
Menatap ribuan bintang di cakrawala dengan perasaan tak menentu, setelah mendapat nasihat atau lebih tepatnya ucapan ayah yang sangat tajam, Oliv masuk ke kamar. Duduk di kursi balkon yang terbuat dari rotan.
Rasa bersalah masih menyeruak dalam dada, berulang kali Oliv mengusap air mata yang masih terus mengalir, mencoba menyembunyikannya agar orang lain tak tahu.
Banyak sekali kata andai dalam benaknya, tetapi semuanya tak akan bisa kembali seperti sedia kala. Karena semuanya sudah terjadi.
“Jangan menangis Kak, aku gak suka!” Suara tegas terdengar melirih masuk menembus indra pendengarannya. Segera dia alihkan pandangan, menatap pria dengan setelan baju sekolah, masih melekat sempurna di tubuh tegapnya.
“Deo ....” Suara Oliv tak dapat keluar dengan jelas, air matanya kembali meluncur dengan sempurna, seolah-olah belum menemui tujuannya. “Maaf.”
“Cukup Kak, jangan menyalahkan diri sendiri terus. Semua ini salah Deo,” ucapnya. Deo berjalan pelan ke arah pembatas balkon yang terbuat dari besi, dia menyandarkan lengannya di sana, sebagai tumpuan untuk kepala.
Oliv menghela napas kasar, bangkit dan ikut mendekat pada pembatas balkon. Matanya menatap lekat-lekat wajah sendu Deo yang hampir tertutup lengannya semua.
“Kamu masuk dari mana?” Oliv mencoba membuka suara kembali, dan sebenarnya dia kaget juga saat mendapati Deo sudah berada di sana.
“Manjat Kak. Karena terpaksa, om Harman gak mau bicara sama aku.” Suara lirihnya membuat Oliv kembali sendu.
“Deo, lebih baik kamu kembali, kita gak bisa begini.”
“Sebentar aja Kak, aku butuh penyemangat untuk malam ini dan besok.” Oliv tak mengerti dengan apa yang Deo katakan.
“Maksudnya?”
Deo mendongakkan kepalanya, saat matanya menatap Oliv dengan lekat, segera gadis itu tundukkan kepalanya dengan cepat.
“Karena Kakak penyemangatku, setelah bunda.”
Jangan berhenti
Mencintaiku...
Meski mentari
Berhenti bersinar...
Jangan berubah
Sedikit pun...
Di dalam jiwamu
Kutemukan bahagia...
Tersadar, Oliv segera berlari mengambil hp di atas nakas, segera menggeser tombol hijau ke samping.
“Halo, Rin,”
“Halo, Liv. Kamu lagi di mana?” Suara Rindi terdengar di seberang sana.
__ADS_1
“A-aku di rumah.” Oliv berbicara dengan terbata-bata karena di lihatin Deo terus, bahkan pria itu sudah berdiri di ambang pintu balkon.
“Kamu kenapa? Lagi sakit?”
“Gak kok!”
“Oke oke. Jangan lupa besok bawa baju aku yang tertinggal di rumahmu ya, soalnya mau aku pakai,”
“Iya.”
Oliv memutuskan sambungan setelah Rindi selesai mengucap salam dan dia menjawabnya. Gadis itu kembali meletakkan hpnya dan menghampiri Deo yang masih setia di tempat.
“Ngapain masih di sini? Pulang sana.” Oliv sengaja mengusir Deo, dia tidak ingin warga melihat mereka berdua-duaan dan akan menimbulkan fitnah.
“Iya Kak. Ini mau pulang,” jawab Deo, tapi belum juga berbalik. Dia malah menghampiri Oliv, mengikis jarak di antara mereka.
“Apa?” Oliv mulai panik, dia melangkah mundur dengan pelan.
“Jangan lupa, baca doa kalau mau tidur.” Deo cekikikan sambil berbalik mendekati pembatas balkon. Pria itu mulai memanjat untuk turun.
Oliv merutuk dalam hati, padahal dia sudah sangat takut pria muda itu akan melakukan sesuatu, tapi nyatanya hanya mengatakan kalimat yang sering dikatakan ayahnya ketika anak-anak mengaji lewat depan rumahnya.
Dasar pria gila!
Dengan kasar dia menutup pintu balkon, mengentakkan kakinya masuk ke kamar mandi. Setelah selesai menggosok gigi dan berwudu, Oliv merasa lebih baik. Perasaan kesal, kecewa, dan sakit seolah-olah terbang begitu saja, menyisakan kelegaan dalam dirinya.
