
“Coba saja kalau tidak ada Oliv, mana tahu Bunda kalau kamu bonyok-bonyok begini.” Deo memasang kuping tebal, rasanya sudah jengah dia berada di sana. Omelan bundanya tak pernah berhenti, nyambung terus.
“Bunda, udalah. Deo mau mandi.” Karena tak mendapat celah untuk kabur. Akhirnya ia pasrah, memohon pada sang bunda penguasa rumah untuk pergi ke kamarnya.
“Awas saja ya, kalau sampai kamu ketahuan begini lagi. Abis kamu!”
Ancaman Rini membuat Deo kicep. Pria itu langsung berlari menaiki tangga dengan perasaan waswas. Bundanya memang tak patut dibohongi. Sebab, naluri seorang ibu itu sangat kuat.
Selesai membersihkan diri, Deo memilih duduk di balkon kamarnya. Matanya fokus pada benda pipih yang berada di genggaman, sesekali tawa kecilnya terdengar.
“Kesambet, ketawa-ketawa sendiri?” Oliv berteriak dari balkonnya, gadis itu berdiri dengan mimik wajah mengejek Deo.
Deo yang merasa terejek, dengan segera mengalihkan pandangannya. Dia bangkit, mendekati pagar besi balkon kamarnya.
“Eh. Calon makmum, ada apa?” Sok manis, Deo menampilkan deretan gigi rapinya.
“Idih, mimpi!”
Bukan satu atau dua kali, mereka begitu. Bahkan tetangga sudah muak melihat mereka yang terus bertengkar.
Oliv memilih masuk, dengan asal dia meraih hpnya yang tergeletak di nakas. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis.
[Puas gak, dimarahi tante Rini?]
Satu pesan singkat Oliv kirim pada Deo. Rasa-rasanya dia enggan melewatkan momen untuk mengejek pria itu. Rencananya berhasil, setelah memergoki Deo bonyok-bonyok. Dia langsung menyeret pria itu ke hadapan bundanya.
“Anak Tante bonyok-bonyok,” ucap Oliv sambil mendorong pelan punggung Deo.
“Astagfirullah!”
Rasanya Oliv ingin terus tertawa ketika mengingat ekspresi Deo tadi saat dimarahi sang bunda. Akibat kebandelan pria itu, dia jadi tak terdaftar dalam kategori pria idaman Oliv.
Gitu mau ngelamar aku. Cih.
“Oliv.” Mendengar panggilan sang bunda, Oliv beranjak membuka pintu. Terlihat wanita berhijab panjang tengah berdiri di ambang pintu kamarnya dengan membawa sapu. “Tuh, Deo di bawah. Katanya mau ketemu kamu.”
Oliv menghela napas malas, dengan kesal dia melangkah dengan kaki dientak-entakkan. Ketika sampai di tangga paling bawa, terlihat pria berhoodie hitam polos tengah duduk di sofa ruang keluarga.
“Kang Dosa, ngapain ke sini?” tanya Oliv malas. Selain suaranya yang terdengar kesal, wajahnya juga menggambarkan rasa tak suka.
“Ngelamar Kakak,” jawab Deo, sebelah tangannya keluar dari saku hoodie. “Ni, cincinya.”
Hahaha. Suara tawa Oliv memenuhi ruangan, gadis itu terpingkal-pingkal hingga akhirnya terdiam kembali. Ia sedikit merapikan hijabnya, lalu meletakkan kedua tangannya di pinggang.
“Ngelamar anak orang pake cincin mainan, enggak salah tuh!” ejek Oliv sambil terus tertawa. Dahi Deo berkerut, lalu pria itu melemparkan pertanyaan, “Salahnya di mana? ‘Kan sama-sama cincin.”
“Dahlah. Mending kamu pulang sana, mandi. Sambil nunggu salat mending baca Al-Quran dulu. Dari pada di sini, enggak guna,”
__ADS_1
“Gak ah.”
“Terserah.”
“Kak, ayolah. Kalau kita enggak bisa nikah, tunangan dulu.” Deo bangkit dari duduknya, pria itu berjalan mendekat pada Oliv. Satu tangannya sudah menahan gamis bagian lengan Oliv agar gadis itu tak pergi.
“Kamu ini. Sekolah dulu yang betul. Kamu pikir kita cocok gitu!”
“Kita cuma beda satu tahun doang,”
“Mau satu tahun kek, lima tahun bahkan seribu tahun. Aku gak peduli! Uda sana pulang!”
Deo menghela napas kasar, dia melepaskan tangannya dari lengan Oliv. Kaki jenjangnya melangkah keluar dari rumah gadis itu. “Calon Bunda mertua, Deo pulang!”
“Deo!!”
**
Aura keheningan begitu mencekam. Hingga akhirnya suara helaan napas kasar yang terdengar. Azwar—pengusaha restoran siap saji. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mendengar permintaan anak satu-satunya, ia jadi hampir gila memikirkan antara menerima atau tidak.
