
Percakapan di lanjutkan…
"Amara sebenarnya kak Erditha itu orang yang sangat baik, dan berhati lembut, selama ini kita tidak pernah mendengar kak Erditha bermasalah dengan siapa pun." Ucap Neneng mengingatkan.
"Eeh buktinya dia tidak begitu sama aku!" Elak Amara.
"Iya berarti kamu yang bermasalah!" Tegas Ratna.
"Eeh kamu beraninya ya nyalahin aku." Amara tidak terima di Salakan.
"Tenang dulu Amara!" Neneng berusaha meredam emosi Amara.
"Kami ingin kamu segera menyusul kami kesini."
"Apa ada cara?" Tanya amara antusias.
"Caranya kamu harus menaklukkan Erditha, agar Erditha mau menuruti semua permintaanmu."
"Caranya..?" Amara bertanya kembali.
"Kamu kan pintar Amara! cari cara agar Erditha bisa luluh kepadamu, buat permainanmu sendiri." Saran Tisa.
Amara berpikir mencerna ucapan para sahabatnya.
'Iya juga ya, Erditha kepercayaan ayah apa yang diucapkan Erditha ayah pasti menurutinya, dan memang ayah ingin aku jadi perempuan penurut, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya, makanya ayah menikahkan aku sama Erditha, supaya Erditha bisa merubah sikapku, kalau aku terus memberontak dan membangkang, hidup ku akan tetap seperti ini.' Batin Amara.
'Beda lagi kalau aku bersikap sesuai harapan mereka, pasti mereka akan bersikap baik sekali kepada ku dan akan mengikuti apa yang aku inginkan, intinya aku harus meyakinkan ayah dengan bersikap baik, sesuai keinginan mereka." Masih Batin Amara.
"Heey kok kamu malah bengong sih!" Tegur Ratna dari ujung telepon.
"Iya, aku ngerti maksud kalian." Kemudian Amara memahami setelah mencerna ucapan para sahabatnya.
"Anak pintar…!" Seru ketiganya secara kompak.
Lalu mereka memutuskan sambungan video call setelah lama berbincang… dan malam pun semakin larut.
Setelah menutup telponnya Amara baru menyadari bahwa suasana di terasa sangat sepi dan terasa aura menyeramkan bulan halus Amara sampai meremang ketika ia menyadari bau harum bunga melati.
Amara melirik ke kanan, dan ke kiri. Memastikan bahwa situasi Aman sekelebat ia melihat bayangan putih melintas di depannya.
Menyadari itu semua Amara langsung ketar ketir ketakutan, dan bergegas masuk kedalam rumah.
Amara langsung mengunci pintu, dan segera menghampiri Erditha, lalu tergesa menubruk Erditha yang sudah terlelap di atas tempat tidurnya.
"Bruk…!" Suara Amara menjatuhkan tubuhnya.
__ADS_1
Membuat Erditha terperanjat karena terkejut akan tingkah Amara.
"Hey! Kamu kenapa sih kaya orang kesambet begini!" Seru Erditha.
"Aku takut." Jawab Amara sambil merangkul Erditha memeluk lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Erditha.
"Eeh tapi kamu melewati batas antara kita." Erditha mengingatkan Amara.
"Bodoh amatlah, bersetan sama yang namanya batas, aku tidak peduli." Jawab Amara ketus.
"Tapi kamu bisa membuat ku makan kamu kalau kaya gini caranya, apa kamu udah siapa." Erditha sengaja memancing respon Amara agar melepaskan pelukannya.
Ya, benar saja Amara langsung mendongakkan kepalanya melihat wajah Erditha.
Kemudian Amara Langsung memasang ekspresi wajah meringis meminta belas kasih kepada Erditha.
"Aku mohon suamiku! biarkan seperti ini, aku benar-benar takut, di luar tadi ada yang mengintai ku…" Amara memelas.
Membuat Erditha tidak tega melihatnya, Lalu membiarkan Amara tetap seperti itu.
Setelah rasa takut Amara hilang dan kini sudah merasa tenang, tapi entah mengapa Amara merasakan sesuatu perasaan yang berbeda jantungnya berdebar kencang tidak beraturan.
Terlebih Erditha tubuhnya terasa kepanasan, denyut jantungnya tidak beraturan.