Sebelum benar-benar menutup mata, Oliv menengadahkan tangannya ke atas, membaca sebait doa agar tak ada mimpi buruk dalam tidurnya.
**
Mobil pribadi yang selalu menjadi kendaraan untuk dia pergi dan pulang sudah terparkir sempurna di depan rumah. Oliv bergegas menyandang tasnya, tak lupa ia menyalami bunda yang tengah duduk di kursi teras. Sedangkan ayah, pria paruh baya itu belum juga mau berbicara dengannya.
“Oliv pergi ya Bun, assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikum salam.”
Perjalanan menuju sekolah sedikit macet, membuat mang Ujang harus menghentikan mobilnya saat satu pun kendaraan di depan sana tidak melaju.
“Macet ya, Mang?” Oliv baru saja mengalihkan pandangannya dari hp karena merasa mobil tak melaju-laju sejak tadi.
“Iya, Neng. Sepertinya kita juga bakal telat,” ucap mang Ujang dengan wajah tak enak terhadap anak majikannya.
Oliv mulai merasa gelisah, apalagi pagi ini dia ada ulangan akhir semester, kalau sampai terlambat, bisa bahaya. Pasti dia akan kena hukuman.
“Ya udah deh Mang, Oliv naik ojek aja,” ucap Oliv sembari meraih hendle pintu mobil.
“Eh, Neng jangan! Entar bapak marah sama saya.” Mang Ujang berusaha menghentikan Oliv, tetapi gadis itu sudah keluar dan mulai menjauh dari mobil.
Terpaksa Oliv harus berjalan kaki menuju sekolah, dia mengusap dahinya pelan, baru sebentar saja berjalan dia sudah berkeringat. Inilah akibatnya dia malas berolahraga.
__ADS_1
Tin tin
Bunyi klakson dari belakang menghentikan langkah kaki Oliv, gadis itu menghela napas kasar, dengan terpaksa berbalik badan dan memandang jengah Deo yang tengah melepas helmnya.
“Kok jalan Kak?” Deo menepikan motornya dengan mendorong kendaraan beroda dua itu.
“Karena gak naik mobil makanya jalan,” ketus Oliv. Dia masih ingat betapa menyebalkan sikap Deo kemarin.
“Hahaha, iya tau. Ya uda yuk, sama Deo aja,” ajaknya mencoba meraih jemari Oliv, tapi langsung ditepis oleh gadis itu. “Astagfirullah, maaf Kak, khilaf.”
Bukannya menjawab, Oliv malah menelisik Deo dari atas sampai bawah. Keadaan pria itu lumayan kacau, bajunya yang kusut, serta rambutnya yang tertata tidak rapi, dan sangat berbeda dari biasanya.
“Kamu uda sarapan? Kenapa gak nemenin tante Rini?” tanya Oliv seraya menggenggam erat tali tasnya.
“Aku belum sarapan. Kalau tentang bunda, ayah gak ngijinin aku buat nungguin, karena beliau nyuruh aku untuk fokus sekolah aja,” jawab Deo. “Ada yang mau ditanya, atau segera naik ke motor Deo, karena jam terus berjalan.”
Sontak Oliv melirik arlojinya, dia melotot sempurna ketika melihat jarum panjang yang sudah hampir mendekati angka empat, hanya tinggal lima belas menit lagi dia harus segera sampai di sekolah.
“Jadi, mau bareng aku atau memilih jalan?” Deo kembali bertanya, pria itu sudah naik ke atas motor sport miliknya.
“Bareng kamu, tapi ....” Oliv menatap motor Deo, untuk ke sekian kalinya dia merasa jadi wanita bodoh jika naik di sana. Pasti lekuk tubuhnya akan terpampang sempurna.
“Pakai jaket aku buat nutupin.” Deo yang mengerti dengan apa yang ada dipikiran Oliv, ia melepas jaketnya dan memberikan pada Oliv. “Cepat Kak, aku juga mau ulangan pagi ini.”
Oliv segera mengikat jaket Deo dipinggangnya, lalu bergegas naik.
“Sudah, ayo laju,”
“Iya. Pegangan ya, soalnya Deo mau balap.”
“Eh, jangan!”
“Tenang aja Kak, yang penting pegangan. Kalau sama aku aman, hati dan raga.”
__ADS_1