Kak, Nikah Yuk!

Kak, Nikah Yuk!
Sebuah Pengungkapan


__ADS_3

Monster, sebuah nama geng yang diketuai oleh Aldeo Fajri. Pria yang berstatus sebagai siswa di SMA Garuda Sakti. Setelah keluar dari kelasnya tadi, ia benar-benar cabut dan pergi ke basecam. Para anggotanya tengah menunggu dengan berbagai minuman keras di meja.


“Ehh, Bos kita sudah datang. Duduk Bos.” Pria berpakaian kaus berwarna hitam dengan tulisan 'monster' di depannya, memberikan satu kursi untuk diduduki Deo.


Sedangkan sepuluh orang lainnya bersorak gembira, mereka mentoskan gelas-gelas berisi wine di depan wajah Deo.


“Gak minum Bos?” Pria yang sedikit berbadan gempal bertanya. Ia memberikan satu gelas pada Deo, tetapi hanya mengambang di udara. Pria yang berstatus ketua itu tak menggapainya sama sekali.


“Sudah kubilang. Aku tak mau minum itu,” jawab Deo dengan nada ketus.


“Baiklah. Tak masalah.”


Sisi lain Aldeo Fajri. Dia bisa imut dan menggemaskan saat berada di dekat Oliv, tetapi ketika di belakangnya. Pria muda dengan sejuta ketampanannya, bisa berubah menjadi orang paling bodoh yang menyia-nyiakan waktu dengan nongkrong-nongkrong tak jelas. Bahkan ia rela menghabiskan uang jajannya demi membelikan para anggotanya minuman terlarang seperti itu.


Syukur atas hidayah Allah untuk dia, walaupun menekuni geng-geng begitu. Dia tetap tahu mana yang halal dan mana yang haram.


“Uda lama banget gak kumpul Bos. Sibuk banget ya?” Hendra—orang yang paling dekat dengan Deo mencoba memecahkan keheningan di antara mereka.


“Iya. Biasalah,” ucap Deo diselingi tawa renyahnya.


Bagi beberapa anggota mengerti, mereka ikut tertawa seiring tawa Deo terdengar. Dari sebelas anggota, di antaranya adalah cewek. Bukan ketersengajaan Deo memasukkan mereka ke dalam geng yang telah ia buat, tetapi para gadis itu lah yang mengajukan diri untuk ikut bergabung. Di antaranya juga adalah penggemar Deo.


“Gimana perkembangan Monster?” Deo kembali membuka suara, matanya menatap lekat lukisan di depannya. Sebuah gambaran tengkorak.


“Baik. Kami baru saja memenangkan balap motor kemarin, melawan anak buahnya Ridho.”


“Serius? Kalian balapan lagi?” tanya Deo mencerca Hendra. Yang hanya dibalas anggukan oleh pemuda itu.


“Ya. Bos sih yang gak mau ikutan.”


“Maaf.”


Mereka semuanya beranjak, menghampiri motor sport yang berjejer di depan basecam. Deo yang tak membawa motornya, hanya bisa melihat para anggotanya yang sedang latihan balap. Ia memilih duduk, dengan hp di tangannya. Karena kesalahannya tadi malam yang tak tidur semalaman, membuatnya memejamkan mata sebentar. Lambat laun semakin mengantuk, hingga ia benar-benar tertidur pulas.


**


Mendengar suara riuh, membuat mata Deo yang awalnya terpejam kini terbuka. Pria itu merenggangkan otot-oto tangannya, lalu berusaha mengembalikan kesadarannya lagi. Diambil hpnya yang tergeletak di meja, matanya melotot melihat jam yang tertera di layar benda pipih miliknya.


Sudah jam 12.30. Itu artinya sebentar lagi anak SMA Garuda Sakti pulang, aku harus siap-siap menjemput kak Oliv.


Deo kembali masuk ke basecam, dia akan berpamitan pada teman-temannya untuk kembali ke sekolah. Jika ia terlambat dan Oliv melihatnya datang dari luar, tamat riwayatnya. Bisa-bisa gadis itu melapor kembali pada bundanya, dan dia benar-benar akan dipindahkan ke pesantren. Dan Deo tak bisa membayangkan itu.


“Gue cabut duluan,” ucap Deo sembari mengambil jaketnya yang tergantung di pintu.

__ADS_1


“Cepat amat Bos?” tanya salah satu anggotanya.


“Biasa. Uda waktunya jam pulang. Gue harus jemput seseorang,” ucap Deo lagi, sebelum dia benar-benar keluar dari ruangan ini.


“Pacar Bos?”


“Lebih tepatnya gebetan.”


Setelah Deo keluar. Gadis yang sejak tadi menahan kekesalannya mulai tak bisa terkendali. Hatinya sakit ketika mendengar, bahwa Deo memiliki gebetan. Dengan tergesa ia beranjak dan berusaha mengejar Deo yang masih berjalan menuju motor pria itu.


“Deo,” panggil Wina—orang yang menyukai Deo sejak lama.


“Ya, Win ada apa?” Deo menatap bingung teman perempuannya ini. Ia tak jadi naik ke motor, memilih berdiri di samping motornya saja.


“Aku ingin bicara, sebentar saja.”


Deo melirik arloji yang menempel di pergelangan tangannya, tanpa pikir panjang lagi. Dia mengangguk, menerima ajakan Wina untuk berbicara sebentar.


