
“Cukup jadi bulan sebagai penerang, aku tak memaksamu untuk menjadi matahari. Cobalah mengerti, aku butuh malam untuk menyampaikan rinduku lewat bintang.”
Aldeo Fajri
**
Selesai melaksanakan salat Asar, Oliv bergegas turun untuk membantu bundanya di dapur. Wanita paruh baya itu tengah memasak lumayan banyak makanan. Sebenarnya Oliv tak tahu mengapa orang tuanya begitu, dia hanya menurut saja ketika diminta untuk membantu.
“Sebenarnya ini untuk apa sih, Bun?” tanya Oliv sembari mengiris-iris bawang.
“Tamu.” Jawaban singkat sang bunda tak membuat Oliv puas. Lantas gadis itu mendekat, ia memberi jarak sedikit di antara mereka.
“Penting? Dari mana?” Oliv kembali membuka suara, kali ini pertanyaannya terdengar seperti ingin tahu.
“Keluarga Deo.”
Hampir saja tangannya yang teriris. Karena sangking terkejutnya, Oliv sampai membanting pisau itu di meja.
“Kamu enggak apa Sayang?” tanya Ningsih dengan nada khawatir. Dia menuntun sang putri untuk duduk di dekat meja makan.
Oliv tiba-tiba teringat dengan perkataan Deo kemarin, bahwa ayahnya akan datang untuk melamarnya. Bergidik ngerih, Oliv hampir saja berteriak kalau tidak ingat bahwa ada bundanya yang tengah khawatir pada dirinya.
“Aku enggak papa kok, Bun. Cuma kaget aja, tapi ada perlu apa mereka ke sini?”
Ningsih tertawa renyah, ia menuangkan air ke dalam gelas. “Memangnya harus ada perlu ya baru boleh berkunjung?”
“Ya, bukan begitu. Maksudnya ada tujuan lainkah?” Jujur saja Oliv sangat takut. Tak bisa ia bayangkan kalau kedua orang tuanya benar-benar menerima lamaran Deo. Bisa hancur hidupnya.
“Kamu ini kok kepo banget. Memangnya Bunda tahu.” Ningsih mencubit gemas hidung Oliv, setelah itu dia kembali pada aktivitas memasaknya. “Kamu lihat saja, tidak perlu membantu.”
Karena tak ada kerjaan di dapur, Oliv memilih pergi ke depan untuk bersantai. Apalagi suasana sore begini, pasti indah. Biasanya juga, rame anak-anak akan pergi mengaji di masjid. Mereka selalu membacakan ayat-ayat pendek sepanjang jalan. Karena mayoritas agama penduduk kompleks ini adalah Islam, jadi tak ada masalah apa pun.
Mengingat kata masjid, pikirannya jadi melayang jauh ke pemilik mata hitam pekat yang indah. Suara lembut, alis tipis, senyum manis. Ah, Oliv memukul pipinya sambil terus mengucap istigfar. Inilah makanya dia tak mau melihat apa pun yang menyangkut ustaz Ridwan, bisa-bisa ia terus traveling memikirkan pria itu.
“Ngelamun aja? Enggak ada kerjaan emang?” Pemilik suara itu mengangkat laptop yang berada di pangkuannya ke meja. Dengan senyum mengembang, ia memajukan kursi santai depan rumahnya jadi agak dekat dengan jalan.
“Emang aku belum kerja. Amnesia ya?”
“Iya gara-gara cintamu.”
__ADS_1
Hadeh. Oliv menatap jengah pria di depan sana. Gombalan yang selalu pria itu ucapkan, sudah entah berapa kali terdengar ditelinga Oliv. Tidak muakkah dia mengucapkan kalimat itu terus? Sedangkan Oliv saja yang mendengarnya begitu muak.
“Gak bosen, ngegombalinnya itu mulu?” ejek Oliv sambil tertawa.
“Yang lainnya aku simpan, buat nanti kalau kita sudah menikah.”
Bukannya baper, Oliv malah pengin muntah rasanya. Gadis itu benar-benar tak habis pikir, jiwa ke-pede-an Deo memang benar-benar di atas rata-rata. Tapi sayang, hatinya tak bergerak sedikit pun. Rasa kagumnya masih milik ustaz Ridwan.
“Garing banget!”
Dari pada beneran muntah, Oliv memilih masuk ke dalam rumahnya. Dia kembali menghampiri sang bunda yang tengah menata sayur dan nasi di rantang. Oliv hanya melihat saja, ia tak berniat membantu aktivitas wanita itu sama sekali.
“Sana, antar rantang ini untuk ustaz Ridwan.”
