
Mataku terus menelisik seluruh lapangan sekolah, namun tak ada tanda-tanda Rindu ada di sana. Aku sangat khawatir, takut terjadi sesuatu dengan gadis itu.
Aku merasa bersalah karena telah membuatnya sakit hati, kalau saja tadi aku tidak menerima bungkusan dari Deo, pasti tak seperti ini jadinya. Sudahlah, aku tak bisa menyesalinya, semua sudah terjadi dan tak akan bisa diubah lagi.
Seluruh penjuru sekolah sudah kudatangi, tapi tetap saja, aku belum menemukan Rindu. Entah ke mana gadis itu bersembunyi dari sakitnya.
“Kak Oliv.” Panggilan itu menghentikan langkah kakiku, Deo tengah berlari menghampiri aku.
“Ya,” jawabku kaku. Masalah cincin yang dia berikan, belum selesai. Sebenarnya aku ingin mengembalikannya, tetapi keadaan belum mendukung untuk aku melakukannya.
“Mau ke mana? Aku temani mau?” Wajahnya yang tampan sangat menggemaskan saat ia tersenyum. Deo menjajarkan tubuhnya dengan tubuhku.
“Tidak perlu! Aku bisa sendiri,” tolakku.
“Tidak apa, ayo.”
Untuk ke sekian kalinya tubuh ini menurut saat Deo menarik lengan bajuku dengan pelan. Ia terus menariknya, sedangkan aku hanya bisa pasrah, mengikuti langkah kakinya yang semakin cepat.
“Kita sebenarnya mau ke mana sih De?” tanyaku sambil berusaha melepas cengkeraman tangannya.
“Ikut saja, Kakak pasti suka,”
Okelah. Mungkin kali ini lebih baik aku diam dan mengikuti semua rencananya itu. Dari pada harus protes, capek juga.
“Rooftop?” Aku memandang heran sekitar.
“Di sana.” Bukannya menjawab, Deo malah menunjuk ke arah kursi, yang terdapat seorang gadis berhijab sama denganku.
Rindu. Iya itu Rindu. Aku langsung berlari menghampirinya. Mencoba menyentuh pundaknya, namun langsung tertepis karena dia gegas berdiri.
“Selamat ulang tahun!” Kertas warna-warni berhambur di atas kepalaku. “Selamat ulang tahun sahabatku Sayang,” ucap Rindu seraya merentangkan tangannya. Aku langsung menubruk tubuhnya, memeluk tubuh ramping itu dengan erat.
“Makasih, aku pikir kamu ....”
“Aku cuma bercanda tadi,” katanya sambil membantuku untuk duduk di kursi yang telah mereka sediakan.
Pandanganku berbalik, Deo sudah tidak ada di sana. Ke mana pria itu pergi?
“Nyariin siapa? Calon suami?” Suara Rindu terdengar lagi, kali ini nyaris membuatku kaget hingga terselek ludah sendiri.
__ADS_1
“S-siapa?”
“Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun.” Senyumku mereka tak kala melihat Rindi dan Deo berjalan menghampiri kami. Di tangan Deo sudah ada kue, sedangkan di tangan Rindi, terdapat kado yang berukuran cukup besar.
“Tiup lilinnya Kak,” suruh Deo. Tangannya sudah berusaha menutupi lilin-lilin yang menyala agar apinya tak padam.
Aku menutup mata, melafalkan sebuah doa yang baik. Untukku, kedua orang tuaku, dan sahabatku.
“Yee!” Mereka bersorak dia saat aku sudah meniup apinya hingga padam. Senyumku pun merekah.
“Makasih, ya teman-teman,” ucapku seraya memeluk mereka.
Senyumku menyurut saat melihat Deo berjalan menjauhi kami. Ia terlihat terburu-buru. Tanpa memedulikan Rindi dan Rindu yang sibuk dengan cake nya. Aku berlari mengejar Deo yang sudah hampir keluar dari rooftop.
“Deo tunggu!” teriakku masih terus berlari. Deo menghentikan langkah cepatnya, lalu memandangku yang ngos-ngosan.
“Ada apa Kak? Deo buru-buru.” Wajahnya sangat menggambarkan kecemasan. Dengan gegas dia kembali melangkah meninggalkan aku.
Bukan Oliv namanya kalau menyerah. Aku meraih lengan baju dan menariknya hingga Deo membalik jadi menghadapku. Jantungku mendadak berdebar-debar saat mata kami saling bersitatap dengan jarak yang cukup dekat.
