawai para ibu-ibu.
“Suaminya jangan dimarahi terus Dek,” celetuk salah satu ibu-ibu yang semakin membuat Oliv malu dan sedikit dongkol.
Pria yang kini mengangkat kepalanya malah senang. Ia juga ikutan tersenyum menampakkan gigi putih bersih dan rapi. Kalau saja ini bukan tempat umum, Oliv pasti sudah menoyor kepala pria itu.
“Iya ni Buk. Istri saya memang agak judes,” ucap Deo seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Oliv yang tengah menahan jengkel. Wajah gadis itu sudah merah padam, siap mengeluarkan magma panasnya.
“Awas kamu ya!” geram Oliv.
__ADS_1