Kakak Angkat Ku Ternyata Jodoh Ku

Kakak Angkat Ku Ternyata Jodoh Ku
9. Nasib yang malang


__ADS_3

Eva sudah bisa lebih tenang, akhirnya Erdi kembali ke tempat acara akad nikah.


Amara yang sedang cekikikan bersama para sahabat nya langsung menghentikan aksi mereka, wajah amara yang tadinya terlihat sumringah, kini keceriaan di wajahnya hilang seketika.


Sebab Erdi sudah siap melakukan ijab qobul.


Tak menunggu waktu lama lagi Erdi dan Amara di sandingkan untuk segera memulai acara akad.


Setelah semua bersikap penghulu memulai tugasnya, sebagai wali amara kini giliran Ayah Hadi menunaikan tugas nya. Untuk menikahkan Amara dengan Erditha.


Dengan lantang dan tegas Erditha mengucapkan ijab qobul kini Amara telah sah secara hukum dan agama menjadi istri Erdi.


Setelah ritual ijab qobul usai, kini Erdi di minta untuk menyematkan cincin pernikahan di jari manis Amara dan begitu sebaliknya, Amara pun di minta untuk mencium tangan Erdi, begitu pula Erdi di minta untuk mencium kening Amara.


Amara sempat protes untuk menolak nya tapi itu salah satu ritual yang harus di jalankan dengan terpaksa Amara pun bersedia keningnya di kecup oleh erdi.


Dan karena akan di ambil gambarnya Erdi di minta untuk menahan kecupan di kening Amara.


"Ya ampun menang banyak dong di..." Batin amara kesal.


Setelahnya, saat pengantin di minta berpindah duduk di pelaminan, Erdi terlihat meneteskan bulir bening di sudut matanya.


Neneng yang jelas melihatnya langsung bertanya.


"Kak Erdi, kenapa menangis, kak Erdi sedih ya harus punya istri seperti Amara yang Bar-bar, sabar ya kak Amara pasti bisa berubah kok" Ujar Neneng seakan tau apa yang ada di pikiran Erdi.


"Bukan karena itu kok neng, aku sedih karena sampai aku menikah Aku belum bisa menemukan kedua orang tuaku atau keluargaku" Erdi menjelaskan.


"Oo begitu ya kak, he, he, berarti Neneng salah dong kak...!" Neneng malah cengengesan


"Ya - iyalah Lo salah, mana mungkin dia sedih nikah sama aku, yang ada dia tuh bangga bisa Nika sama aku, aku cantik udah pasti, kaya raya iya, printer juga iya.... Menang banyak lah dia mah, nah aku nikah sama dia dapet apa Coba, nyari cowok kaya dia bisa dapet 10 sehari" Ocehan Amara terdengar sangat perih di hati Erdi.


Walaupun apa yang di katakan Amara memang benar adanya, tapi apa pantas Amara merendahkan Erdi serendah itu, di depan para sahabatnya.


"Amara kamu gak boleh bicara seperti itu..." Ratna tidak enak hati mendengarnya.

__ADS_1


"Iya iih jahat banget sih kamu" Tisa ikut merasakan perasaan Erdi.


"Apa! Kalian mau belain dia, mau berpihak sama dia, oke gak jadi masalah buat aku..." Amara tidak terima para sahabatnya malah membela Erdi, dan malah seakan menantangi para sahabatnya.


"Sudah, saya tidak apa-apa kok..." Ucap Erdi kepada para sahabat Amara.


Erdi berjalan lebih dulu ke pelaminan, meninggalkan Amara dan para sahabatnya.


Sebab Amara tidak akan sudi Erdi memapahnya.


Dan akan memilih para sahabatnya untuk melakukannya.


Setelah duduk bersanding di pelaminan Erdi dan Amara hanya saling diam, di sepanjang acara Amara hanya menampilkan wajah kesalnya, mekipun banyak tamu yang datang memberi ucapan selamat dan mendoakan mereka berdua.


Dalam diam Erdi berpikir, entah akan seperti apa pernikahannya nanti, setelah mendengar penuturan dari Amara tentang penilaiannya kepada Erdi, tak ubahnya hanyalah seorang parasit yang hanya mencari keuntungan.


