
Ibu langsung masuk ke dalam kamar dengan menarik lengan Erdi agar segera masuk.
"Loh, loh,,, Bu! apa-apa ni main nyelonong aja" Protes Amara.
"Diem kamu..." Sentak ibu Hesti kepada Amara dengan mata yang membelalak dan gigi yang ia rekatkan, menahan emosi akan ulah Amara.
"Kamu selalu seperti ini, sekarang kamu sudah punya suami, sudah seharusnya kamu bersikap dewasa...!" Ibu Hesti mengingat Amara.
"Ayok nak Erdi, bersihkan dulu diri mu, lalu bersiap untuk tidur, sekarang kamar ini kamar mu juga" Ibu mengintruksi Erdi dan tetap menunggu di sana.
"Iya Bu..." Seru Erdi patuh dan menjinjing tas berisi pakaian gantinya ke kamar mandi yang ada di kamar Amara.
Di kamar mandi Erdi bicara sendiri merutuki nasibnya "Ya tuhan begini banget sih nasibku... Pengantin baru macam apa inei seperti ini, sabar Erdi, sabar..." Sambil mengusap dada dan menepuk jidat, lalu mengacak rambutnya Erdi seakan frustasi.
Selama Erdi di kamar mandi ibu Hesti tak henti-henti nya menceramahi Amara, agar Amara bisa menjaga sikap, jangan sampai mempermalukan kedua orang tuanya, untuk bisa menjaga nama baik keluarga.
Sepertinya ibu Hesti sudah sangat geram kali ini terhadap tingkahlaku Amara, sebab ia merasa tidak tega melihat Erdi yang duduk Seorang diri di ruang tamu.
"Jika kamu melakukan hal itu sekali lagi tidak menghargai suamimu, ibu akan menyuruh ayahmu untuk mengusir kalian berdua dari rumah ini"
Mendengar ancaman dari ibunya Amara malah tertawa "Ha, ha, ha, ..." Amara merasa lucu dengan ancaman yang ibunya katakan
"Amara ibu tidak sedang berguyon!'' ibu Hesti menegaskan
"Ibu tega sama aku, yakin ibu tega...!" Amara menimpali ancaman ibu nya dan merasa tidak yakin ibunya bisa melakukan hal tersebut.
Sebab saat ingin memiliki Amara saja ibu Hesti dan ayah Hadi harus bersusah payah mana mungkin mereka tega untuk mengusirnya.
Kali ini ibu Hesti yang merasa frustasi menghadapi Amara. sebab Amara malah tertawa dan meledek semua ucapan yang ibu Hesti ucapkan untuk menasehatinya.
selang beberapa waktu Erdi keluar dari kamar mandi, sudah berganti pakaian, memakai celana pendek selutut dan kaus tiset berwarna hitam, dengan rambut basah dan acak-acakan membuat amara terperangah melihatnya,
"Gila... ini beneran Erditha! serius ini Erditha!!! kenapa mendadak bisa sekeren ini...!" Batin Amara berusaha meyakinkan dirinya sebab merasa tidak percaya suaminya memang sekeren yang orang-orang bicarakan.
Seketika itu tenggorokan Amara terasa kering dan sangat sulit hanya untuk menelan salivanya.
__ADS_1
Apa yang di pikirkan dan di rasakan oleh Amara, ternyata sama seperti yang di pikirkan dan di rasakan oleh ibu Hesti, ibu Hesti pun terperangah melihat penampilan Erdi yang sungguh sangat mempesona.
Bagikan sedang berada di gurun pasir yang gersang, tiba-tiba di terpa angin surgawi begitu menyejukkan jiwa raga Bu Hesti.
ketika Erdi mengembangkan senyumnya. ibu dan anak terlena oleh pesona yang di miliki oleh Erdi.
"Bu...!" kemudian Erdi menyapa ibu Hesti yang terpaku menatapnya.
"Bu,,, ibu tidak apa-apa...!"Erdi kembali menegur Bu Hesti.
Namun tidak ada respon dari orang yang sedang Erdi sapa.
Lalu kemudian Amara lah yang tersadar dari lamunannya.
Dan segera melirik ke arah ibu Hesti yang masih terpaku seakan terhipnotis oleh pesona ketampanan Erdi.
