Kakak Angkat Ku Ternyata Jodoh Ku

Kakak Angkat Ku Ternyata Jodoh Ku
BAB. 17 Sarapan Di Jam makan siang.


__ADS_3

Erditha membangunkan Amara dan mengajak nya untuk sarapan.


Tapi seperti biasa Amara selalu Sulit di bangunkan.


"Hay istri Solehah, Ayo bangun suamimu sudah menyiapkan sarapan untuk mu, dan suamimu ini akan segera berangkat kerja jadi tidak punya banyak waktu untuk menunggumu bangun sampai siang." Erditha bicara dengan nada penuh sindiran.


Tapi Amara tidak menggubrisnya, "Tolong biarkan aku tidur, nanti aku akan bangun sendiri, kalau mau kerja ya udah berangkat sana." Gumam Amara menimpali Erditha.


Erditha merasa putus asa karena Amara tidak kunjung bangun, akhirnya Erditha bergegas bersiap untuk pergi bekerja untuk mengurus dan mengontrol, perkebunan milik ayah hadi yang telah menjadi tanggung jawabnya sedari dulu.


Usaha itu memang milik Ayah Hadi karena dia lah yang memiliki modal usaha tersebut, tapi semenjak usaha itu didirikan orang lain lah yang menjalankan nya.


Ayah Eva, orang pertama yang menjalankan usaha tersebut karena sekarang ia sudah tua, ayah hadi menunjuk Erditha untuk meneruskan pekerjaannya, sebab Erditha dirasa sudah mampu untuk mengemban tanggung jawab untuk mengurus usaha ayah hadi.


Dan semenjak Erditha yang menjalankannya usaha itu semakin maju dan berkembang.


Ayah hadi sangat puas dengan kinerja Erditha dengan begitu ia pun mempercayai Erditha bisa menguasai segalanya setelah ayah hadi meninggal nanti, termasuk memercayakan Amara putri semata wayangnya kepada Erditha.



Amara tidur sampai tengah hari, ia bangun lalu melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 11:30.


"Waduh udah siang rupanya!" Gumam Amara, lalu ia beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.


Setelah dari kamar mandi Amara melihat meja makan membuka tutup saja, dan terlihat segelas teh dan sepiring nasi goreng dan telor ceplok yang sudah dingin.


"Hmm cuma ada ini, irit banget sih dia, menu sarapannya cuma kayak gini doang!"


Dasar Amara tidak pernah ada rasa bersyukurnya!.


Tapi karena perutnya memang sudah sangat lapar dan dia takut pingsan lagi, akhirnya Amara pun terpaksa memakan makanan yang sudah dingin itu.


"Tapi lumayan enak juga sih masakannya." Amara bicara sendiri.


Dan sedikit memuji, setelah menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya.


Baru saja beberapa suap Amara menikmati menu sarapannya yang disantap pada jam makan siang.


Tiba-tiba Erditha datang membawakan makan siang untuk Amara.


Alangkah terkejutnya Amara melihat Erditha yang memergokinya sedang menyantap masakan Erditha.


Tapi bukan Amara namanya kalau tidak jaim (jaga image), Amara berusaha sok tidak peduli dengan kedatangan Erditha.


"Amara!" Seru Erditha.


"Ya…" Sahut Asmara 

__ADS_1


"Kamu baru bangun?" Tanya Erditha karena melihat penampilan Amara dengan penampilan khas bangun tidurnya.


"Ya…" Sahut Amara lagi.


"Uuh rajin sekali kamu, siang bolong baru bangun." Gumam Erditha penuh sindiran.


Amara hanya diam tidak menimpali karena memang begitu adanya.


"Kamu lagi ngapain?" Tanya Erditha memastikan apa yang Sedang Amara lakukan.


"Apa kamu gak bisa lihat kalau aku lagi sarapan!" Tegas Amara.


"Apa... sarapan...? tengah hari bolong begini!" 


"Itu pasti sudah dingin, mana enak!" Sambung Erditha.


Amara hanya tercengang mendengar ucapan Erditha, ' Walaupun udah dingin tetep enak kok menurutku, apa lagi kalau masih panas!' Gumam Amara dalam hatinya membayangkan kenikmatan yang lebih dari itu.


"Sekarang sudah waktunya makan siang, ini aku sudah ku bawakan makanan siang untuk mu." Erditha mengambil sepiring nasi goreng di hadapan Amara yang sedang Amara Nikmati, lalu menggantinya dengan makanan yang sengaja Erditha bawakan untuk Amara makan siang.


