Kakak Angkat Ku Ternyata Jodoh Ku

Kakak Angkat Ku Ternyata Jodoh Ku
14. pingsan


__ADS_3

Neneng merangkul Amara dan memeluknya.


Amara merasa sedih dengan keadaannya.


"Terimakasih ya Neng." Gumam Amara.


"Ya." Sahut Neneng.


"Ayo Amara kita harus segera cari tempat penginapan untukmu bermalam, setidaknya hanya untuk malam ini!" Ajak Neneng.


Neneng juga khawatir Ibunya akan datang menjemputnya seperti yang dilakukan oleh orang tua Ratna dan Tisa. 


Dan ketika mereka hendak bergegas pergi untuk mencari penginapan, tiba-tiba hujan turun.


"Waduh hujan Amara! Lebih baik kita tunggu dulu disini sampai hujan reda." Ucap Neneng, mengurungkan niatnya karena terhalang hujan.


Dengan lesu Amara kembali duduk, karena mereka sedang berteduh di sebuah pos saat ini.


"Amara sebaiknya kamu makan dulu sambil menunggu hujan reda." Saran Neneng.


Namun wajah Amara terlihat pucat.


Membuat Neneng merasa khawatir, "Amara kamu baik-baik aja kan?" Tanya Neneng.


"Kepala ku pusing sekali Neng, tubuhku juga menggigil, Ssst!" Gumam Amara.


Lalu tiba-tiba tubuh Amara terkulai lemas dan kehilangan kesadarannya.


"Waduh dia malah pingsan!" Seru Neneng kebingungan.


"Harus gimana nih aku, minta tolong siapa ini?" Gumam Neneng benar-benar bingung.


Kemudian Neneng mengambil handphonenya yang ia simpan di saku celananya untuk menghubungi seseorang.


Dan saat Neneng mengaktifkan handphonenya yang sempat ia matikan karena takut tersambar petir.


Saat itu juga beberapa notifikasi masuk, panggil masuk dan chat dari Ibunya.


Neneng begitu terkejut saat melihatnya, "Wah tuh kan! Ibu pasti nyariin aku, alamat kena omelan nih Aku! Ni lagi Amara pake acara pingsan segala bikin Aku tambah pusing aja." Neneng meracau sendiri.


"Aku gak ada pilihan lagi selain harus menghubungi kak Erdi, bodoh amatlah Amara mau ngamuk juga nantinya gak papa dari pada masalah makin runyam." Sabung Neneng.


Kemudian Neneng menekan nomor yang bernamakan kak Erdi.


"Tuuut.. tuuut… tuuut…" Terdengar sambung telepon di handphone Neneng, menandakan sambung telepon terhubung.


Dan tak lama terdengar Suara, "Halo,,, Assalamu'alaikum!" Rupanya Erditha menerima sambungan telepon dari Neneng.


"Iya halo kak Erdi, ni Aku Neneng."


"Iya Neng ada apa?" Tanya Erdi merasa curiga.

__ADS_1


"Kak Erdi Aku lagi sama Amara nih!"


"Kalian di mana Neng? Aku emang lagi nyariin Amara dari tadi siang."


"Kita lagi ada di pos dekat danau di ujung desa kak, tolongin aku kak! Amara nya pingsan sekarang."


"Apa! Amara kenapa Neng kok bisa pingsan?" 


"Aku gak tau kak, pokonya kak Erdi cepetan ke sini deh!"


"Iya aku segera ke sana."


Lalu Erditha dan Neneng sama-sama menutup telponnya.


Karena Erditha pun sedang mencari Amara dan berada tidak jauh dari sana, sehingga tidak butuh waktu lama baginya untuk segera sampai ke tempat Amara dan Neneng berada.


Erditha datang dengan mengendarai mobil pick up, milik perkebunan yang biasa dipakai sebagai sarana transportasi terkait dengan perkebunan.


Neneng langsung merasa lega ketika melihat kedatangan Erditha.


"Alhamdulillah… kak Erdi sudah sampai." 


"Kenapa Amara Neng?" Erditha menanyakan hal yang sama.


"Mungkin Amara depresi kak! Karena dia hampir jadi gelandangan sekarang."


"Ya sudah kita segera bawa pulang dia ke rumah orang tuanya sekarang."


"No… no.. no… kak Erdi jangan lakukan itu."


"Tapi Amara nanti akan marah besar kepada ku, karena saat ini Amara sedang diliputi emosi kepada kedua orang tuanya, makanya Amara bisa pingsan seperti ini." terang Neneng


"Terus kita bawa dia kemana Neng?" Erditha pun merasa bingung.


"Sebaiknya kak Erdi bawa Amara ke penginapan saja."


"Apa? Kenapa penginapan, mau ngapain?" Erditha tidak mengerti dengan maksud Neneng.


