
Saat memasuki rumah, keadaan ruang keluarga begitu gelap. Sama sekali tak ada penerangan, bahkan cahaya dari lampu teras tidak dapat menembus masuk. Aku bergegas mengambil hpku dari dalam tas, menghidupkan senternya. Berjinjit, pelan, aku terus melakukannya agar suara pangsusku yang bersentuhan dengan lantai tak terdengar. Sepertinya ayah memang sengaja mematikan lampunya.
Sesampainya di kamar, aku langsung meletakkan tas selempangku di meja, lalu menjatuhkan tubuhku dengan kasar di ranjang. Empuk, hangat dan nyaman. Akhirnya aku merasakannya juga, setelah badan ini pegal-pegal karena tertidur di sofa kamar rumah sakit ibu Ane tadi.
“Padahal tadi ngantuk, sekarang sudah tidak lagi,” monologku sambil membuka hijab yang aku kenakan.
Aku beneran pulang tengah malam, ya Allah, hamba tidak memungkiri itu. Untuk pertama kalinya hamba pergi selama ini, bahkan dengan awalan berbohong. Aku harus bisa menegakkan prinsipku, bahwa ini kebohongan dan ketidaksengajaan yang terakhir kalinya.
Tidak mungkin. Niatku baik untuk menjemput Deo agar tak terjadi sesuatu yang lebih fatal lagi. Entah mengapa, ucapan tetangga tentang Deo kemarin kembali berdengung di telingaku.
“Deo itu bejat, ngapain sih kamu mau temenan dengan orang begitu. Sekolah aja sering bolos, ketua geng, kang balapan juga!”
Mungkin mereka bisa berbicara seperti itu. Tapi kini yang aku tahu, Deo adalah orang baik yang selalu mendapat tanggapan buruk. Walaupun dia agak berandalan, bukan berarti hatinya juga berandalan. Buktinya, aku aman saja selama berjam-jam bersama dia. Benar kata ibu, kadang kala, yang kita anggap buruk malah lebih baik dari kita. Dan aku mengakui itu.
Ya Allah, maafkan hamba, yang selalu menganggap lebih baik.
Bulir bening itu akhirnya lolos dari balik pelupuk mata, aku yang selalu menganggap lebih baik dari dia, tidak bisa sehebat dia. Berjuang demi seorang sahabat, dan berakhir dengan gunjingan tetangga. Deo sanggup menahan itu semua.
Aku yakin, setelah para tetangga mendengar gosip tentang balapan Deo lagi, pasti mereka akan mengucapkan kata-kata pedas. Pantes saja, tante Rini sering menangis saat belanja di depan. Ya Allah, aku baru menyadari itu.
Lelah. Mataku mulai mengantuk lagi setelah menangis sejadi-jadinya. Cukup untuk hari ini, aku begitu banyak mendapat pengalaman dari luar. Kisah yang luar biasa, aku pasti akan menceritakannya pada anakku kelak. Bahwa sebuah ucapan, kadang kala tidak sesuai dengan apa yang orang itu lakukan.
**
“Hayya ‘alash shalaah.”
Mataku yang semula terpejam langsung terbuka dengan lebar tak kala mendengar suara azan dari masjid. Dengan kesadaran yang benar-benar sudah terkumpul, aku berlari memasuki kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Duduk di atas sajadah, aku menengadahkan tanganku ke atas.
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba, dan kedua orang tua hamba. Untuk hari ini, hamba mohon bukalah pintu maaf, atas segala kesalahan yang hamba perbuat kepada-Mu. Terimalah segala amal yang hamba kerjakan hanya untuk-Mu. Bahwa sesungguhnya, Engkaulah maha Pemaaf lagi Penyayang.”
Aku menangis sejadi-jadinya, menyesali segala perbuatanku. Aku malu, malu di hadapan Allah, apa gunanya ilmu yang aku pelajari jika tidak diterapkan. Ya, aku akan mengaku pada ayah dan ibu, aku tidak mau lagi membohongi mereka.
Dengan tergesa-gesa, aku melipat mukena dan sajadah, sesekali tanganku mengusap air mata yang belum juga berhenti.
__ADS_1
**
Gelap. Di luar masih gelap, aku kembali menutup jendela dapur. Menemani ibu memasak, aku mencoba mendekati beliau dengan membantu. Aku belum juga jujur, masih takut saat mendengar jawaban beliau nanti. Lagi pun, ayah masih di masjid, mungkin saja masih ikut membaca Alquran dengan yang lainnya.
