
“Sayangilah orang tuamu, sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil dulu."
**
Deo menatap sendu wajah sang bunda, direngkuh tubuh lemas itu. Ia kecupi berulang kali keningnya yang hangat, Deo benar-benar bersalah atas ini semua. Ia telah membuat surganya menangis, menahan rasa sakit yang begitu mendalam.
Tak seharusnya ia begitu emosi kemarin, semestinya dia tetap bersikap santai. Dia benar-benar menyesal telah membuat bunda dan ayahnya begitu khawatir. Kebandelannya memang sudah melebihi batas, wajar saja kalau orang tuanya begitu marah ketika mendengar ia akan keluar malam untuk balapan.
“Bun, maaf. Maafin Deo." Deo terus mengecup punggung tangan Rini yang dingin, wanita paruh baya itu menangis sesenggukan. Ia terus mengangguk sembari mengangkat wajah anaknya.
“Iya. Bunda sudah maafin kamu.”
Sesuatu yang sangat disesali dalam hati. Bundanya tak lagi menggunakan suara keras memarahinya, sekarang wanita itu hanya bisa menangis sesenggukan melihat kelakuan anak satu-satunya. Rini sudah lelah, ia tak mampu lagi mengeluarkan suara kerasnya setelah kejadian Deo tak pulang semalaman.
Sebelumnya pria itu tak begini, ketika dia marah pada Azwar ataupun Rini, dia akan tetap kembali ke rumah setelah mereka tidur. Tetapi kejadian kemarin, sungguh benar-benar membuat Rini syok.
Oliv yang melihat itu ikut menitikkan air mata, tetapi langsung ia usap. Sebenarnya dia juga marah pada Deo, bisa-bisanya melakukan hal senekat itu hingga membuat Rini menangis. Tetapi dia menahannya, ia tak mau menambah beban Deo kalau sampai dia memarahi pria itu dengan menggebu-gebu. Terlebih lagi dia bukan siapa-siapanya.
“Oliv, terima kasih Sayang.” Rini menghampiri Oliv, ia memeluk erat tubuh ramping gadis berhijab itu. Melepaskannya, Rini memberikan kecupan singkat di kening Oliv.
Azwar menatap sendu dua wanita di depannya. Ia terharu melihat kegigihan Oliv saat mencari anaknya. Dia saja lelah, mengelilingi Jakarta untuk menemui Deo. Tetapi Oliv, dia terus berjuang untuk mengembalikan senyum istrinya. Betapa mulia hati gadis itu. Pantas saja banyak orang yang menginginkannya menjadi menantu mereka.
“Kalau gitu Oliv pulang ya Tante,” ucap Oliv sambil menyalami tangan Rini, lalu ia menangkupkan tangannya di depan dada ke arah Deo dan Azwar. Mereka menanggapi dengan senyuman.
Deo mengikuti langkah Oliv, ia berniat mengantar gadis itu ke depan dan mengucapkan terima kasih karena sudah mau bersusah payah mencarinya untuk bunda.
“Kak Oliv," panggil Deo, Oliv segera berbalik. “Terima kasih.” Ia tersenyum lalu mengangguk.
“Sama-sama. Deo, berubahlah. Setidaknya untuk ayah dan bundamu.” Kaki jenjang tertutup gamis melangkah lebar meninggalkan pekarangan rumah Deo. Gadis dengan hijab yang melambai-lambai mulai memasuki rumahnya setelah membuka pintu kayu berwarna cokelat tua.
Menghirup napas dalam-dalam, mengeluarkannya kembali. Deo duduk di kursi terasnya, ia pandangi langit biru. Apakah ia bisa berubah? Kapan hatinya terbuka? Deo memejamkan matanya, meresapi setiap kata demi kata Oliv tadi.
Meninggalkan gengnya, teman-temannya, bahkan kebiasaannya. Deo belum sanggup melakukan itu semua, dia perlu waktu yang cukup lama untuk bisa berubah seperti yang orang tuanya mau.
__ADS_1
**
Selesai berganti baju, Oliv mengambil laptopnya dari dalam lemari. Ia bawah ke balkon, duduk di kursi yang terbuat dari rotan, jemarinya menari-nari di atas keyboard.
Mendengarkan sedikit ceramah dari ustaz besar, membuat hatinya tenang. Ia bisa mengendalikan perasaannya kembali. Tentang cinta, rasa dan segalanya. Seharusnya ia singkirkan lebih dulu, kini dia harus fokus pada sekolahnya, masa depannya dan orang tuanya.