“Jangan sekarang Kak. Deo harus segera pergi. Selamat ulang tahun.”
Aku menatap kepergian Deo, ada apa sebenarnya? Kenapa dia begitu terburu-buru, apa terjadi sesuatu dengan orang tuanya atau temannya? Padahal tadi dia begitu antusias saat membawaku ke sini.
“Ayo Liv, makan,” ujar Rindi antusias seraya menyodorkan sendok berisi potongan kue ke mulutku.
“Enak,” ucapku ketika kue itu sudah masuk mulut, mengunyahnya.
“Hore!!”
Melihat mereka senang tak cukup buatku, entah kenapa perasaanku jadi tak enak begini. Ada apa sebenarnya?
**
Aku melangkah gontai di lorong sekolah. Deo juga belum terlihat, ke mana dia? Kenapa pergi hingga berjam-jam dan belum kembali?
Tring
“Halo, Bun.”
__ADS_1
“Halo Sayang. Kamu cepetan pulang ya, tante Rini masuk rumah sakit.”
Deg
Jantungku berdetak dua kali lebih cepat, dengan pandangan sendu aku berlari melewati lorong sekolah yang sudah hampir sunyi. Aku harus cari taksi, ya taksi.
Pandangan mataku menelisik ke sana kemari, kenapa belum juga datang taksinya.
“Taksi!” Aku berteriak dengan keras, menghentikan taksi yang melaju dengan pelan.
Di dalam mobil aku terus melafalkan doa-doa kebaikan untuk tante Rini, semoga segera sembuh dan kembali seperti sedia kala. Aku tidak tahu harus marah atau kasihan pada Deo, tapi dia sangat kelewatan karena tak memberi tahuku bahwa bundanya masuk rumah sakit.
Lebih baik aku langsung ke rumah sakit, dari pada harus pulang dulu, lagian bunda juga sudah beritahu alamatnya, jadi gampang.
Aku merasa tante Rini baik-baik saja, tubuhnya juga selalu kelihatan bugar. Tapi, mengapa bisa masuk rumah sakit? Ya ampun, aku sangat khawatir.
Lobi rumah sakit kulewati dengan perasaan cemas, mencari ruangan IGD yang dimaksud resepsionis tadi. Dan akhirnya ketemu.
Kudorong pintu itu dengan perlahan, terlihat beberapa orang di dalam.
“Bun,” panggilku sambil memegang lengan bunda, wanita paruh baya itu memandangku, dengan tatapan sendu.
Semua orang yang berada di dalam ruangan juga ikut memandang ke arahku aku, terkecuali Deo yang tengah menangis memeluk jemari bundanya yang belum sadarkan diri. Aku yang mendapat tatapan seperti itu, menunduk. Bukan apa-apa, tatapan mereka seperti mengintimidasi.
“Oliv, ayo pulang.” Suara ayah sangat dingin dan datar, wajahnya yang terdapat banyak kerutan tak menampilkan senyuman sama sekali.
Sebelum melangkahkan kaki mengikuti ayah dan bunda, mataku sempat bersitatap dengan mata Deo yang menatap ke arahku. Hidungnya merah, mungkin karena menangis terus. Sedangkan wajahnya, sangat sendu, ia menggelengkan kepalanya padaku. Aku tak tahu apa maksud dari itu semua.
**
“Kamu ini kenapa sih Oliv? Kenapa gak jujur sama kami? Lihatlah, tante Rini sampai masuk rumah sakit gara-gara keegoisan kalian!” Aku tak berani menatap wajah ayah, hanya isak tangis yang mampu aku keluarkan.
Iya, ini salahku. Seharusnya aku bisa jujur tadi pagi pada ayah dan ibu, pasti tante Rini tidak akan begini. Tapi semuanya sudah terjadi, dan tak akan bisa diubah kembali.
“Maaf, Yah.”
“Seharusnya tante Rini tidak mendengar dari tetangga, kalau kalian bisa jujur dan berbicara baik-baik.” Ayah berbicara kembali sembari menghela napas kasar. Aku melirik bunda, wanita paruh baya itu hanya bisa menangis sambil sesekali mengusap air mata yang jatuh.
“Tante Rini, terkena serangan jantung Sayang.” Ucapan bunda membuat kepalaku langsung mendongak, menatap mereka tak percaya.
__ADS_1
Aku tidak tahu kalau akhirnya harus begini. Maaf, tante, om.