
Dan Akhirnya Neneng pulang bersama Ibunya, walaupun berat hati meninggalkan Amara di sana.
Setelah kepergian Neneng, kini tinggal Amara dan Erditha berdua di sana, dan hanya ada keheningan.
Amara yang awalnya begitu beringas sok berkuasa, kini nyalinya menciut seperti kerupuk yang tersiram air, ia hanya tertunduk lesu dan merasa malu.
'Tuhan begini amat sih nasibku saat ini, Ayah - ibu kenapa kalian tega sekali kepada ku, Ibu Neneng aja begitu mengkhawatirkan Neneng, kenapa kalian sama sekali tidak mencariku, padahal kalau kalian mencari ku dan memintaku untuk pulang pasti akan aku akan mempertimbangkannya untuk pulang.' Batin Amara meratapi nasibnya saat ini.
Sebenarnya Erditha merasa tidak tega melihat Amara seperti itu.
"Amara ayo cepat makan, sesudah makan nanti kalau kamu mau pergi silahkan, kalau mau tidur di sini juga silahkan, aku mau istirahat sudah malam besok aku harus kerja." Erditha memecah keheningan, dan segera pergi ke kamarnya, tanpa mendengarkan jawaban dari Amara.
Amara memang tidak menjawab ia hanya memandang punggung Erditha yang kemudian menghilang di balik pintu kamarnya.
Karena rasa laper menguasai dirinya, kemudian secara perlahan Amara menyuapkan nasi yang sudah terlanjur terhidang di hadapannya, sesuap demi sesuap nasi dan lauknya Amara nikmat sampai tidak tersisa.
"Loh dah habis ya! lumayan enak juga nih, Apa karena aku dah kelewat lapar kali jadi kerasa enak." Gumam Amara ingin menyangkal rasa nikmat yang baru saja ia santap, "makanan harga segitu rasanya beneran enak juga ya." Pada akhirnya Amara pun benar-benar mengakuinya.
Kemudian Amara minum segelas air hangat yang sempat Erditha siapkan untuknya.
"Huuh akhirnya perutku bisa kenyang juga." Amara merasa lega, bukannya merasa bersyukur.
Tidak lama Erditha keluar dari kamarnya dan sudah berganti pakaian, memakai kaos oblong dan celana boxer.
Amara terperangah melihatnya, "Apa maksudnya kamu berpakaian seperti itu." Tanya Amara curiga.
Erditha tidak menanggapi pertanyaan Amara, ia malah menyodorkan selimut dan bantal, "Pakai ini, kalau kamu mau tidur di sini!" Seru Erditha, dan segera bergegas akan kembali ke kamarnya.
Tapi Amara menghentikan langkah Erditha dengan ucapannya, "Apa maksudnya? kamu nyuruh aku tidur di sini?" Tanya Amara menegaskan.
"Ya, di sini cuma ada satu kamar, dan kamu pasti tidak mau kan satu kamar sama ku?"
"Ya kamu ngalah dong, kamu yang tidur di luar."
__ADS_1
"Maaf saya gak bisa tidur kalau gak tidur di kamar saya, lagian ini tempat saya jadi saya tuan rumah di sini peraturan saya yang buat."
"Oo jadi kamu balas dendam ni ceritanya!" Sekarang power Amara sudah kembali, sehingga ia sudah bisa kembali menentang Erditha.
"Cukup Amara, Saya sudah lelah ingin istirahat kalau kamu mau nginep di sini, pilihannya tidur di sini, atau di kamar bersama Saya." Erditha sudah sangat lelah seharian ia habiskan untuk mencari Amara, karena perintah ayah hadi yang telah menyerahkan tanggung jawab segalanya tentang Amara kepada Erditha sebagai suaminya.
Kemudian Erditha meninggalkan Amara yang memilih untuk tidur di ruang tamu dari pada di kamar bersama Erditha.
Amara merasa sangat kesal kepada Erditha yang tidak mau mengalah kepadanya.
"Dasa egois, ngomong apa dia? Gak bisa tidur katanya kalau gak tidur di kamarnya! Munafik! bukannya dia ngorok pas tidur di kamar ku kemaren malem." Amara ngedumel sendiri.