Kemudian mereka makan siang bersama tidak ada suara dari mereka berdua selama makan.


Selesai makan Erditha membuka pembicaraan dengan menanyakan apa rencana Amara selanjutnya, "Apa rencana mu setelah ini?".


Amara hanya menggelengkan kepalanya, karena ia memang belum tahu rencana selanjutnya.


Mendengar itu Erditha malah tersenyum meledek, membuat Amara geram melihatnya.


"Apa maksudmu seperti itu, kamu meragukan ku, aku bisa hidup meskipun tanpa belas kasihan dari kedua orang tua ku termasuk kamu." Sergah Amara.


"Oya…" Erditha ragu 


"Meskipun tanpa bantuan Besty-besty mu?" Erditha menegaskan.


"Ya tentu saja atas bantuan mereka!" Jawab Amara dengan Percaya dirinya.


Erditha makin tertawa mendengarnya.


"Buktinya kamu masih perlu bantuan orang lain, tapi sayangnya Besty-besty mu tidak bisa menolong dan membantumu sekarang!"


"Apa maksudmu?" 


"Yang aku tau Sekarang mereka sudah pergi ke kota besar untuk melanjutkan pendidikan mereka tadi pagi."


"APA!" Pekik Amara tidak percaya.


"Ya tadi pagi mereka dapat pemberian tahunan, kalau mereka diterima kuliah di salah satu universitas disana dan mendapat beasiswa." Terang Erditha.

__ADS_1


Bagai disambar petir disiang bolong ketika Amara mengetahui kebenaran tentang ketiga bestie nya.


Rasa kecewa, kesal, sedih bercampur dalam segala rasa, masih mending minum mereka kopi yang punya banyak rasa, masih ada rasa manis-manisnya.


Tapi rasa yang dirasakan Amara terasa sangat getir. Sampai Amara tidak sanggup untuk berkata-kata lagi, Amara memaku seribu bahasa.


"Kamu tidak percaya sama saya, buktinya Neneng dan yang lain tidak satu pun datang menemui mu pagi ini." Erditha meyakinkan Amara.


"Boleh aku pinjam hp mu." Kemudian Amara ingin menghubungi teman-temannya.


"Ya tentu boleh, silahkan hubungi mereka." Erditha segera menyodorkan HP-nya.


Karena hp Amara disita oleh kedua orang tuanya.


Amara segera menghubungi Neneng, karena nomor Neneng sudah tersimpan di hp Erditha.


Tak menunggu waktu lama, Neneng pun menerima panggilan telepon dari Amara.


"Halo,,, assalamualaikum!" Terdengar suara Neneng di ujung telepon.


"Waalaikumsalam…!" Suara Amara terdengar lirih.


"Amara…!" Neneng tersentak mendengar Suara itu, karena ia pikir Erditha yang menghubunginya tapi ternyata Amara lah orangnya.


Kemudian Neneng segera mengalihkan panggilan suara menjadi panggil video.


"Amara…!!!" Seru ketiga sahabat Amara, setelah panggilan video terhubung.


Nampak wajah Amara yang begitu sendu.


"Kalian beneran udah pergi ninggalin aku?" Tanya Amara memastikan.


"Maafkan kami Amara, ini kesempatan kami untuk mewujudkan impian kami bisa kuliah di kota besar." Ucap salah satu dari ketiga sahabat Amara.


"Kalian jahat, kalian tega ninggalin aku di saat keadaan ku sedang terpuruk." 


"Amara aku sungguh minta maaf kepada mu Amara, nanti kamu boleh kok nyusul kita ke sini." Jawab Neneng.


Amara sungguh kecewa kepada para sahabatnya, ia langsung memutuskan sambungan telepon dan berteriak histeris.


"Aku benci kalian…!" Amara hendak membanting hp milik Erditha.


Tapi dengan sigap Erditha segera menahan tangan Amara sehingga Amara gagal membanting hp tersebut.


"Eeh apa-apaan kamu, mau banting hp ku, mungkin bagimu ini tidak seberapa tapi bagi ku ini sangat berharga." Seru Erditha sambil meraih hpnya.


"Makan tuh hp…!" Sentak Amara kesal, lalu menangis meluapkan kekesalannya.

__ADS_1


__ADS_2