“Yah! Mau ya?” Binar mata bulat hitam kelam milik Deo benar-benar mengganggu Azwar. Bahkan pria paruh baya itu sempat memalingkan wajah.
“Tidak bisa! Nikah itu bukan perkara gampang!”
“Nah, kalau enggak boleh nikah, tunangan dulu deh.”
“Gimana Yah?” Deo terus mencerca ayahnya. Ia tidak ingin melewatkan satu kesempatan.
“Mungkinkah Oliv mau?” Kini sang ayah balik bertanya, yang membuat Deo langsung tergugup.
“Mau lah.”
“Huff. Besok Ayah coba.” Akhirnya Azwar pasrah. Dari pada dia terus-menerus diganggu Deo, lebih baik memberi harapan sedikit tak apa.
Padahal, sudah dua kali dia datang ke rumah Oliv, dan jawaban gadis itu tetap sama. Mana mau seorang Oliv yang pintar dengan si Deo yang penuh dengan kebandelannya. Lelah sekali otak Azwar selalu memikirkan itu.
“Gitu, dong. ‘Kan sekarang aku tenang.” Dengan senyum mengembang, Deo beranjak pergi meninggalkan Azwar yang masih terduduk lesu di sofa.
Bundanya, Rini datang dari dapur. Ia membawa satu gelas kopi untuk sang suami. Melihat wajah lesu suaminya, Rini sempat menghela napas berat. Ia sudah tebak, pasti kelakuan gila Deo lagi.
“Yah, apa senggaknya kita sampaikan saja pada Oliv dan keluarganya,” ucap Rini seraya duduk di dekat suaminya. Tangannya beralih memijat bahu sang suami.
“Menjalin sebuah hubungan itu tidak mudah Bun. Dan Oliv pasti tahu itu. Apalagi mereka masih sama-sama sekolah, Ayah tidak yakin Oliv menerimanya setelah dua kali menolak.” Azwar menjeda kalimatnya, ia hirup dalam-dalam udara. “Ditambah lagi Deo adik kelasnya, jadi pasti Oliv sempat berpikir dia tak bisa apa-apa. Termasuk mencari nafkah.”
“Kita bilang saja, Deo sudah punya satu restoran yang sedang ia kembangkan,” usul Rini yang sempat dibalas gelengan oleh suaminya.
“Melihat tingkah Deo yang sangat berandalah, mungkinkah orang percaya? Ayah saja kalau menjadi orang lain pasti juga tak percaya.”
__ADS_1
Yang dikatakan suaminya ada benarnya, Rini jadi ikutan pusing memikirkan ini. Entah mengapa, Deo begitu gencar menginginkan Oliv. Harusnya ia sadar diri, sekolah saja nilainya di bawah rata-rata semua.
**
Satu buku tebal Fisika sudah ada ditangan Oliv, sejak tadi gadis itu terus menekuni dengan membaca buku. Kini hp bukan lagi prioritasnya, setelah melaksanakan salat Isya, dia langsung melahap buku-buku materi untuk besok.
Ponselnya yang sudah berdering sejak tadi bahkan dia abaikan begitu tahu siapa sang penelepon. Jangankan mengangkat, melihat nama yang tertera saja dia sudah muak.
Ketika cinta bertasbih
Nadi pun berdenyut merdu
Kembang kempis dadaku
Merangkai butir cinta
Garis tangan tergambar
Tak bisa aku menentang
Sujud syukur padamu
Atas segala cinta
Bunyi nada telepon yang masuk begitu nyaring memekakkan telinga Oliv, yang sudah lama mengabaikan. Tapi si penelepon terus menghubunginya, hingga akhirnya Oliv pasrah. Ia raih hp itu, lalu segera menggeser tombol hijau ke samping.
“Ada apa?” ketus Oliv yang langsung to the point.
“Tidak ada. Cuma kangen saja.”
Jawaban gila yang selalu Oliv dengar dari Aldeo Fajri. Pria itu kerap menghubunginya, padahal tak ada urusan apa-apa selain selalu mengajaknya nikah. Oliv sempat berpikir, apakah Deo pernah kecelakaan dan akhirnya dia menjadi gila?
“Dasar gila!”
“Besok ayah mau ke rumah Kakak,” ucap Deo dari seberang sana yang mampu membuat Oliv mengernyitkan dahinya.
“Mau ngapain?”
“Ngelamar Kakak."
Bersambung
"*Kamu kenapa terus ngejar aku, sih?"
"Karena orang yang sudah mencinta. Sejauh angkasa, cinta itu tetap ingin menemui pemilik tahtanya*."
Jangan lupa biasanya ya. Like, komen, dan vote. Kalau punya banyak hadiah, bolehlah bagi ke sini🤣🤣
__ADS_1