
Kemudian Amara menghampiri Neneng dan Ibunya di dapur dengan membawa barang-barangnya berniat untuk pamit.
Neneng begitu terkejut ketika melihat Amara sudah ada di hadapannya.
"Asmara..." Gumam Neneng, sudah pasti Amara mendengar semua pembicaraannya dengan Ibunya.
"Maaf Bu, Neng, aku sudah merepotkan kalian, sepertinya aku memang harus segera pergi Neng" Ucap Amara penuh kegetiran.
Pasalnya hanya Neneng lah harapan Amara satu-satunya yang bisa menolongnya, tapi pada kenyataannya. Ibu Neneng tidak memberinya izin untuk tinggal di sana, sebab itu Amara terpaksa harus pergi dari sana.
"Amara tapi kamu mau kemana?" ucap Neneng khawatir dan merasa tidak tega melihat Amar.
"Entah lah neng, tapi aku juga tidak bisa tetap tinggal di sini" Jawab Amara dalam kebingungan.
"Maafkan aku ya Amara, ternyata aku tidak bisa membantumu." Neneng begitu menyesalinya.
"Ini bukan salah mu..." Amara kembali menimpali.
"Bu aku permisi dulu ya..." Amara pamit kepada ibunya Neneng.
"Iya silahkan..." Jawab ibu Neneng ketus.
Dengan perasaan sedih bingung Amara melangkah keluar rumah Neneng di ikuti oleh Neneng.
Dan dengan berat hati pula Neneng memberitahu teman-temannya yang lain, bahwa Neneng tidak bisa memberikan tumpangan kepada Amara, Neneng juga menceritakan apa alasannya.
Kemudian mereka janjian bertemu di ujung kampung di sebuah danau.
Saat Amara dan Neneng sampai di danau, tempe mereka janjian dengan yang lainnya.
Ternyata Ratna dan Tisa sudah ada di sana.
"Eeh kenapa kalian cepat sekali sudah lebih dulu sampai di sini?" Tanya Neneng merasa heran.
"Udah jangan banyak tanya, sekarang bagaimana ini nasibnya Amara, mau tidur di mana Amara malam ini?" Ratna ikut merasa bingung.
Semua hanya diam, sementara selama ini Amara tidak tahu siapa saja sodara dari ayah dan Ibunya, karena kesombongannya yang tidak mau mengenal sanak saudara.
Di tambah Ibu Hesti dan Ayah Hadi juga pendatang di daerah itu, mereka bukan asli daerah itu, jadi tidak memiliki saudara atau keluarga dekat di sana.
Karena itu Amara tidak bisa menumpang kepada keluarganya.
Amara hanya diam, meratapi nasibnya, mengapa dalam sekejap mata hidupnya bisa berubah seperti itu, yang tadinya ia seperti tuan putri, kini berubah menjadi gelandangan.
"Amara sekarang kamu mau bagaimana?" Tanya Tisa.
"Entahlah, Aku juga gak tau harus bagaimana dan mau kemana sekarang." Gumam Amara putus asa.
"Amara ini udah malem, dan kayanya mau turun hujan, kamu harus cepat cari penginapan, masa kamu mau tidur di sini!" Neneng mengkhawatirkan Amara.
"Ya cari penginapan harus punya duit, kalian tau sendiri aku gak bawa apa-apa, terus duit dari mana hah?" Amara kesal, ia bicara dengan nada bicara tinggi.
__ADS_1
"Ya udah deh Amara, kamu balik aja ke rumah orang tua mu, dari pada kamu jadi gelandangan kaya gini." Ratna memberi saran.
"Ogah! Aku udah sakit hati banget tuh sama pak Hadi dan Bu Hesti, mereka seperti tidak pernah bersyukur punya anak aku, udah syukur ya, mereka masih di kasih anak yang cantik, pinter kaya aku, tapi masih saja mereka sia-siakan aku." Amara kecewa kepada kedua orang tuanya.
"Biar mereka tau rasa! aku tinggalin, Sayang aku gak punya mental buat bunuh diri." Sambung Amara.
"Apa...!" Pekik ketiga sahabatnya, ketika mendengar Amara mengucapkan kata bunuh diri.
"Jangan nekad kamu Amara, kaya gitu tuh sama aja kamu mati konyol, apa nanti kata orang." Ucap Ratna tidak setuju dengan ucapan Amara.
"Amara yang super cantik, pintar dan kaya raya matinya mengenaskan dengan cara bunuh diri!" Tisa menirukan ucapan orang-orang saat nanti mencemooh Amara, jika bunuh diri.
"Ya, itu tidak ada bagusnya, tidak terhormat dan tidak terpuji, mending kamu bangkit cari cara buat buktiin sama ayah, ibu mu! kalau kamu bisa sukses tanpa mereka." Ucap Neneng memberi semangat.
"Caranya?" Tanya Amara.
"Ya itu masalahnya" Neneng sendiri tidak tahu caranya.
