Kakak Angkat Ku Ternyata Jodoh Ku

Kakak Angkat Ku Ternyata Jodoh Ku
12. Mencari Tumpang tempat tinggal


__ADS_3

Ayah Hadi memang sengaja melakukan hal itu untuk mendidik Amara agar memiliki rasa tanggung jawab, selama ini hidupnya terlalu enak dan membuatnya jadi seenaknya.


Karena mereka terlalu memanjakan Amara, menjadikan pribadi Amara menjadi manja, dan egois sungguh sangat egois dan sombong.


....


"Amara ayah harap kamu bisa mengikut ,semua peraturan ayah di rumah ini, jika tidak ingin mengikuti semua peraturan silahkan angkat kaki dari rumah ini..." Ayah Hadi tidak punya pilihan selain melakukan hal itu agar Amara mau patuh kepadanya.


"Jadi apa yang ibu katakan semua benar, ayah ingin mengusir ku...!" Seru Amara.


"Maafkan kami Amara...!" Ucap ibu Hesti.


"Oke jika kalian menginginkan hal itu!" Dengan penuh emosi Amara beranjak dari sana dan menerima tantangan dari kedua orang tuanya.


Amara membawa tas berisi beberapa pakaiannya dan pergi meninggalkan rumah.


Ayah Hadi pun melarang Amara untuk membawa barang apapun, kecuali beberapa pakaian saja yang telah terlanjur Amara kemasi dan siap ia bawa.


Ibu Hesti menangis tersedu-sedu melepas kepergian Amara.


"Ayah bagaimana jika dia tidak akan pernah kembali lagi ke rumah kita!" Ibu Hesti ketakutan.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu kepadanya" Ibu Hesti juga sangat mengkhawatirkan Amara.


Bagaimana tidak Amara putri semata wayangnya. biasa ibu Hesti sayang-sayang namun kini ia telah terusir dari rumahnya sendiri.


"Ibu tentang saja, ibu percaya saja kepada ayah!" Karena ayah Hadi telah mengatur semuanya.


"Bukannya ini yang ibu ingin kan kita bertindak untuk memberi pelajaran kepada Amara, kita seperti ini untuk kebaikan Amara juga" Ayah Hadi berusaha menenangkan istrinya dengan memberinya pengertian


Ibu mengerti lalu mengangguk.


Sedangkan Erdi hanya tertunduk lesu melihat semua itu. ia tak mampu berbuat apa pun selain mengikuti semua rencana yang telah ayah Hadi atur.


"Sialan,,, Apa sih maunya mereka, kurang apa coba aku, mereka minta aku menikah dengan orang yang tidak sama sekali aku cinta, demi mereka aku mengikuti semua keinginan mereka, tapi apa ujung-ujung aku tetap mereka usir dari rumah" Amara sangat merasa kecewa kepada kedua orang tuanya.


"Oke! ayah, ibu aku akan buktikan bawah aku bisa mandiri, aku bisa hidup tanpa kalian, aku berjanji...!" Janji Amara.


Amara menuju rumah Ratna untuk menumpang tinggal di sana untuk sementara waktu.


Sesampainya di sana, Amara mengutarakan maksudnya yang ingin menumpang tinggal di sana untuk sementara waktu.


"Tapi maaf Amara rumah ku sungguh sangat sempit, aku saja tidur sekamar dengan adikku, jika kamu ikut tinggal di sini adikku mau tidur di mana? maafkan aku ya Amara!" Ratna menolak keinginan Amara dengan alasan yang tepat, memang sesuai dengan keadaannya seperti itu,


Jadi Amara bisa memahaminya.

__ADS_1


"Aku antar ke rumah tisa saja ya Amara, siapa tau Tisa mau memberikan tumpangan untuk mu!" Usul dari Ratna dan di setujui oleh Amara


"Oke..." Amara setuju


Kemudian mereka berdua berjalan menuju rumah tisa.


"Assalamualaikum...!' Ratna dan Amara memberi salam


"Walaikumsalam....!" Tisa membalas salam dengan sedikit berbisik, dan menaruh telunjuk nya di bibirnya memberi isyarat kepada Amara dan Ratna untuk tidak berisik.


Lantas apa yang di lakukan oleh Tisa membuat Amara dan Ratna heran lalu bertanya.


"Ada apa Tisa!" Tanya Ratna penasaran.


"Ibu dan ayah ku sedang perang dunia...!" Jawab Tisa dengan maksud ibu dan ayahnya sedang bertengkar hebat.


Dan tak lama memeng terdengar sesuatu di banting dari dalam rumah lalu terdengar teriakan-teriakan dan tangisan.


