Kak, Nikah Yuk!

Kak, Nikah Yuk!
Bab 19


__ADS_3

Sepulang sekolah, Oliv memilih beranjak untuk mengganti baju dengan gamis yang nyaman. Ia tengah bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit, menjenguk bunda Deo yang katanya sudah siuman.


Selesai berganti, Oliv turun menemui bunda yang tengah memasak di dapur. Wanita paruh baya itu juga baru kembali dari rumah sakit, sebab ayah Oliv harus kembali bekerja.


“Bun, Oliv berangkat ya,” ucap Oliv di ambang pintu dapur. Terikan “iya” dari sang bunda membuatnya kembali melangkah menuju pintu utama.


Motor matic ayahnya sudah terparkir di depan rumah, lekas dia menghampiri. Menghidupkan mesinnya dan melaju keluar dari halaman rumahnya.


Di perjalanan, Oliv tak henti-hentinya mengucap syukur. Ketika dia mendapat kabar siuman ibunda Deo tadi, rasa bahagia menghampiri. Terlebih lagi tante Rini terus menyebut-nyebut namanya dan ingin bertemu dengannya.


Sepanjang jalan Oliv mencoba mengatur debaran dada. Walaupun merasa bahagia, dia juga merasa tak enak hati dan takut pada tante Rini. Terlebih lagi, yang membuat wanita itu masuk rumah sakit juga dia.


Halaman rumah sakit sudah terlihat jelas, Oliv segera memarkirkan motornya ketika sudah memasuki area. Ia mendadak tak yakin untuk masuk, berbagai kemungkinan terus bersarang di kepalanya.


“Kak Oliv!” Teriakan Deo di lobi rumah sakit mengalihkan pandangan Oliv. Bergegas gadis itu menghampiri Deo.


“Kamu uda di sini?”


“Uda dari tadi. Ayo Kak, bunda mau ketemu.” Oliv mengikuti langkah Deo yang semakin cepat.


Ruangan bernuansa putih kembali Oliv lihat, langkah kakinya semakin kecil saat sudah dekat dengan brankar yang di atasnya ada seorang wanita yang tengah terbaring lemah.


“Tante.” Oliv meraih jemari Tante Rini, digenggam erat-erat. “Cepat sembuh ya.”


Jemari Oliv beralih mengelus pelan pipi Rini. Tidak, Oliv tidak bisa menahan air matanya untuk tak jatuh lagi, dia bukan gadis yang kuat melihat hal seperti ini.


“Sayang, jangan menangis.” Mendengar suara lirih, Oliv langsung mendongakkan kepala. Senyumnya seketika terbit ketika mendapati ibunda Deo sudah sadar.


“Tante ....”


“Syutt. Tante enggak apa, kamu tenang saja.”


Nyaman. Satu kata yang mampu Oliv ungkapkan sekarang. Berada di pelukan Rini sangat nyaman, sama halnya seperti dia berada di pelukan Ningsih.


“Tante uda makan?” tanya Oliv. Melepaskan pelukannya dan beranjak mengambil bubur dari meja.


“Belum Sayang. Suapin ya?” Rini tersenyum. Betapa gembiranya dia bisa diperlakukan seperti ini. Sejak dulu dia sangat ingin punya anak perempuan, tapi Allah berkata lain. Rahimnya di angkat setelah dua bulan melahirkan Deo.


“Oke.” Oliv mulai menyendokkan bubur, lalu menyuapkan ke mulut Rini dengan perlahan.


Sepasang mata mengintip dari luar pintu. Hatinya berdebar tak karuan. Bulir-bulir air matanya mulai berjatuhan, seiring dengan deru napas yang tak normal.

__ADS_1


Maaf bun. Deo gak bisa nurutin keinginan bunda. Kak Oliv, bukan jodoh Deo dan tak akan pernah cocok dengan Deo.


**


Setelah kembali dari balkon Oliv, Deo tak kembali ke rumah. Pria itu memilih mengikuti langkah pria paruh baya di depannya. Entah mau ke mana ayah Oliv malam-malam begini.


“Om Harman mau ke mana?” monolog Deo masih terus berjalan. Berjarak sedikit jauh dari ayah Oliv yang langkahnya lumayan semakin cepat.


Masjid? Deo mengikuti Harman sampai di masjid. Pria paruh baya itu langsung masuk ketika sudah mendapati orang yang dia cari-cari. Tanpa membuang waktu lagi, Deo juga mengikuti, bersembunyi di balik pintu masjid. Berpura-pura duduk, tetapi telinga yang ia tajamkan.


