
Di pagi hari Erditha terbangun, tapi dia tidak bisa bergerak karena Amara mendekapnya.
"Hey,,, Amara ayo bangun!" Erditha membangunkan Amara agar melepaskan pelukannya.
Karena semakin Erditha berusaha melepaskan diri Amara semakin kencang memeluknya.
"Istri ku sayang, yang pemalas… ayo bangun!" Erditha mulai merasa kesal.
"Kalau mau bangun, bangun aja gak usah ganggu aku…" Sahut Amara malas dengan mata yang masih terpejam.
"Istriku sayang, bukalah matamu, lihat posisiku saat ini." Erditha menahan rasa kesalnya menghadapi Amara.
'Ya tuhan karma apa ini? punya istri selalu membuat ku kesal.'
'Harusnya pengantin baru bangun tidur dipenuhi rasa cinta dan kebahagiaan, tapi yang ku alami malah sebaliknya.' Erditha menggerutu dalam hati.
"Ayolah Amara, pagi-pagi jangan buat mood ku beranak seperti ini.!"
"Jangan sampai aku berbuat kasar kepada mu." Ancam Erditha.
Sedangkan Amara sendiri seakan tidak menggubrisnya karena ia masih terlelap tidur.
Kalau untuk bersikap kasar kepada Amar, Erditha merasa tidak akan tega, maka dari itu terlintas satu cara yang Erditha pikir akan ampuh untuk membangunkan Amara dan Erditha bisa melepaskan diri darinya.
Erditha tersenyum licik ketika terlintas ide di benaknya.
Lalu memulai aksinya.
"Istri ku sayang apa ini yang kamu inginkan?" Ucap Erditha sambi membalas pelukan Amara.
Tapi apa, reaksi Amara malah makin menjadi, ia malah makin mempererat pelukannya dan makin dalam membenamkan wajahnya di dada bidang Erditha.
Erditha mengerutkan keningnya melihat reaksi dari Amara.
'Waduh dai nantangin aku rupanya!' Batin Erditha.
Dan membuat pikiran jahil Erditha makin liar.
Kemudian Erditha menyentuh dagu Amara lalu mendongakkan wajah Amara, beberapa saat Erditha memandang lekat wajah cantik istrinya.
'Andi dirimu bisa ku miliki seutuhnya, mungkin aku termasuk orang yang paling beruntung di dunia ini, karena bisa memiliki istri secantik dirimu' Erditha kembali membatin, terbawa suasana.
Perlahan Erditha mencium wajah Amara dengan lembutnya, membuat Amara terbuai tanpa sadar.
Erditha mulai mengecup bibir mungil Amara, kemudian me**matnya semakin kuat seperti sedang menikmati es krim.
__ADS_1
Bahkan Erditha merasakan sensasi kenikmatan yang lebih daripada sekedar menikmati semangkuk es krim.
Dan seperti apa lagi reaksi yang diberikan oleh Amara, ia malah membalas setiap kecupan Erditha.
Membuat Erditha lupa diri dikuasai hawa nafsunya.
Tangan Erditha mulai bermain ia mulai meraba seluruh bagian dari diri Amara, dengan lembut membuat bulu halus Amara meremang, dengan bibir yang saling bertautan.
Tangan Erditha berhasil menerobos masuk kedalam pakaian yang dikenakan Amara, karena tidak mendapat perlawanan dari yang punya nya membuat Erditha makin liar.
Menyentuh dan memainkan gunung kembar Amara yang terasa hangat dan kenyal.
Amara sendiri makin menggeliat merasa rasa geli nikmat, sebuah rasa yang membuat nya terasa terbang ke awang-awang.
Tapi perlahan Amara mulai terbangun.
Saat Amara tersadar Erditha sedang mencumbunya.
Amara langsung mendorong tubuh Erditha agar menjauhi dirinya, tapi tidak semudah itu bisa lolos dari lelaki yang sedang dikuasai nafsu birahinya.
Karena bukannya melepaskan Amara, Erditha malah makin menyusuri kemolekan Amara dengan hasrat yang menggebu.
Bibir Erditha berpindah mengecup setiap lekuk leher Amara dan sampai meninggal beberapa tanda merah di sana.
Meskipun Amara sudah memberontak melawan ingin melepaskan diri, tapi Erditha mengungkung tubuh Amara, semakin mendapat perlawanan Erditha semakin beringas melakukan aksinya.
Mendengar dan melihat Amara tertekan, Erditha tersadar dari telah memaksakan diri dan membuat Amara tersakiti.
