Kakak Angkat Ku Ternyata Jodoh Ku

Kakak Angkat Ku Ternyata Jodoh Ku
BAB. 18 Membuat kesepakatan


__ADS_3

Amara menangis sesenggukan karena rasa kecewa, kesal, serta sakit hati sebab merasa dikhianati oleh para sahabatnya.


Erditha merasa bingung melihat Amara serapuh itu ketika ditinggalkan oleh para sahabatnya.


"Amara,,, kamu baik-baik ajakan?" Dengan ragu Erditha menyentuh pundak Amara bermaksud untuk menenangkannya.


"Aku gak bakalan nangis kalau aku baik-baik aja."


"Hati ku sakit sekali, lebih sakit dari pada ketika Ayah dan Ibu mengusirku, aku pikir merekalah kekuatan ku tapi ternyata mereka tega meninggalkan ku." Ucap Amara di sela-sela tangisnya.


"Yang sabar ya Amara, katanya kamu gadis pintar cerdas, pasti kamu juga kuat dan tangguh, tinggal kamu buktikan ucapan mu kalau kamu bisa hidup tanpa bantuan siapapun." Erditha mencoba menenangkan Amara tapi dengan nada penuh sindiran, Membuat Amara makin menangis pilu.


"Aku tidak pernah bilang tanpa bantuan mereka, justru sekarang siap yang akan menolong ku?" Sahut Amara masih terisak.


"Kamu jangan khawatir Amara, kan ada aku suamimu, sekarang kamu tanggung jawabku, aku akan membantumu termasuk mengantar mu pulang ke rumah orang tuamu."


"Aku tidak mau…!" Pekik Amara.


"Aku yakin semua yang aku alami, semua kejadian ini pasti sudah disetting oleh mereka (orang tuanya)" Dugaan Amara.


Ya, memang benar dugaan Amara, dari awal Amara pergi meninggalkan rumah, Ayah Hadi yang telah mengatur semuanya, sehingga tidak ada orang yang bisa membantu dan menolong Amara.


Selain memilih untuk kembali pulang dan mengikuti semua peraturan yang telah ayah Hadi buat.


Dan nyatanya sekarang Amara berlindung kepada Erditha.


Di luar dugaan Ayah Hadi, dan memang itu yang Ayah Hadi inginkan.


Jadi ayah Hadi tidak perlu repot-repot untuk mempersatukan mereka.


Biarlah mereka sendiri yang mencari cara untuk kehidupan mereka, setelah hidup bersama mereka bisa menentukan mana yang terbaik bagi mereka.

__ADS_1


Tapi ayah Hadi yakni, seiring berjalannya waktu, cinta akan tumbuh di hati mereka masing-masing, tapi bagaimana caranya entah ayah Hadi sendiri tidak tau.


...


"Aku benci mereka…!" Amara makin menangis histeris.


"Sssut…!" Erditha berusaha mendiamkan tangisan Amara dengan gerakan menaruh telunjuk di bibirnya.


"Oke,,, oke…! kamu gak usah pulang kamu boleh tinggal disini sampai kapanpun kamu mau, tapi jangan nangis kaya gini malu sama kalau didengar orang." Erditha membujuk Amara agar berhenti menangis.


Tapi tiba-tiba Amara meraih tubuh Erditha dan memeluknya. Perbuatan Amara membuat Erditha tersentak lalu berusaha melepaskan diri dari pelukan Amara.


"Eh,,, eh,,, apa yang kamu lakukan!"Erditha merasa risih.


Tapi Amara malam mengalungkan tangannya di leher Erditha lalu membenamkan wajahnya di dada Erditha dan mempererat pelukannya membuat Erditha tidak bisa bergerak sama sekali.


"Eeh Amara kamu mau melakukan pelecehan ya sama saya!" Seru Erditha panik, seakan sedang mempertahankan kesuciannya.


"Amara tolong lepaskan saya!" Erditha masih berusaha melepaskan diri sambil membujuk Amara.


"Keuntungan apa yang bisa saya ambil dari kamu? sedangkan kamu sendiri tidak punya apa-apa sekarang, yang ada kamu tuh bakal ngerepotin Saya." Tegas Erditha.