"Udah tidur, ini udah malem Jangan banyak omong!" Erditha menimpali dari dalam kamarnya, Sepertinya Erditha mendengar apa yang keluar dari mulut Amara.
"Dasar nyebelin." Gerutu Amara.
Kemudian Amara mengatur posisi untuk tidur di sofa di ruang tamu.
"Huh nasibku mau sampai kapan seperti ini!" Amara mulai mengeluh.
Tidak di pungkiri Amara pun sungguh merasa lelah dengan semua kejadian hari ini sehingga tidak butuh waktu lama ia pun langsung terlelap.
Tapi beda dengan Erditha yang malah tidak bisa tidur, karena merasa tidak tega membiarkan Amara tidur di sofa di ruang tamu, sedangkan dirinya tidur di kamar di atas tempat tidur, Erditha merasa tidak etis.
Tapi ya sudahlah, Erditha ingin memberikan pelajaran kepada Amara supaya ia bisa menghargai orang lain.
Erditha beberapa kali mengintip dari celah pintu memastikan Amara sudah tertidur.
Dan terlihat sudah tidak ada pergerakan dari Amara, "Sepertinya dia sudah tidur, syukurlah! aku jadi tenang kalau begitu berarti dia gak bakalan kabur lagi untuk malam ini." Erditha merasa tenang dan akhirnya Erditha pun bisa tertidur lelap.
…
Di pagi-pagi buta Erditha sudah bangun dan melihat Amara masih menggulung tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
Erdi langsung masuk kemari mandi yang terletak di dekat dapur.
Karena rumah itu hanya rumah petak sederhana hanya memiliki satu kamar, ruang tamu dapur dan kamar mandi.
Jauh berbeda dengan rumah ayah Hadi yang biasa Amara tempati, rumah berukuran besar bahkan bisa di bilang mewah, terdapat banyak kamar di antaranya memiliki kamar mandi di dalamnya.
Setelah selesai dengan rutinitas paginya, Erditha segera ke dapur untuk membuat sarapan.
Erditha membuat kopi untuk dirinya dan teh hangat untuk Amara, lalu membuat nasi goreng dan telor ceplok untuk menu sarapan.
Bau harum menyeruak yang berasal dari setiap oleh yang Erditha buat, menembus indera penciuman Amara, sehingga cacing di perut Amara bergeliat, memaksa Amara untuk bangun karena perutnya terasa perih.
Belum lagi suara yang berasa dari setiap pergerakan Erditha, suara percikan minyak panas, suara air mendidih, belum lagi suara denterangan spatula yang menyentuh wajah saat Erditha melakukan kegiatan menggoreng, serta dentingan sendok saat Erditha mengaduk kopi dan teh hangat di gelas, belum lagi saat sendok menyentuh mangkuk dan piring.
Semua terdengar sangat gaduh di telinga Amara.
Tapi matanya masih di kuasai rasa kantuk yang luar biasa.
"Apaan sih! pagi-pagi udah heboh banget ganggi aja." Gerutu Amara yang enggan bangun.
Karena jarak antara ruang tamu dan dapur sangat dekat dengan tidak terhalang apa pun sehingga semua bisa jelas Amara dengar.
Sebab itu Amara terpaksa bangun, tapi ia malah pindah ke kamar Erditha untuk kembali tidur.
Setelah selesai mempersiapkan semuanya, Erditha berniat ingin membangunkan Amara untuk mengajaknya sarapan.
Tapi ketika Erditha melihatnya di ruangan tamu ia tidak menemukan Amara di sana.
"Kemana dia? Jangan-jangan dia kabur lagi!" Erditha panik lalu memeriksa pintu utama, tapi masih terkunci rapat dan kuncinya masih tergantung di pintu, "Masih terkunci, berarti dia masih di sini" gumam Erditha merasa lega.
Lalu Erditha memeriksa kamar mandi dan ternyata kosong.
"Lalu kemana dia, apa mungkin di kamar ku?" Erditha segera bergegas menuju kamarnya, dan ternyata Erditha melihat Amara sedang tidur cantik di atas kasurnya.
__ADS_1
"Ya ampun dasar pemalas, ternyata dia pindah ke sini!" gumam Erditha.