"Sama aja jalan buntu namanya." Amara putus asa.
"Ya sudah aku punya uang segini, kita patungan buat sewa penginapan buat Amara bermalam, setidaknya untuk malam ini, selanjutnya kita pikirkan besok." Ratna menyodorkan sejumlah uang.
Kemudian Tisa dan Neneng pun ikut mengumpulkan uang untuk Amara menyewa penginapan, dan kini terkumpul sejumlah uang dua ratus ribu.
Dan tiba-tiba perut Amara berbunyi karena merasa lapar, sampai cacing di perut Amara keroncongan.
Karena dari pagi Amara memang tidak sempat makan apapun.
Seketika itu ketiga sahabat Amara saling memandang mendengar suara itu.
Lalu tatapan mereka beralih memandang Amara dengan kompaknya.
Amara terlihat pucat, karen menahan rasa lapar di tambah pikirannya kacau.
"Amara uangnya hanya segini, jika di pakai untuk beli makanan, mana cukup untuk sewa penginapan!" Seru Ratna.
"Udah beli nasi paket sepuluh ribu aja!" Saran Neneng.
"Apa! paket sepuluh ribu? dapet apa itu!" Amara merasa heran mendengar ucapan Neneng tentang paket sepuluh ribu, karena dia baru mendengarnya apa lagi mencicipinya.
"Kamu tenang aja, walau pun terdengar murah, tapi soal rasa gak murahan kok!." Neneng menyakinkan.
"Beneran!" Amara kurang yakin.
"Ya udah coba dulu aja ya! dari pada kamu kelaparan." Seru Tisa
"Ya udah." Amara pasrah.
Kemudian Neneng yang bergegas pergi untuk membeli paket nasi sepuluh ribu.
Dan selang beberapa waktu Neneng kembali dengan membawa empat bungkus paket nasi itu.
__ADS_1
"Ayok makan!" Seru Neneng dan membagikan bungkusan nasi yang baru saja ia beli.
Namun tiba-tiba, mereka di kejutkan dengan cahaya kilat yang seakan menyambar, di susul suara petir.
"JEDER..." Suara petir menggelar membuat mereka berempat kocar-kacir lari terbirit-birit karena kaget dan ketakutan.
Dengan membawa bungkusan nasi masing-masing.
Setelah lari ketempat yang lebih aman, mereka terlihat ngos-ngosan.
"Ha,,,, ha... ha..." Napas mereka terengah-engah.
"Duh kayanya sebentar lagi mau turun hujan!" Seru Ratna.
"Terus gimana nih Amara!" Seru Tisa.
Amara hanya menggelengkan kepalanya.
Kemudian Bapak Ratna datang, lalu menghampiri mereka untuk menjemput Ratna dengan mengendarai motornya.
"Ratna! Ayo plang sudah malam, sebentar lagi mau hujan, kamu tuh perempuan jangan keluyuran terus!" Bapak Ratna memarahi Ratna.
"Iya pak bentar lagi juga aku pulang." Sahut Ratna.
"Udah gak usah ngeyel kamu, ayok buruan pulang, kalau gak Bapak nggak bakalan kasih uang jajan buat kamu selama satu Minggu." Ancam Bapak Ratna, dan itu membuat Ratna menjadi patuh dan segera ikut Bapaknya pulang.
"Amara, Besty! sorry ya aku harus pulang." Ratna pamit, dengan berat hati.
Semu mengerti dan hanya mengangguk.
Baru saja Ratna berlalu, tidak lama Bapak Tisa pun datang, sama halnya seperti bapaknya Ratna.
Bapak Tisa pun nyerocos memarahi Tisa.
"Kamu tuh ya, anak gadis tapi kelayabaan melulu, dasar anak bandel, Bapak tuh pusing nyariin kamu kemana-mana, belum lagi Ibumu yang selalu cari masalah sama Bapak yang marah-marah terus kaya kaleng rombengan." Bapaknya Tisa malah Curhat.
"Idih apaan sih Bapak ini, malah curhat, dan yang kayak kaleng rombeng tuh malah bapak kali bukan Ibu!" Tisa menimpali bapaknya.
"Udah jangan banyak omong kamu, cepetan naek ayo plang mau hujan ini, keburu kehujanan." Bapak Tisa makin marah, membuat Tisa pun tidak dapat melawannya lagi dan segera menurutinya.
"Maaf ya kawan, aku tinggal pulang ya,,, Amara kamu baik-baik ya!" Tisa sungguh merasa tidak tega kepada Amara.
Kini tinggal Neneng yang masih bersama Amara.
Amara melihat ke arah Neneng dengan ekspresi wajah penuh tanya.
"Kenapa Amara?"Tanya Neneng.
"Sebentar lagi Ibumu juga akan datang menjemput mu, dan kamu juga akan meninggalkan ku seperti Ratna dan Tisa." Ucap Amara penuh kekecewaan.
Neneng merangkul Amara dan memeluknya.
__ADS_1