Kak, Nikah Yuk!

Kak, Nikah Yuk!
Panik


__ADS_3

Langkah kaki Oliv terhenti ketika melihat ustaz Ridwan tengah berjalan ke arahnya. Dengan pandangan menunduk, pria muda itu menggenggam erat-erat tasbihnya.


“Assalamu’alaikum Ukhty.” Pandangan ustaz Ridwan masih menunduk. Ada senyum di bibirnya yang tak dilihat oleh Oliv.


“W-wa'alaikumsalam Ustaz,” jawab Oliv dengan terbata-bata.


Sebelum ustaz Ridwan kembali membuka suara, sudah lebih dulu dipanggil oleh ayah Oliv dan diajak untuk masuk ke dalam rumahnya. Setelah kepergian ustaz muda tampan itu, Oliv segera meraup udara dengan rakus. Ia memegangi dada yang terasa berdenyut, jantungnya sejak tadi masih juga berdetak dengan cepat.


“Loh, kok masih di sini Kak?” Deo yang baru datang dari rumahnya menatap heran Oliv. Pasalnya gadis itu sudah sejak tadi kembali ke rumah, tetapi mengapa belum masuk?


“Tidak!” tanpa memandang, Oliv segera berlari masuk ke dalam rumahnya. Ketika bertemu sang bunda di ruang keluarga, ia langsung memberikan pesanan itu pada wanita paruh baya itu. Lalu bergegas menapaki tangga dengan cepat menuju kamarnya.


Rasanya Oliv tak bisa bernapas, tak ia pungkiri bahwa ustaz Ridwan juga datang ke rumahnya. Berarti orang tuanya tak hanya mengundang keluarga Deo saja. Ah, pikiran Oliv tiba-tiba kacau.


Dering hp yang berada di saku gamisnya membuyarkan lamunan gadis itu.


[Turun Nak. Kami sudah menunggu, untuk makan malam.]


Mendapat pesan dari sang bunda. Oliv jadi semakin gugup, berulang kali ia menatap pantulan dirinya di kaca. Memastikan sudah rapi dan cantik, atau belum. Sedikit memoleskan bedak dan liptin, Oliv segera beranjak setelah selesai.


**


Meja makan yang sudah diisi oleh beberapa orang membuat kecanggungan dalam diri Oliv kembali lagi. Dengan senyum paksa, ia duduk di salah satu kursi dekat dengan bunda dan tante Rini.


“Ridwan, kamu yang pimpin doa.”


Lagi-lagi jantung Oliv berdetak dengan cepat, suara merdu berirama itu menggetarkan hatinya. Bagaikan pelangi di waktu hujan, Oliv sangat menyukainya.


Tapi seketika pandangan Oliv mengarah ke depan, tepat pada wajah tampan Deo. Pria itu tengah tersenyum ke arahnya. Sukses membuat Oliv jengkel, kenapa tidak ustaz Ridwan saja yang di depannya?


**


Acara makan malam mereka berjalan dengan lancar, hanya terdengar bunyi sendok dan piring yang saling beradu. Oliv menyuapkan sedikit nasi ke mulutnya. Lirikan ustaz Ridwan membuatnya gugup, ditambah lagi dengan tatapan penuh binar dari Deo. Sungguh dia tak suka berada di posisi seperti ini. Tak ada masalah jika tadi hanya ustaz Ridwan saja.


Ketika semuanya telah selesai, Oliv membantu sang bunda bersama tante Rini membereskan piring kotor. Dua wanita paruh baya itu tampak begitu akrab, mereka terus bercerita sambil mencuci.


“Kamar mandinya di mana ya Ukhty?” Suara ustaz Ridwan benar-benar mengagetkan Oliv yang tengah melamun. Dengan gugup ia menunjuk lorong sebelah kanan dapurnya. “Terima kasih.”


“Sama-sama.”


Rasanya Oliv ingin waktu berhenti, dia ingin terus menatap wajah tampan itu. Dan kalau saja dia tak ingat dengan hukum Islam.


“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri Sayang?” tanya Ningsih yang baru saja siap mencuci piring. Wanita dengan setelan gamis syar’i itu menatap anaknya yang sedang duduk.

__ADS_1


“Ah, enggak kok Bun.”


“Ayo ke depan.”


Dalam hati Oliv berbicara, padahal dia ingin menunggu ustaz tampan itu. Tapi enggan karena takut bundanya akan marah. Akhirnya dia hanya bisa menurut, dan mengikuti langkah dua wanita paruh baya di depannya.


Oliv paling tak suka bila ikut berbaur dengan orang tua, jadi dia lebih memilih ke depan. Duduk di kursi teras sambil menikmati bintang.


“Hay Kak.”


Mau putar balik tapi enggak mungkin. Oliv benar-benar kesal, kenapa Deo selalu ada di mana-mana? Jadinya ia tak bisa tenang mau melakukan aktivitas lain.


“Pergi sana! Aku mau duduk!” ketus Oliv berusaha mendorong Deo agar segera bangkit dari kursi terasnya.