Oliv berjalan menghampiri penghalang balkon yang terbuat dari besi, menatap langit biru dengan banyaknya burung yang beterbangan sembari berkicau merdu dengan tiupan angin yang begitu sepoi-sepoi. Oliv tersenyum menatap ke bawah, melihat Deo yang tengah melamun sembari menyanggah dagunya dengan kedua tangan.
Dia percaya, bahwa Deo pasti bisa berubah. Pria itu pasti bisa membuang semua kebiasaan buruknya itu. Dan sepertinya, tugasnya saat ini adalah; membuat pria itu mengerti, bahwa Islam itu indah.
Aku percaya akan mukjizat-Mu.
**
Deo menotifikasikan hpnya, ia masih belum mau berbicara dengan temannya. Pikirannya masih melayang jauh, dia masih terus berusaha membangun pertahanan. Perkataan Oliv tadi pun masih terngiang-ngiang di telinganya. Lembut namun penuh penekanan. Untuk yang ke sekian kalinya Deo menghembuskan napas kasar. Dia merogoh saku celananya, terdapat banyak batang roko di sana.
“Kamu pikir rokok itu bagus, hah?”
Dia membuang batang-batang rokok itu ke tong sampah, sebelumnya sudah dia patah-patahkan menjadi kecil-kecil.
Ya, aku harus berubah. Demi orang tuaku, dan kak Oliv.
**
Pukul tujuh malam Deo sudah berada di sofa ruang keluarga Oliv, pria itu datang dengan membawa satu lembar kertas dan pena. Ia menanggapi setiap perkataan Harman dan Ningsih, sambil menunggu Oliv keluar dari kamarnya.
Kata bunda Oliv, putrinya tengah mengerjakan tugas yang hanya tinggal sedikit lagi.
“Deo. Kamu ngapain di sini?” Kali ini Oliv tak ingin memasang wajah tak suka lagi. Dia mencoba menjadi lembut.
“Aku mau minta kasih tahu Kakak.”
“Apa?”
__ADS_1
“Coba tolong tuliskan apa-apa saja yang harus aku lakukan, agar aku bisa berubah.” Deo memberikan pena dan selembar kertas itu. Oliv menerimanya dengan senyum kecil di bibirnya.
Ningsih dan Harman saling pandang, mereka mengendikkan bahu tanda tak tahu secara bersamaan. Lalu keduanya kembali fokus pada anak mereka dan Deo. Deo terus menatap Oliv yang sedang menulis. Wajah gadis dengan balutan mukena putih itu terlihat cantik, wajah alaminya yang selalu terkena wudu, bersinar. Ke sekian kalinya Deo mengagumi itu.
“Ni," ucap Oliv sambil memberikan kembali lembar kertas itu. Deo mulai membacanya dengan saksama. Hingga matanya terpaku di tulisan nomor empat.
“Perbanyak membaca Alquran?”
“Iya, kenapa?”
“Aku saja belum lulus iqra,” ujar Deo dengan wajah lesu.
Oliv sudah tahu itu, bunda Deo yang memberitahukannya. Lantas, Oliv menggaruk kepalanya yang tertutup mukena. Ia bingung harus melakukan apa juga.
“Datang saja ke rumah Om besok dan seterusnya setiap jam tujuh malam. Oliv yang akan mengajarimu,” ucap Harman sambil menatap mata anaknya memohon. Oliv tak bisa mengelak, ia mengangguk tanda setuju.
Gadis itu sudah senang Deo mau berubah. Artinya pria itu tak mengganggunya lagi. Tetapi melihat wajah memohon ayahnya untuk mengajari Deo, Oliv mendadak tak tega. Semuanya malah semakin dekat, antara dia dan Deo.
“Serius Om. Enggak apa?" Mata sipit Deo berbinar, pria itu menatap Harman dengan sejuta senyuman manisnya.
“Ya. Benarkan Oliv?” Harman mengedipkan sebelah matanya ke arah Oliv.
“I-iya,”
Jantungnya mendadak berdegup cepat saat matanya besibobrok dengan mata binar Deo. Rasa tak biasa masuk ke relung hatinya dan mendekam di sana. Oliv mengalihkan pandangannya, ia tak tahu rasa apa itu? Entah cinta atau kasihan saja.
**
Bertemu lagi guys, dengan Oliv dan Deo. jalan lupa llike plus komen plus votenya ya.
Bang Deo lagi bingung guys, lihat wajahnya lempeng amat🤣🤣
__ADS_1