Kakak Angkat Ku Ternyata Jodoh Ku

Kakak Angkat Ku Ternyata Jodoh Ku
Bab. 25 - Sikap Amara.


__ADS_3

Setelah kepergian Eva dari sana, Amara begitu marah kepada Erditha.


Ia langsung masuk kedalam rumah sambil membanting pintu dengan kasar.


Brag… bunyi suara pintu yang di banting Amara.


Erditha sampai terhenyak karena hal itu, "Kenapa dia?" gumam Erditha merasa bingung dengan sikap Amara.


Kenapa Amara seakan marah kepadanya padahal Erditha merasa tidak melakukan kesalahan.


Kemudian Erditha mengejar Amara dan ingin meminta penjelasan darinya.


"Amara kamu kenapa, banting pintu keras banget?"


"Apa? Kamu nanya…!" Amara malah seperti mencemooh Erditha.


"Amara, tolong bersikaplah dewasa… jika ingin mendapat kepercayaan dari kedua orang tua mu, intinya kamu harus bisa bersikap dewasa…!" Nasehat Erditha.


"Terus gua harus bilang wow gitu…!" Amara makin memancing emosi Erditha.


Tapi Erditha berusaha untuk menahan emosi nya, dan berniat pergi meninggalkan Amara yang sulit di ajak bicara.


Tapi baru saja Erditha berbalik dan melangkah beberapa langkah, tiba-tiba Amara berseru dengan keras.


"Dasar pecundang, tidak peka, bisanya cuma kabur lari dari masalah." Seruan itu berhasil menghentikan langkah Erditha.


Dan kembali berbalik lalu kembali menghampiri Amara, kali ini kesabaran Erditha seakan sudah habis.


Dengan rasa amarahnya ia bertanya kepada Amara, apa yang Amara inginkan sebenarnya.


"Mau kamu apa hah…? Kurang sabar gimana aku sama kamu, sekarang begini ya kalau kamu masih ingat tinggal di sini bekerja sama lah dengan baik, agar kamu bisa cepat pulang kepada kedua orang tuamu dan mendapat kepercayaan dari mereka."


"Kalau kamu tidak ingin bekerja sama untuk itu, silahkan pergi dari sini… Aku sudah muak menghadapi sifat kekanak-kanakan mu!" Lanjut Erditha dengan nada penuh penekanan.


Ditantang seperti itu oleh Erditha, Amara hanya bisa diam, karena dia sadar betul dia tidak bisa lari kemana pun.


Ia hanya bisa pasrah menerimanya.

__ADS_1


Sedangkan Erditha langsung keluar dan duduk di teras, ia berusaha menenangkan hati dan pikirannya.


Niat nya ia tidak berangkat bekerja ingin menemani Amara yang syok karena kejadian tadi pagi, karena kejadian perihal ceplok telor yang hampir menimbulkan kebakaran.


Tapi kini ia sendiri yang butuh ketenangan, "Ya, tuhan ku mau sampai kapan seperti ini terus, aku bisa mati muda karena darah tinggi menghadapi sifat dan sikap Gadis egois seperti Amara." gumam Erditha dalam hati sambil termenung.


Sedangkan Amara, terduduk di kasur Erditha, ia pun termenung memikirkan nasibnya, yang tidak berdaya saat ini.


"Ya tuhan akan sampai kapan ini, seperti ini, aku benar-benar harus bisa berubah, demi untuk hidup ku kedepannya. Aku harus bermain cantik karena tidak ada yang bisa menolongku selain diriku sendiri saat ini, ikuti alurnya agar bisa mendapatkan kepercayaan ayah dan ibu, kalau aku sudah dewasa dan bisa dipercaya."


"Dengan begitu ayah dan ibu tidak akan selalu menuntunku untuk jadi seperti apa yang mereka mau." 


"Oke, dimulai dari bersikap baik, sebaik mungkin kepada Erditha, demi untuk melancarkan rencanaku… aku harus bisa menurunkan egoku untuk bisa mengalah dan patuh, hanya itu cara satu-satunya untuk mendapatkan kepercayaan dari mereka." 


"Tapi lihat saja setelah semua kekayaan dan kekuasaan jatuh ke tangan ku, aku akan menguasai semuanya, jangan harap ada ampun bagi kalian, dan jangan harap aku akan patuh dan tunduk kepada kalian ( ayah, ibunya, dan juga Erditha)." Itu lah isi hati dan pikiran Amara.


