
Pancaran fajar di pagi hari adalah pancaran semangat. Semangat baru di hari yang baru. Sambutlah pagi dengan senyuman dan suasana hati yang baik.
Itulah kata-kata yang pas untuk Erdi, di pagi ini ia terbangun sebelum Amara terbangun ia lalu melakukan aktivitas paginya, seprti yang biasa ia lakukan di rumah perkebunannya.
Kemudian Erdi keluar kamar untuk sekedar jalan santai di pagi hari, mengelilingi lingkungan sekitar. setelah sekitar satu jam Erdi lewati untuk sekedar jalan santai.
Erdi memutuskan kembali ke rumah ayah Hadi. di perjalanan pulang sudah banyak warga yang berlalu lalang beraktivitas, seperti yang siap untuk bekerja, ibu-ibu yang ingin pergi Ke pasar berbelanja.
Anak pelajar yang siap untuk pergi ke sekolah mereka. ada juga para warga yang sengaja berjalan, berolahraga seperti yang di lakukan oleh erdi, dan Lain sebagainya.
Tak sedikit pula di antara mereka menyapa Erdi. apa lagi dari kalangan ibu-ibu, dan anak remaja wanita.
mereka semua melempar senyum kepada Erdi.
"Beruntung sekali ya Amara punya suami setampan dan sekeren kak Erdi..." Ucap salah satu pelajar sekolah menengah.
yang mengidolakan Erdi.
"...." "...."
dan di timpali oleh para sahabatnya yang ikut memuji ketampanan Erdi.
begitu juga dari kalangan ibu-ibu, begitu antusias ketika berpapasan dengan Erdi.
"Iiih pengantin baru makin ganteng aja" sapa salah satu ibu-ibu yang saat melihat Erdi berpapasan dengan mereka.
".... ". ".....".
Sama seperti para pelajar yang sebelumnya menyapa Erdi, sekelompok ibu-ibu itu pun saling menimpali memuji ketampanan Erditha.
Selang beberapa waktu akhirnya Erdi sampai di rumah ayah Hadi, dan terlihat ibu Hesti yang sedang menyiram tanaman miliknya di terasa rumah, di temani ayah Hadi yang sedang duduk di kursi teras sambil minum kopi.
"Assalamualaikum..." Erdi memberi salam ketika sampai di terasa.
"Walaikumsalam....!" Jawab serentak ayah Hadi dan ibu Hesti.
"Erdi kamu dari mana?" Tanya ayah Hadi tak menyangka jika Erdi sudah keluar rumah.
Sementara ibu Hesti kembali terperangah ketika melihat Erdi.
"Ya pun lama-lama aku bisa semaput (pingsan) kalau begini terus" Gumam ibu Hesti ketika menyadari perilakunya.
"Ayah pikir kamu masih tidur" Tebakan Ayah Hadi ternyata salah.
"Saya abis jalan santai yah...!" Jawab Erdi
"Kenapa gak ngajak ayah! kita kan bisa bareng!"
__ADS_1
"Tadi saya keluar masih sepi jadi berangkat sendiri...."
"Ya udah sana masuk lihat istri mu sudah bangun apa belum, kalau belum bangunkan dia agar membuatkan mu kopi" Perintah ayah Hadi kepada Erdi.
Kemudian Erdi segera masuk untuk menemui Amara di kamarnya.
Ketika ia masuk kamar dan benar saja istrinya masih tertidur pulas dengan sambil memeluk guling yang Amara anggap suaminya itu.
"Amara...!"
"Amara...!"
"Amara...!" Seru Erdi berkali-kali membangunkan istrinya.
Tapi tak mendapat respon sama sekali dari Amara.
Kemudian Erdi berdehem "HHmmm" Untuk mencoba kembali membangunkan istrinya.
Namun kali ini dengan ucapan sayang "Amara sayang,,, ayok bangun !!! ayah memanggilmu..." Erdi sengaja memakai cara itu berharap mendapatkan respon dari Amara.
Tapi Amara hanya menggumam "mmmm" sambil menggeliat meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, lalu kembali memeluk gulingnya.
"Ya ampun ini orang tidur kok kaya kebo sih" Erdi mendumel sedikit kesal, lalu berusaha mencari cara untuk membangunkan Amara agar amara bisa segera bangun.
Erdi teringat guling kebanggaan Amara, sebab Erdi melihat Amara enggan melepaskan guling itu meskipun dalam keadaan tertidur pulas.
