
Mendengar perkataan Erditha yang begitu menyinggung perasaannya.
Amara langsung bangkit dari tempat tidur dan menuju dapur.
Sementara Erditha sendiri berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Amara mengambil hp Erditha, ia juga sudah tau password-nya, jadi memudahkan Amara untuk memainkan headphone milik Erditha.
Amara mulai melakukan searching di google tutorial menanak nasi, dan memperhatikannya dengan seksama untuk mempelajarinya.
"Ternyata semudah itu caranya, kalau cuma kaya gitu Aku juga bisalah!" Ucap Amara penuh percaya diri, dan langsung mengikuti langkah-langkah cara menanak nasi sesuai arahan dari video YouTube yang ia lihat.
Amara mencari panci magic com, lalu menuangkan beras kemudian mencucinya.
Setelah itu ia memasukkannya ke dalam magic com sesuai arahan. Mencolokkan magic com ke saluran listrik lalu menekan tombol cook.
[Nyalakan rice cooker / magic com pada posisi “cook” dan tunggu hingga tuas naik pada posisi warm. Setelah beberapa saat akan secara otomatis rice cooker berpindah ke “warm”, itu menandakan nasi kamu sudah matang. Nasi yang pulen sudah siap untuk dihidangkan.] Begitulah arah dari video yang ia lihat di YouTube.
"Hmmm! Ternyata mudah sekali melakukan hal ini." Gumam Amara dengan bangganya, karena dia merasa sudah bisa melakukan hal itu.
"Sekarang tinggal bikin buat lauknya!" Amara bicara sendiri dan membuka kulkas.
Amara melihat ada telur di sana, dan teringat menu sarapan yang dibuat Erditha kemarin pagi yaitu telur ceplok.
Kemudian terlintas di benak Amara untuk membuat telur ceplok.
Amara mulai membuka hp Erditha lagi untuk melihat tutorial membuat telur ceplok.
"Oke Google tolong perlihatkan tutorial membuat telur ceplok."
Dan langsung nampak beberapa video cara membuat telur ceplok.
Amara kembali memperhatikan videonya.
Dan Amara kembali merasa cara itu sangat mudah.
Amara memulainya sesuai arahan, pertama ia menyalakan kompor lalu menaruh wajan di atas kompor yang sudah menyala.
Kemudian Amara menuangkan minyak, dalam video tidak menyebutkan takaran minyak, hanya menyebutkan secukupnya.
Di bagian ini Amara merasa sedikit bingung, "secukupnya itu seberapa ya!" Amara bimbang.
"Ya sudahlah biar cepat Mateng aku kasih banyak." Amara menuangkan minyak dengan takaran hampir setengah liter untuk membuat satu telur ceplok.
Padahal seharusnya cukup beberapa sendok saja.
Dan tanpa menunggu minyak panas Amara langsung memecah telur langsung ke dalam wajan, beserta memberi garam kedalam wajan.
__ADS_1
Dan setelah minyak mulai panas apa yang terjadi? minyak itu menciprat kemana-mana dan menimbulkan suara seperti ledakan bak pesta kembang api di perayaan tahun baru.
Amara sendiri sangat panik mengapa bisa seperti itu? Sedangkan di dalam video yang ia lihat tidak seperti itu…!
"Ya tuhan bagaimana ini?" Amara kebingungan bercampur rasa panik dan takut.
"Apa yang harus aku lakukan…?" Amara mencari cara.
Karena terlalu lama dibiarkan wajan yang menggoreng telur tersebut sampai mengeluarkan asap dan berubah warna menjadi hitam gosong.
Karena takut terkena cipratan minyak panas Amara tidak berani mendekati kompor untuk mematikannya.
Seluruh ruangan sudah dipenuhi asap yang mengepul dari wajah yang gosong.
"Jika dibiarkan ini bisa kebakaran!" Pikir Amara, akhirnya Amara mengambil segayung air dan menyiramkan nya ke wajan tersebut.
Tapi bukannya meredam suara dan cipratan minyak panas di wajan, air tersebut malah menimbulkan api yang sangat besar dan seakan menyambar menyala di atas wajan.
Amara sungguh syok dengan kejadian itu.
Amara berteriak, "Tolong…. Kebakaran…!".
Erditha yang sedang mandi seperti mendengar kegaduhan, ia segera menutup keran agar suasana lebih hening.
Supaya Erditha bisa lebih jelas mendengar kegaduhan apa yang terjadi, namun Erditha sudah curiga pasti ada sesuatu yang terjadi akibat dari ulah istri laknat nya.
Suara gaduh di barengi suara ledakan, cipratan minyak panas.
Erditha begitu panik ketika jelas mendengar semua itu.