Dengan wajah menyeringai, seperti ekspresi pemeran antagonis di sinetron dan film-film drama.


"Oke,,, harus dimulai sekarang, permainan baru akan dimulai Amara, kamu pasti bisa, yakinlah kamu bisa amarah…!" gumam Amara mengintruksi dirinya, sambil bangkit dari duduknya, lalu menarik nafas panjang, dan menghembuskannya secara perlahan untuk memperkuat mentalnya.


Amara melangkah keluar kamar dan mencari keberadaan Erditha, yang ternyata sedang duduk di teras.


"Amara…!" seru Erditha ketika melihat Amara mendekatinya dengan segel air putih di tangannya.


Amara berusaha tersenyum meskipun terlihat sangat kaku.


"Kak Erdi!" Amara balik menyerukan nama Erditha, dengan lebih lembut.


Membuat Erditha merasa curiga dengan sikap Amara yang terlihat sangat janggal.


Erditha sampai terperangah melihatnya, membuat Amara makin salah tingkah.


"Ya elah… biasa aja kali tuh mukanya!" gumam Amara dengan suara yang berbisik, yang nyaris tak terdengar suaranya.


Tapi Erditha sedikit mendengar meskipun samar-samar.


"Apa, kamu bicara apa?" tanya Erditha untuk memastikan apa yang Amara ucapkan.

__ADS_1


Amara langsung kikuk, saat mendengar pertanyaan dari Erditha.


"Ooh tidak, lupakan saja! Ini aku bawakan air minum untuk mu, siapa tau aus, kan cuaca lagi panas, he he he…" Amara menepis pertanyaan Erditha dan mengalihkan pembicaraannya sambil tersenyum kaku.


Erditha masih berekspresi bingung menghadapi sikap Amara kala itu, sambil mengambil air minum yang Amara sodorkan kepadanya.


"Boleh duduk…?" tanya Amara ingin ikut duduk bersama Erditha, karena Erditha tidak mempersiapkannya untuk duduk, sebab rasa bingung nya.


"O-oo iya silahkan!" sahut Erditha gugup.


"Terimakasih!" ucap Amara sambil duduk di samping Erditha.


Tapi dalam durasi beberapa menit, tidak ada kata dari keduanya, mereka sama-sama bingung akan memulai pembicaraan dari arah mana, terutama Amara yang egonya masih sangat tinggi.


"Oo iya…!" tiba-tiba kata itu keluar dari mulut keduanya secara bersamaan.


Lalu keduanya tersenyum secara bersamaan menyadari ke gugup masing-masing.


"Silahkan kak Erdi dulu mau bicara apa?" Amara mengalah, lalu mempersilahkan Erditha untuk bicara lebih dulu.


"Oo tidak, silahkan kamu duluan ada apa?" Erditha lebih penasaran dengan apa yang ingin Amara sampai kan  karena melihat sikap Amara yang tidak bisa membuat Erditha curiga memang ada sesuatu yang Amara sampaikan kepadanya.


"Oke,,,!" ucap Amara menyetujuinya.


Pertama-tama Amara meminta maaf kepada Erditha atas sikapnya selama ini yang egois.


"Kak, setelah apa yang aku alami, atas semua kejadian aku jadi berfikir, dan menyadari kalau selama ini aku sangat egois, dan menyebalkan bagi orang-orang yang dekat dengan ku, terutama ayah dan ibuku, begitu juga bagi kakak…!" Amara sengaja mengundang simpati Erditha.


Sehingga Erditha merasa iba kepadanya, dan merasa bersalah karena ia juga sering bersikap kasar kepada Amara.


"Aku juga minta maaf atas sikapku selama ini kepada mu." jawab Erditha.


"Oo iya, aku juga ingin sungguh-sungguh berubah menjadi seperti yang ayah dan ibu inginkan, kak Erdi bisa bantu aku kan kak…?" Amara memastikan kesanggupan Erditha.


"Iya tentu saja…" jawab Erditha lagi.


Padahal dalam hatinya Erditha bergumam, 'Iya, itu memang tugas yang ayahmu berikan kepadaku, dan menjadi beban berat untukku.'

__ADS_1


Tapi Amara malah tersenyum senang dengan jawaban Erditha, karena rencananya akan berjalan lancar.


Tapi Erditha masih belum bisa percaya sepenuhnya kepada Amara, mana mungkin Amara ingin berubah dengan gampang nya jika tidak ada rencana lain, pikir Erditha.


__ADS_2