“Saya sudah membuat keputusan. Ya, saya rasa yang cocok dengan anak saya, Oliv, adalah kamu. Maka saya menerima pinanganmu, tetapi, sebaiknya melangsungkan tunangan itu nanti, setelah Oliv tamat.” Suara Harman terdengar jelas di telinga Deo, dan membuat pria itu terkejut. Ia langsung menatap ke arah dua orang di depan sana, Harman dan Ridwan.


“Alhamdulillah. Saya sangat bahagia Pak. Tapi apakah Oliv mau dengan saya?” Ustaz Ridwan bertanya dengan suara lirih.


“Tentu saja, bukannya Oliv juga mengagumi kamu. Saya sangat tidak suka jika dia terus bergaul dengan Deo, pria berandalan itu.”


Ucapan Harman benar-benar menusuk hati Deo, pria muda itu segera bangkit, ia berjalan lesu kembali ke rumah.


Di sepanjang jalan, Deo terus membuang napas dengan berat. Banyak sekali rasa yang sudah ia agungkan untuk Oliv, tetapi sepertinya Allah lebih tahu. Jodoh hanya dia yang mengatur. Deo baru menyadari itu, selama ini dia terlalu terobsesi, sama seperti yang dibilang Oliv waktu itu.


Dan alasan Deo tak rapi saat pergi sekolah bukan karena memikirkan sang bunda tapi karena perkataan Harman, yang terus terngiang-ngiang di telinganya.


**


“Cukup! Aku cinta sama dia!” Teriakan itu terus menerus berulang. Hingga membuat beberapa orang yang juga sedang memancing di sana mengerutkan dahi, bingung.


Deo menyugar rambutnya dengan kasar, menendang-nendang batu dengan perasaan tak menentu.


“Kalau kamu kaya ilmu kayak ustaz Ridwan, bisa aku pertimbangkan.”


Apa dia harus jadi seperti Garin masjid itu, dengan sejuta ilmu yang tak ia miliki. Tidak, Deo tidak mau.


“Ingat Nak, jadilah diri sendiri, buang semua pikiran yang akan menjatuhkan semangatmu.”


Ya, Deo harus menjadi seperti yang dikatakan bundanya. Tak semua harus sama. Dia tahu Oliv mencintai ustaz Ridwan, tetapi dia, juga tak bisa menyerah begitu saja.


**


Sejak tadi Oliv terus bolak balik di dalam ruangan Rini, sudah hampir Magrib tapi Deo belum juga datang. Perasaan cemas terus bersarang di hati Oliv, ke pikiran ke mana sebenarnya Deo pergi.


“Assalamu’alaikum.” Ucapan salam dari luar langsung dibalas oleh Oliv. Dia tersenyum mendapati Deo tengah masuk dengan menenteng satu plastik berukuran sedang.

__ADS_1


“Kamu dari mana saja? Kenapa lama?” tanya Oliv mengikuti Deo yang duduk di sofa.


“Habis beli ini,” ucap Deo seraya menunjuk plastik keresek di meja.


“Kamu kenapa?” Dahi Oliv mengernyit bingung, melihat sikap Deo kali ini sangat berbeda. Pria itu kelihatan lesu, tetapi memasang wajah datar nan dingin.


“Enggak kenapa-kenapa Kak. Mau pulang? Biar aku antar,” tawar Deo, memakai kembali jaket yang sempat ia lepas.


“Bunda kamu, gimana?”


“Ada suster. Nanti aku minta tolong buat jagain sebentar,”


“Hmm, yaudah. Aku ambil tas dulu,”


Tak ada percakapan di antara keduanya. Oliv sibuk dengan pikirannya, dan Deo pun sama. Motor melaju dengan kecepatan pelan, hingga udara yang menerpa wajah mereka tak begitu kencang. Deo masih ke pikiran dengan ucapan temannya, semua orang sekarang membenci dirinya. Bahkan Harman, ayah Oliv pun turut.


Oliv merasa ada yang aneh dengan Deo, tak pernah sekalinya pria itu hanya diam saja. Tak ada kata-kata gombalan dan bawel selama perjalanan mereka, berbeda dengan hari biasanya. Entah apa yang di pikirkan Oliv, ia melingkarkan tangannya di pinggang Deo, memeluk pria itu dengan erat. Kepala ia senderkan di punggung lebar nan kokoh Deo.


Napas seakan tercekat, Deo tak percaya dengan apa yang Oliv lakukan. Ingin sekali dia menikmati suasana seperti ini, tetapi justru membuatnya semakin sakit.


“Ada apa?” tanya Oliv ketika ia merasa tangannya seakan di lepas.


“Jangan begini, Kak.”


“Kenapa?”


“Hatiku semakin sakit.”


 


Bersambung


Sakit ya, rasanya jadi Deo.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2