"Kenapa harus ke penginapan Neng? Kenapa gak kita bawa ke puskesmas, klinik, atau rumah sakit saja Neng." Saran dari Erditha kemudian.


"Gak usah kak! Amara ini pingsan bukan karena penyakit, jadi percuma bawa dia ke tempat pengobatan." Terang Neneng.


"Ya sudah untuk sementara kita bawa dia ke tempat tinggal ku saja!" Keputusan Erditha.


"Ya itu lebih baik, dan memang sudah seharusnya begitu, karena Amara sekarang ini istri mu dan kamu yang harus bertanggung jawab sepenuhnya atas Amara."


"Iya Aku tau."


Lalu Erditha memangku Amara dan memasukkan nya ke mobil pick up.


Sedangkan Neneng masih berdiri memperhatikan Erditha.

__ADS_1


"Neng ayo cepat masuk kita bawa Amara ke tempat ku!" Seru Erditha meminta Neneng untuk ikut.


"Apa aku harus ikut?" Tanya Neneng.


"Ya iyalah Neng, nanti gimana aku menjelaskannya kalau dia sadar, kamu tau sendiri kan sifatnya seperti apa, Amara bisa ngamuk sama aku." Erditha mengkhawatirkan kemungkinan yang akan terjadi.


"Tapi Ibu ku kak!" Neneng juga memikirkan Ibunya yang sedang mencari-carinya.


"Aku mengerti Neng, tapi kita tolong Amara dulu nanti aku bantu kamu untuk menjelaskan semuanya sama Ibumu." Erditha tetap memaksa agar Neneng ikut dengannya.


Dan akhirnya Neneng pun ikut bersama Erditha untuk membawa Amara, tapi tidak lupa Neneng juga Tetap membawa bungkusan nasi yang sempat ia beli.


"Sayang kalau di tinggal." Gumam Neneng sambil mengambil bungkusan nasi yang tergeletak di pos sebelum ia masuk ke dalam mobil pick up bersama Erditha dan Amara.


Kemudian mereka sampai di tempat tinggal Erditha, sebuah perumahan sederhana di kawasan perkebunan milik Ayah Hadi.


Erditha segera membawa Amara masuk dan menidurkannya di sofa, di ikut oleh Neneng yang masih setia menemani.


Mereka berdua berusaha untuk menyadarkan Amara, dengan menghirupkan minyak kayu putih di hidung Amara dan membaluri tubuh Amara dengan minyak itu, dengan tujuan untuk menghangatkan tubuh Amara yang terasa dingin.


Erditha pun menyiapkan air hangat untuk Amara minum.


Setelah beberapa waktu Amara tersadar, ia mengerjapkan matanya, lalu perlahan sedikit membukanya.


"Aduh!!! kepalaku pusing sekali." Keluh Amara sambil memegangi kepalanya.


Kemudian Amara melihat sekitarnya "Aku di mana ini?" Tanya Amara karena merasa asing dengan tempat itu.


Dan tiba-tiba Indra penglihatannya menangkap sosok orang yang ia tidak suka, bahkan ia benci yaitu Erditha.


Sontak Amara Langsung terperanjat bangkit dari tidurnya.


"Kenapa kamu bisa bersamaku!" Pekik Amara tidak suka melihat Erditha.


Erditha sudah menduga Reaksi Amara pasti akan seperti itu jika melihatnya.


"Jangan-jangan kamu menculik ku, kamu mau cari kesempatan dalam kesakitan ku." Tuding Amara kepada Erditha.


Tapi Erditha menanggapinya dengan santai.


"Hey jangan diam saja jawab aku, kamu mau apa sebenarnya dari ku, kamu culik aku mau minta tebusan dari orang tuaku, kamu picik sekali ternyata." Amara makin menuduh Erditha yang bukan-bukan.


"Otakmu yang picik, mana ada suami nyulik istrinya."Jawab Erditha dengan santainya.


"Kenapa kamu bawa aku kesini, di mana Neneng?"


"Aku gak mau ikut denganmu, aku tidak sudi, jangan harap aku mau jadi istri mu, aku benci kamu karena kamu orang tua ku sampai mengusirku." Amara terus saja nyerocos bicara dengan penuh Kebencian.


"Setahuku orang tuamu tidak pernah mengusirmu, bukannya kamu sendiri yang pergi dari rumah mereka." Erditha menimpali.


"Iya… tapi itu semua karena kamu!" pekik Amara.

__ADS_1


"Ya aku sih cuma mau nolong, karena kamu pingsan di pinggir jalan, lalu aku membawamu ke sini karena Neneng yang memintanya, kalau kamu gak sudi berada di sini silahkan pergi aku tidak akan memaksamu untuk tetap tinggal di sini." Erditha membalas Amara.


"Erditha… kurang ajar ya kamu berani ya kamu sekarang sama aku." Amara makin emosi mendengar ucapan Erditha.


__ADS_2