Kak, Nikah Yuk!

Kak, Nikah Yuk!
Khawatir II


__ADS_3

Oliv menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, ia langsung menuju meja makan. Bundanya sudah menunggu di sana.


“Bun, Oliv ke rumah tante Rini dulu," ucap Oliv sambil berlari keluar setelah mengambil satu sandwich.


Langkah kakinya semakin cepat saat tak melihat motor sport milik pria itu di sana.


Menghembuskan napas, Oliv mengetuk pintu kayu berwarna cokelat muda di depannya.


“Assalamu'alaikum tante!" Oliv berteriak sambil mengintip lewat jendela.


“Wa'alaikumsalam. Oliv, ada apa Sayang?” Rini berdiri di ambang pintu. Wajah wanita paruh baya itu tampak lesu, pucat dan tak bertenaga.


“Deo-nya ada?” Oliv kembali membuka suara.


“Itu dia Oliv. Sejak kemarin malam dia belum juga kembali,” ucap Rini.


“Maaf ini Tante. Kalau Oliv kayak ingin ikut campur, tetapi gara-gara apa ya dia pergi? Jujur saja, Oliv juga melihat Deo pergi malam itu."


“Tante melarangnya pergi, tetapi Deo tetap kekeh. Dan sampai sekarang belum pulang.


Nada suara Rini tampak bergetar. Ia menahan tangis, hatinya sakit. Anak satu-satunya belum juga kembali, hingga membuat dirinya khawatir. Namun ia tak bisa melakukan apa-apa, kecuali berdoa.


“Oliv, Tante mohon. Temuin Deo, suruh dia pulang. Om Azwar sudah mencoba mencarinya, tetapi tidak ketemu.”


“In Sya Allah Tante.”


**


Oliv menyusuri setiap sudut kota. Ia datangi semua tempat yang biasanya dikunjungi Deo dengannya. Tetapi satu pun tempat yang sudah ia datangi, tak ada Deo di sana. Oliv semakin frustrasi, ia ingin menyerah tetapi tidak bisa.


Dia memilih beristirahat sebentar di kafe. Duduk sendiri di dekat kaca. Pandangan gadis itu terus menatap luar jendela, melihat banyaknya kendaraan yang berlalu lalang.


“Iya. Yang menang balap semalam, memang si Deo.”


“Pantas saja, Roni kalah ternyata lawannya Deo.”


Tak sengaja Oliv mendengar pembicaraan dua orang gadis yang duduk di belakangnya. Gadis itu mencerna setiap kata-kata. Deo balapan? Berarti yang didengarnya kemarin, saat pria itu mengobrol dengan seseorang ditelepon benar. Oliv tak menyangka, Deo senekat itu.


Oliv masih berusaha mengingat tempat mana yang belum ia datangi, tiba-tiba pikirannya melayang ke masa lampau.

__ADS_1


“Aku punya basecam, dan banyak teman.”


Ya basecam. Oliv baru mengingat, bahwa Deo pernah memberitahunya. Tetapi yang membuatnya bingung, di mana basecam itu? Deo tak memberi tahu letaknya?


Oliv merogoh tasnya, mengambil hp yang sejak tadi belum dia sentuh. Sasarannya saat ini hanya Rindu, ia ingin bertanya pada gadis itu. Soalnya, tentang sejarah geng Deo, Rindu banyak tahu.


[Rindu, kamu tahu di mana basecam geng Deo?]


Oliv benar-benar mengirimnya. Tak lama terkirim, tiba-tiba sudah mendapat balasan dari gadis itu. Dengan segera Oliv mengeceknya.


[Tahu. Bentar ya, aku sharerlock.]


Gadis berhijab tosca itu membayar minumannya, lalu bergegas keluar. Ia langsung menyetop taksi, bersamaan dengan pesan masuk yang dikirim Rindu.


Dalam perjalanan, Oliv terus mengecek hpnya. Belum ada juga balasan dari Deo, padahal sudah dibaca oleh pria itu. Oliv tak habis pikir, bisa-bisanya dia melakukan hal konyol yang membuat semua orang khawatir.


Sebenarnya kepala sekolah tadi sempat menanyakan keberadaan Deo padanya, tetapi Oliv tak bisa menjawab. Ia takut salah jawab, dan akan menyebabkan masalah yang tak diinginkan. Deo adalah murid yang sangat dibenci guru, sebab kelakuannya. Bila Oliv mengarang cerita sedikit saja, pasti guru-guru akan semakin memperbesarnya.


Tiba-tiba taksi berhenti, Oliv segera membayar ongkosnya. Lalu turun, dan menatap bangunan tua di depannya. Banyak sekali motor sport berjejer di sana, suara riuh pun mulai terdengar jelas saat Oliv berjalan semakin mendekat.