“Ada apa?” Deo mulai to the point. Ia terus-menerus melirik arlojinya. Jika ia telat lima menit saja, kacau hidupnya.


“Sebegitu pentingkah orang itu? Hingga kamu kelihatan khawatir begini.” Wajah putih bersih dengan irisan wajah sempurna. Terlihat sendu, bola mata emeraldnya menandakan kesedihan yang mendalam.


“Ya. Sangat penting.”


Bola mata hitam kelam itu menatap tajam, tangannya terkepal kuat. Deo sangat tidak suka mendengar sebuah pertanyaan mengenai cinta. Ia sudah muak menjawab semua pertanyaan tentang cinta itu. Tidak bisakah mereka memberinya jeda untuk bernapas lega sebentar saja? Percuma, mau menangis sehisteris apa pun, hatinya tetap milik gadis yang sedang belajar di sana, tak ada satu nama yang mampu menggetarkan hatinya kecuali Olivia Naima.


“Bukan aku tak ingin melirikmu. Tapi jujur, hatiku sudah ditempati oleh orang lain, yang pastinya lebih baik dari yang kubayangkan. Dan cintaku, tetap untuk dirinya. Tak ada gadis lain yang mampu menggetarkan hatiku kecuali Oliv.” Suara berat penuh penekanan itu, sungguh menyayat hati Wina. Gadis cantik jelita keturunan Belanda itu semakin menangis histeris seiring motor Deo yang bergerak meninggalkan halaman basecam.


Tak pernah ia bayangkan, jawaban Deo se-menyakitkan ini. Kalau saja dia orang yang lemah, mungkin dia sudah gila bila terus mendapatkan penolakan seperti ini. Dengan apa lagi ia menaklukkan hati Deo, semua cara sudah dia coba. Tetapi, pria itu bahkan tak peduli sama sekali.


“Aku benci Oliv! Aku benci gadis pengganggu itu!”


“Percuma kamu mau membenci se-bagaimanapun, nyatanya kamu tak bisa berbuat apa-apa.” Lestari datang dari dalam. Ia duduk di dekat Wina, menatap iba temannya. Tetapi jujur, ia juga tak bisa melakukan apa-apa.


“Siapa Oliv? Apakah dia lebih cantik dari aku?”


“Jauh lebih cantik. Gadis itu penuh dengan keimanannya. Kamu kalah sangat jauh.”


“Bagaimana caraku buat dia menderita? Aku benci dia si perusak!”


“Percuma. Apakah kamu tidak ingat kata-kata Deo?”


Wina terdiam, pikirannya melayang entah ke mana. Tiba-tiba sebuah suara mendengung di telinganya. Yang pastinya sebuah peringatan, yang dulu pernah Deo katakan.

__ADS_1


‘'Jangan pernah ganggu orang yang kusayang. Selangkah saja kalian maju, hancur hidup kalian berkeping-keping. Aku tidak pernah memandang bulu, bahkan siapa pun itu.”


“Jadi aku harus apa, Les?”


“Jawabannya cuma satu, ikhlaskan dia.” Lestari beranjak kembali masuk ke dalam ruangan yang selama ini menjadi tempat mereka bersenang-senang.


**


Gerbang masih di tutup, pria paruh baya yang bertugas menjaga gerbang sekolah pun masih berdiri di dekat gerbang yang terbuat dari besi itu. Deo bingung, pria itu hanya bisa mondar-mandir di dekat gebang, yang letaknya lumayan menjangkaunya dari satpam kejam itu.


“Kalau aku masuk dari depan, enggak mungkin langsung bisa ke kelas. Pasti akan diproses di ruang BK lagi. Mending aku dari pintu rahasia saja,” ucap Deo, ia langsung berlari menuju belakang sekolah.


Ketika Deo sampai di dekat lorong sekolah, suasana di sana sudah terlihat ramai. Keberuntungan berpihak kepadanya, ternyata guru yang bertugas di kelasnya telah keluar. Akhirnya, membuatnya gampang untuk masuk mengambil tas yang sudah ia sembunyikan di belakang lemari.


“Gila Lo ya, bolos semua mata pelajaran,” ujar Jepri yang sudah berada di belakang Deo. Pria itu terkejut, ia menjitak pelan dahi Jepri.


“Uda ah, diam aja lo.”


Menggendong tasnya, Deo berjalan pelan keluar kelas.


“Ayo, pulang.” Oliv menarik tangan Deo dengan kuat. Bahkan ia tak memberikan celah sedikit pun untuk pria itu berbicara.


Bukan sakit yang Deo rasakan, ia malah senang. Dia berharap, semoga Oliv bisa sering-sering menggandeng tangannya begini.


“Kamu bolos 'kan?” tuding Oliv sambil melepaskan tangan Deo. Matanya menatap nyalang pria di depannya ini.


“Enggak kok. Kakak ini suuzan terus deh,”


“Yauda cepetan pulang!”


“Belum jadi istri aja uda bawel begini. Gimana kalau Uda jadi istri, mungkin lebih dari ini. Tapi aku suka.”


“Deo! Cepat!”


 


Bersambung


Jangan lupa Like, komen, dan votenya ya mentemen. Kalau punya hadiah jangan lupa bagiin juga di sini.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2