
Hanya membuat telor ceplok yang di anggap semua orang sangat mudah, tapi Amara sendiri tidak bisa, bahkan anak SD kelas satu saja sudah bisa melakukan hal itu, sementara dirinya sendiri tidak mampu melakukannya dan malah akan membuat nyawanya dan nyawa orang lain melayang jadi taruhannya.
Mendengar penuturan Amara, Erditha pun merasa tersentuh hatinya ia merasa kasihan melihat amara yang terlihat begitu terguncang.
Erditha mencoba menenangkan amara dengan mengelus punggungnya lalu berucap "Sudahlah! Jangan bersedih, jika memang kamu ingin berubah menjadi lebih baik, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan perlu belajar terlebih dahulu, mari kita belajar sama-sama meskipun tidak bisa seperti suami istri, kita bisa menjalin hubungan seperti kakak dan adik." Ucap Erditha.
Mendengar itu Amara merasa terharu lalu ia memeluk tubuh Erditha yang masih telanjang dada, karena belum sempat berpakaian.
Amara yang tadinya begitu emosional, terbawa suasana menangis haru.
Kini Amara merasakan sensasi yang berbeda, ia merasa begitu tenang dan damai ketika memeluk tubuh Erditha, yang terlihat begitu segara dengan rambut basah meskipun berantakan khas orang baru selesai mandi berkeramas.
Di tambah pula wangi sabun yang begitu menyegarkan indera penciuman Amara, membuat Amara makin betah berlama-lama memeluk tubuh Erditha.
"Uhhmm!" Erditha berdehem merasa risih dengan apa yang sedang di lakukan oleh Amara.
Erditha segera mengurai pelukan Amara, dengan secara perlahan mendorong bahu Amara.
"Amara aku pakai baju dulu gak enak kaya begini." ucap Erditha.
Padahal aslinya Erditha tengah merasakan sesuatu yaitu gejolak dalam dirinya, karena sinyal kuat yang Amara di berikan membuat belalai lato-lato Erditha menegang.
Erditha berusaha mengendalikan dirinya dan beranjak dari sana meninggalkan Amara, bergegas menuju kamarnya.
'Ya tuhan ku! kenapa istri cantikku tak peka sama sekali dengan sinyal yang dia berikan? dia benar-benar polos apa memang sengaja ingin menyiksaku' gumam Erditha tidak habis pikir dengan kelakuan Amara.
Erditha kemudian segera berpakaian, karena melihat situasi yang sangat kacau akhirnya Erditha berniat untuk tidak pergi bekerja hari ini, sehingga ia berpakaian ala rumahan tidak berpakaian formal.
Setelah itu Erditha kembali ke ruang tengah dan melihat amara masih terlihat begitu syok dengan terduduk memaku sambil menundukkan kepala.
Erditha sungguh tidak tega melihatnya, kemudian Erditha berlalu melewati Amara yang sedang terduduk memaku, Erditha menuju dapur lalu mengambil air putih untuk Amara minum.
__ADS_1
Kemudian Erditha segera menyodorkan air minum itu kepada Amara, "Minum lah dulu! agar perasaanmu lebih tenang." Ucap Erditha.
Amara langsung menengadahkan wajahnya ke arah Erditha dan mengambil air minum yang Erditha sodorkan kepadanya.
Amarah langsung meneguk kasar air minum itu sampai habis.
"Kamu tenang dulu di sini ya!" Ucap Erditha
"Kamu mau ke mana?" tanya Amara yang seakan enggan di tinggalkan oleh Erditha.
"Aku akan membereskan dan membersihkan semua sisa kekacauan yang kamu buat di dapurku." Jelas Erditha.
"Aku juga akan membuatkan sarapan untukmu." lanjut Erditha.
"Maafkan Aku karena aku semua jadi berantakan. " Amara merasa bersalah.
"Sudahlah semua sudah terjadi." Erditha tidak ingin mempermasalahkan hal itu lagi.
Kemudian Erditha segera melakukan apa yang telah Ia katakan kepada Amara.
Sedangkan Amara hanya terduduk lesu sesekali iya melihat dan memperhatikan aktivitas Erditha.
Dalam hatinya Amara sungguh merasa bersalah dan juga merasa malu dengan apa yang telah terjadi.
Setelah membersihkan seluruh dapurnya keadaan dapur Erditha sudah seperti biasanya bersih dan rapi.
