Kak, Nikah Yuk!

Kak, Nikah Yuk!
Duduk Berdua di atas Motor


__ADS_3

Duduk berdua di atas motor yang sedang melaju bukanlah sebuah mimpi indah yang tadi malam datang menghampiri Oliv. Bukan juga sebuah harapan yang kerap kali diucapkan. Tetapi, ini adalah sebuah nasib buruk yang sedang menimpanya. Dibonceng Deo, adalah hal yang paling tak diinginkan oleh Oliv. Tapi nyatanya, dia sekarang tengah berada di atas motor bersama pria itu.


“Pegangan Kak, entar jatuh.” Deo berbicara agak keras.


“Apa? Jangan macam-macam kamu ya,” ucap Oliv dengan nada kesal.


Perjalanan yang sering ia tempuh untuk ke sekolah hanya membutuhkan waktu setengah jam saja bila diantar oleh mang Ujang. Tapi sekarang, sudah lebih dari setengah jam, kenapa masih sampai di pertengahan jalan saja? Tentu, itu semua adalah kerjaan Deo. Pria itu sengaja membawa motor maticnya dengan kecepatan pelan.


“Kamu ini bawa motor kok kayak siput sih! Buruan dong, entar telat,” ketus Oliv seraya memukul pelan bahu Deo.


“Sengaja. Biar bisa lama-lama sama Kakak.” Jawaban Deo membuat Oliv mengeratkan kepalan tangannya. Dengan sengaja gadis itu memberikan tumbukan pada punggung Deo.


“Aduh. Jahat banget si Kakak sama calon suami,” kata Deo dengan pedenya.


“Jangan berharap lebih. Aku juga mau dibonceng kamu karena mobilku bannya bocor. Kalau saja tidak, ogah berangkat bareng kamu!”


Tadi, setelah Oliv selesai dengan seragam lengkapnya. Ia langsung bergegas keluar rumah. Karena tak sarapan pagi, mau tak mau dia menerima bekal yang dibawakan bundanya. Setelah itu, ia memanggil mang Ujang untuk segera mengeluarkan mobil dari garasi.


“Mang ayo berangkat,” ucap Oliv sembari berdiri di dekat mang Ujang yang tengah duduk bersantai di dekat pohon beringin.


“Itu, Neng. Ban mobilnya bocor,” jawab mang Ujang dengan nada tak enak.


“Astagfirullah.”


“Maaf ya Neng.”


“Iya, Mang enggak apa.


Oliv kembali berjalan memasuki rumah. Gadis itu harus bertemu dengan ayahnya dan meminta agar pria paruh baya itu mengantarkannya. Melihat ayahnya yang sedang bersantai sambil menikmati makanan, tiba-tiba membuat wajah Oliv kesal.


“Ayah sudah tahu ban mobilnya bocor, kenapa malah santai gini? Ayo antar Oliv ke sekolah, entar telat,” ucap Oliv tanpa jeda, membuat ayahnya terselak dan langsung meneguk air minum.


“Ayah sudah tumpangkan kamu pada Deo. Mending sana, ke rumahnya. Entar ditinggal baru tahu rasa.” Tanpa rasa bersalah sang ayah berucap begitu. Mata yang semula menyipit kini telah membulat sempurna dengan mulut menganga lebar. “Tutup mulutnya entar masuk lalat.”


“Is Ayah kok gitu sih. Oliv enggak mau sama dia. Kenapa enggak Ayah aja sih yang nganter?”


“Ayah sibuk. Hari ini harus ketemu klien yang mau pesan baju.”


Ayah Oliv adalah seorang pengusaha toko baju. Tidak terlalu besar namun memiliki cabang di beberapa kota. Dari mulai pakaian anak-anak hingga dewasa, mereka menjualnya di toko. Kadang kesibukan membuatnya jauh dari keluarga, apalagi harus mengontrol toko lainnya.

__ADS_1


“Anterin Oliv dulu apa enggak bisa sih?” Oliv tetap kekeh dengan keinginannya. Dia sangat enggan bila pergi bersama Deo, tak bisa dibayangkan.


“Uda sana pergi. Itu, Deo uda manasi motor.”


**


Benar-benar sebuah perjalanan yang menyedihkan bagi Oliv. Sejak tadi dia terus menggerutu dalam hati. Kalau saja turun paksa dari motor tak membahayakan, Oliv sudah melakukannya sejak tadi.


Bahkan udara segar pagi yang begitu ia sukai, tak mampu mengembalikan keceriaan wajah gadis itu. Terlanjur dongkol, susah ngobatinnya. Begitulah kalau kata sang bunda. Oliv mencoba berusaha menikmati setiap embusan angin yang menerpa, untuk beberapa saat dia memejamkan matanya.


“Kalau kamu mau bolos, ya sudah sendiri sana. Jangan ajak-ajak aku,” ujar Oliv sembari memasang wajah tak suka. Ternyata, ia tak bisa mengontrol kecemasan, jam sudah sangat mepet. Tentu saja takut akan ketinggalan.