Ya, cara itu cukup berhasil membut Amara terbangun dari tidurnya.
Sebab guling kebanggaannya di rampas begitu saja.
Amara sampai memekik ketika Erdi berusaha mengambil guling itu.
"Hey,,, apa yang kau lakukan!" Amara kesal dengan kelakuan Erdi.
Apa lagi Erdi lebih kesal lagi dengan tingkah Amara yang sulit sekali di bangunkan.
"Makanya ayok bangun...!" Seru Erdi.
"Mau ngapain sih kamu, lupa perjanjian kita,,, tidak ada yang boleh saling mengusik kehidupan masing-masing di antara kita, selama pernikahan berlangsung!" Amara mengingatkan salah satu poin yang tertera dalam surat perjanjian antara mereka berdua.
"Jadi kamu tidak ada hak untuk melarang ku tidur,,, atau membangunkan ku!" perotes Amara.
"Eeh Nona muda yang manja dan egois, aku juga ogah banget ya berurusan dengan mu, hanya saja ayahmu yang menyuruh ku untuk memanggil mu menghadap beliau..."
"Apa kamu bilang,,, berani sekali kau mengataiku...!"
"Kenapa! aku suamimu... berhak untuk melakukan apa saja terhadap mu...!"
__ADS_1
"Hay Ingat perjanjian kita"
"Bersetan dengan perjanjian... lagi pula melawan mu tida ada di perjanjian"
"Ayok cepetan bangun temui ayahmu, ingat hidup dan mati mu ada di tangan ku sekarang aku bisa menghasut ayah agar ia selalu memberikanmu hukuman"
"Erdi kurang ajar ya kau...!" Amara sangat geram kepada Erdi
Kemudian Erdi meningkatkan Amara di kamarnya.
Selepas kepergian Erdi Amara meracaw sendiri " Ini tidak bisa di biarkan, dia berani mengancam ku, melawan ku, kurang ajar...." Amara merasa tidak terima ia ingin Erdi tertindas dan berada dalam tekanannya ia tidak menyangka jika Erdi bisa melakukan hal seperti tadi.
Erdi melangkahkan kakinya, menuju ayah Hadi yang sedang duduk di teras, tapi di sepanjang langkahnya ia merutuki tindakannya Barusan kepada Amara.
"Bodoh sekali aku melakukan hal seperti ini kepada Amara, pasti dia akan makin membenci ku" Erdi merasa sangat bersalah.
"Maafkan aku Amara, aku terpaksa melawanmu, sebab jika tidak begitu kamu akan makin menginjak-injak harga diri ku" Erdi sungguh menyesali sikap kasarnya kepada Amara.
Erdi telah sampai di teras, di hadapan ayah Hadi, lalu ayah Hadi mempersilahkannya untuk duduk di sebelahnya.
"Dimana istrimu, nak?" Tanya ibu Herti.
"Apa dia sudah bangun...?" Kali ini ayah Hadi yang bertanya.
"Amara ada, dia sudah bangun, sebentar lagi dia pasti akan ke sini...!' Erdi sekaligus menjawab pertanyaan kedua mertuanya.
Ya, dan memang tak lama Amara datang menemui semuanya.
"Ada apa ayah memanggilku?" Tanya Amara
"Ya, buat kan kopi untuk suami mu sana" Ayah Hadi mengintruksi Amara.
"Apa,,,'" Pekik Amara Dengan ekspresi wajah yang benar-benar tidak suka.
"Kalian memanggilku, dan membangunkan ku hanya untuk itu...!"
"Ya, kenapa ! karena itu memang kewajibanmu..." Ayah Hadi
Amara menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tak mengerti dengan apa yang di inginkan oleh kedua orang tuanya.
"Gila,,, ini sungguh gila!" Gumam Amara kesal
"Kalian tega mengusik ketenangan ku, kesenanganku hanya untuk hal sepele hanya untuk menyuruh ku membuatkan kopi untuk dia(Erdi)!" Amara sungguh tak mengerti.
Ayah Hadi memang sengaja melakukan hal itu untuk mendidik Amara agar memiliki rasa tanggung jawab, selama ini hidupnya terlalu enak dan membuatnya jadi seenaknya.
Karena mereka terlalu memanjakan Amara, menjadikan peribadi Amara menjadi manja, dan egois sungguh sangat egois dan sombong.
__ADS_1