“Kenapa harus pergi? Itu 'kan ada kursi satu lagi, Kakak bisa duduk di sana,” ujar Deo yang langsung mendapat tatapan tajam dari Oliv.


“Suka-suka aku dong!”


“ya sudah.”


Deo kembali fokus pada hpnya. Ia memasang handset di telinga. Seketika pandangannya mengalih pada Oliv, gadis itu tengah cemberut sambil menatap ke arah langit.


“Mau pakai?” Deo menyodorkan satu handsetnya ke arah Oliv.


“Enggak perlu!” tolak Oliv dengan mentah-mentah. Ia mengambil buku novelnya dari meja. Membuka lembaran bab yang kemarin ia baca.


Melihat Oliv kedinginan, Deo segera membalikkan kursinya jadi menghadap gadis itu. Ia mencopot benda yang sejak tadi menyumpal telinganya.


“Dingin Kak? Masuk saja sana,” ucap Deo sembari meletakkan hpnya di meja.


“Enggak mau. Tolong jangan maksa!”


“Bukan maksa, aku cuma enggak mau Kakak sakit.”


“Terserah.”


Oliv mengabaikan Deo. Gadis berwajah cantik itu memutar bola matanya malas. Kembali ia mengambil buku, lalu mencoba membaca bagian yang terlewatkan tadi.


Bunyi suara panggilan dari hp membuat kefokusan Oliv jadi teralih. Dia menatap hp yang tergeletak di meja. Bukan miliknya yang berbunyi, melainkan milik Deo. Dengan gerakan cepat Deo mengambilnya. Pria itu membawa hpnya pergi ke samping rumah Oliv.


Oliv merasa ada yang aneh, ia menutup kembali bukunya. Lalu beranjak mengikuti langkah Deo. Pandangan gadis itu waswas, dengan napas yang tertahan dan rasa penasaran yang mendalam. Ia mengintip pria muda yang tengah mengobrol dengan seseorang di telepon. Suara Deo yang pelan masih bisa didengar oleh Oliv, tetapi kurang jelas.


Aku harus lebih dekat.

__ADS_1


Tanpa takut Oliv semakin mendekat, tetapi tetap waspada. Ia juga memastikan bahwa tak ada ranting atau apa pun yang akan membuatnya ketahuan jika terpijak.


“Apa, balapan? Baiklah, aku akan ke sana.”


Suara berat Deo terdengar jelas ditelinga Oliv, gadis berhijab itu membulatkan matanya. Tiba-tiba dadanya memanas, ketika mendengar ucapan Deo. Ada kekhawatirannya pada pria itu. Ia juga bingung. Seharusnya dia biarkan saja Deo melakukan apa pun. Kalau dia peduli, pria itu pasti bakalan tambah besar kepala.


Tapi Oliv tak seperti itu. Ketika ada seseorang yang berbuat sesuatu yang salah, ia turut membantu untuk menyadarkan seseorang itu. Rasanya sangat naif jika dia menyimpan ilmu yang telah ia dapat untuk diri sendiri.


“Deo.”


Betapa kagetnya Deo mendapati Oliv tengah berdiri di belakangnya dengan tangan bersedekap dada. Mata gadis itu menatap nyalang ke arahnya. Nyali Deo tiba-tiba menciut, dan ucapan ancaman bundanya kemarin menggema ditelinga.


“Eh, Kak Oliv. Ngapain Kak?” Sok berbasa-basi, Deo mengembangkan senyumnya. Oliv tak peduli itu, ia langsung menarik lengan baju Deo.


“Kak, lepas,” ucap Deo yang hanya dianggap angin lalu oleh Oliv.


Deo hanya bisa pasrah, tamat sudah riwayatnya. Tak tahu apa jadinya jika Oliv benar-benar mengadu pada Rini, bundanya. Bisa-bisa malam ini ia langsung dikirim ke pesantren.


“Kamu mau pergi balapan 'kan?” tanya Oliv dengan nada mengintimidasi.


“Tidak.”


“Jangan bohong Deo! Kamu tahu 'kan, kalau balapan itu bahaya.”


“Acieee. Yang khawatir. Suka banget aku kalau begini.” Deo mencoba mencairkan suasana dengan candaannya. Sekaligus agar membuat Oliv teralihkan.


“Tidak! Jangan geer kamu!”


“Masa sih? Ih, bohong banget sih calon makmum ku.”


“Kam—“


“Hemm.”


“Eh, Ustaz Ridwan. Mau pulang Ustaz?”


“Iya.” Ustaz Ridwan menggunakan sendalnya yang tergeletak di depan teras rumah Oliv. “Kalian ngapain?”


“Oh. Jangan khawatir Ustaz. Ini sudah biasa terjadi dalam hubungan. Pasti Ustaz tahu lah.”


Sontak mata Oliv melotot sempurna. Sedangkan Deo tersenyum-senyum memandanginya. Ustaz Ridwan yang merasa jadi orang ketika segera pergi meninggalkan pekarangan rumah Oliv.


“Kamu ini ya!” geram Oliv seraya mengangkat tangannya.

__ADS_1


“Stop! Jangan KDRT!”


 


__ADS_2