"Ya elah..! ni ibu-ibu tau aja sama yang bening malah dia yang kaya orang kesambet, ampun deh...." Batin amara seakan merasa tersaingi oleh ibu nya
"Hhmmm..." Amara berdehem menyadarkan ibunya.
"Inget umur Bu...!" Seru Amar penuh sindiran.
"Saya sudah selesai Bu...!" Ucap Erdi memberi tau.
"Oo iya nak ibu tau itu...!"
"Nah loh...! malah dia yang salah tingkah" Amara masih saja menyindir ibunya.
"Genit banget sih Bu... Bu...!" sambungan Amara tak habis pikir melihat tingkah ibunya.
"Apa sih kamu sirik aja..." Ibu Hesti kesal kepada Amara.
"Maaf ya nak,,, ibu terpaku karena inget ayah dulu saat masih muda persis seperti kamu ibu jadi ingat masa lalu...he.. he..." Ibu Hesti benar-benar jadi salah tingkah.
Amara mencibirkan bibir mendengar perkataan ibunya "Ibu sok manis uweek..!" Gumam Amara seakan ingin muntah.
__ADS_1
"Amara...!" Seru ibu Hesti agar Amara bertindak sopan.
"Udah Sono Bu, aku lelah ingin istirahat, nanti aku bilang ayah kalau ibu kegenitan sama menantunya....!" Amara mengusir dan mengancam ibunya agar segera keluar dari kamarnya.
"Biar sekalian kalian berdua di pecat sebagai istri dan menantu sama ayah biar tau rasa kalian..." Amara malah nyumpahin.
"Amara..!"
"Apa,,, sih Bu! ayok cepetan keluar, apa ibu mau sekalian tidur sama menantu ibu nanggung gitu Genitnya..." Amara mulai kesal
"Ya udah ibu keluar dulu ya nak...!" Ibu Hesti pamit dan segera keluar.
"Mata Amara piceek kali ya,,, masa liat suami setampan dan sekeren itu ia tidak tergoda sama sekali, Aku aja yang emak-emak jiwa emak-emak ku meronta-ronta melihat anak muda sekeren itu, apa Jangan-jangan Amara tidak normal kali ya..." kenarsisan Bu Hesti berubah menjadi kekhawatiran seketika itu, saat menyadari sikap Amara yang begitu dingin kepada suaminya sendiri.
"Ini tidak boleh di biarkan, Amara harus jatuh cinta sama Erdi bagaimana pun caranya!" lbu Hesti terus saja menggumam di sepanjang langkahnya menuju kamar nya.
Sementara di kamar Amara selepas kepergian ibu Hesti.
Amara melempar bantal dan selimut ke arah Erdi "Tuh sesuai perjanjian, tidak ada sentuhan badan atau kontak badan di antara kita, jadi kamu tidur di bawah atau terserah mau di mana pun, yang penting tidak di tempat tidur ku, karena tempat tidur ini milik ku dan suamiku... ayang Jungkook!"
"Apa ayam jongkok...!" Gumam Erdi , memang seperti itu penangkapan indera pendengarannya.
"Hei,,, jaga bicaramu ayang Jungkook...!" Amara menegaskan.
"lihat ini suami sesungguhnya bagiku..!" Dengan rasa bangganya dan dengan sombongnya Amara menunjukan guling yang terdapat gambar Jungkook di sarungnya.
melihat itu, seketika itu juga Erdi tersenyum.
"Oaallh,,, cuma halu kok...!" Gumam Erdi.
"Duh neng-neng ngapain ngehalu kok jauh-jauh sampai ke Korea, jelas-jelas di sini ada aku yang nyata sebagai suamimu..." Erdi terus saja menggumam.
"Hey,,, bicara apa kamu, kau sedang mengejekku ya" Amara merasa Erdi sedang mengejeknya. sebab samar - samar Amara mendengar gumaman Erdi.
Erdi tidak menggubris pekikan Amara ia memilih untuk segera tidur, sebab tubuhnya sudah sangat terasa lelah.
__ADS_1
Dengan beralaskan selimut yang tadi di lemparkan oleh Amara Erdi tidur di bawah.
Ia tidak ingin mempermasalahkan hal apa pun lagi dengan Amara terlalu lelah baginya untuk meributkan yang menurutnya tidak penting.