"Aku punya kenikmatan yang setia lelaki inginkan dari para wanita." Jawab Amara tanpa rasa malu.


"Apa!" Erditha berusaha mencerna ucapan Amara.


"Hey, lihat posisi kita saat ini, kamu tau aku juga bisa memberi kenikmatan kepada setiap wanita, apa kamu ingin aku hilang kendali lalu membuatmu terbuai dan tergila-gila padaku." Erditha membalas Amara.


Sontak Amara langsung melepaskan pelukannya ketika menyadari ucapan Erditha.


Erditha menarik nafas lega setelah terlepas dari dekapan Amara.

__ADS_1


"Ayok kita buat perjanjian…!" Tawaran Amara.


"Perjanjian apa? pasti poin-poinnya hanya menguntungkan mu seperti perjalanan yang sudah kamu buat tempo hari." Erditha sudah merasa jengah dengan sikap kekanak-kanakan Amara.


"Tidak usah membuat perjanjian, kalau memang mau tinggal di sini silahkan saja bebas." Sambung Erditha.


"Tapi aku ingin kamu berjanji tidak akan menyentuhku." Ucap Amara.


"Ya, aku janji tidak akan menyentuhmu meskipun kita tidur dalam satu kamar dan dalam satu ranjang, asal kamu tau aku juga tidak pernah menyukaimu, jika begitu mana mungkin aku punya hasrat sama kamu." Erditha sengaja berbicara seperti itu agar Amara mempercayainya.


Tapi mendengar ucapan Erditha kenapa hati Amara terasa sangat sakit.


"Beneran? Apa jaminannya kalau kamu tidak akan melakukannya."


"Terserah mau kamu apa?" Erditha sudah tidak mau pusing lagi.


"Oke, kalau begitu kamu harus serahkan semua harta ayahku yang kamu miliki menjadi atas namaku." Amara sengaja ingin mengetes kesungguhan Erditha, Sebab di pikiran Amara, Erditha melakukan itu semua hanya karena ingin menguasai Harta ayahnya.


"Hanya itu!" Erditha meyakinkan Amara.


"Iya…!" Tegas Amara.


"Oke aku setuju, tapi aku juga ingin selama kamu disini kamu tidak mengatur hidupku, dan sebagai imbalannya kamu juga harus mengerjakan semua pekerjaan rumah layaknya istri yang baik mengabdi kepada suaminya."


"Aku ingin ayah mu percaya bahwa kamu telah berubah menjadi wanita yang orang tuamu inginkan, dengan demikian aku akan merasa telah menyelesaikan tugasku yang diberikan oleh ayahmu untuk merubah mu menjadi pribadi yang penuh tanggung jawab." Terang Erditha.


"Ya, aku akan belajar menjadi seperti yang kalian inginkan, aku pasti bisa! setelah semuanya selesai aku ingin segera menyusul para sahabatku, nanti aku juga akan pergi menjemput mimpiku hidup bersama Jungkook di Korea Selatan." Ucap Amara terdengar narsis.


Membuat Erditha tersenyum sinis.


'Silahkan bermimpi indah Amara, sesuka hati mu…' Batin Erditha.

__ADS_1


'Dan ternyata di otakmu hanya ada harta dan harta, kamu masih menilaiku seorang yang gila harta, padahal kalau memang begitu, akan sangat mudah bagiku Amara untuk menguasai seluruh usaha ayahmu, tapi asal kamu tau Amara! Aku melakukan ini semua karena jasa baik ayahmu aku berhutang Budi kepadanya yang tidak bisa aku balas dengan cara apapun." Masih batin Erditha.


'Kamu sebuah tanggung jawab besar bagiku Amara, yang telah ayahmu serahkan kepadaku, dari pada tanggung jawab yang selama ini ayah mu berikan kepada ku, seperti bertanggung jawab atas usahanya.' Erditha benar-benar membatin. atas sikap dan ucapan Amara yang sangat menyinggung perasaannya tentang harta.


__ADS_2