"Serendah itukah aku di matamu, padahal selama ini aku sudah berusaha keras menjadi yang terbaik untuk ayah mu, Tapi bukan penghargaan yang aku dapat**kan tapi hanya penghinaan yang aku dapatkan, dan yang lebih menyakitkan hinaan itu di ucapkan oleh wanita yang baru saja menjadi istri ku"


"Yang harusnya ia membanggakan ku, menyanyjung ku, menghargai ku, menghormati ku, bahkan harusnya ia memujaku, sebagai istriku, tapi pada kenyataannya Secara terang-terangan ia malah menghinaku, merendahkan ku"


"Inilah nasibku, selalu di sepelekan oleh Orang-orang, bahkan orang tuaku sendiri seakan membuang ku, ya tuhan kebahagiaan yang seperti apa yang nanti akan aku raih, sehingga harus aku tebus dengan cara sesakit ini..."


Sepanjang acara, Erdi merutuki dirinya sendiri dalam hatinya " Malang,,, sungguh maleangnya nasib ku" Ucap Erdi lagi dalam hatinya.


Malam pun tiba, kini acara telah usai Amara sudah berada di kamarnya sudah membersihkan dirinya dan kini telah berganti pakaian dengan piyama tidurnya.


Bahkan Amara telah merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya.


Sedangkan Erdi duduk di ruang tamu dengan masih memakai pakaian pengantinnya, Erdi bingung, harus bagaimana dan harus kemana, padahal tubuhnya sudah sangat lelah setelah seharian di pajang menjadi raja sehari namun penuh derita.


Sedangkan semua tuan rumah sudah berada di kamar masing-masing untuk beristirahat.


"Lihatlah tuhan betapa malangnya nasibku ini" Erdi terlihat sangat frustasi.


Iya terduduk menunduk dengan menyanggah kening nya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Kemudian untungnya ibu Hesti keluar dari kamarnya, dan melihat kondisi Erdi yang sangat memperihatinkan.


"Nak Erdi sedang apa kamu di sini, ibu kira kamu sudah di kamar Amara, kamar kalian, kamar pengantin.." Ibu Hesti tak menyangka Erdi ternyata masih terduduk seorang diri di ruang tamu.


Erdi tak mampu menjawab pertanyaan ibu Hesti.


Mengingat sikap Amara, yang tidak menginginkan pernikahan dan seperti nya belum bisa menerima Erdi sebagai suaminya, Ibu Hesti mengerti mengapa Erdi tidak masuk ke kamar Amara.


Kemudian ibu Hesti mengajak Erdi untuk mengikutinya, mengantarkan nya ke kamar Amara.


Lalu ibu Hesti mengetuk pintu kamar Amara,


"Tok, tok, tok" suara pintu di ketuk


Beberapa kali ibu melakukannya, tapi lama sekali tak mendapat respon dari Amara, entah sudah tidur atau sengaja tidak mau membuka pintu.


"Amara buka pintunya atau ayah mu yang akan membukanya paksa, dan jika sudah seperti itu kamu tau itu tandanya apa...!"


Jika sudah seperti itu tandanya Ayah marah besar dan akan melukai dirinya, di depan Amara, agar Amara merasa tidak tega dan merasa menyesal karena sudah membuat ayah nya marah.


"Amara ibu panggilan ayah ya sekarang..."


"Sudah Bu, mungkin Amara sudah tidur biar saya pulang saja ke rumah perkembangan Bu...!" Erdi tidak ingin mengganggu Amara.


Sedangkan kamar di rumah ayah Hadi penuh di isi para kerabat jauh yang sengaja datang di acara pernikahan Amara dan erdi.


Sehingga tak ada ruang kosong untuk Erdi beristirahat.


"Tunggu sebentar nak..." Cegah ibu Hesti agar Erdi jangan dulu pergi.


"Sekali lagi ya Amara! jika kamu belum juga membukakan pintu kamarmu ibu akan benar-benar memanggil ayahmu"


"Amara! Asmara!" Ibu masih berusaha.


"Oke kalau begitu, berarti kamu menantang ibu ya!" Ibu sudah Hilang kesabaran.

__ADS_1


Kemudian tak lama terdengar suara kunci pintu di buka.


"Apa sih Bu!" Seru Amara tanpa rasa bersalah.


__ADS_2