“Bun,” panggilku sembari mencolek lengan bunda pelan.
Bunda berbalik, lalu memandang ke arahku dengan heran. “Iya Sayang? Ada apa?”
“Emm, anu ... Itu ....” Duh, gimana ya mulainya. Aku beneran gugup.
“Amm emm, amm emm. Mau ngomong apa sih?”
“Enggak jadi deh.” Aku pura-pura nyengir. Bunda hanya menatap kesal, lalu kembali pada aktivitasnya.
Ayah juga mana sih, padahal sudah setengah jam lewat, bakda Subuh berlalu. Tetapi mengapa belum pulang juga. Tidak tahukah, bahwa anaknya ini sedang dilanda keraguan dan ketakutan.
“Assalamu’alaikum.” Nah itu dia. Tidak salah lagi, itu memang suara ayah.
Cepat aku berlari menuju pintu utama, membukanya dengan perlahan.
“Bukannya disalami, malah mengomel begitu. Kamu ini kenapa?”
“Kok jadi Ayah yang marah?” Aku mengikuti gerak kaki beliau. Duduk di sofa sambil membereskan buku-buku yang berserakan. Saat ayah memandang ke arahku, yang kali ini pandangannya seperti menginterogasi.
Astaga! Aku baru ingat. Motor, iya motor ayah. Apa ayah sudah melihat garasi, dan motor itu tidak ada? Bahaya. Ini sangat bahaya. Aku langsung berlari keluar. Ini benar-benar bahaya!
Mulutku ternganga lebar, motor matic merah muda milik ayah, sudah berada di sana, terparkir sempurna tanpa ada yang lecet sedikit pun.
Aku mengusap dada lega sambil tersenyum menatapi motor mini itu. Tetapi seketika senyumku padam, saat mengingat bahwa kemarin motor ini dititipkan oleh Deo. Lantas, kenapa bisa ada di rumah?
“Aku yang bermimpi atau memang nyata?” Menggaruk kepala yang tak gatal, aku menghampiri Deo yang tengah mengelap-ngelap motornya.
Sepertinya dia tidak tahu kedatanganku, buktinya tak menoleh sedikit pun. Tangan seputih susunya terus bergerak bolak balik di kap motor. Sedangkan mulutnya terus bersiul.
“Assalamu’alaikum Deo,” ucapku. Memasang wajah secantik mungkin, aku berdiri di dekatnya.
__ADS_1
“Wa-wa’alaikum salam. Eh, ada Kak Oliv. Tumben, ngapain?” Dia meletakkan kain perca itu, lalu menarik dua kursi yang tadi berada di sebelah motornya. “Duduk dulu.”
“Gak usah! Aku cuma mau tanya, yang bawa motorku pulang siapa? Kamu?”
“Motor? Apa? ‘Kan kemarin kita titipkan.” Aku tidak percaya, pasti dia berbohong padaku.
“Jawab jujur, dan jangan berbohong! Kamu ‘kan yang bawa pulang! Ayo jawab!” Aku menatapnya kesal.
“Bukan aku Kak,”
“Terus siapa?”
“Temanku. Kakak marah?” tanyanya sambil beranjak mendekati aku.
Jantungku mendadak berdetak cepat saat Deo terus menatap ke arahku. Pipi ini sudah menghangat, aku pastikan akan berwarna kemerahan, menahan malu. Takut, wajahku ada yang salah. Lagian, Deo ngapain sih kayak gini, gak tahu apa kalau ini dosa.
“Deo. Ingat! Kita bukan mahram,” ujarku. Berjingkat menjauhinya.
“Ah, iya. Deo lupa. Kalau sudah nikah berarti boleh ya?”
Baru tadi pagi aku meminta ampunan pada Allah, tapi sekarang, Deo malah berusaha menambah dosaku lagi.
“Jangan ngaco! Belajar yang rajin. Ingatloh, kamu itu murid yang gak disukai para guru.” Wajah yang awalnya berseri kini redup. Deo menundukkan kepalanya, sedangkan jemarinya sibuk memilin kain yang ia pegang.
“Aku tahu itu.”
“Maaf, bukan maksudku—“
“Enggak apa Kak, Deo ngerti.” Dia berjalan masuk meninggalkan aku tanpa sepatah kata lagi. Aku berusaha mengejarnya, hanya ingin mengucapkan kata maaf dan terima kasih.
“De, sekali lagi maaf, dan makasih untuk motornya.”
“Ya.”
__ADS_1