Kak, Nikah Yuk!

Kak, Nikah Yuk!
Malu


__ADS_3

Hangat. aku merasakan tepukan di pipiku, hingga aku mulai mengerjapkan bulu mata lentikku. Tampan, hanya satu kata yang dapat aku ucapkan dalam hati. Dengan kesadaran yang masih setengah, aku berusaha duduk. Lalu menatap seseorang di depanku, dengan mata yang masih mengantuk aku menguceknya berulang kali. Betapa kagetnya aku, mendapati Deo yang tengah tersenyum di depanku.


“Kamu ngapain di kamarku!” tudingku sambil menunjuk wajahnya. Bukannya menjawab, Deo malah tertawa sampai membuatku jengkel. Kuraih bantal sofa lalu melemparkan ke arahnya.


“Hahaha, sudah Kak, stop! Ini kamar rumah sakit, bukan kamar Kakak.”


Seketika pandanganku beralih ke seluruh ruangan. Benar. Ini memang bukan kamarku. Nuansa biru dan putih sangat jauh berbeda dengan tipe kamarku yang motif Hello Kitty.


Seketika perasaan malu menyeruak dalam dada, aku menutup wajahku saat Ane juga ikutan menatap ke arahku. Ya ampun, bisa-bisanya salah begini.


“Sudah sadar? Ayo kita pulang.” Deo berucap kembali sembari meraih tas selempangku dari meja. Lalu ia pakai di lehernya, menatapku kembali. Mungkin heran, karena aku belum juga bangkit. “Ayo Kak, sudah tengah malam ini.”


Astagfirullah, dengan gesit aku langsung bangkit, mengukuti bantal sofa yang berserakan di lantai  karenaku. Lalu menghampiri Ane yang tengah duduk di dekat brankar ibunya.


“Ane, aku pulang dulu ya,” ucapku, tak lupa memasang senyum semanis mungkin. Walaupun masih malu dengan kejadian tadi.


“Aku juga. Besok ke sini lagi kok,” kata Deo. Mereka bertos dan saling berpelukan. Aku jadi terharu, ternyata pertemanan mereka begitu dekat.


Aku mengikuti langkah Deo yang berada di depanku, ketika kami sampai di lobi rumah sakit, sudah terlihat sunyi—hanya ada beberapa orang saja. Karena tertinggal lumayan jauh, aku berlari mengejar Deo yang sudah keluar lebih dulu.


Dengan keadaan mata yang masih mengantuk, aku jadi malas mengendarai motor sendiri. Apalagi hawa dinginnya semakin terasa hingga menusuk-nusuk tulang. Angin sepoi datang, menghembuskan pohon-pohon rindang di sekitar rumah sakit hingga terdengar suara dahan pohon yang saling bergesek.


“Aku malas nyetir, sama kamu aja ya,” ucapku pada Deo, dengan mata berbinar. Kalau gak karena terpaksa, aku tidak mau melakukan ini.


“Tidak bisa, Kakak pakai gamis.” Pelit banget, dasar Deo! Awas saja dia, malas aku mengajarinya mengaji lagi. Astagfirullah, maafkan hamba ya Allah.


“Serah!” Kustater motorku dengan kesal, lalu mulai mengegasnya dengan pelan.


Aku sudah lebih dulu memasuki aspal hitam, sedangkan motor Deo, aku belum melihatnya. Seketika perasaan takut menyeruak hatiku, apalagi ini sudah malam. Dan lihatlah, jarang sekali kendaraan berlalu lalang di sini.


Mana sih Deo? Lama banget!


“Kak! Jangan balap-balap, bahaya!” Teriakan Deo terdengar dari belakang. Aku menghembuskan napas lega, lalu mengurangi kecepatan motorku.


“Kamu ke mana saja, kenapa lama?” tanyaku setengah berteriak juga. Sedangkan sebelah tanganku sudah lepas dari stang, memeluk tubuh yang merasa menggigil.


“Kakak yang terlalu terburu-buru. Kenapa? Dingin?” Aku hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Rasa dinginnya semakin terasa, sampai-sampai gigiku saling beradu.


“Deo, aku tidak tahan,” keluhku, lalu mulai menepikan motor di pinggir jalan, Deo juga ikut menepikan motornya.


Berjongkok di sebelah motor, aku merasa semakin dingin saat angin menerpaku. Dan rasanya, awan juga semakin kelam. Apa mungkin akan turun hujan? Tidak!


“Kak, kenapa? Mana yang sakit?”


“Dingin.”

__ADS_1


Dia membuka jaketnya, lalu meletakkannya di tubuhku. Aku segera meriahnya, lalu bergegas memakainya dengan benar. Kulihat Deo menatap kanan kiri, pria itu terlihat begitu khawatir. Aku tahu kamu baik De, tapi mengapa aku tak juga jatuh cinta padamu?