Membuat Amara, Ratna dan Tisa ngerti mendengrnya.


"Kalian ada apa kemari tumben sekali?" Tanya Tisa curiga di tambah melihat mereka membawa tas besar.


mendengar pertanyaan Tisa , Amara dan Ratna hanya saling menatap.


"Tidak ada yang mau kabur kok, ini Amara mau jualan baju, mau jadi tukang kredit baju dia..." Jawab Ratna ngasal.


Dan langsung mendapat Toyoran kepala dari Amara "Sembarangan kamu, siapa juga yang mau jadi tukang kredit..." Amara tidak terima dengan ucapan Ratna yang ngasal.


"Aku tadinya mau numpang tinggal di rumah mu untuk sementara" Jawab Amara jujur.


"Loh! memangnya kenapa Amara, kamu kan pengantin baru! harusnya kamu lagi bahagia-bahagianya sekarang, kok malah kaya gini..." Tisa tidak mengerti dengan apa yang terjadi kepada Amara.


"Semua karena Erditha di penyebab semua ini, orang tuaku jadi tega mengusirku hanya untuk membela Erdi...!" Terang Amara penuh kebencian.


Lalu Amara menceritakan kronologisnya seperti apa, kepada para sahabat nya.


Dan tanpa mereka sadari Neneng pun sudah ada di sana bergabung dengan mereka ikut mendengarkan cerita Amar.


"Kasian sekali kamu Amara...!" tiba-tiba Neneng berbicara merasa perihatin dengan nasib Amara, tapi para sahabat malah terkejut mendengar suara Neneng yang tiba-tiba ada di sana.


"Neng! sejak kapan kamu ada di sini...?" Tanya Ratna yang benar-benar terkejut.


"Aku sudah sejak tadi di sini, dan cukup jelas mendengar semua cerita Amara" Jawab Neneng


"Benarkah...?" Amara merasa tidak yakin.

__ADS_1


Neneng mengangguk kepalanya sebagai Jawaban.


Kemudian mereka saling menatap seakan mereka semua mengandalkan harapan mereka kepada Neneng, karena Nenenglah harapan satu-satunya bagian mereka yang bisa menolong Amara memberi tumpangan untuk Amara tinggal di rumahnya.


Sebab Tisa tidak bisa membantu memberi tumpangan untuk Amara tinggal di rumahnya, karena keluarga Tisa Sedang mengalami konflik.


Dan harapan satu-satunya adalah Neneng.


"Tenanglah Amara, kamu bisa tinggal bersamaku, di rumahku !" Ucap Neneng menenangkan, memberi dukungan kepada Amara.


"Terimakasih ya neng...!" Amara cukup lega


Setelah cukup lama mereka berbincang bersama dan akhirnya Neneng mengajak Amara untuk pulang ke rumahnya.


karena hari pun sudah sore.


Sesampainya di rumah Neneng, mereka langsung masuk kedalam kamar Neneng.


Lalu Neneng segera ke dapur untuk mengambilkan air minum untuk Amara.


Di dapur ibu Neneng bertanya kepadanya.


"Mau apa anak manja dan egois itu di sini?" Dengan sangat keras ibu Neneng berbicara sehingga Amara yang sedang berada di kamar Neneng pun bisa mendengarnya.


"Sssuuutt... Bu jangan keras-keras! Amara bisa mendengarnya" Neneng memberi isyarat kepada ibunya dengan meletakan telunjuknya di bibirnya, agar ibunya bicara lebih pelan.


Sebab Neneng merasa tidak enak hati kepada Amara jika Amara mendengar percakapan mereka.


"Alah... biarkan saja dia mendengarnya" Ibu Neneng makin kerasa berbicara.


"Bu! Amara mau tinggal di sini untuk sementara waktu... boleh ya!" Neneng meminta izin kepada ibunya.


"Apa,,," Pekik ibu Neneng.


"Kenapa dia, apa dia sudah bangkrut sampai harus menumpang di rumah orang!" Ucapan ibu Neneng penuh sindiran.


"Bu... jaga ucapan ibu!" Neneng mengingatkan ibunya.


"Neneng kamu gak mikir apa mengizinkan orang kaya, sombong, egois seperti Amara tinggal di rumah kita, kita tidak bisa memenuhi kebutuhannya yang serba enak!" Ibu menolak Amara untuk tinggal di rumah mereka.


"Bu kok ibu jahat banget sih... terus Amara mau tinggal dimana dong!"


"Terserah,,, ibu tidak perduli...!"


Amara mendengar semua percakapan Neneng dengan ibunya, dan semua kata-kata Ibu Neneng Sangat melukai hatinya.

__ADS_1


__ADS_2