Perasaan takut, waswas, dan merinding. Oliv mengalaminya. Namun dia berusaha menepis semuanya, dia tak boleh membiarkan Deo semakin membuat tante Rini menangis karena khawatir.


Saat melihat motor Deo juga terparkir di sana, keberanian Oliv semakin menyala. Dadanya naik turun menahan amarah. Ia pastikan pria itu tak bisa mengelak lagi.


Brak


Oliv membuka pintu gudang tua itu dengan kasar, hingga membuat semua orang yang berada di dalam kaget. Mereka menatap Oliv heran, sedangkan gadis itu menatap tajam pria yang tengah gelagapan di sofa paling tengah.


“Oh, jadi kamu di sini!” Oliv menunjuk Deo dengan amarah yang sudah memuncak. Ia mencoba menahannya dengan terus mengucap istigfar dalam hati. Bagaimanapun, ia tetap tak memiliki hak lebih atas Deo.


“Kakak kok bisa ada di sini?” Deo bangkit, ia berjalan mendekati Oliv dengan gemetar.


“Harusnya aku yang nanya. Ngapain aja kamu semalaman di sini? Nongkrong? Balapan gak jelas?!”


“Kak, bukan be—“


“Kamu pikir bunda kamu di rumah enggak khawatir? Dia nangis karena kamu gak pulang-pulang. Kamu memikirkan itu? Enggak, yang kamu pikirkan hanya senang-senang saja!" Oliv benar-benar mengeluarkan kekesalannya yang sejak tadi sudah menggumpal didada. Semua yang berada di dalam ruangan itu mendadak terdiam.


“Kak, dengarkan aku dulu." Deo berusaha meraih jemari gadis itu, tetapi langsung ditepis oleh Oliv.

__ADS_1


“Tolong jaga sikap dengan Bos kami!” Awan berteriak tepat di depan wajah Oliv.


Jantung Oliv bergetar, ia takut melihat kilat kemarahan di wajah Awan, teman Deo. Ia mundur satu langkah, jemarinya lemas.


“Awan hentikan! Kamu menakuti Kak Oliv!”


Deo berteriak nyaring, hingga membuat Awan yang awalnya menatap tajam Oliv jadi menunduk.


“Aku tidak memaksa. Terserah kamu mau pulang atau tidak.” Oliv langsung berlari keluar masih dengan jantung yang berdetak hebat.


Deo menjambak rambutnya frustrasi. Ia menatap tajam Awan yang mulai ketakutan. Padahal niatnya tadi ingin membela Deo, tetapi pria itu malah marah. Dan baru Awan sadari, bahwa yang ia marahi adalah Oliv, orang yang disukai oleh bosnya.


“Lain kali jangan asal saja. Kamu benar-benar menakuti Kak Oliv.”


Deo langsung berlari keluar, ia mencari sosok Oliv. Saat melihat seseorang tengah berjongkok di dekat motornya. Deo menghampiri, ia melihat Oliv tengah menangis sesenggukan sambil berusaha menutupi wajahnya dengan tangan.


“Kak Oliv,” panggil Deo seraya memegang bahu terbalut gamis milik Oliv. Gadis itu mengangkat kepalanya, dapat Deo lihat. Genangan air mata di sana.


“Teman kamu jahat banget, suaranya menakutkan,” ucap Oliv masih menangis. Ia berdiri, lalu mulai mengusap air matanya.


“Maaf. Dia tidak bermaksud begitu.”


“Iya. Ayo pulang, aku enggak bawa motor.”


“Ya uda ayo. Tapi Kakak pakai gamis.”


“Biarin, aku bisa duduk menyamping. Kalau polisi marah, kamu yang tanggung jawab." Oliv langsung naik ke atas motor Deo. Suara gadis itu jadi lesu, tadi dia memang benar-benar takut mendengar suara berat dan keras milik Awan.


“Ya ampun Kak. Baiklah.”


Motor sport milik Deo sudah berjalan membelah jalanan kota yang ramai. Padat kendaraan membuat mereka tak bisa mempercepat kecepatan motornya. Dan juga, Deo terus menatap sekitar, ia takut ada polisi. Apalagi Oliv tak memakai helm.


Deo memilih memotong jalan lewat kompleks lain, yang tak lumayan jauh lagi dari rumah mereka. Di sana ada jalan yang aman mereka lewati.


“Kita berhenti makan dulu ya?”


“Terserah.”


**

__ADS_1


Maaf guys baru balik lagi. Tapi in sya Allah bab ini tak begitu mengecewakan. Kuy baca, tekan like, komen dan vote ya. Jangan lupa favoritin juga, biar kalau aku up ada notifikasinya. See you, bay!!!


__ADS_2