
Malam ini Oliv tidur dengan perasaan dongkol, ia masih tak suka mengingat perkataan Deo tadi. Bagaimana jika ustaz Ridwan salah mengartikan, tamatlah riwayat Oliv. Sebenarnya dia juga tak perlu berharap, tetapi ketika melihat tatapan ustaz Ridwan padanya, yang hanya terjadi sebentar. Oliv tiba-tiba merasa bahwa ustaz itu juga memiliki rasa dengannya. Ah, Oliv benar-benar pusing memikirkan ini semua.
Baru saja Oliv ingin memejamkan matanya, tetapi ia mengurungkan niatnya ketika mendengar suara deru motor di depan. Gadis itu segera bangkit, ia berlari menuju balkon. Menyibak gordennya sedikit, Oliv mengintip siapa di luar sana. Matanya nyaris melotot ketika melihat Deo yang ternyata berada di atas motor itu. Dari gaya duduknya dia sudah dapat memastikan, memanglah pria itu.
Oliv tergesa-gesa membuka pintu balkonnya, belum saja dia berteriak memanggil nama pria itu. Sudah lebih dulu motornya melaju dengan kecepatan tinggi, hingga menimbulkan suara yang begitu nyaring.
Padahal tadi Deo sudah berjanji padaku.
Oliv merasa pria itu membohonginya, dengan rasa dingin yang menerpa wajah. Dia masuk kembali, duduk di ranjang sembari menahan rasa kesal yang kian semakin merayap.
Astaga, kenapa aku begitu peduli. Biarkan saja lah.
**
Pelajaran Sejarah sudah dimulai sejak lima belas menit yang lalu, pria paruh baya di depan sana terus menjelaskan materi yang kemarin mereka catat. Oliv tak begitu fokus mendengarkan pak Salam, pikirannya malah melayang ke sosok pemuda yang ia pergoki pergi tengah malam.
Hingga akhirnya helaan napas Oliv terdengar kasar, saat pak Salam benar-benar memberikan ulangan dadakan. Sungguh, Oliv tak suka dengan pikirannya.
Yang semakin membuat dia khawatir, ketika tadi pagi tak melihat motor Deo di depan rumah, bahkan pria itu juga tak ada di sana. Berbagai pikiran negatif bersarang dikepalanya. Oliv menghembuskan napas, lalu berusaha kembali fokus pada soal ulangan.
**
Bel jam istirahat telah berbunyi, Oliv segera menyimpan berbagai alat tulisnya. Dengan tergesa-gesa ia menghampiri bangku teman-temannya.
“Kalian mau ke kantin?” tanya Oliv pada Rindu dan Rindi. Dua orang yang berbeda, namun memiliki nama yang mirip.
“Iyalah. Memangnya mau ke mana lagi,” jawab Rindu dengan ketus.
“Aku enggak ikut,”
“What? Kamu mau ke mana?” Rindi menatap bingung Oliv.
“Ke kelas Deo. Ada urusan.” Oliv langsung berlari keluar kelas.
Dia terus berlari melewati lorong sekolah, dengan pandangan yang fokus ke depan. Oliv harus segera sampai, kalau tidak dia pasti tak akan menemukan Deo.
Suasana kelas Deo sudah hening, sebab tak ada satu pun orang lagi di sana. Oliv menghembuskan napas kasar, ia berbalik. Sepertinya memang Deo sudah tak ada di kelas. Tetapi seketika matanya berbinar, tak kala melihat Jepri yang tengah berjalan menuju kelas.
__ADS_1
“Jepri,” panggil Oliv, ia memang sudah mengenal adik kelasnya yang satu ini. Waktu itu, Jepri sempat meminta tanda tangannya.
“Eh, iya Kak Oliv. Ada apa?” Awalnya Jepri terkejut, gadis yang ia kagumi memanggil namanya. Sangat jarang sekali Oliv mau menyapanya seperti itu.
“Aku mau tanya, kamu liat Deo tidak?”
Senyum yang awalnya mengembang mendadak luntur. Jepri merutuki diri yang terlalu berharap.
Ternyata mencari Deo. Kirain.
“Jepri.” Panggilan Oliv lagi membuyarkan lamunan pria berbadan gempal itu.
“Iya Kak. Aku tak melihatnya, dan dia juga tak masuk hari ini.” Jawaban Jepri membuat jantung Oliv berdekat cepat. Dengan napas yang tertahan ia kembali berlari meninggalkan Jepri yang menatap heran.