"Ya ampun apa yang terjadi? Apa yang dilakukan oleh istri cantikku yang egois tiada Tara…" gumam Erditha sembari menyambar handuk, yang langsung ia lilitkan di pinggangnya.
Kemudian Erditha segera keluar dari kamar mandi. Dan alangkah terkejutnya Erditha melihat keadaan dapur nya yang sudah tidak nampak apa pun dipenuhi asap dan api di wajan yang berkobar.
"ASTAGHFIRULLAH… AMARA…!" Erditha berteriak karena terkejut.
"AMARA… kamu di sebelah mana? Kamu tidak apa-apa AMARA" Erditha mengkhawatirkan kondisi Amara.
Sebab Erditha tidak bisa melihat jelas karena seluruh ruangan di selimuti asap mengepul dari kompor dan wajan yang berisikan minyak panas dan bercampur air yang sengaja Amara siramkan.
Mendengar suara Erditha memekikkan namanya, Amara tau Erditha berada di sebelah mana. Amara yang sedang berjongkok di bawah meja makan karena ketakutan, Langsung menyambar tubuh Erditha, Amara tersungkur dan menubruk Erditha lalu terjatuh menarik handuk yang melilit di pinggang Erditha.
Saking kencangnya Amara berpegangan menarik handuk tersebut sampai terbawa dan terjatuh bersama Amara yang tersungkur di bawah kaki Erditha.
"ASTAGA… Amara! Apa yang kamu lakukan?" Erditha panik karena handuk nya terjatuh. Hingga mengekspos tubuh polosnya.
"Apa itu?" Tanya Amara spontan melihat ada yang menggantung di tubuh Erditha.
__ADS_1
"Lato-lato!" Pekik Erditha kesal.
"Apa? lato-lato kok ada belalainya?" Amara malah menimpali.
Membuat Erditha makin kesal.
"Iya karena lato-lato ku bisa membuatmu tidak berdaya, bisa membuatmu mengerang kenikmatan." Ketus Erditha sambil meraih handuknya yang terjatuh.
Kemudian segera memakainya kembali.
Erditha segera mendekat ke arah kompor dan dengan cekatan ia mematikan kompor.
Setelah itu suara cipratan minyak panas perlahan melemah dan berhenti seiring dengan api yang berkobar di atas wajan yang redup dan mati dengan sendirinya.
Erditha membuka seluruh ventilasi udara yang ada di rumah itu termasuk pintu-pintu dan pintu utama rumah.
Agar asap yang memenuhi ruangan segera hilang.
Dan ternyata setelah suasana kembali stabil.
Erditha melihat Amara masih terduduk di lantai dimana ketika Amara tersungkur menubruk dirinya.
Amara terlihat syok dengan kejadian yang baru saja ia alami.
Dan seakan syok telah melihat lato-lato yang memiliki belalai.
Erditha segera membangunkan Amara dan membawanya ke sofa di ruang tamu.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Erditha.
"Ini semua gara-gara kamu!" Amara malah menyalahkan Erditha.
"Jangan selalu mencari kambing hitam atas apa yang telah terjadi dalam hidupmu!" ketus Erditha.
"Kamu juga jangan selalu berucap melukai perasaan ku, karena ucapanmu menyinggung harga diri ku, karena itu aku ingin membuktikan kepadamu bahwa aku tidak seburuk yang kamu katakan." Amara menimpali.
"Lalu apa yang kamu lakukan? ini malah membuat penilaianku tentangmu makin buruk." jelas Erditha.
"Kamu hampir membakar rumah ini, dan tentu saja bisa mengakibatkan kematian untuk ku. Atau kamu memang sengaja melakukan ini semua untuk menyingkirkan ku! karena ingin menguasai seluruh harta bagian ku sendirian."
"Cukup Erditha,,, cukup menilai ku rendah seperti itu, aku memang tidak menyukaimu, tapi tidak serendah itu." Amara tidak terima.
"Kenapa aku harus menyingkirkan mu? untuk menguasai ini semua! sedangkan seperti yang kamu bilang aku tidak memiliki kemampuan apapun selain merepotkan orang-orang di sekitarku, bukan kah bagus untuk ku membiarkan mu mengurus semuanya memanfaatkan mu untuk keuntungan ku." Amara bicara dengan kesedihan yang mendalam.
Sebab ia sadar tidak ada yang dapat di banggakan dalam dirinya soal kemampuan.
Hanya membuat telor ceplok yang di anggap semua orang sangat mudah, bahkan anak SD kelas satu saja sudah bisa melakukan hal itu, sementara dirinya sendiri tidak mampu melakukannya dan malah akan membuat nyawanya dan nyawa orang lain melayang jadi taruhannya.
__ADS_1