“Siapa yang mau bolos? Enggak kok.”


“Jadi ngapain pelan banget nyetirnya? Cepetan dong!”


“Iya-iya Tuan Putri.”


Setelah lama duduk berdua dengan Deo, akhirnya mereka sampai di sekolah. Oliv langsung turun dari motor ketika Deo sudah memarkirkan motornya. Gadis itu berbalik, lalu melangkah pergi meninggalkan Deo.


“Enggak ngucapin makasi nih,” ucap Deo sengaja menyindir Oliv. Suaranya yang agak keras, terdengar jelas ditelinga para siswa yang tengah berada di parkiran.


Sepanjang jalan menuju kelasnya. Deo terus tersenyum bahagia, pria itu senang ketika mengingat momen-momennya tadi saat berboncengan dengan gadis pujaan hatinya. Ia kudu menuliskan momen sejarah itu di bukunya, jadi nanti ketika Oliv mengelak, kan sudah ada buktinya.


Pemikiran yang bagus.


“Tumben Lo datang cepat?” Jepri yang baru meletakkan tasnya menghampiri Deo. Pria berkaca mata itu memandang heran temannya yang sejak tadi tersenyum-senyum tak jelas. “Napa Lo?” tanya Jepri lagi.


“Kepo.”


“Bukan kepo, cuma pengin tahu saja.”


“Sama aja,”


Sambil bersiul-siul, Deo duduk santai di atas meja dengan tangan menggenggam erat hpnya. Matanya fokus pada layar benda pipih itu.


“Gak cabut Lo?”


“Ini mau cabut.” Benar saja, Deo berdiri. Kaki jenjangnya melangkah cepat meninggalkan kelas.

__ADS_1


Saat sampai di koridor sekolah, lumayan banyak yang memperhatikannya dengan perasaan kagum. Walaupun terkenal bandel, tak membuat para penggemarnya menjauh. Para gadis yang menggemarinya semakin bucin parah, bahkan banyak dari mereka suka meng-kepo-in IG pria itu.


Menurut mereka, wajah Deo tampan dengan alis tebal dan hitam. Tatapan imut dengan binar yang cemerlang itu begitu indah. Ditambah lagi, bulu mata lentik dan bibir tipis merah ranum, benar-benar menggoda sebagian gadis yang bersekolah di SMA Garuda Sakti. Bukan hanya itu saja, bahkan teman se-gengnya yang cewek juga banyak yang naksir padanya. Tapi sayang, cinta Deo hanya untuk Oliv seorang. Tak ada yang lain dan tak mau yang lain.


“Deo, aku cinta sama kamu!” Teriakan gadis berkepang dua di ujung koridor menghentikan langkah kaki Deo. Pria itu membalikkan tubuhnya, gadis dengan setelan cupu beserta kacamata bulat yang selalu bertengger dihidung gadis itu membuat Deo bergidik ngeri.


Para siswi penggemar Deo yang melihatnya, menggeram kesal. Mereka menyeret Martha—gadis cupu tadi masuk ke dalam kelas. Dengan napas lega, Deo melanjutkan langkah kakinya kembali.


Dasar. Mau seribu gadis yang menyukaiku. Cintaku tetap untuk kak Oliv seorang.


**


Oliv dengan kesal menceritakan semu kejadian di motor tadi pada Rindu dan Rindi. Dengan mata berapi-api ia menyebutkan nama Deo dengan penuh penekanan.


“Jadi, nanti kamu pulang bareng Deo lagi?” tanya Rindu, gadis itu duduk mendekat pada Oliv.


“Antahlah, aku tidak tahu.” Oliv melemas. Ia membuka tasnya dan mengambil satu buah sandwich dari dalam kotak bekalnya.


Sedangkan Rindi, pandangan gadis itu tak lepas dari memperhatikan wajah temannya yang sedang jengkel. Dengan senyum mengembang, ia ikut mendekat pada Oliv. Lalu mengusap punggung kecil gadis itu.


“Bareng dia lagi saja. Bukannya Deo orang kepercayaan ayahmu.” Tawa melengking Rindi benar-benar menghancurkan selera makan Oliv. Dengan kasar ia meletakkan kembali sandwich itu, lalu menatap tajam temannya.


“Og—“


Tring


Baru saja Oliv ingin membuka suara, tetapi dering hp menghentikan ucapannya. Lekas ia ambil hp itu, lalu melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya.


[Kak, pulang bareng lagi. Ayah yang menyuruh.]


“Sudah kubilang.” Rindi yang ikut melihat pesan itu berucap, seketika tawanya dan tawa Rindu kembali terdengar. Hingga membuat beberapa siswa yang berada di kelas menatap heran ke arah ketiganya.


“Ululu, Kak Oliv yang cantik,”


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2