Wajah tampannya yang sudah ku akui beberapa hari ini, terlihat cemas. Berulang kali dia bolak balik melihat sekeliling. Bahkan sampai pergi menghampiri keramaian orang di warung yang tak jauh dari tempat kami berada.


“Motor Kakak aku titipkan saja ya?” tanyanya setelah kembali dari warung itu.


“Jangan! Nanti hilang!” Aku khawatir, masalahnya itu motor ayah, kalau sampai hilang, berabe urusannya.


“Tenang saja, aku kenal dengan pedagang itu kok.” Ya, aku tak bisa menolak lagi. Suara lembut Deo mampu membuat kepalaku mengangguk pasrah.


Sambil menatapi kepergian Deo membawa motorku untuk dititipkan, aku memilih mendekati motor sport milik pria itu. Kembali mendekap tubuhku sendiri dengan erat.


“Masih dingin?” tanyanya lagi setelah kembali.


“Ya iyalah, kamu pikir jaket ini mampu menghangatkannya!” ketusku.


“’Kan cuma nanya. Jangan galak-galak dong.”


“Kamu yang nyari gara-gara!”


“Salahnya aku enggak bisa peluk Kakak ya. Biar hangat. Kasian rasanya liat Kakak, yang kedinginan begitu,” ucapnya yang mampu membuatku kesal.


“Dasar kamu Modus!”


“Sudah?”


“Sudah,” jawabku dengan cepat.


“Ya sudah, turun.”


“Deo!” Tawanya terdengar seiring deru motor juga menyala.


Ya Allah, kenapa rasanya hatiku tergerak. Aku merasa ada yang aneh, saat bersama Deo aku merasa nyaman. Tapi, ini tidak boleh! Aku sudah kelewatan batas.


Di atas kendaraan yang masih membela jalanan raya, kami tak saling berbicara. Mulut terkatup dengan sendirinya. Aku sibuk mengusap kedua tanganku untuk menghilangkan dingin itu.


“Kak Oliv jadi ngajarin aku mengaji ‘Kan?” Deo bertanya setelah tadi terjadi keheningan sekitar dua puluh menit.


“Ya. Kamu bisa datang besok sore,” ucapku tanpa mengalihkan aktivitasku.


Hening lagi. Hanya suara deru motor saja yang terdengar.


“Hmm. Om Harman tahu tidak, kalau Kakak nyusulin aku?”


“Tidak.”

__ADS_1


“Astagfirullah. Kenapa tidak tahu, gimana kalau nanti beliau marah saat mengetahuinya.” Dari suaranya kelihatan panik, sama kayak jantungku, sudah bertalu-talu sejak tadi. Menahan takut.


“Ya, kamu gak usah bilang,” kataku lagi. Dia hanya menggeleng.


“Seharusnya Kakak tidak perlu melakukan ini. Lagian enggak baik juga, anak perempuan keluyuran di luar.”


“Sekarang soal tanggung jawab. Sudahlah, jangan bahas itu lagi.” Keringat dingin sebesar biji jagung, sudah mengucur di keningku. Bagaimana jika ayah beneran marah? Ah, aku takut sekali.


Deo beneran diam, tanpa mau bertanya lagi. Dan tanpa kusadari, ternyata motor sport merah ini sudah memasuki kompleks perumahan kami, mungkin tinggal dua puluh meter lagi untuk sampai di rumah.


“De,” panggilku, karena khawatir pria itu tidur.


“Ya, Kak. Ada apa? Dingin?”


“Tidak!”


“Jadi?”


“Bilang ya sama ayah, kalau kita abis kerja kelompok.” Aku terpaksa melakukan ini, tidak ada alasan lain lagi yang hinggap di kepalaku.


“Berbohong?”


“Ya. Jangan protes!”


“Iya iya. Guru cantik pintar bohong juga ternyata.” Tawa renyahnya terdengar, sembari menurunkan jagak motor. “Sudah, pulang sana, tidur. Jangan lupa mimpiin aku ya.”


“Dasar gila! Bahkan aku belum turun dari motormu!”


 


 ##


 *Annyeong haseo guys. Apa kabar kalian? Pastinya baik dong ya.


kak, ceritanya kok begini sih?


Ah, belum apa-apa itu, masih menikmati suasana remaja yang sebenarnya. konflik bentar lagi ya, saya agak sibuk. Eakk.


Si Ustaz nya mana kok enggak nongol?


Ah, itu ... anu, dia lagi nyiapin mas kawin untuk othor. Canda*.


Pokoknya kalian harus baca terus kisah ini ya. Bukan tentang siapa? Tapi mengapa?


JANGAN LUPA, LIKE, VOTE, AND KOMEN.

__ADS_1


__ADS_2