
Ketika Amara dan Erditha sedang menikmati sarapan mereka, meskipun dalam diam dan dalam keadaan canggung, tapi keduanya lahap menyantap menu sarapan masing-masing.
Dan ketika itu terdengar suara ketukan pintu.
Tok,,, tok,,, tok..... suara pintu di ketuk.
Erditha dan Amara hanya saling memandang ketika mendengar suara ketukan pintu, seakan saling bertanya siapa yang datang, itulah reaksi pertama mereka saat mendengar ketukan pintu.
Tapi tidak ada salah satu pun di antara keduanya untuk bergegas membukakan pintu.
Dan pada akhirnya tamu tersebut mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum...!"
Setelah mendengar suara salam barulah Erditha tau siapa yang datang karena Erditha sudah hapal betul dengan suara tersebut.
Beda halnya dengan Amara, ia mengerutkan keningnya ketika mendengar suara salam itu.
Pasalnya suara itu adalah suara perempuan, Amara memasang ekspresi wajah seakan bertanya kepada Erditha siap tamu perempuan yang datang, karena Amara tidak hapal dengan suara tersebut.
"Bukan Ibu, bukan Neneng, bukan juga Tisha, bukan Ratna juga?" gumam Amara, sakan berpikir mengingat suara itu, sebab Amara juga merasa pernah mendengar suara tersebut.
Karen Amara penasaran ia berniat ingin membukakan pintu, tapi di cegah oleh Erditha, "Tunggu! sudah kamu teruskan saja sarapan mu, biar aku yang bukakan pintu."
Amara yang sudah mengangkat bokong nya hendak bangkit dari duduknya, kembali meletakkan bokong nya di kursi yang sedari tadi dia duduki, karena Erditha mencegahnya.
Kini Amara lebih bisa patuh kepada Erditha, sebab Amara mulai luluh dengan sikap Erditha, yang bisa membuatnya nyaman.
Erditha bergegas membukakan pintu.
Ckrek....!
Handle pintu di tekan, lalu Erditha mulai membuka pintu.
KRRREEET....!
Suara pintu terbuka, setelah pintu sudah benar - benar terbuka lebar, nampak lah seorang gadis berdiri di depan pintu dengan sebuah senyuman manis.
"Kak Erdi, selamat pagi!" sapanya.
"Eva...!" sahut Erditha.
Ya, tamu yang datang itu memang Eva, karena itu Erditha sudah bisa menduganya, karena memang Erditha sudah hapal betul dengan suaranya, maka dari itu Erditha melarang Amara untuk membukakan pintu, Erditha pikir tidak baik jika Amara maupun Eva saling bertemu saat itu pasti akan terjadi perselisihan ketika saling berhadapan.
Seperti biasa Erditha tidak pernah mempersilahkan Eva untuk masuk kedalam rumahnya.
__ADS_1
Erditha lebih memilih untuk berbicara di luar jika Eva datang berkunjung ke rumahnya.
Sebab Erditha merasa tidak pantas seorang bujang dan seorang gadis berada dalam satu ruangan.
Dan malah akan menimbulkan fitnah.
"Silahkan duduk!" Erditha mempersilahkan Eva untuk duduk, setelah berada di terasa.
Eva pun langsung duduk sesuai interuksi dari Erditha.
"Oo iya,,, ada apa Eva pagi - pagi sudah berkunjung kemari?" Tanya Erditha tanpa basa-basi lagi, ketika mereka sudah sama - sama duduk.
Kemudian Eva mengutarakan apa maksud kedatangannya.
Bahwa ia ingin menggantikan ayahnya mencari nafkah, sebab ayah Eva sekarang telah sakit - sakitan, sebelumnya ayah Eva lah yang mengelola usaha ayah Hadi, karena usianya yang sudah senja dan kini sudah sering sakit - sakitan tidak memungkinkan ia untuk bekerja lagi, akhirnya ayah Eva mengundurkan diri, ia memang mendapatkan uang pesangon yang lumayan besar, namun kini telah habis karena dipakai untuk berobat.
Kemudian ayah Eva yang merekomendasikan Erditha untuk menggantikan dirinya, karena Erditha sudah paham tentang bagaimana mana mengelola usaha tersebut karena Erditha sudah banyak belajar. dan sudah menguasai semua tekniknya.
Kini keuangan keluarga Eva sedang bangkrut mereka membutuhkan banyak biaya untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.
Dan terpaksa Eva harus bekerja untuk mendapatkan penghasilan.
Dan menawarkan dirinya sendiri untuk bekerja bersama Erditha, sekalian agar dia selalu bisa dekat dengan Erditha.
"Ya bisa saja jika kamu benar-benar ingin bekerja." Jawab Erditha mengijinkan.