Kemudian Erditha menghampiri Amara kembali, "Amara! karena keadaan dapur masih basah jadi aku tidak bisa membuatkan kamu sarapan, jadi aku akan membelinya di luar, kuharap kamu sudah merasa lebih tenang dan tunggu aku sebentar untuk membelikan sarapan untuk kita berdua." Ucap Erditha meminta izin untuk pergi.
Sesungguhnya amara memang tidak ingin ditinggalkan oleh Erditha tapi Amara tidak bisa mencegahnya karena memang mereka butuh untuk sarapan.
"Ya.. " jawaban amara dengan berat hati sambil menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Tidak menunggu waktu lama Erditha langsung bergegas pergi meninggalkan amara.
Amara pun beranjak dari duduknya lalu berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Selang beberapa waktu Erditha telah kembali dengan membawa bungkusan yang berisikan sarapan untuk mereka berdua.
Bersamaan dengan kedatangannya Erditha, Amara pun keluar dari kamar mandi, dan secara tak sengaja antara Erditha dan Amara mereka saling bertatapan dengan ekspresi wajah masing-masing yang sulit diartikan.
Terlihat mereka begitu canggung satu sama lain, untuk menepis rasa mereka masing-masing, lalu Erditha segera menuju meja makan untuk menghidangkan sarapannya sedangkan Amara berlalu ke kamar Erditha untuk merapikan dirinya.
Kini Amara telah memakai perawatan tubuhnya seperti losion, dan skin care serta sudah menyisir rambutnya. Erditha menghampirinya lalu mengajaknya untuk sarapan.
"Amara Apa kamu sudah siap? ayo sarapan dulu keburu dingin nanti tidak enak rasanya." ajak Erditha kepada Amara.
Tanpa berucap Amara langsung bergerak ke arah Erditha, sebagai respon bahwa Amara setuju dengan ajakan Erditha.
Di meja makan sudah tersedia beberapa menu sarapan, amara sampai terperangah melihatnya.
"Banyak sekali ini, kayak prasmanan aja! "gumam Amara ketika melihat berbagai menu sarapan yang telah Erditha hidangkan untuknya.
Amara bukannya merasa tersanjung ia malah merasa tidak enak hati, amara merasa Erditha seakan sengaja melakukan hal itu untuk meledeknya.
"Ya Aku sengaja membeli beberapa jenis makanan supaya kamu bisa memilih mana yang kamu suka, karena aku tidak tahu apa kesukaanmu." Erditha menerangkan maksudnya agar Amara tidak salah paham kepadanya sebab Erditha melihat jelas raut wajah Amara penuh rasa kecurigaan.
"Oh! " jawab singkat Amara. karena dia mengerti apa yang Erditha sampaikan.
Erditha menarik kursi dan mempersilahkan amara untuk duduk, sikap Erditha begitu baik dan sangat menghormati amara membuat Amara merasa nyaman diperlakukan seperti itu ia pun berpikir.
"Oh jadi begini sikap baik Erditha kepada orang orang, pantas saja semua orang begitu mengaguminya." batin Amara merasakan perbedaan sikap Erditha kepadanya.
Selama ini amara sendiri tidak pernah bersikap baik kepada Erditha, Amara tidak pernah menghargai dan menghormati Erditha, ia malah selalu memandang Erditha sebelah mata. dan memandang Erditha rendah, menyangka Erditha hanya ingin memanfaatkan Ayahnya dan kekayaannya.
__ADS_1
Dalam diam mereka menikmati sarapannya dengan pikiran mereka masing-masing. suasana begitu terasa canggung Amara sibuk dengan penilaiannya terhadap Erditha, begitu juga dengan Erditha dalam hatinya Ia pun memuji amara.
"Jika sikapmu bisa seperti ini setiap hari bahkan lebih hangat, mungkin aku orang yang paling bahagia dan beruntung bisa memilikimu sebagai istriku, dalam hati terdalam ku, aku sungguh ingin berumah tangga seutuhnya denganmu, dan dalam hatiku, aku sangat menyukaimu dan menyayangimu tapi pada kenyataannya aku tidak layak untukmu, karena kau hanya menilai ku sebagai sebuah parasit yang hanya ingin memanfaatkan kekayaanmu saja." batin Erditha merasa kecewa.