Mendengar nama sang pemilik hati disebut, dengan segera Oliv bangkit dari duduknya. Diraih rantang itu dengan kasar, berlari keluar.
“Mau ke mana Liv, kok buru-buru banget?” tanya Rini—bunda Deo yang tengah menyapu teras. Wanita itu menatap heran anak tetangganya yang tengah memakai sendal dengan terburu-buru.
“Anter ini untuk ustaz Ridwan, Tante.” Oliv langsung berlari menuju masjid. Berulang kali ia menatap ke belakang, setelah memastikan bahwa Deo tak mengikutinya. Barulah dia bisa bernapas lega.
Menapaki jalan dengan senyuman, Oliv membayangkan apa-apa saja yang akan ia lakukan nanti ketika bertemu ustaz Ridwan. Rasanya ia begitu gugup, tetapi juga tak bisa mengabaikan momen indah seperti ini.
“Fabi ayyi aalaaa'i rabbikumaa tukazzibaan.”
Bagai syair lagu yang menggema, Oliv memejamkan matanya menikmati alunan suara yang lembut dan merdu. Begitu menenangkan, ia menyukai berada di tempat ini berlama-lama.
“Assalamu’alaikum Ukhty,”
Kepergok sedang tersenyum-senyum sendiri bukanlah hal yang menyenangkan bagi Oliv. Ia kini tengah bersalah tingkah, membetulkan terus hijabnya yang padahal sudah sangat rapi.
“Wa’alaikumsalam Ustaz,” sapa Oliv balik. Ia tersenyum menatap ustaz Ridwan yang juga turut tersenyum.
Ketika selesai membacakan surah tadi, salah satu muridnya memberi tahu bahwa ada Oliv di teras. Dengan tergesa-gesa ustaz Ridwan menghampiri, ia tak enak hati dengan ayah Oliv yang seorang donatur masjid ini bila mengabaikan anaknya.
“Ada perlu apa, Ukhty?” tanya ustaz Ridwan, pria muda yang sudah terpercaya menjadi Garin di mesjid Ar-Rahman memberikan jarak cukup jauh.
“Enggak ada, cuma mau kasih makanan ini untuk Ustaz. Dari bunda,” ucap Oliv begitu gugup. Ia memberikan rantang itu pun dengan tangan gemetar.
“Alhamdulillah. Terima kasih Ukhty.”
__ADS_1
“Iya Ustaz, sama-sama.”
“Mau masuk?”
“Enggak perlu! Saya juga ada urusan, permisi Ustaz.”
Oliv langsung berlari setelah memakai sendalnya. Jantungnya yang sudah berdegup sangat cepat membuatnya terlalu gugup untuk berbicara dengan ustaz Ridwan. Padahal ini momen sangat langkah, belum tentu ustaz itu mau bicara lagi padanya lain waktu. Ah, Oliv benar-benar mengacaukan momennya sendiri.
“Eh, ketemu lagi sama calon makmum ku. Dari mana Kakak Oliv yang paling cantik?” Deo berdiri dengan gaya sok tampan. Pria itu menyisir rambut jatuhnya dengan jemari, lalu tersenyum ke arah Oliv yang hanya di balas mata jengah oleh gadis itu.
“Kepo. Lagian kamu ngapain sih ngikutin aku terus, ada perlu apa? Stop deh ngingutin aku ke mana-mana!” Oliv benar-benar kesal. Padahal dia baru saja ke timpuk kebahagiaan, sekarang malah ketimpuk nasib buruk.
“Calon makmum ku kepedean deh. Orang aku mau ke warung kok. Ciee, kok gantian Kakak yang tukang kepedean. Benar 'kan apa kata aku, kita itu jodoh.”
“Jodoh? Kebanyakan berharap kamu!”
Sambil menggerutu dalam hati, Oliv berjalan kesal menuju rumahnya. Ia benar-benar dibuat malu oleh Deo, adik kelasnya itu memang ngeselin. Rugi rasanya menanggapi ucapan gila pria itu.
“Kakak!”
“Ngapain masih di sini. Tuh 'kan ngikutin! Uda sana pergi, katanya mau ke warung.”
“Malas ah, mending jalan berdua sama Kakak. Biar dikira suami istri.”
“Kamu itu kok ngeselin banget sih?!” Oliv ingin mengunyel-unyel wajah Deo rasanya. Entah nyidam apa tante Rini sampai melahirkan anak seperti Deo, yang jiwa kewarasannya hampir punah.
“Kalau enggak ngeselin, bukan Deo namanya. Betul apa benar?”
Bersambung
Jangan lupa like, komen, dan votenya mentemen.
__ADS_1