Sekuat tenaga Erditha menahan gejolak di dalam dirinya.
Dengan rasa ragu Erditha mencoba mengulas punggung Amara.
Dan tidak mendapat penolakan dari Amara, ia malah seakan menikmati elusan tangan Erditha.
Perlahan Erditha mencium kening dan pipi Amara, namun tetap tidak ada penolakan, membuat Erditha semakin merasakan gejolak ingin lebih jauh menjelajah dan akhirnya bibir Erditha menyentuh bibir Amara sehingga ia mengecupnya sekilas.
Tapi Amara tetap saja diam, membuat Erditha semakin memperkuat kecupannya lebih dalam dan membuat Amara makin terbuai.
Saat Erditha menyentuh bagian kenyal dari tubuh Amara.
Keduanya langsung tersadar dan melepaskan tautan bibir mereka masing-masing.
"Oo maaf, aku khilaf."Ucap Erditha dengan penuh rasa bersalah.
Amara Langsung berbalik membelakangi Erditha dan kembali ke posisinya.
Mereka berdua nampak canggung pasca kejadian itu.
Hanya ada keheningan di antara mereka saat ini.
__ADS_1
Dan mereka berdua sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.
Amara dalam hatinya merutuki dirinya sendiri, 'Amara bodoh! kenapa kamu diam aja waktu Erditha melakukan hal itu, murahan sekali sih Kamu' Amara menyesali apa yang telah terjadi antara dirinya dan by Erditha.
Sama halnya dengan Amara, Erditha pun sedang membatin, "Ya tuhan…! apa yang aku lakukan? hampir saja aku kebablasan, oo jika begitu aku akan merasa punya dosa kepada ayah Hadi, belum juga aku menyelesaikan misi, aku malah akan melakukan hal itu.' Erditha juga menyesali perbuatannya.
'Dia lagi (Amara) bisa-bisanya dia memancing hasrat ku, dan malah diam saja tidak berkutik saat aku mulai mencumbunya.' Erditha masih membatin.
Dia antara mereka tidak ada yang bisa terlelap setelah itu.
"Chik… Aaah…!" Erditha berdecak kesal seakan frustasi.
Kemudian Erditha bangkit dari tempat tidur dan ingin pindah keluar untuk mencari ketenangan, sebab hati resah gelisah sama halnya seperti yang di rasakan oleh Amara.
Tapi Amara menghentikannya, "Mau ke mana?" Tanya Amara karena enggan di tinggalkan oleh Erditha.
"Aku keluar dulu mau cari angin…" Jawab Erditha.
"Aku ikut… aku takut sendirian di sini."
"Tidurlah ini sudah malam angin malam tidak baik untuk kamu, nanti kamu malah sakit lagi." Erditha enggan mengajak Amara.
"Tapi aku tidak bisa tidur, aku takut." Amara tetap memaksa.
"Oke aku tidak jadi keluar, tapi kamu tunggu dulu sebentar aku ambil minum dulu aku haus." Erditha mengurungkan niatnya karena mengkhawatirkan kondisi Amara jika ikut dengannya keluar rumah.
Amara tidak menjawab ia hanya menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia setuju dengan ucapan Erditha.
Erditha segera berlalu menuju dapur dan membuka lemari pendingin dan mengambil air yang tersimpan di sana.
Iya langsung meraih gelas lalu menuangkan air minum yang sudah ia ambil dari dalam lemari pendingin kemudian meminumnya.
"Glek,,, glek,,," Air minum meluncur sempurna melewati tenggorokan Erditha.
Setelah di rasa cukup, Erditha kembali ke kamar dan membawakan Amara air minum, lalu langsung menyodorkan air minum itu kepada Amara.
"Terimakasih…!" Gumam Amara pelan, tapi Erditha masih bisa mendengarnya.
Erditha hanya menganggukkan kepalanya.
" Tidurlah,,, ini sudah malam! Aku janji akan tetap di sini menemanimu jadi jangan takut aku tinggalkan." Erditha meminta Amara untuk segera tidur dan menenangkannya.
"Iya…" Jawab Amara dan langsung mengambil posisi tidurnya.
Sedangkan Erditha memainkan handphonenya sambil menunggu Amara terlelap.
__ADS_1