Erditha segera menghentikan aksinya dan bangkit dari tempat tidurnya lalu pergi begitu saja tanpa memperdulikan Amara yang terisak.
Amara sendiri hanya diam sambil menangis saat Erditha pergi meninggalkannya.
Di kamar mandi Erditha berdiri terpaku 'Ya tuhan, aku lelaki normal mana mungkin aku bisa terus-terusan seperti ini, menahan emosi dalam diriku, lama-lama Aku bisa stres kalau begini caranya.' Erditha bicara sendiri di dalam kamar mandi.
Setelah beberapa waktu, Erditha kembali ke kamarnya dan melihat Amara masih meringkuk di atas tempat tidur.
Amara tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ingin pergi dari sana, tapi harus pergi ke mana?.
Kembali kepada orang tuanya terlalu gengsi baginya. Semetara para sahabatnya juga sudah pergi meninggalkannya.
Amara hanya bisa diam pasrah.
Erditha mendekati Amara dan duduk di sebelah Amar saling membelakangi.
"Amara..!" Erditha memulai pembicaraan.
__ADS_1
Tapi tidak mendapat tanggapan dari Amara.
"Maafkan aku Amara… aku tidak bermaksud untuk melakukannya aku hanya terbawa suasana, maksudku hanya ingin membangunkan mu, dengan cara menjahili mu, tapi kamu sendiri malah tidak menolaknya dan makin membuatku merasa tertantang untuk melakukan hal itu." Erditha mencoba untuk menjelaskan.
Tapi Amara malah makin terisak.
"Aku akan cari kan tempat tinggal untuk mu, lebih baik kita tinggal terpisah, karena sebagian lelaki normal aku tidak bisa berjanji untuk bisa menahan nafasku, Tapi aku akan tetap mengawasi mu dan akan tetap bertanggung jawab kepadamu, tentang saja! dengan begitu kita bebas melakukan apapun tanpa harus ada yang merasa dirugikan." Ucap Erditha menerangkan
"Hhmm…!" Amara tersenyum sinis, dengan menyunggingkan salah satu sudut bibirnya.
"Enak sekali Kamu habis manis sepah dibuang." Tanggapan Amara.
Erditha mengerutkan kening "Apa maksudnya?" Tanya Erditha tidak mengerti.
"Aku tetap merasa rugi, karena kamu udah menjamah ku!" Pekik Amara tanpa rasa malu.
"Apa…!" Seru Erditha.
"Kamu sendiri juga pengen kan aku jamah." Erditha menimpali Amara.
"Brengsek kamu, malah seakan nyalahin aku jelas-jelas kamu yang memaksa ku." Amara tidak terima dengan tuduhan Erditha.
"Buktinya dari awal kamu diam aja, malah kamu sendiri yang kasih respon yang bikin aku lupa diri." Erditha mengatakan yang sebenarnya.
"Aku tuh tadi lagi mimpi ciuman sama Jungkook,,, kenapa malah sama kodok jadinya." Erditha yang Amara maksud.
"Aah nyebelin banget sih kamu…,! impianku tuh, ciuman pertama ku sama Jungkook… kenapa malah bisa sama kodok sih …!" Amara malah lebai.
Tadinya Erditha merasa bersalah, tapi melihat tingkah Amara seperti itu Erditha berubah menjadi kesal.
"Dasar istri laknat,,, di depan suaminya malah memuja lelaki lain, suami sendiri malah dikatain." Erditha terdengar ngedumel.
"Erditha,,, si kodok!!! Beraninya kamu bilang aku istri laknat, lalu apa bedanya kamu dengan ku? kamu juga malah ngatain aku seperti itu." Amara memekik.
Dan perdebatan kembali terulang.
"Lalu apa kalau bukan istri laknat, jam segini belum apa-apa, harusnya kamu melayani suami, apa lagi suamimu ini mau berangkat kerja siapin sarapan kek! atau segala keperluannya bukan Membayangkan lelaki lain." Erditha menimpali Amara dengan penuh emosi.
"Ogah Aku mah!" Tolak Amara.
Mendengar Jawaban itu Erditha hanya menggelengkan kepalanya.
"Oo ya aku lupa, kamu kan anak manja gak bisa ngapa-ngapain, cuma bisanya tidur dan ngabisin uang orang tuamu mana tau perjuangan hidup." Ucap Erditha penuh sindiran.
Dan memang ucap Erditha berhasil menusuk jantung Amara.
__ADS_1
Sehingga Amara tidak mampu berkata-kata lagi.