" Lalu kapan aku bisa mulai bekerja?" Tanya Eva lagi.
"Ya, jika kamu mau hari ini juga bisa, tapi sayangnya hari ini aku tidak masuk kerja, tadi aku sudah meminta izin kepada pekerja lain." Terang Erditha.
Eva mengerutkan keningnya mendengar ucapan Erditha.
"Kak Erdi sakit?" Tanya Eva penasaran, mengapa Erditha tidak masuk kerja.
"Oo tidak, aku baik-baik saja… aku hanya ingin beristirahat saja." Erditha menjelaskan.
"Oo gitu ya, tadinya aku ingin berangkat bareng dengan kak Erdi." Ucap Eva penuh kekecewaan.
Sementara itu Amara merasa penasaran, dengan siapa tamu yang datang, kenapa kok Erditha lama tidak balik lagi untuk melanjutkan sarapannya.
Sehingga Amara beranjak dari duduknya dan ingin melihat keluar.
Ketika Amara keluar, Eva lah yang malah terkejut melihat Amara keluar dari dalam rumah Erditha.
__ADS_1
"Loh… ngapain perempuan ini ada di sini?" Pekik Eva penuh emosi kepada Amara.
Sedangkan Amara sendiri terlihat santai, "Kenapa kamu kaget begitu? Aku ni istrinya kak Erdi mu ini, jadi wajarlah aku ada disini!" Sahut Amar.
"Malah kamu yang ngapain pagi - pagi ada disini? cewek jablay aja operasinya malam, lah kamu malah pagi - pagi dah nyamperin laki orang, lebih memalukan daripada~" terhenti, karena Eva memotong ucapan Amara.
"Cukup…! Beraninya kamu menghina ku, kamu sendiri apa? anak durhaka yang melawan kepada orang tua." Pekik Eva dengan gerakan ingin menyerang Amara.
Namun dengan sigap Erditha menahannya.
"Eva jaga sikapmu…!" Erditha mengingatkan Eva.
"Kak Erdi dengar sendiri kan mulutnya dia tuh yang gak bisa dijaga!" Eva menyalahkan Amara.
"Hey,,,! Gak salah kamu, kamu sendiri tadi yang mulai duluan, aku cuma berbicara sesuai faktanya kok!" Amara tidak merasa bersalah dan membela diri.
"Liat tuh kak dia ngeselin banget kan…!" Eva meminta pembelaan diri Erditha.
Dengan gerakan kembali ingin menyerang Amara.
"Tenang dulu Eva…!" Seru Erditha sambil menahan Eva.
Sedangkan Amara sudah memasang ancang - ancang akan membalas serangan Eva.
Apa yang Erditha khawatirkan benar - benar terjadi, Amara dan Eva benar - benar berseteru, padahal hal itu sudah Erditha hindari.
Karena tangan Eva terus saja mencoba meraih Amara untuk menyerangnya, meskipun Erditha sudah menahan gerakan Eva..
Karena Eva yang lebih emosi di banding Amara maka Erditha lebih memegangi Eva untuk mencegah serangannya.
Tapi itu memudahkan Amara untuk lebih dulu menyerang Eva dengan menarik rambutnya.
Eva lebih emosional karena terbakar api cemburu sebab Erditha sudah lebih dekat dengan Amara dengan tinggal berdua bersamanya, itu mengapa Eva menjadi hilang kontrol dan menggila.
"Cukup…. Hentikan!" Pekik Erditha karena Amara dan Eva makin brutal sehingga Erditha kewalahan untuk menanganinya.
Lalu Erditha memeluk Amara dan menjauhkannya dari Eva, sambil memberi gerakan menyetop Eva dengan satu tangan agar Eva tidak mendekat ke arah mereka.
"Cukup Eva, sebaiknya kamu pulang dulu sana." Perintah Erditha.
"Kamu jahat kak…!" Kemudian ucap Eva lirih sambil menahan emosi dan terlihat ingin menangis, Eva begitu kecewa karena Erditha lebih membela dan melindungi Amara di banding dirinya.
"Maaf Eva tapi lebih baik kamu pergi dari sini, karena situasi akan tambah runyam jika terus begini." Erditha tidak ingin ada yang lebih tersakiti.
__ADS_1
Dengan perasaan hancur Eva pun pergi dari sana, "Ini tidak adil bagi ku tuhan, apa sebenarnya rencana mu, jelas - jelas mereka tidak saling cinta, tapi "engkau" malah menyatukan mereka, sedangkan aku yang sudah jelas-jelas orang terdekat Erditha dan sangat mencintainya malah "kau" jauhkan aku dari Erditha…" gumam Eva sambil melangkah gontai meninggalkan kediaman Erditha.