Kenapa kak Oliv begitu peduli sih!
**
Oliv sudah berkeliling sekolah, bahkan tempat-tempat tersembunyi Deo sudah ia datangi. Tetapi tetap saja, pria itu tak ada juga di sana. Bertanya-tanya pada semua teman pria itu, jawaban mereka tetap sama. Tak tahu.
Oliv berhenti sejenak di bawah pohon beringin belakang sekolah. Ia duduk di kursi tempat biasa para siswa bersantai saat jam istirahat. Dirogoh sakunya, Oliv mengeluarkan hpnya .
Ia langsung mencari nomor Deo yang sudah dia simpan sejak lama. Mencoba menghubungi pria itu, aktif tapi tak diangkat. Oliv benar-benar kesal. Di mana pria itu sebenarnya?
[Deo, kamu di mana?]
Centang abu-abu berubah menjadi biru. Dan di bawah nama Deo juga ada tulisan aktif. Tetapi, Oliv belum juga mendapat jawaban. Akhirnya, dengan perasaan yang kian semakin khawatir. Oliv mengirim begitu banyak pesan kepada Deo.
**
Bunyi bel masuk menghentikan pencarian Oliv, dengan gegas ia kembali ke kelas. Melihat wajah kesal teman-temannya. Dia menjadi salah tingkah, bingung ingin menjelaskan apa pada mereka.
Oliv memilih duduk di bangkunya, ia berusaha tak menatap mata tajam kedua temannya itu. Dengan napas yang masih ngos-ngosan, ia kembali mengecek hpnya. Belum juga ada balasan dari Deo.
“Kamu dari mana saja tadi?” Rindi menghampiri meja Oliv. Ia berani karena belum ada guru yang masuk.
“Iya.” Rindu juga ikutan. Ia berdiri di dekat Oliv. Dengan tatapan yang begitu menusuk.
__ADS_1
Merinding. Oliv gelagapan, bibirnya mendadak menjadi keluh. Hingga akhirnya suara pak Danu menghentikan aksi Rindi dan Rindu yang ingin menginterogasi.
“Apa kabar anak-anak?” sapa pak Danu—guru bahasa Indonesia.
“Baik Pak!” Teriakan para murid menggema di seluruh ruangan.
Pak Danu mulai menulis materi bahasa Indonesia. Setelah itu ia keluar, untuk pergi ke kantor. Suasana kelas kembali riuh, para siswa dan siswi mulai mengambil posisi mereka masing-masing.
“Kamu belum menjawab pertanyaan kita tadi. Sejak bel istirahat bunyi tadi hingga bel masuk, kamu ke mana saja?”
“I-itu Rin, aku mencari Deo.” Oliv menundukkan kepalanya. Tangannya terus memilih rok yang ia kenakan.
“Mencari Deo? Memangnya dia ke mana?” Rindu menarik bangkunya untuk duduk. Lalu tatapannya kembali fokus pada wajah lesu Oliv.
“Kalau aku tahu, pasti enggak bakalan aku cariin,” ketus Oliv.
“Oke lah. Kenapa kamu peduli?”
“Antahlah. Mungkin karena dia sudah baik sama aku, jadi aku ingin membalasnya.”
Rindu masih tak mengerti dengan pembicaraan Oliv, iya menggeser lebih dekat lagi bangkunya. “Maksudnya gimana sih? Aku enggak ngerti.”
Oliv menghembuskan napas. “Kemarin malam aku melihatnya pergi, dan pagi tadi aku tak melihat dia dan motornya di rumah. Itu artinya semalaman dia tak pulang. Dan tadi saat aku bertanya Jepri, katanya Deo juga enggak masuk hari ini,” jelas Oliv. Rindu mengangguk paham, lalu ia meletakkan jari telunjuknya di dagu.
“Mungkinkah sampai sekarang dia belum pulang?” tanya Rindu sembari menaikturunkan sebelah alisnya.
“Y-ya itu aku enggak tahu,”
“Kamu begitu peduli dengan dia, Liv. Kamu suka sama dia?”
“Enggak! Dia bukan tipe aku!”
“Ah, terserahlah. Tapi kalau beneran dia belum pulang, gimana nasib bundanya? Pasti tante Rini sangat khawatir.” Rindu memang mengenal orang tua Deo. Sebab rumahnya hanya berjarak beberapa meter saja dari rumah Deo dan Oliv. Mereka juga satu kompleks.
“Itu yang aku takutkan,”
__ADS_1